Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Beruntung
Beberapa saat kemudian, seorang wanita bergaun hanfu hijau muncul dari balik pohon besar dengan langkah ringan.
Wajahnya yang menawan dihiasi senyum centil yang mampu menggelitik hati pria mana pun ketika melihatnya. Rambut panjang hijaunya bergoyang lembut tertiup angin, sementara matanya terlihat penuh godaan.
Namun sayangnya, semua itu sama sekali tidak mempan di depan Yan Diming. Ia bukan tipe pria yang mudah tergila-gila pada wanita atau betina mana pun.
"Siapa kamu?" tanyanya dingin tanpa sedikit pun melunakkan nada bicara.
"Pangeran tampan~, namaku Duan Mei." Wanita itu tersenyum semakin manis. "Duan Duan adalah margaku dan Mei Mei berarti cantik. Panggil saja Dudu. Aku berasal dari suku ular hijau~"
Tatapan matanya terlihat sangat centil dan agak nymphomaniac.
"...."
Yan Diming langsung terdiam. Mengapa tidak memanggilnya Dume saja daripada Dudu?
Apakah itu masih terdengar seperti nama seseorang?
"Jadi apa hubungannya denganku?" tanyanya malas sambil menyipitkan mata.
"Tampan, apakah kamu membutuhkan bantuanku? Aku bisa melakukan apa saja." Duan Mei mengedipkan mata genit. "Termasuk membodohi Raja Zhi."
"Tidak perlu!" Yan Diming langsung menolak tanpa berpikir panjang. "Bai Muzhi sendiri tidak tertarik pada betina suku rubah. Bagaimana mungkin dia tertarik pada betina dari suku ular hijau belaka? Itu hanya mimpi!"
Duan Mei sama sekali tidak tersinggung. Sebaliknya, ia justru tampak semakin percaya diri.
"Tidak mungkin! Aku adalah betina dari suku ular hijau yang paling cantik. Siapa pun yang melihatku pasti akan merasa segar. Termasuk Raja tampan Zhizhi~," katanya centil sambil memamerkan bentuk tubuhnya dengan sengaja.
Entah mengapa, Yan Diming justru merasa sedikit merinding saat melihat tingkahnya. Ia segera mengubah bentuknya menjadi ular hitam besar dan mendesis dua kali.
"Apa maksudnya akan merasa segar setelah melihatmu? Apakah darahmu bisa diminum dan memiliki rasa seperti air kelapa muda?" gumamnya merasa bodoh.
Ia harus segera meninggalkan tempat ini sebelum wanita aneh itu mengatakan sesuatu yang lebih menyimpang lagi.
Namun bayangan besar tiba-tiba melintas di atas sungai. Embusan angin kencang langsung menerbangkan dedaunan ke segala arah.
Duan Mei yang sibuk berpose centil tidak mampu menahan angin tersebut dan langsung jatuh tersungkur ke tanah.
Sementara itu, insting ular Yan Diming langsung memberinya peringatan tanda bahaya. Ia mendongak. Namun semuanya sudah terlambat.
Seekor elang gunung raksasa tiba-tiba menukik dari langit dan mencengkeram tubuh ular hitam jelmaan Yan Diming menggunakan cakar tajamnya.
Lalu—Wusshh! Elang itu langsung terbang tinggi dengan penuh kemenangan.
Yan Diming sendiri baru sadar beberapa detik kemudian bahwa ia benar-benar sedang dibawa terbang. Dia hampir lupa bahwa sudah menjadi nasib alami ular untuk dijadikan makanan elang.
Di tempat sebelumnya, Duan Mei yang baru saja bangkit sambil membersihkan daun dari rambutnya tertegun karena melihat Yan Diming sudah menghilang.
"Huh? Tampan, di mana kamu?" panggilnya bingung sambil melihat ke sekitar.
Kemudian ia mendongak ke langit dan melihat bayangan elang yang terbang semakin jauh.
"... Jangan-jangan si tampan akan dimakan elang? Sayang sekali~," gumamnya syok.
......................
Sementara itu ....
Yan Diming sendiri masih tergantung di cakar elang gunung raksasa.
Elang gunung raksasa itu kebetulan terbang ke arah selatan—arah yang sebenarnya mempercepat perjalanan Yan Diming kembali ke wilayahnya.
"Dasar burung! Cepat lepaskan aku!" Yan Diming berteriak marah sambil berusaha menggeliat. "Apakah kamu ingin merasakan betapa luar biasanya racunku?!"
Elang gunung raksasa itu tampaknya mendengar suara Yan Diming dan sedikit menoleh ke bawah
"Eh?" Suara beratnya terdengar polos. "Jadi kamu ini manusia setengah binatang?"
Yan Diming mendengus marah. "Benar! Jadi cepat turunkan aku!"
"Ah ... sayang sekali."
"....?"
Elang gunung spiritual yang baru saja membangkitkan kecerdasannya—ternyata masih belum terlalu memahami perbedaan antara manusia setengah binatang dan binatang biasa.
"Kalau begitu, aku minta maaf." Kata-kata elang itu terdengar cukup tulus. "Aku benar-benar tidak tahu. Aku akan menurunkanmu sekarang."
Mata ular Yan Diming langsung melebar. Ia tiba-tiba memiliki firasat yang sangat buruk.
"Tu-tunggu! Tunggu dulu—!"
Sayangnya, elang gunung raksasa itu tidak berpikir terlalu jauh. Ia langsung melonggarkan cakarnya. Akibatnya, tubuh ular hitam besar jelmaan Yan Diming langsung jatuh bebas dari langit. Seekor ular tidak punya sayap jadi tidak mungkin bisa terbang.
Tubuh panjangnya meluncur cepat menembus udara sebelum akhirnya jatuh tepat di atas wilayah Lembah Gelap miliknya sendiri.
Yan Diming menabrak pepohonan gundul dan tersangkut di cabang besar dalam posisi menyedihkan. Beberapa ranting bahkan patah akibat benturan tubuh besarnya.
Sesaat kemudian, dia langsung meludahkan bisa ular dengan kemarahan luar biasa, menatap langit.
"Burung sialan! Lain kali kalau kita bertemu lagi, aku pasti akan menelanmu bulat-bulat!" desisnya penuh dendam.
Sebagai jawaban yang sama sekali tidak disengaja, suara pekikan elang gunung terdengar menggema dari kejauhan. Suara itu terdengar semakin jauh menuju wilayah pegunungan di seberang lautan lepas.
"...."
Yan Diming terdiam beberapa saat sambil menggantung di cabang pohon. Apakah burung jelek itu baru saja mengejeknya?
Yan Diming benar-benar tidak memiliki tempat untuk melampiaskan kemarahannya. Ia mengubah dirinya menjadi manusia setelah susah payah turun dari atas pohon.
Jubah hitamnya sedikit robek akibat tersangkut ranting. Rambut panjangnya juga agak berantakan dan suasana hatinya lebih buruk dari sebelumnya.
Sesampainya di rumah besar yang gelap dan suram, Yan Diming pergi ke ruang dalam. Barulah setelah menenangkan amarahnya dan membersihkan diri, ia akhirnya kembali ke aula utama.
Di sana, rupanya Xu Aoshan telah menunggu cukup lama.
"Tuan Yan, apakah kamu baru saja pergi bertarung?"
Xu Aoshan tampak terkejut saat melihat Yan Diming. Wajah pria ular itu terlihat lebih pucat dari biasanya dan beberapa memar samar terlihat di leher dan dadanya yang terbuka.
"Tidak." Yan Diming menjawab sembarangan sambil duduk malas di kursi utama. "Hanya sedang tidak beruntung di perjalanan."
"...."
Xu Aoshan tidak tahu, jalan macam apa yang bisa membuat seseorang babak belur seperti itu.
"Mengapa kamu datang?" tanya Yan Diming malas.
"Penjaga rahasia dari istana datang menemuiku dan memberiku surat." Xu Aoshan segera mengeluarkan gulungan surat dari dalam lengan bajunya. "Mereka memintaku untuk menyerahkannya padamu."
"Surat?"
Xu Aoshan menyerahkan gulungan surat tersebut. "Tampaknya terjadi sesuatu di istana sehingga surat ini dikirim terburu-buru. Aku khawatir ini bukan pertanda baik untuk rencana kita."
Yan Diming mengambil surat itu lalu membacanya tanpa sedikit pun menghindari Xu Aoshan. Lagi pula, mereka sudah berada di pihak yang sama selama ratusan tahun. Semakin lama membaca isi surat, ekspresinya semakin buruk.
"Putra Mahkota Jin akhir-akhir ini mulai mencurigai pergerakan aneh di Istana Kekaisaran. Bahkan Kaisar Jin juga mulai curiga." Yan Diming menyipitkan mata ularnya. "Sepertinya rencana orang itu di istana untuk menggulingkan Putra Mahkota Jin tidak akan berjalan mudah."
Xu Aoshan juga terlihat tidak senang. "Sudah ratusan tahun lamanya, mengapa Putra Mahkota Jin baru bergerak akhir-akhir ini?"
"Siapa yang tahu apa yang dipikirkan naga itu. Apakah Putra Mahkota Jin meninggalkan istana akhir-akhir ini?"
Xu Aoshan menggeleng. "Tidak. Itulah mengapa sulit membunuhnya di luar istana. Belum lagi, dia adalah keturunan naga emas yang diberkati langit. Mana mungkin semudah itu untuk dibunuh?"
Sorot mata Yan Diming sedikit mengejek mendengar jawaban tersebut. Ia menutup mata sejenak. "Kamu boleh pergi sekarang. Aku ingin hibernasi untuk beberapa waktu. Jangan datang lagi jika bukan sesuatu yang mendesak."
Xu Aoshan mengangguk kecil. Ia memang tidak bisa tinggal terlalu lama di tempat ini, jadi segera meninggalkan tempat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian di Istana Shing, meski masih mengingat serangan Yan Diming beberapa hari sebelumnya, kewaspadaan Li Yunru mulai menurun. Kini ia sedang bersiap pergi ke hutan yang lebih dalam.
Berbekal peta kasar yang dibuat oleh Bai Muzhi, ia merasa jauh lebih percaya diri dan yakin tidak akan tersesat seperti sebelumnya.
Li Yunru melihat Bai Muzhi yang sedang berdiri di ambang pintu kamar sambil memperhatikannya. "Kamu tidak ikut denganku?"
Bai Muzhi menjawab dengan ekspresinya yang tetap datar dan tenang. "Aku akan menyusul setelah urusanku selesai. Ingat untuk tidak tersesat."
Diam-diam, dia menambahkan penjaga rahasia di sekitar istana dan hutan terdekat agar kejadian seperti kemunculan Yan Diming tidak terulang lagi. Dengan begitu, keamanan Li Yunru lebih terjamin dari pada sebelumnya.
Selama tidak ada bahaya yang mengancam nyawa, penjaga rahasia tidak akan muncul untuk mengekspos dirinya.
Li Yunru tiba-tiba saja memeluk Bai Muzhi dengan erat. Tubuh pria naga putih itu langsung menegang kaku.
"Aku akan pergi berpetualang mencari lobak dan daging untuk dimakan. Beri aku ciuman perpisahan~," katanya centil sambil memonyongkan bibir hendak mencium Bai Muzhi.
Melihat wajah Li Yunru semakin mendekat, Bai Muzhi langsung merasa sedikit mati rasa di kepalanya. Dengan cepat ia menutupi wajah gadis itu menggunakan telapak tangannya yang besar. Ekspresinya bahkan terlihat sedikit jijik.
"Raja ini tidak akan menciummu. Jangan bermimpi."
Namun setelah mengatakan itu, ujung telinganya justru memerah samar.
Mengapa kata-kata Li Yunru terdengar seperti dirinya adalah seorang istri kecil yang harus dibesarkan dengan lobak dan daging?
......................
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih