Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan yang Tak Pernah Selesai
Pagi itu hujan akhirnya reda. Genangan air masih terlihat di beberapa ruas jalan, tetapi kendaraan sudah mulai bisa melintas kembali. Sebelum pulang, Sulis berpamitan kepada Arman yang sejak malam sebelumnya telah membantunya.
"Terima kasih banyak, Mas Arman."
Arman tersenyum hangat. "Hati-hati di jalan."
Sulis mengangguk lalu meninggalkan apartemen itu. Sepanjang perjalanan pulang, perasaannya terasa lebih tenang dibanding biasanya. Bukan karena semua masalahnya sudah selesai, melainkan karena semalam ia sempat merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya, yaitu ketenangan.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Begitu membuka pintu rumah, Sulis langsung melihat Irwan duduk di ruang tamu. Pria itu tampak seperti sedang menunggu. Wajahnya tegang dan tatapannya tajam. Seketika Sulis tahu bahwa sesuatu akan terjadi.
"Baru pulang?" tanya Irwan dengan nada dingin.
Sulis meletakkan tasnya perlahan. "Iya."
"Dari mana?"
Sulis mengembuskan napas pelan. Ia sudah lelah menghadapi nada bicara seperti itu.
"Aku terjebak banjir semalam."
Irwan langsung berdiri. "Banjir sampai nggak pulang semalaman?"
Nada suaranya semakin meninggi. Sulis berusaha tetap tenang.
"Aku nggak bisa lewat. Jalan ditutup."
"Tapi bisa kasih kabar."
"Aku kirim pesan semalam ke kamu."
Irwan terdiam sesaat. Memang ada pesan dari Sulis malam sebelumnya. Namun saat itu ia sedang bersama Lastri dan tidak terlalu memperhatikannya. Kini kemarahannya lebih banyak dipengaruhi oleh ego daripada kenyataan yang sebenarnya.
"Kamu pikir aku percaya?"
Sulis menatap suaminya. Untuk pertama kalinya, ia tidak menundukkan kepala. Ia tidak diam dan tidak mengalah.
"Kalau kamu nggak percaya, itu urusan kamu."
Jawaban itu membuat wajah Irwan berubah.
"Oh, sekarang berani jawab?"
Sulis tertawa kecil. Bukan karena lucu, tetapi karena lelah.
"Sekarang kamu marah karena aku nggak pulang semalam?"
"Mestinya aku marah?"
"Harusnya kamu tanya itu ke diri kamu sendiri."
Irwan mengernyit. Sementara itu, kesabaran Sulis mulai habis.
"Berapa kali kamu nggak pulang?"
Tidak ada jawaban.
"Berapa kali kamu pergi berhari-hari dengan alasan kerja?"
Irwan memalingkan wajah.
"Berapa kali kamu datang cuma buat ganti baju?"
Suasana ruang tamu semakin panas. Semua yang selama ini dipendam Sulis mulai keluar satu per satu.
"Kamu datang, tinggalin baju kotor. Kamu pergi lagi. Kamu bahkan nggak pernah tanya kabar anak-anak."
Napas Sulis mulai bergetar.
"Tapi sekarang kamu marah karena aku satu malam nggak pulang?"
Irwan merasa harga dirinya tersinggung. Sebagian besar perkataan Sulis memang benar, tetapi ia tidak siap mendengarnya. Seperti biasa, ia memilih bertahan di balik egonya.
"Kamu tetap salah."
"Salah?"
"Iya."
Sulis menggeleng pelan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Bukan karena sedih, melainkan karena kecewa.
"Aku capek, Mas."
Kalimat itu keluar begitu lirih.
"Sangat capek."
Namun Irwan tidak benar-benar mendengarkan. Kemarahannya sudah lebih dulu menguasai dirinya. Pertengkaran itu terus berlangsung selama beberapa menit. Tidak ada yang saling memahami. Tidak ada yang benar-benar mendengar. Hanya dua orang yang sama-sama terluka dan semakin menjauh satu sama lain.
Akhirnya Irwan mengambil kunci mobil yang berada di atas meja.
"Aku keluar."
Sulis bahkan tidak bertanya ke mana ia akan pergi. Karena ia sudah tahu, atau setidaknya bisa menebaknya.
Pintu rumah tertutup keras. Suara mesin mobil terdengar menjauh, meninggalkan rumah yang kembali sunyi.
Sulis berdiri sendirian di ruang tamu sambil memandangi pintu yang baru saja ditutup Irwan. Kesedihan masih ada di hatinya, tetapi kini bercampur dengan sebuah kesadaran. Semakin hari, pernikahan mereka tidak lagi dipenuhi cinta dan kerja sama. Yang tersisa hanyalah pertengkaran, kebohongan, dan luka yang terus bertambah.
Di sisi lain, Irwan mengemudi tanpa tujuan selama beberapa saat. Sampai akhirnya mobilnya berhenti di tempat yang sudah sangat dikenalnya. Tempat yang selama ini menjadi pelariannya dari berbagai masalah. Ia kembali menemui perempuan yang menurutnya selalu memahami dirinya.
Tanpa disadari, setiap kali memilih lari dari masalah, ia justru membuat masalah itu semakin besar.
Sementara Irwan mencari kenyamanan di luar rumah, Sulis masih duduk sendirian di ruang tamu. Ia memikirkan anak-anaknya, usaha kateringnya, dan masa depan yang semakin sulit ia bayangkan bersama pria yang dulu pernah menjadi pusat dunianya.
Di tengah lamunan itu, ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.
Sulis sempat mengira Irwan yang menghubunginya. Namun saat layar menyala, nama yang muncul justru membuatnya sedikit terkejut.
Arman.
Tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibirnya.
Ia membuka pesan tersebut.
"Assalamualaikum, Mbak Sulis. Gimana kabarnya hari ini? Tangannya sudah mendingan?"
Entah mengapa pertanyaan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat. Tidak ada tuntutan. Tidak ada bentakan. Tidak ada kecurigaan. Hanya perhatian tulus mengenai keadaannya.
Sulis segera membalas.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah sudah jauh lebih baik. Terima kasih sudah nanya."
Tak sampai semenit, balasan kembali masuk.
"Syukurlah. Saya sempat khawatir."
Sulis menatap layar ponselnya beberapa saat. Ia tidak terbiasa ada seseorang yang mengkhawatirkannya seperti itu. Bahkan suaminya sendiri sudah lama tidak pernah bertanya bagaimana perasaannya.
Percakapan mereka berlanjut. Awalnya hanya membahas luka di tangan Sulis. Lalu beralih ke usaha katering, cuaca yang akhir-akhir ini sering hujan, dan berbagai hal sederhana lainnya.
Percakapan yang ringan, tetapi terasa menyenangkan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sulis berbicara dengan seseorang tanpa merasa tertekan.
Tak lama kemudian muncul pesan baru dari Arman.
"Ngomong-ngomong, makanan kemarin enak banget."
Sulis tersenyum.
"Terima kasih."
"Serius. Saya sampai nyesel pesannya cuma sedikit."
Sulis terkekeh kecil.
"Kalau begitu lain kali pesan lebih banyak."
Beberapa detik kemudian muncul balasan baru.
"Atau Mbak Sulis masakin langsung buat saya."
Sulis terdiam sesaat, lalu tersenyum sendiri. Candaan sederhana itu terdengar menyenangkan.
"Boleh aja."
Jawaban itu ia kirim tanpa banyak berpikir.
Di apartemennya, Arman tersenyum lebar saat membaca balasan tersebut. Hari yang tadinya terasa biasa mendadak menjadi jauh lebih menyenangkan.
Sementara itu, Sulis meletakkan ponselnya di atas meja. Hatinya terasa sedikit lebih ringan. Ia tidak memikirkan hal-hal yang terlalu jauh. Tidak memikirkan cinta ataupun hubungan khusus.
Baginya, Arman hanyalah seorang pria baik yang hadir ketika dirinya sedang terluka. Seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi dan memperlakukannya dengan hormat.
Untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
Namun berbeda dengan Sulis, Arman justru sedang berusaha memahami perasaannya sendiri. Ia duduk di balkon apartemen sambil memandangi layar ponselnya. Percakapan mereka terus ia baca ulang. Tanpa sadar, senyum kembali muncul di wajahnya.
Sudah lama ia tidak merasa seperti ini.
Tidak pernah ada pasien ataupun pelanggan yang terus terlintas di pikirannya setelah pertemuan mereka berakhir.
Namun Sulis berbeda.
Ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang membuatnya ingin mengenal lebih jauh. Mungkin karena ketegarannya. Mungkin karena kesederhanaannya. Atau mungkin karena senyum kecil yang tetap berusaha muncul meski hidupnya sedang tidak baik-baik saja.
Arman mengembuskan napas panjang.
Ia sadar Sulis masih memiliki banyak masalah. Ia juga tahu ada batas yang tidak boleh ia langgar.
Namun satu hal tidak bisa ia pungkiri.
Benih-benih perasaan itu mulai tumbuh.
Perlahan.
Diam-diam.
Dan semakin hari, semakin sulit untuk diabaikan.
Sementara itu, Sulis yang tidak mengetahui isi hati Arman memilih kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .