NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bhumi Dan Anindya

Sore itu, udara di lingkungan kediaman Kombespol Andi Rajo Alam Sikumbang terasa sangat sejuk dan menenangkan, seolah seluruh beban hiruk-pikuk ibu kota sengaja berhenti melangkah di depan gerbang rumah ini. Sinar matahari mulai meredup perlahan, menyebarkan warna keemasan yang lembut menyelimuti halaman yang tertata rapi: rumput hijau yang dipotong rata, hamparan bunga kenanga yang mulai mekar mengeluarkan aroma manis, serta deretan pohon trembesi yang daunnya berkilau tertimpa cahaya terakhir. Angin berhembus pelan namun segar, menggoyangkan dedaunan pohon mangga yang rindang di sudut taman hingga terdengar suara gemerisik halus berpadu kicauan burung gereja yang sibuk pulang ke sarang.

Di beranda depan yang luas dan dilapisi lantai marmer berwarna krem bersih, duduklah dua orang pemuda yang wajahnya begitu serupa seolah dicetak dari satu cetakan yang sama persis: Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang dan Naga Bayu Arka Denta Sikumbang, saudara kembar yang baru saja meluangkan waktu berkunjung ke kediaman pamannya ini. Di samping mereka duduk Tante Amelia, istri Om Andi yang senyumnya selalu tampak tulus dan penuh kehangatan, sesekali menyesap teh sambil memperhatikan kedua keponakannya dengan tatapan sayang. Sementara sang pemilik rumah sendiri, Kombespol Andi Rajo Alam Sikumbang, berdiri di dekat meja kecil berukir kayu jati, sesekali tertawa renyah sambil menuangkan teh melati hangat ke dalam cangkir-cangkir porselen bermotif bunga melati yang sudah tersusun rapi.

Suasana terasa begitu damai, jauh dari hiruk-pikuk kesibukan kantor, rapat yang menumpuk, beban tanggung jawab pekerjaan, serta deretan kasus hukum yang biasanya memikul pundak Bhumi maupun jadwal kuliah padat yang sempat dijalani Bayu di Amerika Serikat. Meski memegang jabatan tinggi di kepolisian dengan disiplin ketat yang harus ia junjung tinggi, di dalam rumah bersama keluarga, Andi Rajo Alam selalu tampak santai, ramah, dan kerap menjadi tempat berbagi cerita sekaligus pemberi nasihat bijak bagi seluruh kerabat muda Sikumbang. Ia sering bercerita tentang masa lalu keluarga, tentang kerabat yang kini menetap di berbagai daerah, hingga tentang orang-orang yang pernah mengisi kenangan indah di rumah ini.

“Kalian tahu tidak,” ujar Om Andi memulai ceritanya dengan nada lembut namun penuh ingatan yang masih segar.

“ada satu nama yang tak pernah lepas dari percakapan di rumah ini sejak bertahun-tahun silam. Yaitu Anindya Sandra Satyarini, putri semata wayangnya sahabat karib saya, pengusaha ternama sekaligus dermawan Raden Mas Guntur Maheswara dan Ibu Rissa Melinda. Sejak masih balita, Anindya itu sangat sering bermain ke sini. Hampir setiap hari kalau tidak sedang sekolah atau sedang berlatih menari, kakinya pasti sudah melangkah masuk ke halaman rumah ini, berlari menuju dapur mencari camilan buatan nenek pembantu lama, atau duduk berjam-jam di ayunan pohon mangga itu sambil membaca buku dongeng. Bahkan sampai sekarang pun, dia masih sering berkunjung ke sini sendirian, seolah rumah ini adalah rumah keduanya sendiri.”

Mendengar nama itu disebut, Bayu perlahan tersenyum lebar, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu sekaligus geli. Ia segera melirik ke arah kakak kembarnya, memperhatikan setiap perubahan kecil yang muncul di wajah Bhumi. Ia tahu betul nama itu bukan sekadar nama teman masa kecil biasa bagi Bhumi; nama itu telah tersimpan rapi, bahkan terukur dalam, di sudut hati kakaknya sejak masa kanak-kanak, saat mereka masih saling berebut tempat duduk di beranda ini. Namun Bhumi hanya diam saja, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan, menatap lurus ke arah ujung taman tanpa berkedip sedikit pun, seolah sedang tenggelam dalam pikiran yang melayang jauh ke masa lalu yang lama tak ia temui lagi.

Bayu pun kemudian menoleh kembali kepada Om Andi, lalu bertanya dengan nada penasaran yang sungguh-sungguh.

“Terus bagaimana sekarang kabarnya, Om? Sudah sekian lama kami berpisah tempat tinggal, bagaimana tumbuh kembang dan aktivitas Anindya selama ini? Apakah dia masih sama seperti yang kami ingat?”

Andi Rajo Alam tersenyum menatap kedua keponakannya bergantian, lalu menjawab dengan nada yang terdengar bangga tulus.

“Anindya kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, cerdas, berpendirian teguh, dan memiliki hati yang lembut serta peduli pada sesama. Dia Masih kelas Dua SMA ,Tapi ada satu hal yang selalu ia tanyakan tanpa bosan setiap kali bertemu denganku, entah saat berkunjung ke sini atau saat kami berpapasan di acara keluarga. Dia sering bertanya dengan nada halus namun penuh harap, ‘Paman Andi, kenapa Kak Bhumi tidak pernah pulang ke arah Jakarta? Apa dia sudah lupa jalan pulang ke sini? Atau apakah dia sudah punya teman baru yang lebih asyik di tempatnya?’ Selalu begitu pertanyaannya, seolah ada rindu yang tak kunjung terbalas di setiap kata yang ia ucapkan.”

Mendengar penuturan itu, Bhumi yang sejak tadi diam kini semakin terlihat melamun dalam. Tatapannya tampak kosong sekilas namun matanya menyiratkan rasa bersalah mendalam, kerinduan yang tertahan lama, dan keinginan yang tak sempat ia sampaikan sejak dulu. Napasnya terhela pelan, bahunya sedikit mengernyit seolah sedang merenungkan setiap pertanyaan yang dilontarkan Anindya. Belum sempat ia mengumpulkan kata-kata untuk berbicara, Om Andi kembali melanjutkan ceritanya sambil memandang ke arah gerbang rumah.

“Dan tahukah kalian? Sekarang nama Anindya Sandra Satyarini sudah sangat dikenal luas di dunia hiburan dan mode. Dia telah tumbuh menjadi seorang peragawati dan model ternama yang sering menghiasi sampul berbagai majalah nasional, berjalan di panggung busana Indonesia, serta menjadi wajah kampanye produk sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun di balik kesuksesan dan kemewahan yang sering terlihat di layar kaca maupun media sosial, dia tetaplah gadis yang sama seperti dulu—penuh perhatian pada orang lain, rendah hati, tidak sombong, dan tak pernah lupa dari mana asalnya serta siapa saja yang pernah mendukungnya.”

Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara angin berdesir pelan menyapu dedaunan dan kicauan burung yang perlahan menghilang digantikan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Namun tak berselang lama, ketenangan sore itu terpecah perlahan ketika terdengar suara halus mesin mobil yang berhenti tepat di halaman rumah tetangga sebelah. Suara pintu mobil tertutup, lalu terdengar suara langkah kaki yang mendekat, dan tak lama kemudian tampaklah sesosok gadis cantik berjalan tergesa-gesa menuju pagar rumah Om Andi sambil melambaikan tangan ke arah satpam yang menjaga gerbang.

Gadis itu bertubuh tinggi semampai, berjalan dengan langkah ringan namun anggun, dan wajahnya berseri-seri meski hanya mengenakan pakaian santai sederhana: kemeja katun berwarna biru muda yang dimasukkan ke dalam rok panjang kain batik parang rusak, sepatu karet datar berwarna putih, serta rambut hitam panjangnya hanya diikat sederhana ke belakang. Ia berlari kecil di sepanjang jalan setapak halaman sambil bersenandung dan menyanyi pelan potongan lagu Pop masa kini dengan suara yang merdu dan jernih, seolah membawa kebahagiaan serta semangat baru ke mana pun ia melangkah. Begitu melihat sosoknya yang sudah sangat dikenalnya, Om Andi segera berdiri tegak, tersenyum lebar sambil melambaikan tangan lebar memanggil dengan suara keras namun penuh kasih sayang:

“Anindya! Sini masuk cepat ke sini! Lihat siapa yang sudah lama menanti dan berkunjung ke rumah Paman hari ini. Kak Bhumi dan Kak Bayu sudah ada di sini sejak tadi!”

Mendengar nama Bhumi disebut begitu jelas dari mulut pamannya, langkah gadis itu seketika berhenti sejenak di tengah jalan, seolah waktu ikut berhenti berputar. Matanya membelalak tak percaya, tangannya terangkat menutup mulut pelan, lalu ia segera mempercepat larinya menaiki tangga beranda dengan napas yang mulai terengah. Benar sekali, itu adalah Anindya Sandra Satyarini. Matanya yang besar dan jernih berbinar penuh sukacita yang meluap-luap, pipinya merona merah padam, dan senyum lebar yang tak hilang sedikit pun dari wajahnya. Begitu sampai di depan beranda, ia melihat dua sosok pemuda yang berdiri tegak menyambutnya—dua wajah yang begitu mirip, persis seperti pantulan di cermin yang mustahil dibedakan sekilas pandang oleh siapa pun yang baru pertama kali melihatnya.

Anindya tahu persis bahwa di hadapannya ada Bhumi dan Bayu, namun bagi siapa pun yang belum terbiasa, pasti akan sulit membedakan kedua saudara kembar itu mulai dari bentuk wajah, tinggi badan, gaya berdiri, hingga warna kulit mereka. Ia pun mendekat perlahan, menatap wajah mereka bergantian dengan tatapan mata yang indah namun penuh selidik dan rasa penasaran yang tajam sekaligus lembut. Ia menatap lekat-lekat mata mereka, bentuk hidung, garis rahang yang tegas, hingga ke sudut bibir masing-masing pemuda itu tanpa berkedip sedikit pun, seolah ingin memastikan setiap detail yang tersimpan dalam ingatannya selama bertahun-tahun tidak keliru.

Bayu yang melihat hal itu tak bisa menahan keinginan untuk sedikit menjahili, ia tersenyum jahil khasnya, lalu menunjuk dirinya sendiri sambil mengangkat bahu dengan nada bercanda yang meyakinkan, “Hai Anin! Sudah lama tak bertemu ya. Saya ini Kak Bhumi lho, Anindya. Apa kau tidak mengenaliku lagi setelah sekian lama berpisah?”

Anindya terdiam sejenak, matanya tetap menatap tajam namun lembut tepat ke arah bibir Bayu, memperhatikan setiap inci detail yang ada di sana, lalu perlahan menggeleng mantap dengan senyum tipis yang mulai terukir di wajahnya.

“Tidak,” ucapnya pelan namun dengan keyakinan yang tak tergoyahkan sedikit pun.

“Kau bukan Kak Bhumi. Kak Bhumi yang aku kenal, yang pernah berjanji akan mengajakku Jalan-jalan di taman bermain bersama dan melindungiku dari hujan, tidak memiliki tahi lalat kecil berwarna gelap persis di ujung bibir sebelah kanan seperti yang ada di wajahmu. Dan tatapan matamu pun lebih sering berkedip main-main, sedangkan tatapan Kak Bhumi selalu tenang dan menatap lurus saat sedang diam.”

Seketika itu juga ia berbalik badan dengan gerakan cepat namun luwes, langsung menghambur memeluk erat sosok Bhumi yang berdiri diam di samping adiknya tanpa memberi jarak sedikit pun. Pelukannya begitu kuat dan erat, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya sedetik saja, sosok lelaki yang dirindukannya itu akan menghilang kembali entah ke mana dan tak akan pernah ditemukannya lagi. Bahunya berguncang hebat menahan emosi yang meluap, dan tak lama kemudian terdengar suara tangis yang tertahan namun penuh haru—campuran antara rasa lega, bahagia, dan kerinduan yang telah dipendamnya sendirian selama bertahun-tahun tanpa sempat tersampaikan. Ia menangis tersedu-sedu tepat di dada Bhumi, membenamkan wajahnya di bahu lebar suaminya kelak itu sambil berusaha meluapkan segala perasaan yang selama ini ia simpan rapat di dalam hati.

“Kak Bhumi… kau benar-benar ada di sini… kau benar-benar datang… jangan tinggalkan aku lagi ya… jangan pergi lama-lama lagi seperti dulu… aku sudah menunggu sangat lama…” isaknya di sela-sela tangis yang memilukan namun berpadu dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan.

Melihat kejadian yang begitu menyentuh sekaligus menggemaskan itu, Bayu tak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai ia harus memegangi pinggangnya yang terasa sakit karena tertawa terlalu keras, diikuti oleh tawa hangat dan senyum lebar dari Om Andi Rajo Alam Sikumbang serta Tante Amelia yang ikut berdiri menyaksikan momen berharga itu dengan mata yang berkaca-kaca.

“Wah, luar biasa tajam dan teliti sekali matamu, Anindya!” seru Bayu di sela-sela tawanya yang perlahan mereda.

“Hanya satu tanda sekecil itu saja kau sudah bisa langsung membedakan kami berdua! Padahal banyak kerabat dekat kami sendiri pun sering tertukar saat kami berdiri berdampingan! Memang benar-benar tak ada yang bisa menipu matamu, apalagi hatimu!”

Setelah tawanya benar-benar mereda, Bayu kembali berseloroh dengan nada bercanda namun penuh makna yang dalam.

“Lihatlah mereka berdua ini, Om, Tante! Dua orang yang saling menyimpan rindu paling dalam selama bertahun-tahun akhirnya bertemu kembali di beranda ini! Tak berubah sama sekali sejak kami masih kecil, Kak Bhumi yang pendiam dan Anindya yang selalu tahu cara menemukan Kak Bhumi di antara keramaian.Dua Bucin Stadium Akut Akhirnya Berkumpul Lagi Di Jakarta!”

Mendengar candaan keponakan sekaligus anak didiknya itu, Om Andi dan istrinya hanya bisa tertawa geli sambil saling berpandangan penuh arti. Mereka memperhatikan bagaimana Bhumi yang biasanya tampak tegas, berwibawa, kadang terlihat dingin dan kaku di depan orang banyak maupun saat sedang menangani urusan pekerjaan, kini tampak sedikit canggung namun sangat lembut. Perlahan tangannya yang besar dan kokoh mulai bergerak membalas pelukan Anindya dengan hati-hati seolah takut melukainya, lalu mengusap punggung gadis itu pelan dan berirama penuh kasih sayang yang tulus. Wajahnya yang tadi tampak melamun dan suram kini perlahan berubah tampak cerah berseri, matanya berkaca-kaca menyimpan kebahagiaan meluap yang tak sanggup ia ucapkan dengan kata-kata apa pun.

Anindya perlahan mulai menenangkan tangisnya, napasnya masih tersengal pelan namun tangannya sama sekali tak mau melepaskan genggaman pada kemeja Bhumi. Ia perlahan mendongak menatap lekat-lekat wajah lelaki yang telah ia rindukan sepenuh jiwa itu, matanya masih basah oleh air mata namun bersinar terang bak bintang di langit malam.

“Aku tahu pasti kau, Kak,” ucapnya pelan dengan suara yang masih bergetar namun penuh keyakinan tak tergoyahkan.

“Meski kalian kembar persis sekalipun, meski orang lain sulit membedakan, hatiku selalu tahu mana yang Kak Bhumi Mana yang Kak Bayu.Hati ini selalu bergetar berbeda setiap kali kau berada di dekatku, dan tak pernah salah mengenali bayanganmu meski hanya sekilas lewat.”

Sore itu pun berlanjut dengan percakapan yang hangat, penuh tawa, dan berbagi cerita tanpa henti. Anindya menceritakan detail kesibukannya di dunia pemodelan, tantangan yang dihadapi, pengalaman berkeliling ke berbagai kota dan negara, serta betapa seringnya ia menengok ke arah kursi kosong di beranda ini berharap melihat sosok Bhumi duduk di sana menantinya. Sementara Bhumi mulai menceritakan sedikit tentang kesibukannya mengurus perusahaan keluarga, tugas kuliah yang diselesaikannya, dan alasan mengapa ia sempat lama tak berkunjung ke Jakarta. Bayu pun sesekali menyela dengan candaan ringan atau menceritakan pengalaman lucu mereka berdua saat masih kecil yang membuat Anindya tertawa lepas hingga melupakan sisa tangisnya.

Bagi mereka semua yang hadir di beranda rumah itu, momen pertemuan ini bukan sekadar pertemuan biasa antara teman masa kecil yang lama tak berjumpa. Ini adalah momen di mana kerinduan yang dipendam lama akhirnya bertemu kenyataan yang indah, di mana kesetiaan hati yang tak pernah goyah sekalipun diuji waktu dan jarak terbukti benar-benar ada, dan di mana tanda sekecil apapun seperti sebuah tahi lalat di sudut bibir menjadi bukti nyata bahwa cinta sejati dan ingatan tulus tak akan pernah benar-benar hilang, sekalipun sekian lama terpisah tempat dan kesibukan. Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala, menyisakan langit berwarna ungu kemerahan yang menyaksikan awal dari lembaran baru perjalanan Bhumi dan Anindya yang kini kembali berjalan beriringan di jalan yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!