NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Menyukaimu.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih sunyi di banding biasanya.

Evan sesekali melirik ke arah Shana.

Wanita itu hanya memandang ke luar jendela, menikmati pemandangan yang berlalu tanpa benar-benar melihatnya.

"Kamu menyesal datang ke rumah saya?"

Pertanyaan itu memecah keheningan. Shana menoleh.

"Tidak."

"Lalu kenapa diam?"

"Saya hanya sedikit lelah."

Evan menggeleng pelan.

"Itu bukan jawaban yang sebenarnya."

Shana kembali terdiam. Ia tahu, sulit sekali berbohong di hadapan Evan.

"Shana."

"Ya?"

"Apa karena Nena?"

Jari-jari Shana yang saling menggenggam mengerat. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

Evan kembali bersuara.

"Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, katakan."

"Tidak ada."

"Kamu berbohong."

Shana mengembuskan napas panjang. Ia menatap jalanan di depan, lalu berkata pelan.

"Boleh saya jujur?"

"Tentu."

"Saya... tidak suka keberadaan Bu Nena."

Kalimat itu akhirnya ke luar. Shana langsung menggigit bibirnya.

"Saya tahu saya tidak berhak mengatakan itu."

"Tapi setiap kali melihat beliau datang..."

Ia berhenti sejenak.

"... saya merasa seperti orang asing."

Evan tidak menyela. Ia membiarkan Shana menyelesaikan semua yang ingin diucapkannya.

"Saya tidak mengerti cerita-cerita kalian."

"Saya juga tidak punya kenangan seperti yang beliau miliki."

"Rasanya... saya tidak seharusnya ada di sana. "

Suara Shana semakin lirih.

"Itu sebabnya saya ingin cepat pulang."

Mobil berhenti di lampu merah, Evan menoleh ke arahnya.

"Shana."

Wanita itu perlahan mengangkat wajah.

"Kamu tahu kenapa saya hampir tidak menanggapi pembicaraan Nena?"

Shana menggeleng.

"Karena perhatian saya bukan ke dia."

Deg. Jantung Shana kembali kehilangan iramanya.

Evan tersenyum tipis.

"Sejak dia datang..."

"... saya justru lebih sering memperhatikan seseorang yang tiba-tiba menjadi sangat pendiam."

Pipi Shana memanas.

"Saya tidak ingin kamu merasa asing di rumah itu."

"Itu juga rumahmu, untuk datang kapan saja."

Shana menatap Evan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Tapi saya bukan siapa-siapa."

Evan menghela napas pelan.

"Kalau kamu terus mengatakan 'bukan siapa-siapa'..."

"... kapan saya punya kesempatan menjadikanmu 'seseorang'?"

Shana membeku. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Sementara di balik kemudi, Evan hanya tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya...

Ia sengaja membiarkan isi hatinya terdengar sedikit lebih jelas.

Shana kemudian menatap Evan. Kalimat pria itu terus berputar di kepalanya.

"Kapan saya punya kesempatan menjadikanmu seseorang."

Dadanya kembali berdebar. Ia tidak ingin hanya menebak-menebak. Shana menarik napas pelan.

"Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu."

"Jawab dengan jujur."

Evan mengangguk.

"Saya sudah jujur sejak tadi."

Shana menggenggam tas di pangkuannya.

"Apa sebenarnya hubungan kalian?"

Evan menjawab tanpa ragu.

"Tidak ada hubungan apapun."

"Hanya itu?"

"Iya."

"Tapi sepertinya kalian dekat sekali."

"Nenek dan keluarganya memang sudah saling mengenal sejak lama."

"Lalu... sepertinya Bu Nena menyukai mu?"

Evan tersenyum tipis.

"Itu mungkin benar."

"Maksudnya?"

"Saya tidak bisa mengatur perasaan orang lain."

"Kalau perasaan kamu?"

Hening. Mobil melaju perlahan. Evan tidak langsung menjawab. Shana tersenyum hambar.

"Kalau sulit menjawab, tidak apa-apa. "

"Bukan sulit."

"Lalu?"

Evan menghembuskan napas pelan.

"Saya hanya ingin memastikan."

"Memastikan apa?"

"Kalau jawaban saya nanti tidak akan membuatmu menjauh."

Shana memandangnya bingung.

"Evan..."

Shana memanggil pria itu tanpa canggung.

"Saya hanya ingin kejelasan."

Evan menghentikan mobil di tepi jalan yang cukup sepi. Ia mematikan mesin, lalu menoleh sepenuhnya kepada Shana.

"Tidak pernah ada hubungan antara saya dan Nena."

"Saya menghormatinya, karena Nenek sudah mengenalnya sejak lama."

"Tapi saya tidak pernah memberi harapan."

Shana menelan ludah.

"Kalau begitu..."

"... kenapa kamu memperlakukan ku berbeda?"

Pertanyaan itu akhirnya ke luar juga. Pertanyaan yang sejak tadi berputar-putar di kepala Shana.

Evan menatapnya beberapa detik. Tidak ada senyum. Tidak ada candaan. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan rumah, tatapan pria itu terlihat begitu serius.

"Karena kamu berbeda."

Deg. Jantung Sahan kembali berdebar.

"Itu bukan jawaban.".

Evan tersenyum tipis.

"Baik."

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Saat pertama kali bertemu, kamu memarahi saya di depan banyak orang."

Wajah Shana langsung memerah mengingat itu.

"Kamu bahkan tidak mengenal saya, tidak mengenal nenek."

"Tapi kamu tetap membela seseorang yang menurutmu sedang disakiti."

"Itu hal yang jarang saya temukan."

Shana menuduk.

"Saya malah mempermalukan diri sendiri."

"Mungkin."

Evan tertawa pelan.

"Tapi sejak hari itu saya mulai memperhatikanmu."

Shana mengangkat wajahnya perlahan.

"Saya melihat seseorang yang keras kepala."

"Seseorang yang berani."

"Seseorang yang tulus."

"Seseorang yang selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri."

Pipi Shana semakin memanas.

"Dan semakin saya mengenalmu..."

"... semakin sulit bagi saya untuk menganggapmu sama seperti orang lain."

Evan tersenyum.

"Lalu setelah kamu bekerja dengan saya..."

"... perhatian itu tidak pernah hilang."

"Justru semakin besar."

Jantung Shana terus berdetak tidak beraturan.

"Saya mulai menunggu suara langkahmu setiap pagi."

"Saya mencari alasan untuk mengajakmu makan siang."

"Saya sengaja membelikan gaun karena ingin melihatmu tersenyum."

"Saya bahkan cemburu ketika Arka terlalu dekat denganmu."

Shana menatap Evan tanpa berkedip. Semua potongan kejadian yang selama ini ia anggap kebetulan... ternyata memang di sengaja.

Mobil kembali dipenuhi keheningan. Keheningan yang membuat jantung Shana berdetak semakin cepat.

"Evan."

"Hm?"

"Apakah ini..."

Shana menggigit bibirnya.

"... pengakuan?"

Evan mengulurkan tangan dan dengan hati-hati menggenggam tangan Shana yang berada di atas tasnya.

Tidak erat. Namun cukup membuat tangan Shana membeku.

Shana menatapnya.

"Saya tidak tertarik dengan Nena."

"Saya tidak menunggu siapa pun."

"Dan saya tidak sedang mencari wanita lain."

Jantung Shana semakin tidak terkendali.

"Karena sejak beberapa waktu lalu..."

"... perhatian saya sudah habis untuk satu orang."

"Evan..."

"Saya menyukaimu, Shana."

Kali ini tidak ada kalimat samar, tidak ada kode, tidak ada teka teki. Hanya kejujuran yang akhirnya diucapkan secara langsung.

"Saya menyukaimu."

"Sangat."

-My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa kalian lucu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa gak duduk di balkon apa ruang tamu aja malah telfonan 🤣
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah lah Evan, cepat sat set halalin aja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
bener ya nenek cuma bilang apa yang terlihat 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
tidak merepotkan, malah senang ya Evan 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek menceritakan masa kecil Evan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
Diterima ga ya🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒: terima aja kak 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ngapain sih Nena ada disnaa JD kan ke ganggu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek benar, Evan gak bisa berpaling darimu Shana 🤭
⃟ ⃟🐬🅿!💤©€$™_- 🐟
ehekkk... hayooo Shanaaa😂🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
terus terang aja kalian tuh PD saling memikirkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kalian sudah cocok kayaknya knp gak jadian aja
Maura Ayna
semangat terussss, halalkan hubungan mereka🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!