Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25• Rasa Kecewa Yang Terucap
Suara dering itu membelah udara di antara mereka. Tajam, seperti pisau yang ditarik pelan di atas kaca.
Dewi menatap layar ponselnya. Nama Arkan menyala terang di atas meja, menyembur seperti api yang baru disiram bensin. Tangannya berhenti menggenggam gelas. Ia melirik Naya sekilas, lalu kembali ke layar, seolah mencari jalan keluar yang tidak ada.
Naya tidak bergerak. Ia menatap. Diam. Menunggu Dewi memilih jurang mana yang akan ia terjuni malam ini.
Dering kedua. Tangan Dewi gemetar. Tenggorokannya bergerak menelan.
“Angkat,” ujar Naya pelan. Suaranya datar, tapi cukup membuat Dewi menoleh.
Dewi menggigit bibir. Jarinya melayang di atas layar, ragu seperti orang di tepi jurang.
Naya menyilangkan tangan.
“Angkat teleponnya. Bukannya lebih bagus kalau aku tau, jadi aku bisa menjauh secepatnya?”
Dering ketiga. Dewi akhirnya menggeser layar. Ia menempelkan ponsel ke telinga, suaranya dipaksakan manis.
“Halo, Mas…”
Suara Arkan terdengar samar dari seberang. Naya tidak menangkap katanya, tapi ia melihat wajah Dewi berubah. Panik. Bersalah. Seperti pencuri yang ketahuan basah.
“Hari ini aku sibuk,” kata Dewi cepat. “Besok saja ya, Mas.”
Ia mematikan sambungan. Tangannya gemetar saat meletakkan ponsel kembali ke meja.
Naya tersenyum. Tipis. Pahit.
“Besok? Kenapa gak malam ini aja?”
Dewi tidak menjawab. Ia menunduk, menghindari tatapan Naya. Tapi sudah terlambat. Kebohongan itu telanjang di depan mata Naya.
“Aku gak merebut Mas Arkan dari kamu,” ujar Dewi. Kali ini suaranya serius. Matanya mencoba terlihat tulus.
Naya tersenyum singkat. Ia merogoh ponsel dari tas kecilnya, lalu menekan tombol rekam tanpa sepengetahuan Dewi.
Dewi menarik napas.
“Mas Arkan tidak pernah bisa melupakan aku, Mbak. Dia masih cinta sama aku. Tapi karena dia sudah terlanjur menikah sama kamu, dia tidak bisa menjalin hubungan sama aku.”
Ada sesuatu di balik ucapannya. Seperti perempuan yang terlalu lama memendam, akhirnya ingin didengar. Ada penyesalan yang samar di matanya.
Naya menatap lurus. “Tidak bisa? Kalau tidak bisa, kenapa dia selalu ada di sekeliling kamu saat kamu butuh dia? Bukannya itu juga namanya menjalin hubungan?”
Dewi menggenggam tangan Naya. Erat. Suaranya bergetar. “Mbak, aku sama sekali tidak punya hubungan sama Mas Arkan. Tapi kalau dia masih cinta sama aku, apa Mbak tidak mau membiarkan dia menikahi aku juga?”
Kalimat itu menghantam dada Naya. Perih. Seperti pisau yang mengiris tanpa meninggalkan darah, tapi sakitnya sampai ke tulang.
Naya tertawa. Hambar.
“Kamu rela jadi istri kedua Arkan? Kalau begitu, lebih baik aku mundur, Dew.”
Ia melepaskan genggaman Dewi.
Dewi tersenyum. Ada kepuasan di sudut bibirnya. “Jadi Mbak ada niatan mau cerai?”
Naya bangkit. Wanita di depannya seperti lawan bicara yang haus kemenangan. Padahal Naya sudah menang sejak awal, karena ia istri sah Arkan. Tapi anehnya, tidak ada rasa puas. Malah semakin ia bicara dengan Dewi, semakin besar keinginannya untuk pergi.
Naya meraih tas kecilnya di meja.
“Aku pulang dulu. Sudah dua jam kita mengobrol.”
Ia pergi tanpa menunggu jawaban. Tapi langkah Dewi terdengar mengejar dari belakang.
“Mbak…” panggil Dewi.
Naya menoleh.
“Tolong buktikan ucapan Mbak tadi. Soal ingin mundur dari hubungan Mbak dan Arkan.”
Dewi berdiri selangkah di depan Naya. Wajahnya menghalangi jalan keluar. Membuat Naya semakin muak.
Naya tidak menjawab. Ia berbalik, lalu pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Dewi di tengah keramaian kafe yang tiba-tiba terasa pengap.
Taksi berhenti tepat di depan rumah. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Naya merogoh kunci cadangan dari tasnya, lalu membuka pintu pelan. Rumah masih gelap, sunyi seperti kuburan. Ia yakin semua orang masih tidur.
Pintu ditutup tanpa suara.
Langkah Naya menyusuri ruang tengah. Saat ia hendak melewati dapur, tubuhnya berhenti.
Di sana, Ibu Desy berdiri memegang segelas air. Mata mereka bertemu. Keterkejutan di wajah mertuanya lebih besar daripada Naya.
Gelas di tangan Ibu Desy terlepas. Berhamburan di lantai seperti pecahan kepercayaan.
“NAYA!!” bentaknya. Lalu berjalan mendekati Naya, melewati pecahan gelas tadi.
Plak.
Tamparan itu mendarat di wajah Naya. Kepalanya miring ke samping. Telinganya berdenging. Pipinya panas, perih seperti terbakar.
“DASAR PEREMPUAN JALANG!!” teriak Ibu Desy, nyaring sampai merobek keheningan malam.
Dari kamar, Bara keluar tergesa. Dari tangga, Arkan turun dengan wajah masih kusut karena baru bangun. Semua mata tertuju pada mereka.
“Kamu tidak lihat ini jam berapa? Istri macam apa yang keluar tengah malam!” Ibu Desy belum selesai. Ia mendorong tubuh Naya. Memaki. Memarahi. Setiap kata seperti cambuk yang membuat Naya ingin lari saat itu juga.
“Ma, sudah, Ma. Jangan teriak tengah malam begini,” sela Bara sambil menyalakan lampu.
Arkan turun sampai ke anak tangga paling bawah. Rambutnya berantakan, tapi matanya jernih. Terlalu jernih untuk orang yang baru bangun. Seolah ia sudah tau Naya tidak ada di ranjang sejak tadi, tapi memilih tidak mencarinya.
“Pantas kamu tidak ada di kamar,” kata Arkan. Suaranya tidak sekeras Ibu Desy, tapi cukup untuk melukai Naya. “Ternyata kamu keluyuran tengah malam. Istri macam apa kamu, Nay.”
Naya tersenyum. Senyum tipis yang ia pakai untuk menutupi rasa sakit. Tangannya gemetar saat merogoh ponsel dari saku.
Ia menekan tombol play.
Suara rekaman memenuhi ruangan. Suara Dewi malam tadi terdengar jelas, tanpa bisa dibantah.
“Mas Arkan tidak pernah bisa melupakan aku, Mbak…”
Semua orang membeku.
Naya menatap Ibu Desy. Suaranya bergetar, menahan tangis. “Dengar? Di rumah ini siapa yang salah? Aku sudah mengorbankan lima tahun untuk anak Anda, tapi nyatanya dia masih belum bisa melupakan mantannya.”
“JAGA MULUTMU, NAYA!!” bentak Arkan. Urat di lehernya menegang. Tangannya mengepal, siap melayang kapan saja. “Aku tidak pernah bilang mencintai Dewi!”
“Wajar kalau Arkan mencintai Dewi,” potong Ibu Desy cepat. “Dia anak baik, cantik, beretika. Tidak seperti kamu, Naya.”
Naya mengangguk pelan. “Baik, Bu. Kalau Anda lebih memilih Dewi, saya yang akan mundur.”
Suaranya lantang, menggema di seluruh ruangan. Ia tidak naik ke atas. Tidak menoleh ke Arkan. Naya langsung berjalan keluar dari rumah malam itu juga.
“THANAYA!!” Arkan berteriak.
Naya tidak menoleh.
“Biarin dulu, Mas,” kata Bara cepat. “Biar gue aja yang kejar. Dia masih sakit hati.”
Bara langsung berlari menyusul langkah Naya.
“Sialan…” gumam Arkan, lalu mengusap kasar rambutnya.
“Ibu senang dia pergi, Nak,” ujar Ibu Desy sambil mengusap pundak Arkan. “Jelas wanita seperti itu dari awal tidak pantas menjadi istrimu.”
Arkan tidak menjawab. Ia berbalik, naik ke atas, lalu membanting pintu kamarnya sampai Ibu Desy terperanjat di bawah tangga.
Di dalam kamar, Arkan meraih ponselnya. Jarinya mencari nama Dewi di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil.