"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jawaban
...7-14: Insiden 06-06...
Selama empat hari penuh, Samuel mengurung diri dalam labirin penyelidikan. Ia mendorong tubuhnya hingga ke batas mutlak—membiarkan fisiknya didera kelelahan hebat, memangkas waktu tidur hingga tersisa dua jam saja per hari, dan bertahan hidup hanya dengan mengonsumsi makanan instan. Di sudut lain, ia membiarkan Riza terabaikan dalam kebosanan yang panjang.
Pada tanggal 10 Juni, yang seharusnya menjadi momentum pengumuman pelaku, Samuel mengambil langkah tak terduga. Ia sengaja tidak memberikan tenggat waktu kepada pihak penyiar televisi. Dengan nada dingin, ia hanya memberi tahu media bahwa kasus ini jauh lebih sulit dari dugaan dan membutuhkan waktu yang sangat lama—sebuah pernyataan yang untungnya dipahami oleh pihak stasiun televisi.
Sementara itu, Ahmad, semenjak wewenangnya digantikan secara paksa oleh Samuel, benar-benar menarik diri. Ia tak pernah lagi membantu, bahkan tidak sekali pun menghubungi Samuel. Pesan terakhir yang ditinggalkan Ahmad hanyalah sebuah dokumen penyelidikan kasar. Namun, dari tumpukan data mentah dan pengorbanan fisiknya sendiri, Samuel akhirnya berhasil menarik satu benang merah. Sebuah jawaban. Sebuah petunjuk yang luar biasa besar.
Jakarta, 12 Juni 2025
05.00 WIB
"Oh my..."
Samuel tersenyum tipis. Matanya yang memerah menatap lembar analisis di tangannya—hasil akhir yang selama ini dia cari-cari. Namun, setelah rasa puas itu terpenuhi, tubuhnya menuntut hak. Dia memutuskan untuk setidaknya beristirahat sejenak.
09.00 WIB
Samuel terbangun. Dengan langkah gontai dan suara yang serak, dia berjalan keluar kamar. Di ruang tengah, dia mendapati Riza sedang asyik bermain PlayStation.
"Pagi, Riza," sapa Samuel garing.
Riza menoleh, sedetik kemudian wajahnya menunjukkan keterkejutan saat melihat tampang berantakan sang penyelidik di depannya. "Pagi, Pak Sam."
Samuel hanya mengangguk, melangkah menuju dapur untuk meneguk segelas air, sebelum akhirnya kembali mengurung diri di ruang kerja. Kini saatnya menyusun teka-teki.
Analisis Papan Tulis: Manipulasi sang Pejabat
Samuel mulai memilah berkas dan menempelkan hasil-hasil penyelidikannya ke papan tulis, merekonstruksi ulang garis waktu dengan intens:
Kronologi Awal: Kejadian bermula dari kecelakaan beruntun, disusul mati lampu massal, dan diakhiri oleh pembunuhan.
Kejanggalan Utama: Pembunuhan ini sangat aneh. Semua orang yang berada di lokasi kejadian—mereka yang posisinya paling dekat dengan Pejabat C—sama sekali tidak memiliki motif apa pun.
Samuel terdiam, menatap nanar catatan di tangannya. 'Dua lini masa yang aku jalani, tapi tetap saja tidak ada motivasi dari siapa pun,' batinnya berontak. Hingga akhirnya, sebuah kesimpulan gila mencuat ke kepalanya.
"Aku dapat kesimpulan kalau ini... bukan pembunuhan. Melainkan bunuh diri."
Samuel menaruh hasil tulisannya, lalu menepuknya keras-keras di atas papan tulis. Mengapa bisa bunuh diri? Ini buktinya:
Pejabat C sudah lansia.
Hasil uji forensik mendapati sebuah fakta mengejutkan: sang pejabat tidak memiliki sidik jari.
Sebelumnya, Samuel dan Ahmad di lini masa lalu berasumsi bahwa senjata Glock 19 yang ditemukan didapat dari pasar ilegal. Namun, data terbaru menunjukkan Pejabat C memiliki sertifikat hak milik senjata resmi. Dia membeli Glock 19 tersebut secara legal pada tahun 2018.
Samuel kembali menempelkan berkas itu ke papan tulis. Ia bergumam lirih, "Seharusnya kasus ini sudah selesai... Tapi, mengapa di lini masa sebelumnya Ahmad tidak mengatakan kalau ini bunuh diri?"
Dia tertegun sejenak, sebelum sebuah tawa pahit lolos dari bibirnya. "Ah~ untuk menghindari dugaan publik dan menggunakan Yogi sebagai kambing hitam agar publik diam. Mas Dimas pernah mengajarkan ku itu."
Konspirasi Sektoral
Samuel mengambil lembaran kertas berikutnya, mengoreksi latar belakang orang-orang di sekitar korban.
Saksi Kunci: Para saksi kunci ini memiliki latar belakang pendidikan yang seragam. Mereka semua lulusan pertanian—rata-rata alumni IPB, dan ada dua orang lulusan Udayana. Fakta pendukungnya: Pejabat C sendiri ternyata pernah menjabat sebagai dosen di IPB.
Aset Jurnal: Ada 5 jurnal ilmiah yang ditemukan, dan 1 jurnal ilmiah di antaranya berfokus khusus dalam pengembangan teknologi pertanian dan ekonomi. Di atas kertas, tidak ada yang janggal dari dokumen ini.
Samuel menaruh kertas itu di bagian paling bawah papan tulisnya, lalu menuliskan satu kesimpulan mutlak dengan spidol hitam:
Pemerintah ada bermain di dalam sini.
Laporan Informasi
Samuel meregangkan badannya yang kaku. Setidaknya, beban di pundaknya sedikit terangkat karena ia tahu ini bukan kasus pembunuhan. Tanpa buang waktu, ia segera menghubungi asisten bebannya, Ahmad, dan Dimas untuk memberikan laporan secara tidak formal melalui pesan singkat.
Isi chat yang dikirimkan Samuel ke mereka bertiga berbunyi sama persis:
[Kazu]: ini bukan pembunuhan melainkan bunuh diri.
Setiap orang yang dihubunginya membaca pesan itu dengan sangat cepat.
Respon pertama datang dari Rizki, asistennya:
[Rizki beban]: wah udah selesai bos keren banget
Detik berikutnya, Rizki mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan dirinya bersama Yogi sedang asyik bermain PlayStation di dalam kamar Rizki.
Kemudian, balasan dari Wisnu masuk:
[ahmad]: udah selesai Sam? Gw kesitu ya?!
[Kazu]: ya. Kesini aja bantuin gw buat laporan
Terakhir, sebuah balasan dingin dan tegas datang dari Dimas:
[mas Dimas]: kerja bagus Samuel, kau kirim berkasnya kepadaku besok.
Samuel menghela napas panjang, merasa puas dengan hasil kerjanya hari ini. Dia mematikan ponselnya, berjalan keluar dari ruang kerja yang pengap, lalu menghampiri Riza yang masih duduk di depan layar televisi sembari menunggu kedatangan Ahmad.
"Riza, aku ikut ya," kata Samuel.
Riza menoleh. Dengan wajah yang sedikit senang, anak itu mengangguk. "Yuk."