"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta dan Kepercayaan yang Retak
*
*
*
Langit masih muram, diselimuti awan tipis yang belum sepenuhnya pergi. Cahaya matahari berusaha menembus celah-celahnya, namun hanya menghasilkan semburat pucat yang membuat pagi tampak kehilangan gairah.
Andreas sudah rapi, dengan setelan berwarna navy gelap dengan motif pinstripe tipis yang membentang rapi dari bahu hingga ujung lengan. Potongan jasnya tegas dan presisi, membingkai tubuhnya dengan kesan formal yang mahal.
"Isa, gimana penampilan aku? Ada yang kurang nggak?"
Pria itu terus memastikan penampilannya didepan kaca meja rias yang terletak anggun di ujung ruangan kamar mereka.
Isana menaruh botol minyak telon, ditempat khusus perlengkapan Ghazi. Ia menoleh, kemudian berjalan pelan mendekati suaminya.
"Coba aku lihat?"
Andreas berbalik, menghadap sempurna, merentangkan tangannya setengah.
Tangan Isana terulur, pandanganya fokus pada tubuh proporsional milik suaminya. Jarinya merapikan kerah jas Andreas yang sebenarnya sudah sempurna. Menepuk pelan bagian dada, lalu membenarkan ujung dasi yang bergeser tidak sampai satu sentimeter.
"Gimana?" Andreas memperhatikan reaksi wajah istrinya. "Aku mau tampil sempurna hari ini Isa. Karna hari ini aku resmi dengan jabatan project director. Posisi yang aku impikan selama ini." lanjutnya dengan mata berbinar.
Isana mengerucutkan bibir, berpura-pura menilai dengan serius.
"Jadi?" Andreas penasaran.
"Hmm, tampan." Isana mundur satu langkah, "Kalau penampilan kamu begini, aku yakin akan ada yang nggak bisa lepas menatap kamu Mas."
Sudut bibir Andreas terangkat, "Serius?"
"Ya, aku serius."
"Isa, kamu nggak lagi cuma bikin aku seneng aja kan?
"Ya memang terlalu tampan." Isana mengangkat bahu. "Kalau nanti ada yang ngelirik kamu di kantor, jangan salahin mereka."
Andreas tertawa kecil. Suara tawanya membuat suasana kamar yang sejak beberapa hari terakhir terasa dingin, mendadak sedikit mencair.
Ia meraih pinggang Isana dan menarik wanita itu mendekat.
"Siapapun yang melirik, itu tidak lebih penting dari Istri aku ini."
Biasanya kalimat seperti itu akan membuat Isana tersenyum. Bahkan mungkin memukul pelan dadanya karena malu. Namun kali ini tidak.
Wanita itu tersenyum, namun hanya tipis. Terlalu tipis.
lebih mirip sekedar formalitas.
Andreas menyadarinya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Rasa bersalah disertai rasa takut bercampur jadi satu.
Tanpa sadar, ia mengeratkan tangan yang masih melingkar dipinggang ramping istrinya.
"Kalau kamu nggak lagi nifas, aku pasti ajak kamu. Aku pengen, kamu orang pertama yang melihat keberhasilan aku."
Senyum Isana berganti dengan tawa sumbang. "Kamu yakin, cuma aku yang pertama kali melihat keberhasilan kamu, Mas?"
"Iya dong ..." Andreas mengecup pelipis Isana, lembut. "Karna cuma kamu yang pantas mendapatkan itu. Isa ... kamu tahu kan, kalau apa yang aku lakukan ini demi kamu, sama Ghazi?"
Isana memejamkan mata, rasa muak mengisi benaknya. Mendengar omong kosong yang keluar dari mulut laki-laki yang masih ia cintai.
Tidak mendapat jawaban, Andreas memilih mengalihkan pembicaraan. "Isa, aku pergi dulu ya. Nanti aku akan pulang lebih cepat, karna acara buat Ghazi kan nanti malam."
Isana mengangguk, melepaskan tangan Andreas.
"Aku ambilin jam tangan kamu dulu ..."
Ia berbalik menuju nakas.
Sementara Andreas mengembuskan napas perlahan.
Tatapannya jatuh pada punggung wanita itu.
Tubuh yang dulu selalu berlari kecil menyambutnya pulang. Tubuh yang dulu selalu bercerita tentang hal-hal sepele sebelum tidur.
Sekarang terasa begitu dekat, namun entah kenapa juga begitu jauh. Andreas merindukan moment itu, moment yang dulu terasa mengganggu tapi sekarang ia ingin sekali mengulanginya. Namun, semuanya seolah sangat susah untuk kembali ia bangun.
"Ini." Isana menyerahkan jam tangan itu.
Andreas menerimanya. Jari mereka bersentuhan sepersekian detik.
Dulu sentuhan kecil seperti itu terasa biasa. Kini justru membuat Andreas ingin menggenggamnya lebih lama. Rasa takut kehilangan begitu menyesakkan dadanya.
"Isa."
"Ya?"
Andreas membuka mulut. Ingin mengatakan sesuatu.
Ingin meminta maaf. Ingin bertanya apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya. Ingin juga mengakui semua yang selama ini ia sembunyikan. Namun pada akhirnya, tidak ada satu pun yang keluar.
Yang tersisa hanya kalimat aman. Kalimat pengecut.
"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus percaya kalau cinta untuk kamu, masih sama besarnya sejak dulu, sampai sekarang, dan akan selamanya."
Andreas memeluk tubuh yang sekarang terasa lebih kurus dari sebelumnya. Pelukannya begitu erat. Menaruh tubuh Isana dalam-dalam.
Tenggorokan Isana penuh sesak, bagai dicekik oleh sesuatu yang tak kasat mata. Dadanya terasa begitu nyeri.
Pelukan itu, pelukan yang dulu membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung, wanita paling bahagia, wanita yang merasa dunia akan baik-baik saja, jika pelukan itu masih ada.
'Ya ... Allah, betapa aku merindukannya ...' batin Isana menjerit.
Hampir saja tubuh Isana menyerah untuk tenggelam lebih dalam ke dalam dekapan itu. Nyaris membiarkan dirinya memejamkan mata dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Bahwa tidak ada foto-foto itu. Tidak ada pesan-pesan itu. Tidak ada perempuan lain yang diam-diam mengambil ruang dalam kehidupan suaminya.
Karna cinta dihatinya masihlah sama. Masih sama seperti awal pernikahan mereka. Air mata menggenang di pelupuk matanya.
Andai saja cinta cukup untuk memperbaiki semuanya.
Andai saja ia bisa memeluk Andreas tanpa harus mengingat setiap bukti yang telah menghancurkan kepercayaannya sedikit demi sedikit.
Namun ingatan itu terlalu kejam. Setiap kali ia ingin menikmati kehangatan pelukan tersebut, bayangan-bayangan itu kembali datang tanpa diundang. Potongan-potongan fakta yang terus berputar di kepalanya seperti pecahan kaca. Serpihannya menusuk. Mengoyak. Meninggalkan luka baru setiap kali ia mencoba bernapas.
Isana menggenggam erat bagian belakang jas Andreas. Dengan mata yang tertutup rapat.
Kini ia menyadari bahwa mencintai seseorang dan mempercayainya ternyata adalah dua hal yang berbeda.
Ia masih memiliki yang pertama. Cinta itu masih utuh,
namun tidak dengan yang kedua. Kepercayaan itu sudah retak.
Bahkan retakkan itu mengeluarkan suara setiap kali Andreas berkata bahwa cintanya masih sama.
Karena jika memang masih sama ... Lalu mengapa Isana harus menangis seperti ini?
Mengapa dadanya terasa sesak bahkan ketika berada dalam pelukan orang yang paling ia rindukan?
Isana membuka mata, mendorong tubuh Andreas pelan. "Oke Mas, kamu sudah terlambat. Take care ya ... " ucapnya sembari menyembunyikan muka.
Andreas masih belum bisa melepas pelukannya.
Ia masih ingin, menikmati hangat tubuh Isana selama beberapa detik yang terasa begitu berharga. Rasa takut terus menguasai hatinya.
Takut suatu hari nanti, bahkan pelukan ini pun tidak lagi mampu mengalahkan rasa sakit yang ia tinggalkan oleh kebenaran.
"Aku ke kantor dulu ya, nanti kamu ke rumah Mama aja langsung. Seragam keluarga juga udah Mama persiapkan. Atau mau sekarang aja? Aku antar kamu dulu ke rumah Mama?"
Isana menggeleng, "Nanti aja Mas, aku masih mau berdua saja sama Ghazi."
"Ya sudah kalo begitu, tungguin aku pulang ya. Kita ke rumah Mama, barengan aja."
Pria itu mendaratkan bibirnya didahi istrinya sebelum benar-benar melangkah pergi.
"Kebohongan apa lagi yang akan kamu bawa pulang kali ini Mas?" gumam Isana, ketika punggung suaminya sudah tak terlihat.
Isana berjalan menuju meja diruang tengah. Kemudian duduk menghadap meja yang diatasnya ada laptop berwarna silver, masih tertutup layarnya.
Ia buka laptop itu, jemarinya lincah menari diatas keyboard. Mencari-cari sesuatu, dengan wajah serius.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍