Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Celaka sendiri.
Jill sudah siap dengan martabak manis dan martabak telur sebagai teman nonton di karpet bulu yang cantik di kamarnya.
Bang Reigar pun sudah berkumpul bersama para kawan dan juga anggotanya. Meskipun nobar mereka hanya dengan proyektor, tapi gambar itu cukup bagus dan jelas untuk di lihat.
Sebatang rokok di tangan kiri dan kopi hitam panas dengan berbagai kawan bersanding yang cocok. Suasana semakin meriah karena Danton juga menyediakan sate dan ikan bakar disana.
"Katanya Abang beli TV??" Tanya Bang Rakit.
"Beli."
"Mana Bang??" Bang Rakit celingukan mencari televisi yang sedang di bicarakan para anggota.
"Di kamar, di kuasai Nyi Roro Ngetan. Kau berani ambilnya??" Bang Reigar pun balik bertanya. Ia membenahi letak sarungnya dan ikut
Tawa membahana terdengar nyaring seolah mengejek. "Nggak, lah. Memangnya nggak berani kau, Bang?? Di medan perang, panglima musuh saja 'jijik' lihat kau, Bang. Masa sama bini nggak berani."
"Hwuuu.. Asal ngejeplak aja. Cepat nikah tau rasanya. Lebih baik baku hantam lawan ratusan musuh, bonyok..bonyok dah lu. Daripada ribut sama istri, menang kagak.. Kita pula bagian salah." Jawab Bang Reigar.
Bang Rakit sampai menggeleng mendengarnya. Ini kali pertama Abangnya antusias dan banyak bicara tentang kehidupan rumah tangganya. Apapun yang terjadi pada pria itu kini, semua seakan jauh lebih berwarna.
"Kecintaan kali kau, Bang. Bukannya tipe yang kau suka macam Reina itu??" Ledek Bang Rakit seketika membuat wajah Abangnya masam. Ia yang merasa bersalah kemudian meralat ucapannya. "Bercanda, Baang..!!"
"Bibir lancip kau, ya??? Kau mau Abang ribut sama Jilly????" Omel Bang Reigar.
Kemudian Bang Reigar melihat jam tangannya lalu meletakan telunjuknya di depan bibir dan memberi kode untuk diam.
Suasana riuh dan tawa yang tadinya terdengar tiba-tiba lenyap seketika. Puluhan pasang mata para anggota seketika tertuju pada sosok mungil yang berlari tunggang langgang dari balik pintu kamar. Napas Jill memburu, wajahnya pucat ketakutan, matanya masih membulat besar, tapi yang paling menyita perhatian utama adalah pakaian yang Bu Danton kenakan. Rok mini selutut dan kaos ketat yang menampakkan lekuk tubuhnya dengan begitu jelas, sesuatu yang sama sekali tidak pantas dilihat oleh banyak laki-laki dewasa yang sedang berkumpul di sana.
Nyawa Bang Reigar serasa melayang seketika. Sebagai seorang perwira yang terbiasa dengan kesigapan, kini ia tindak refleksnya jauh lebih teruji daripada emosinya. Ia melepas sarung yang melilit pinggangnya dalam sekali tarikan yang cepat lalu menubruk pelan tubuh istrinya. Ia membungkus rapat tubuh Jill dengan kain sarung motif kotak songket itu untuk menutup bagian leher hingga bawah lutut. Sungguh Bang Reigar cemas kalau sampai ada sedikit saja bagian yang tidak pantas pada tubuh Jill yang terlihat oleh pasang mata liar lainnya.
"Allahu akbar, Lailaha ilallah.. Deek..!!" Bang Reigar kelabakan melepas sarungnya lalu menubruk Jilly dan membungkusnya. Tangan itu sedikit menjauh agar Jill tidak tersulut rokok. "Apa-apaan kamu ini, Abang sudah bilang pakai pakaian yang sopan..!!! Ada banyak om-om..!!"
"Kenapa Abang marah????? Ada hantu di TV." Jill yang awalnya menangis ketakutan karena hantu di televisi, kini mendadak terdiam. Ia menatap suaminya yang tampak sangat marah, pipinya yang tadi pucat kini perlahan memerah karena ditegur di depan orang banyak. Ia merasa tidak bersalah sedikit pun, rasanya ketakutannya tidak dihargai malah dimarahi perkara pakaian.
Jill meronta pelan mencoba melepaskan buntelan sarung yang kini terasa begitu menyesakan jalan nafasnya. "Lepas..!! Sarung Abang bau sate."
Sekuat apapun Jill meronta, tetap saja cengkeraman Bang Reigar jauh lebih kuat. "Berani kau lepas sarung ini, Abang luc*ti pakaianmu di kamar tanpa ampun..!!" Ancamnya penuh dengan penekanan.
Mendengar ancaman tersebut Jill semakin kesal sambil mengibaskan tangan Bang Reigar.
"Jangan melawan..!!!! Abang nggak main-main, dek..!!!!" Suara keras Danton itu seketika membuat para anggota ikut tegang. Mereka kemudian mencari segala kesibukan agar tidak di anggap mau tau urusan Dantonnya. Pimpinan mereka yang biasanya gagah dan dingin, kini kelabakan setengah mati mengurusi istrinya.
Jill seakan tak peduli, Ia masuk ke dalam rumah masih berbalut kain sarung.
Bang Reigar terus menatap istri kecilnya sambil mengikat tali celana pendeknya sampai Jill benar-benar masuk ke dalam kamar.
Bang Rakit yang duduk paling dekat hanya bisa menggeleng sambil menahan senyum.
'Benar-benar nyata. Ribut sama istri, mau menang sekali pun tetap kita yang salah.'
Saat Bang Reigar menoleh, suasana terlihat baik-baik saja. Para anggota sibuk dengan kegiatannya masing-masing meskipun ia tau semua hanya demi menghargai dirinya. Dalam dadanya masih menahan rasa emosi bercampur malu, kesal, khawatir, dan rasa tidak tega.
Pandangannya kini beralih melirik Bang Rakit yang masih menahan senyum sambil mengunyah sate kambing kemudian menatap tajam ke arah yang lain seolah memberi peringatan yang mengancam untuk tidak sedikit pun bersuara atau lancang melirik ke arah rumah dinas, karena di dalam rumah itu ada 'benda kesayangan' milik Letnan Reigar.
.
.
.
.
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍
kyknya ada tanda-tanda nih dr Jill... ati² ya Bang Reigar🤭🤭🤭