Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bos Di Sini, Kenapa Jadi Kau Yang Mengatur?
"Pagi, Bella!" sapa Jimmy hangat, begitu kakinya melangkah keluar dari lift. Senyum sang playboy merekah lebar, pengakuan Bella tentang kencan Jumat malam lalu, benar-benar menjadi angin segar baginya, meski sempat terusik dengan kehadiran Gilang. Dia sama sekali tak curiga jika yang dikatakan Bella hanya untuk memancing reaksi Gilang.
"Pagi, Pak." Bella menoleh dan menjawab sapaan hangat Jimmy dengan ramah.
"Kamu cantik banget hari ini, Bella," puji Jimmy, matanya tak lepas memandangi Bella. "Maksudnya, tiap hari juga cantik, sih. Tapi hari ini ada yang beda. Kenapa, ya?" Tatapan Jimmy terkunci pada wajah Bella, mengagumi keindahan makhluk ciptaan Sang Kuasa yang saat ini berada di hadapannya.
"Ah, saya tahu! Pasti karena efek dinner kita Jumat malam kemarin, kan? Bikin kamu makin bersinar pagi ini." Tanpa menunggu jawaban Bella, Jimmy menjentikkan jari dengan percaya diri, menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Jimmy mengira dia berhasil memenangkan hati Bella, tanpa sadar, dirinya hanya dimanfaatkan sebagai umpan untuk mencari informasi tentang Gilang.
Bella hanya bisa tertawa geli melihat tingkat percaya diri Jimmy yang setinggi langit, padahal dia sudi ikut berjalan bersama karena ada maksud terselubung.
"Nah, nah, kalau ketawa gini malah meningkat kecantikannya." Tak heran jika Jimmy terkenal playboy, karena dia memang pandai menyusun kata pujian untuk memikat hati wanita.
"Pak Jimmy ini pinter banget ngegombal, deh!" Bella tak menanggapi serius rayuan Jimmy. Baginya, untaian pujian Jimmy tak lebih dari sekedar angin lalu
"Kok, gombal sih, Bel? Saya jujur, lho!" tegas Jimmy karena dianggap hanya berbual oleh Bella.
Bella tersenyum tipis menanggapinya. Dia membiarkan Jimmy tenggelam dalam fantasinya sendiri, karena bukan Jimmy target utamanya.
"Kapan kita bisa jalan berdua lagi, Bel?" tanya Jimmy berharap akan mengulang kencan kembali. Menikmati waktu santai di luar kantor bersama Bella menjadi candu baru baginya.
"Cukup sekali aja, Pak! Jangan keseringan. Nanti kekasih Bapak bisa melabrak saya kalau tahu kita sering jalan bersama," tolak Bella halus. Selain ia sudah dijodohkan dengan Gilang, Bella juga enggan menjadi duri dalam hubungan asmara Jimmy dan kekasihnya.
"Dia tidak ada di sini, Bel. Dia di Singapura. Entah, di sana dia juga sedang mengkhianati saya dengan pria lain atau tidak!?* Demi memuluskan keinginannya terus dekat dengan Bella, Jimmy sengaja menuduh kekasihnya berselingkuh agar menepis keraguan di hati Bella.
Alih-alih meyakinkannya, Bella justru makin tak respek dengan sikap Jimmy yang menyudutkan kekasihnya sendiri demi ambisi memilikinya.
"Toxic banget ini cowok! Kalau aku nanti menikah dengan Gilang, aku akan jauhkan dia dari cowok ini! Penyakit selingkuhnya bisa menular ke Gilang kalau aku nggak waspada!" tekad Bella, akan mengambil sikap tegas pada Gilang, jika mereka telah resmi menyandang predikat suami istri.
Bella mengerjapkan matanya, menepis khayalan yang sudah membayangkan dirinya menjadi Nyonya Gilang Mahesa Pratama.
"Jadi gimana kalau akhir pekan nanti kita jalan ke luar lagi?" Seperti tak bisa menunggu lain waktu, Jimmy mengharapkan jawaban Bella saat ini juga.
"Pak Jimmy nggak takut, Pak Gilang akan marah kita sering pergi bersama?" Bella masih mencari alasan untuk menolak ajakan Jimmy.
"Ngapain mesti takut? Kita 'kan pergi di luar jam kerja. Di luar kantor dia nggak berhak mengatur-atur kita." Dengan santai Jimmy menepis kekhawatiran Bella. "Lagi pula, si bos itu sudah kasih izin saya jalan sama kamu, Bel. Karena si bos itu sebenarnya takut kamu godain dia." Tanpa sadar, Jimmy justru membongkar rahasia yang semestinya disembunyikan dari Bella.
Mimik wajah Bella menampakkan keterkejutan, tak menyangka kalau kepergiannya dengan Jimmy Jumat malam lalu atas persetujuan Gilang, padahal sebelumnya Gilang selalu melarang ia dan Jimmy saling berinteraksi lebih dekat.
"Jadi dia mengumpan Jimmy supaya aku nggak bisa dekati dia? Awas saja kamu, Gilang!" Tangan Bella mengepal, merancang pembalasan untuk Gilang karena telah menyodorkan Jimmy untuk mengamankan dirinya sendiri.
Ting
Pintu lift berdenting terbuka. Sosok Gilang melangkah keluar, memancarkan aura penuh kuasa dalam balutan blazer biru tua dan kemeja putih bersih dengan dasi senada. Tatapan tajamnya langsung mengunci Bella dan Jimmy, menyiratkan kecurigaan tentang obrolan kedua anak buahnya itu.
"Pagi, Pak," sapa Bella, seketika bangkit. Sementara Jimmy, yang semula bersandar santai di tepi meja Bella, langsung menegakkan tubuhnya, mendadak salah tingkah.
"Apa saya mengganggu kalian?" tanya Gilang menyidik. Dia tak bisa bersikap santai melihat keakraban Bella dan Jimmy.
"Kami hanya mengobrol saja, Bos. Menyusun rencana untuk malam Minggu nanti." Tak merahasiakan apa yang sedang ia dan Bella bahas, Jimmy mengatakan sejujurnya.
Senyum getir menghiasai wajah Gilang yang memperlihatkan ekspresi dingin.
"Sebaiknya kau putuskan hubunganmu dengan Angela sebelum merayu wanita lain, Jim!" Gilang melangkah ke ruangannya meninggalkan cibiran untuk asistennya yang sibuk mendekati Bella.
Senyum puas di hati Bella merekah, semakin jelas kecemburuan Gilang yang ditampik pria itu.
"Tuh, kan, Pak. Saya bilang juga apa? Pak Gilang marah, kan?" Lalu Bella menyalahkan Jimmy yang tak mendengar kata-katanya.
"Dia hanya iri karena terikat calon mantu Pak Satria, Bel," bisik Jimmy masih sempat menggosipkan bosnya.
"Kembali ke ruanganmu, Jim! Jangan banyak bergunjing!" Sebelum menghilang dari balik pintu, Gilang masih sempat menegur Jimmy, karena dari pantulan jendela ruangannya ia masih melihat siluet Jimmy yang tak segera menjauhi Bella.
"Masuk, deh, Pak! Nanti saya lagi yang kena teguran." Bella menyuruh Jimmy mematuhi perintah Gilang, sebab ia juga pasti terkena getah akibat kecemburuan Gilang.
"Oke, oke, kalau kamu yang minta, mana sanggup saya menolak!?" Dengan mengerlingkan matanya, Jimmy kembali mengeluarkan jurus-jurus rayuannya sebelum akhirnya ia pun beranjak ke ruangannya dengan terkekeh.
Bella menggelengkan kepala melihat tingkah laku bos dan asisten itu. Bella tidak pernah menyangka drama harian bos dan asistennya sanggup menghiburnya. Senyumnya kembali mengembang, ternyata asyik juga melakukan penyamaran di kantor calon suaminya itu.
***
Gilang baru saja mendapatkan telepon dari Pak Satria, yang memintanya untuk datang ke kantor Star Gemilang siang ini. Meskipun undangan Pak Satria kali ini cukup jelas, ingin mengenalkan Gilang dengan istri Pak Satria yang akan menjadi ibu mertuanya, namun, permintaan Pak Satria yang selalu mendadak terkadang membuatnya kalang kabut, apalagi siang ini dia berencana menghadiri rapat direksi.
Jam sebelas lebih lima belas menit, Gilang memutuskan untuk meninggalkan kantornya, menghadap Pak Satria.
"Jim, kau wakili aku di rapat nanti!" Gilang menaruh ponselnya di saku bagian dalam blazer yang ia pakai, lalu melangkah menjauh dari meja kerjanya.
"Oke, Bos! Tenang saja," Jimmy menjawab, paham apa yang menjadi tugasnya sebagai asisten Gilang. "Kau akan pergi sendiri ke sana, Bos?" tanya Jimmy kemudian mengikuti langkah Gilang yang berjalan ke arah pintu.
"Ini urusan pribadi, Jim. Nggak enak kalau bawa orang lain." Gilang menjawab, sementara tangannya meraih handle pintu.
"Bella juga nggak kau ajak, kan?" Senyum menyiratkan kebahagiaan tampak di sudut bibir Jimmy, mengetahui Bella akan ditinggal Gilang, dengan begitu dia dengan leluasa mendekati Bella tanpa diusik Gilang.
Gilang seketika menolehkan pandangan pada Jimmy yang ada di belakangnya. Ucapkan Jimmy seakan menyadarkan dirinya akan bahaya yang akan melanda jika Bella dan Jimmy berada di kantor tanpa pengawasannya.
Gilang melanjutkan langkahnya keluar ruangan dan langsung berkata kepada Bella yang ada di meja kerjanya. "Bella, kamu ikut saya ke kantor Pak Satria!"
Perintah Gilang pada Bella tentu mengecewakan Jimmy yang berharap Bela tetap tinggal di kantor.
"Bos, Kau bilang ini urusan pribadi, lalu kenapa kau bawa Bella?" Billy memprotes sikap Gilang yang dianggapnya plin-plan.
Gilang melirik kembali pada Jimmy dengan seringai tipis di ujung bibirnya. "Aku bos di sini, Kenapa jadi kau yang mengatur?" ujarnya penuh cibiran.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
betul saran Bella,kalau mau ketemu Gilang,manfaatkan saja papanya Bella untuk mempertemukannya dengan Gilang😁
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁