Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Gadis di Tengah Kegelapan
Malam setelah interogasi itu, Arda tidak bisa tidur.
Sudah lewat pukul dua dini hari.
Namun lampu kamarnya tetap masih menyala.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Tatapannya kosong.
Pikirannya kembali pada gudang.
Pada pria yang terikat di kursi.
Pada ketakutan di wajahnya.
Pada kata-kata Kael.
Dan pada satu kenyataan yang mulai sulit diabaikan.
Semakin jauh ia melangkah...
Semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Dunia yang diwariskan Leon bukanlah dunia yang sederhana.
Di dunia itu...
Orang baik bisa melakukan hal buruk.
Dan orang buruk terkadang melakukan hal yang benar.
Tidak ada garis yang jelas.
Tidak ada jawaban yang mudah.
Arda menghela napas panjang.
Kemudian berdiri.
Meninggalkan kamar.
Ia membutuhkan udara.
Atau mungkin sesuatu yang bisa membuat pikirannya lebih tenang.
Koridor rumah persembunyian sepi.
Sebagian besar penghuni sudah tertidur.
Hanya beberapa penjaga yang masih berjaga.
Langkah kaki Arda menggema pelan.
Dan tanpa sadar...
Kakinya membawanya menuju taman belakang.
Tempat yang sering ia datangi ketika pikirannya terlalu penuh.
Udara malam terasa sejuk.
Langit cerah.
Bintang-bintang terlihat samar di antara cahaya kota.
Dan di bangku kayu dekat pohon tua...
Seseorang sudah berada di sana.
Elena.
Gadis itu sedang memegang secangkir teh hangat.
Tatapannya mengarah ke langit.
Tenang.
Damai.
Berbeda dari dunia yang mengelilingi mereka.
"Kau juga tidak bisa tidur?"
tanya Elena tanpa menoleh.
Arda tersenyum tipis.
"Kau selalu tahu kalau aku datang."
Elena akhirnya menoleh.
Ada senyum kecil di wajahnya.
"Aku mendengar langkah kakimu."
Arda duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat...
Tidak ada yang berbicara.
Dan anehnya...
Keheningan itu terasa nyaman.
Tidak memaksa.
Tidak canggung.
Seolah mereka tidak perlu mengisi setiap detik dengan kata-kata.
Angin malam berembus pelan.
Membuat rambut Elena bergerak sedikit.
Arda memandang ke depan.
Lalu berkata pelan.
"Aku melihat sesuatu hari ini."
Elena tidak bertanya apa.
Ia hanya mendengarkan.
Karena ia tahu.
Jika Arda ingin bercerita...
Ia akan melanjutkan sendiri.
"Aku mulai mengerti kenapa Leon terlihat lelah di foto-foto terakhirnya."
Kalimat itu membuat Elena menoleh.
Arda tersenyum hambar.
"Semakin banyak yang aku tahu..."
"...semakin aku mengerti betapa berat semuanya."
Elena menatapnya beberapa detik.
Kemudian berkata pelan.
"Aku rasa Leon akan bangga."
Arda langsung menggeleng.
"Aku belum melakukan apa-apa."
"Justru karena itu."
Arda mengernyit.
Namun Elena melanjutkan.
"Karena meskipun kau bisa memilih menyerahkan semuanya kepada Kael..."
"...kau tetap mencoba memikulnya."
Keheningan kembali muncul.
Namun kali ini berbeda.
Lebih hangat.
Lebih dekat.
Arda memandangi langit.
Kemudian bertanya sesuatu yang sudah lama ada di pikirannya.
"Kenapa kau tetap di sini?"
Elena terlihat terkejut.
"Maksudmu?"
"Kau bisa pergi kapan saja."
"Kau tidak terikat pada keluarga Valdarez."
"Kau tidak harus ikut terlibat dalam semua ini."
Elena menunduk.
Menatap cangkir teh di tangannya.
Beberapa saat ia tidak menjawab.
Seolah sedang mencari kata yang tepat.
"Aku pernah kehilangan rumah."ucapnya akhirnya.
Suara gadis itu sangat pelan.
Namun cukup jelas untuk didengar.
"Aku pernah kehilangan orang-orang yang penting."
"Aku pernah merasa sendirian."
Arda mendengarkan.
Tanpa menyela.
"Lalu aku bertemu kalian."
Senyum kecil muncul di wajah Elena.
"Bukan keluarga yang sempurna."
"Bahkan jauh dari sempurna."
"Tapi tetap keluarga."
Kalimat itu membuat dada Arda terasa hangat.
Karena untuk pertama kalinya...
Ia menyadari sesuatu.
Bukan hanya dirinya yang diselamatkan oleh orang-orang di rumah ini.
Elena juga.
Dengan caranya sendiri.
"Aku tidak tinggal di sini karena terpaksa."lanjut Elena.
"Aku tinggal karena aku ingin."
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk sesaat...
Tidak ada suara lain.
Tidak ada perang.
Tidak ada Victor.
Tidak ada pengkhianatan.
Hanya mereka berdua.
Arda segera mengalihkan pandangan.
Karena entah kenapa...
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Dan itu membuatnya bingung.
Sangat bingung.
Keesokan harinya.
Rumah persembunyian kembali sibuk.
Namun kali ini suasananya sedikit lebih ringan.
Setidaknya di permukaan.
Karena meskipun ancaman Victor masih ada...
Tidak ada serangan baru selama beberapa hari terakhir.
Dan jeda itu memberi kesempatan untuk bernapas.
Arda menghabiskan sebagian besar pagi bersama Ravian.
Mempelajari laporan keuangan.
Sesuatu yang dulu terasa membosankan.
Namun sekarang menjadi penting.
Karena perang tidak hanya dimenangkan dengan senjata.
Tetapi juga dengan uang.
Saat makan siang.
Elena datang membawa beberapa dokumen medis.
Dan seperti biasa...
Ravian langsung mulai bercanda.
"Akhirnya orang normal datang."
Elena memutar mata.
"Kalau begitu kenapa kau masih di sini?"
Darius yang duduk di sudut ruangan langsung tertawa kecil.
Ravian pura-pura tersinggung.
"Aku diserang."
"Aku korban."
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu...
Ruangan dipenuhi tawa.
Singkat.
Namun cukup untuk mengingatkan semua orang bahwa mereka masih manusia.
Arda memperhatikan Elena dari seberang meja.
Cara gadis itu tersenyum.
Cara ia berbicara.
Cara ia membuat suasana menjadi lebih ringan.
Dan tanpa sadar...
Ia mulai memahami sesuatu yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya.
Selama beberapa bulan terakhir...
Saat semuanya terasa hancur...
Elena selalu ada.
Saat ia kehilangan arah.
Saat ia marah.
Saat ia takut.
Saat ia hampir menyerah.
Elena selalu ada.
Bukan dengan pidato panjang.
Bukan dengan jawaban ajaib.
Hanya dengan kehadirannya.
Dan ternyata...
Terkadang itu sudah cukup.
Malam tiba.
Arda kembali ke balkon lantai dua.
Kebiasaan baru yang mulai ia sukai.
Dari sana ia bisa melihat sebagian kota.
Lampu-lampu yang berkelap-kelip.
Jalanan yang sibuk.
Kehidupan yang terus berjalan.
Meski perang terjadi di balik bayangan.
Langkah kaki terdengar.
Arda tidak perlu menoleh.
Ia sudah tahu siapa itu.
Elena.
"Kau mulai sering di sini."ucap gadis itu.
Arda tersenyum kecil.
"Mungkin."
Elena berdiri di sampingnya.
Memandang kota yang sama.
"Kau tahu."ucap Elena pelan.
"Aku dulu takut padamu."
Arda hampir tersedak.
"Apa?"
Elena tertawa kecil.
"Serius."
"Dulu kau pendiam sekali."
"Dan selalu terlihat marah."
"Itu tidak membantu."gumam Arda.
Elena kembali tertawa.
Dan suara itu membuat suasana terasa jauh lebih hangat.
Namun beberapa detik kemudian...
Senyum di wajah Elena perlahan memudar.
Tatapannya berubah.
Menjadi lebih serius.
Lebih lembut.
"Arda."
"Hmmm?"
Elena menatapnya.
Langsung ke mata.
Dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan...
Jantung Arda kembali berdetak lebih cepat.
"Kau tidak harus memikul semuanya sendirian."
Keheningan menyelimuti balkon.
Angin malam berembus pelan.
Membawa kata-kata itu masuk jauh ke dalam pikirannya.
Karena tidak banyak orang yang mengatakan hal seperti itu kepadanya.
Tidak banyak orang yang benar-benar memahami beban yang ia rasakan.
Namun Elena selalu bisa melihatnya.
Bahkan saat ia berusaha menyembunyikannya.
Arda tersenyum.
Kali ini bukan senyum tipis.
Bukan senyum sopan.
Melainkan senyum yang tulus.
Dan Elena menyadarinya.
Karena itu mungkin pertama kalinya ia melihat senyum seperti itu sejak Leon meninggal.
Namun di tempat lain...
Jauh dari rumah persembunyian.
Seseorang sedang memperhatikan foto-foto Valdarez.
Termasuk foto Arda.
Dan foto Elena.
Pria itu duduk di ruangan gelap.
Hanya diterangi lampu meja.
Di depannya terdapat simbol yang sama dengan yang ditemukan pada beberapa lokasi serangan.
Victor.
Ia mengambil foto Elena.
Memperhatikannya beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
Senyum yang membuat ruangan terasa lebih dingin.
Lebih mengerikan.
Karena akhirnya...
Ia menemukan sesuatu.
Sesuatu yang bahkan lebih berharga daripada uang.
Lebih berharga daripada wilayah.
Lebih berharga daripada kekuasaan.
Sebuah kelemahan.
Dan dalam perang...
Kelemahan adalah senjata yang paling mematikan.
Victor meletakkan foto Elena di atas meja.
Lalu berkata pelan.
"Jadi ini orangnya."
Senyumnya semakin lebar.
Sementara di rumah persembunyian...
Arda dan Elena sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya baru telah mulai bergerak ke arah mereka.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪