NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 25. Review makanan

Pintu kayu ek bertuliskan Private Office itu mendadak terbuka dengan sentakan keras tanpa ketukan sama sekali.

Braakk!

"Deaa! Gila ya, susah banget nyari kau. Kukira di cabang lain dekat tempat orang tua aku, ternyata malah sembunyi di sini!" suara cempreng yang sangat kukenal itu langsung memecah keheningan ruangan.

Aku yang sedang fokus memelototi layar laptop spontan mendongak. Di ambang pintu, Shelly berdiri dengan cengiran tanpa dosa, lengkap dengan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya dan tas jinjing mahal yang berayun di lengannya.

Melalui celah pintu yang terbuka lebar, aku bisa melihat ekspresi kaget dari beberapa pegawai baristaku di luar. Mata mereka melotot, saling berbisik satu sama lain. Tentu saja mereka syok.

Ruangan ini adalah area sakral yang bahkan tidak semua karyawan bebas keluar masuk, dan tiba-tiba ada seorang perempuan asing yang nyelonong masuk begitu saja tanpa permisi.

"Bu... Bu, tadi kami sudah tegur, tapi beliau langsung masuk..." salah satu staf seniorku, Tiur, menyembul di balik punggung Shelly dengan wajah pucat dan serba salah.

Aku menghembuskan napas panjang, lalu memberikan isyarat tangan yang menenangkan kepada stafku. "Enggak apa-apa, Yur. Dia emang agak kurang waras. Tolong tutup pintunya lagi ya, makasih."

Tiur mengangguk lega lalu segera menarik pintu hingga tertutup rapat, memutuskan pandangan kepo dari para pegawai di luar.

Sementara itu, si pelaku utama tanpa tahu malu langsung menghempaskan dirinya di sofa empuk sudut ruanganku, meluruskan kakinya yang dibalut high heels merah menyala.

"Shel, kamu tuh ya! Minimal ketuk pintu dulu kenapa sih? Kamu bikin anak-anak jantungan tau nggak," omelku sambil melepaskan kacamata radiasi dan menyandarkan punggung ke kursi kebesaran operasional milikku.

"Ah, elah, De, kayak sama siapa aja," kibas Shelly santai, sama sekali tidak merasa bersalah.

Ia memperhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kuku, lalu berdecak kagum. "Tapi gila ya, kau habis keliling lima belas cabang sampai larut malam, kok penampilannya masih se-pangling ini sih? Kulit kau glowing betul, rambut badai, kuku juga on point. Resepnya apa sih, Ibu Manajer? Pasti yang kau incer seleranya bukan main, kan?"

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatku ini. Kedatangan Shelly yang tiba-tiba selalu membawa angin segar di tengah kepalaku yang hampir pecah memikirkan manipulasi data kantor. Namun, aku harus tetap waspada di tempat seperti ini.

Soalnya dinding pun bisa punya telinga.

Aku berdiri mematung di balik meja kerjaku, memperhatikan Citra yang mendadak mundur teratur dari depan jendela kaca dengan wajah sepucat kertas.

Ekspresi angkuhnya yang biasa ia pamerkan di depan para staf langsung luntur seketika begitu melihat siapa yang duduk di sofaku.

Aku hampir saja kelepasan tertawa kalau tidak ingat posisiku sekarang. Selama ini, Citra selalu menganggapku sebagai kerikil di sepatunya. Sebagai Manajer Operasional, dia merasa posisinya berada di atasku dan terus-menerus mencari celah untuk membuatku terlihat tidak kompeten.

Dia pikir aku hanyalah perempuan manja yang cuma tahu cara berdandan dan merawat kuku, tanpa tahu seberapa keras aku memeras keringat di gym dan menyusuri lima belas cabang coffee shop hingga larut malam demi tanggung jawab pekerjaan.

"Eh, De, itu siapa sih di jendela pintu? Mukanya kayak habis lihat hantu," celetuk Shelly sambil mengunyah camilan yang ia bawa. Ia melambaikan tangannya di depan wajahku, membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh ke arah sahabatku itu, lalu tersenyum tipis. "Bukan siapa-siapa. Cuma orang yang salah paham."

Aku berjalan mendekati jendela besar, menatap ke arah luar area kafe. Melihat bagaimana Citra sekarang mendadak salah tingkah dan buru-buru merapikan pakaiannya, aku tahu roda permainan ini sudah mulai berputar ke arahku.

Citra tidak tahu bahwa laporan penuh manipulasi data yang ia tandatangani sudah berada di tanganku. Dia juga tidak tahu bahwa perempuan yang baru saja ia anggap 'penyusup' di ruanganku adalah influencer besar yang selama ini dicari-cari oleh General Manager kami untuk menaikkan branding coffee shop ini.

Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan kepercayaan diri kembali mengalir penuh di dalam dadaku. Rasa lelah karena bekerja dari jam enam pagi sampai jam sepuluh malam seolah menguap begitu saja.

Kulitku yang terawat, tubuhku yang bugar berkat rutinitas gym, dan otakku yang tetap dingin adalah senjata terbaikku.

Citra boleh saja memegang kendali operasional saat ini. Tapi dengan bukti manipulasi data yang sedang kukumpulkan, ditambah koneksi besar yang dibawa Shelly tepat ke hadapanku, aku tahu masanya untuk menindasku akan segera berakhir.

Aku akan memastikan setiap poin di laporan palsu itu terbongkar, dan saat hari itu tiba, kecantikan dan kesuksesanku akan menjadi hal terakhir yang paling ingin ia lihat.

Ia tidak banyak berbicara padaku, bahkan menyapa pun hampir tidak. Tapi aku tahu sedang ada yang ia susun di belakangku. Bukan cuma data ini, tapi aku rasa sesuatu yang lain.

“Aku takut tenggelam, lama aku nggak pernah upload apapun. Naikan branding aku lagi, kek biasa numpang sama kamu," ungkapku tanpa sungkan pada Shelly.

“Segala ngomong! Kek tak biasanya pansos aja," sahutnya dengan melirik sinis dan tertawa lepas.

Ia tahu padahal sedang aku manfaatkan, tapi ia datang sendiri kok tanpa aku iming-imingi apapun. Ia sahabat terbaik.

“Usaha kau nih segala macam buat coffee shop ini tetap eksis. Nggak mungkin kan bayarannya cuma duit aja? Pasti kau dijanjikan anak laki-laki yang keliatannya enak itu kan?" lanjutnya menuduhku seperti biasa.

Memang di Jakarta pun hari-harinya ya terus menyudutkanku dengan mas Barraq.

“Iya, dapat batang kokohnya juga nanti aku!" jawabku kesal.

Tawanya lepas membahana.

Banyak yang memuji di medsos katanya cantikan aku pun, tetap yang lebih terkenal ya dirinya. Di samping dari daya tariknya sendiri, ia pun memasang implan dada yang lebih besar dariku.

Sengaja sekali memang itu perempuan.

“Ayo keluar, minta anak-anak siapkan menu yang best seller," ajaknya melangkah lebih dulu.

Karena aku jelas membutuhkan jasanya, aku akan menggratiskan apa yang ia makan. Biar nanti aku yang mengcover biayanya. Tapi biasanya jika ia ingin datang nongkrong dan ngobrol denganku saat berada di Jakarta, ia biasanya tetap bayar sendiri kok.

Ia paham bahwa itu semua adalah bisnis, ia pun tak mau merugikan usaha orang lain. Apalagi jelas, itu bukan usahaku.

"Bu Dea," panggil Tiur, kepala bartender kami, dengan suara pelan yang setengah berbisik saat aku berjalan melewati bar untuk menghampiri Shelly. "Maaf, Bu... itu kak Shelly influencer itu, temannya Bu Dea ya?"

Aku menghentikan langkahku sejenak, lalu menatap Tiur dengan senyum tipis yang ramah. "Iya, Tiur. Dia temanku."

Hanya sebatas itu jawaban yang kuberikan. Pendek, padat, tanpa perlu pamer atau melebih-lebihkan. Aku langsung melanjutkan langkahku menuju meja sudut tempat Shelly sudah bersiap dengan ponsel dan ring light portabelnya.

Namun, indra keenamku menangkap getaran aura yang sangat tidak enak dari arah kanan. Benar saja, saat aku melirik sekilas, Citra sedang berdiri di dekat pilar pembatas kasir. Raut wajahnya tidak bisa berbohong, matanya menyipit tajam dan bibirnya tertekuk rapat, memancarkan rasa tidak suka yang amat kentara. Saking jelasnya, rasanya siapa pun yang lewat bisa membaca bahwa Manajer Operasional kami itu sedang terbakar kedengkian.

Aku sengaja mengabaikan tatapan menusuk dari Citra. Dengan gerakan anggun, aku menarik kursi di hadapan Shelly dan duduk menemaninya. Hari ini, Shelly datang bukan sekadar untuk nongkrong, tapi untuk mereview menu makanan baru di coffee shop ini.

Sebuah momen yang sebenarnya sangat dinantikan oleh manajemen atas untuk mendongkrak popularitas cabang kami.

"Nah, De, aku mau coba signature pastry sama menu berat yang baru itu. Kau temenin aku di depan kamera, ya?" ucap Shelly bersemangat, mengarahkan kamera ponselnya ke arahku.

"Boleh, siapa takut," jawabku santai. Aku merapikan sedikit helaian rambutku yang jatuh dengan indah, memastikan penampilanku tetap prima. Kulit yang kurawat dengan telaten dan kuku-kuku cantikku yang tampak bersih kini terekam sempurna di layar ponsel Shelly yang memiliki ratusan ribu pengikut.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Citra semakin salah tingkah. Dia pasti makin meradang melihatku, orang yang selalu ingin dia jatuhkan, justru duduk santai mendampingi aset promosi terbesar yang bahkan tidak bisa ia jangkau dengan jabatannya.

Sebagai General Manager, aku tahu betul bagaimana cara menempatkan diri. Aku tidak perlu membalas keangkuhan atau tatapan sinis Citra dengan kata-kata kasar.

Cukup dengan duduk di sini, menunjukkan kapasitas dan koneksiku secara elegan, aku sudah berhasil membuat posisinya sebagai Manajer Operasional terasa begitu kerdil. Biarlah dia terus menatapku dengan benci, sementara aku dan Shelly mulai bersiap mencicipi hidangan pertama yang diantarkan oleh staf bar.

1
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!