【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Keesokan paginya, matahari kembali terbit dengan membawa kehangatan yang baru di Desa Sukamaju. Kehidupan di rumah panggung Pak Rahman berjalan dengan ritme yang sangat teratur dan damai. Di dalam kamar yang jendelanya terbuka lebar, Tina sedang duduk tekun di depan meja kayu kecil. Jemarinya yang lentik dengan sangat hati-hati menggoreskan pena, mengisi lembar demi lembar ijazah anak-anak PAUD yang akan segera lulus. Setiap huruf kapital dan tanda baca ia tulis dengan penuh konsentrasi, seolah menumpahkan seluruh rasa bangga dan sayangnya kepada anak-anak didiknya.
Sementara itu, di halaman samping rumah, Lisa tampak telaten mengasuh Ali. Remaja itu menuntun keponakan kecilnya berjalan-jalan di bawah rindangnya pohon mangga hingga menjauh dari rumah ke rumah para tetangga, lisa membawa mengejar seekor kupu-kupu dan membuat Ali tertawa renyah saat mengejar seekor kupu-kupu kuning. Di bagian dalam rumah panggung, kedua orang tua Tina—Pak Rahman dan Bu Aminah—sedang duduk santai di ruang tengah. Mereka bercengkrama lirih sambil menikmati teh hangat yang uapnya masih mengepul tipis, menyebarkan aroma melati yang menenangkan ke seluruh penjuru ruangan.
Perubahan paling menakjubkan terlihat di pekarangan depan. Fandi, dengan kaos oblong sederhana dan celana kain yang digulung hingga lutut, sedang sibuk menggelar tikar besar. Di atasnya, ia meratakan biji-biji cokelat hasil petikan kemarin agar terkena sinar matahari secara merata. Tangannya yang biasa digunakan untuk mencengkeram setang motor pangkalan, kini bergerak lincah dan telaten membolak-balik biji cokelat. Tidak ada lagi keluhan atau wajah cemberut; Fandi benar-benar membuktikan bahwa tobatnya bukan sekadar hiasan bibir.
Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik.
Dari arah jalan desa, terdengar deru langkah kaki yang kompak dan berisik. Fandi yang sedang membungkuk meratakan biji cokelat seketika menegakkan punggungnya. Sepasang matanya membelalak sempurna, dan jantungnya mendadak berdegup kencang karena rasa kaget dan panik yang luar biasa.
Di sana, berjalan beriringan melintasi pagar tanaman pucuk merah, adalah Ibu Yuna dan Andry. Namun, mereka tidak datang berdua. Di belakang mereka, berbaris sebuah rombongan rapi yang terdiri dari beberapa orang berpakaian formal, masing-masing membawa kotak hantaran mewah berhias kain tile dan pita emas. Mereka berjalan mantap menuju rumah panggung Pak Rahman dengan senyum yang terkembang lebar, seakan-akan sedang bersiap untuk melamar seorang putri keraton.
Fandi berdiri mematung di tengah hamparan jemuran cokelatnya, memegang sekop kayu kecil dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia merasa seperti sedang bermimpi di siang bolong. Melihat Ibu Yuna dan Andry yang semakin mendekat ke arah rumah, Fandi mencoba menguasai rasa gugupnya.
"Ah... Ibu Yuna? Bang Andry? Mau... mau kemana ini, rame-rame?" tanya Fandi dengan suara yang agak terbata-bata.
Ibu Yuna terkekeh renyah melihat ekspresi pias pemuda itu. "Ah, Andry... Abah, Mama, dan Tina ada di dalam rumah? Mereka ada di rumah, kan?"
"Ada... ada di dalam, Bang, Bu," jawab Fandi polos, tangannya menunjuk ke arah dalam rumah.
Tanpa menunggu dipersilakan masuk lebih lanjut, Ibu Yuna dan Andry langsung melangkah dengan penuh percaya diri menuju pintu. Namun, sebelum kakinya menapak lebih jauh, Andry menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah Fandi, melempar sebuah senyuman lebar yang sangat tulus, lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Tolong jaga jemuran cokelatnya baik-baik ya... Adik Ipar," ucap Andry dengan nada santai namun penuh penekanan.
*Deg.*
Kalimat itu bagai petir di pagi yang cerah. Fandi seketika menganga *shock*. Libido preman jalanannya mendadak menguap entah kemana, menyisakan otaknya yang mendadak mogok berpikir. *Adik ipar?!* Fandi menatap punggung Andry yang mulai memasuki rumah dengan pandangan kosong, sementara tangannya refleks mengucek matanya berulang kali.
"Assalamu’alaikum!" suara Ibu Yuna terdengar lantang menyapa dari ambang pintu depan.
Di ruang tengah, Pak Rahman dan Bu Aminah yang sedang asyik meminum teh seketika menghentikan obrolan mereka.
"Wa’alaikumussalam," sahut Pak Rahman. Ia meletakkan cangkir sengnya di atas meja. "Bu, itu sepertinya suara Ibu Yuna dari luar."
"Iya, Pak. Benar, itu suara Ibu Yuna," timpal Bu Aminah. Mereka berdua pun segera bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu depan untuk memastikan dan menyambut tetangga panggung mereka itu.
Namun, begitu pintu kayu itu dibuka lebar, sepasang suami istri tua itu seketika kaget bukan main. Langkah kaki mereka terhenti di batas kosen pintu. Di depan mereka, bukan hanya ada Ibu Yuna dan Fandi yang mengekor di belakang dengan wajah melongo, melainkan sesosok pria kota—Andry—dan rombongan besar yang berbaris rapi di teras. Orang-orang di belakang Andry tampak membawa berbagai macam bingkisan yang sangat mewah; mulai dari kotak-kotak berisi makanan tradisional tingkat tinggi, buah-buahan segar berukuran besar, hingga kotak transparan yang memperlihatkan tas bermerek dan sepatu wanita yang sangat anggun.
"Ibu Yuna... Astaghfirullah, ada apa ini ramai-ramai?" tanya Bu Aminah dengan suara yang bergetar karena terkejut, matanya menyapu pandangan ke arah barang-barang mewah tersebut.
Ibu Yuna tersenyum manis, memegang tangan Bu Aminah dengan hangat. "Ah, saya kan sudah bilang kemarin, Bu... kalau lusa—yaitu hari ini—kami akan datang berkunjung lagi."
"Iya, saya tahu... tapi, kenapa bawa rombongan dan barang sebanyak ini?" tanya Pak Rahman, ikut menyuarakan kebingungannya.
"Ah, tidak apa-apa, Pak. Lebih baik kita bicarakan di dalam saja. Silakan masuk dulu, Bu Yuna, Pak Andry," ucap Ibu Aminah akhirnya, mencoba mencairkan kecanggungan meski dadanya berdebar tidak keruan.
Ibu Yuna dan Andry pun melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang beralaskan tikar pandan bersih. Atas isyarat tersembunyi dari Andry, semua orang yang membawa bingkisan hantaran segera melangkah maju dengan tertib. Mereka menaruh semua barang-barang tersebut di atas meja kayu panjang dan sebagian lagi ditata rapi di atas tikar. Gerakan mereka sangat cepat dan efisien. Begitu semua bingkisan berpindah tempat, orang-orang pembawa barang itu langsung membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan rumah. Semua itu terjadi karena perintah tegas Andry sebelum mereka berangkat: *setelah menaruh bingkisan, mereka harus langsung pergi agar suasana kekeluargaan tidak terganggu.*
Kini, di dalam ruang tamu hanya tersisa Pak Rahman, Bu Aminah, Ibu Yuna, dan Andry yang duduk bersila dengan takzim. Suasana mendadak berubah menjadi sangat khidmat dan sedikit tegang.
"Sebenarnya... ada apa ini, Bu Yuna? Tolong jelaskan, jangan membuat kami jantungan pagi-pagi begini," ucap Bu Aminah, melirik tumpukan tas, sepatu, dan makanan yang terlihat sangat kontras dengan kesederhanaan rumah mereka.
Ibu Yuna menarik napas panjang, lalu membetulkan letak selendangnya. Ia menatap Pak Rahman dan Bu Aminah dengan pandangan yang sangat serius namun sarat akan ketulusan.
"Ah, begini, Bu, Pak... maksud kedatangan kami yang membawa rombongan hari ini, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menemani keponakan saya, Andry. Kami datang kemari dengan niat yang suci, ingin meluruskan dan menyampaikan niat baik Andry untuk melamar anak perempuan bapak dan ibu... Tina, untuk menjadi istrinya."
Sementara itu, di dalam kamar, Tina yang sejak tadi mendengar ada kehebohan dan suara tamu di ruang depan, berinisiatif untuk pergi ke dapur. Ia berniat mengambilkan air minum sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang. Dengan menggunakan nampan plastik berwarna hijau, Tina membawa tiga buah gelas kaca berisi teh hangat yang baru saja ia buat.
Langkah kaki Tina berjalan perlahan menyusuri koridor tengah rumah. Tepat saat sepasang kakinya melangkah melewati tirai pembatas ruang tamu, telinganya menangkap dengan sangat jelas kalimat yang baru saja diucapkan oleh Ibu Yuna.
*"...meluruskan niat baik Andry untuk melamar anak bapak dan ibu... Tina."*
*Pranggg!!!*
Suara benturan keras memecah keheningan ruang tamu. Nampan hijau di tangan Tina terlepas seketika. Tiga buah gelas kaca jatuh menghantam lantai, pecah berkeping-keping dan menyemburkan teh hangat ke segala arah.
Tina berdiri mematung di ambang pintu. Wajahnya yang semula tenang kini memucat seketika dengan mata yang membelalak sempurna menatap ke arah Andry. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Di hadapannya, Andry yang mendengar suara pecahan gelas langsung menoleh dengan cepat, menatap gadis pujaannya dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa bersalah, harapan, dan kepasrahan total atas kejutan besar yang ia bawa pagi ini.