"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Black sebenarnya?
“STOP JANGAN SAKITI NAREN!”
Muka Black memerah, tangannya mengepal sempurna, langkahnya terhenti saat dia melihat seorang anak kecil sedang dikeroyok lima anak yang badannya jauh lebih besar. Hati Black terasa sangat sakit melihatnya, dua hari lalu dia melihat Naren meringkuk memeluk kedua kakinya sedangkan temannya sedang mengolok-ngoloknya, tapi sekarang apa yang dia lihat jauh lebih menyakiti hatinya lagi.
Apa ancaman tak cukup untuk membuat mereka jera? Apa mereka merasa jika Black tak akan menepati ancaman yang sudah dia berikan?
Dua guru yang berjaga juga seolah menutup mata melihat aksi itu, Black yakin jika dua guru itu tahu akan perbuatan kelima muridnya itu, kenapa mereka diam?
Apa status sosial dari orang tua kelima anak itu menjadi patokan yang membuat mereka takut? Harusnya mereka juga takut karena orang tua Naren juga bukan orang sembarangan, mereka punya uang dan kuasa.
Jika ancaman tak membuat mereka takut maka kenyataan yang terjadi mungkin akan membuat mereka takut.
Sementara Bintang juga sangat kaget, dia tak menyangka tempat yang dia kira aman dan nyaman nyatanya adalah tempat paling berbahaya untuk keponakannya.
Black mengambil ponsel dan menelepon seseorang sementara Bintang maju menolong Naren dan menggendong Naren yang sudah menangis gak karuan.
Kelima anak itu sekarang sedang beradu pandang dengan Black yang sudah menatap mereka cukup tajam.
“Pin, tutup tempat les kasih bunda, kalau perlu bikin orang yang bersangkutan tak bisa lagi bertahan, bikin mereka merasakan ketidaknyamanan yang Naren rasakan dan bakar tempat ini, SEKARANG!” Titah Black lalu menutup telepon setelah mendapat jawaban dari Alvin.
Dua guru dan lima anak itu sekarang sedang menertawakan Black, mereka mengira jika apa yang Black katakan hanya sebuah lelucon belaka, mereka tak tahu bahaya apa yang akan mereka dapatkan nanti.
“Kalian boleh mengabaikan ancaman saya tapi jika semua sudah terjadi jangan pernah minta saya memaafkan kalian.”
Bintang yang juga ikut geram maju dan menatap kelima anak itu dengan tatapan sangat tajam membuat mereka berlima sedikit ketakutan.
“Saya kenal orang tua kalian, saya juga yakin jika mereka tidak tahu kalian berbuat seperti ini, jika besok kalian tak bisa melihat indahnya mentari, jangan salahkan saya jika kalian yang akan menjadi korban dari orang tua kalian sendiri.” Satu kalimat yang membuat lima bocah tengil didepan Bintang sedikit bergidik ngeri.
“Sudah ayo pulang, mereka tidak akan selamat, hari ini hari terakhir mereka ketawa,” Ucap Black sambil menggendong Naren menuju mobil dan Bintang mengikuti Black dibelakang sembari menelepon seseorang untuk mengurus tempat les itu, tapi langkah Bintang terhenti mendengar jawaban dari seberang telepon.
“Saya tidak bisa mengurus mereka, semua sudah sangat buruk hanya mereka yang belum tahu, tak ada celah untuk kita ikut campur menghukum mereka, bahkan orang tua dari kelima anak itu juga sudah hancur lebur.”
Bintang mematikan telepon sepihak, dia berlari masuk mobil, di dalam mobil Black sedang mengobati luka Naren, Bintang masuk dan menatap Black sangat lama.
“Kenapa?”
“Siapa lo? Kuasa apa yang lo punya sampai bisa berbuat yang jauh dari apa yang akan gue lakukan?”
“Belum saatnya lo tau gue siapa, tapi gue orang yang akan menepati apa yang sudah gue katakan, jangan kaget jika besok banyak berita menggemparkan, termasuk dengan berita terbakarnya tempat biadab itu.” Setelah mengucapkan itu Black kembali fokus mengobati luka Naren dan tak menjawab apapun pertanyaan Bintang.
Bintang yang sudah lelah dengan pertanyaan yang Black tak jawab, menjalankan mobil dengan pikiran yang sudah sangat berantakan, pertanyaannya cuma satu “Siapa Black?”
Mobil merah Bintang masuk ke halaman Embun pagi dan menurunkan Black juga Naren disana tanpa bertanya apapun lagi bahkan tak ada niatan untuk meminta Naren pulang bersamanya.
Bintang pergi meninggalkan Embun pagi menemui seseorang yang mungkin akan tahu siapa Black, apa ini ada hubungannya dengan Rain?
KEDIAMAN BRAHMANA.
Bintang berhenti di depan sebuah rumah besar dan mewah bernuansa putih setelah dia menanyakan kepada tuan rumah apakah dia dirumah atau tidak, tapi rasanya kaki Bintang enggan untuk melangkah, dia malu dengan apa yang akan ditanyakan kepada tuan rumah, karena pertanyaan itu menjelaskan seberapa jauh hubungannya dengan Rain dulu.
“Tang, ngapain diam disitu?” Pertanyaan dari sahabat yang kini sedang berada diambang pintu, menyambut Bintang yang sangat berat untuk melangkahkan kakinya masuk kedalam dan menemui sahabatnya itu.
Bintang perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, menarik senyum tipis yang sangat berat diberikan setelah melihat wajah ketakutan keponakannya dan wajah tenang keponakannya saat dia berada dipelukan Black yang bahkan dia belum tahu kalau orang yang menggendongnya itu bukan tante Rain melainkan hanya orang yang wajahnya sama, tapi cinta dan perhatiannya juga sama.
Saat memikirkan Naren, pikirannya terbang jauh, dimana jawabannya mungkin juga hanya orang didepannya ini yang tahu, secuek dan sedingin apapun Andra, jika berurusan dengan Rain rasanya hanya dia yang tahu. Ya, Bintang sekarang sedang berada dirumah Andra, tapi lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan sekian banyak pertanyaan yang sudah dia siapkan dipikirannya.
“Tang.”
Panggilan Andra menyadarkan Bintang dari lamunannya. Panggilan yang sudah Andra ulangi sebanyak tiga kaki dan panggilan ketiga baru Bintang dengar. “Ndra, apa lo tahu siapa Black?” Rasanya sangat berat kalimat itu keluar dari mulut Bintang, karena dari pertanyaan itu akan membuka banyak pertanyaan lain yang membuatnya malu mengakui jika hubungannya dengan Rain sangat jauh.
“Gue gak tahu pasti siapa Black, gue hanya tahu sejauh apa yang lo tahu saja,” Jawab Andra sedikit bingung dengan arah pembicaraan Bintang.
“Kalau Rain siapa lo tau gak?” Ini adalah pertanyaan yang seharusnya ditanyakan sedari tadi.
“Lo gak lagi lupa ingatan ‘kan? Rain itu istri lo, masa iya lo gak tahu latar belakangnya juga, lo nikah empat tahun harusnya lo tahu dia siapa dong?”
“Maksud gue, apa Rain punya kuasa? Apa kebakaran yang terjadi di kantor Leon dua tahun lalu ada hubungannya dengan Rain?”
“Kenapa lo tiba-tiba menanyakan hal yang sebelumnya tidak lo pedulikan?”
Bintang tersentak dengan jawaban Andra, dia sadar dulu saat Andra akan menjelaskan kejadian terbakarnya kantor Leon, Bintang bahkan tidak mau mendengarkan dan tetap menyalahkan Rain karena tak ikut datang saat dia diambang kebangkrutan karena Leon, tanpa dia tahu kebakaran itu ulah siapa yang dia pikirkan hanya yang terpenting Leon tak punya kuasa apapun lagi untuk terus membuatnya semakin jatuh.
“Dulu memang gue gak mau tahu kenapa Rain menghilang setiap gue terkena masalah tapi setelah dia pergi banyak kebenaran yang gue dapatkan, gue hanya mau tahu apa ini salah satu bantuan yang diberikan buat gue juga?”
Andra diam cukup lama sampai dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya, dia bimbang akankah dia melanggar janjinya pada Rain atau tidak?
Andra masih terus berpikir cukup lama sampai akhirnya dia membuka suara. “Iya, itu ulah Rain, dia yang membakar kantor Leon dengan tangannya sendiri karena dia sangat membenci Leon yang sudah membuat suaminya hampir bangkrut.”
BERSAMBUNG.