Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
"Bukan," jawab Kyna dengan nada yang teramat datar. Dia menatap Aldrian tanpa ada sisa emosi lagi di matanya. "Tapi kurasa, dengan siapa aku berteman atau dari siapa aku menerima bunga, sudah bukan lagi urusanmu, Pak Aldrian."
Mendengar panggilan formal itu keluar lagi dari mulut Kyna, rahang Aldrian mengeras. Langkah kakinya maju satu kali, mengikis jarak di antara mereka di bawah temaram lampu taman apartemen. Aura lelahnya mendadak menguap, digantikan oleh harga diri seorang pria yang baru saja diinjak-injak di depan umum.
"Bukan urusanku?" Aldrian terkekeh sinis, suaranya bergetar menahan amarah. "Kyna, kita belum bercerai! Kamu masih istri sahku! Tapi malam ini, kamu sengaja membawa gurumu dan bocah penari itu untuk mempermalukanku di depan Pak Evan, 'kan? Kamu puas melihat proyek investasiku hancur?"
Kyna menatap Aldrian yang sedang meledak-ledak. Alih-alih merasa takut atau ingin membela diri seperti dulu, dia justru merasa pria di hadapannya ini sangat egois dan menyedihkan.
"Yang mempermalukanmu di depan Pak Evan itu bukan aku, Aldrian. Tapi kebohonganmu sendiri," ucap Kyna tenang, setiap katanya meluncur bagai belati es. "Kamu yang membawa Anara ke sana. Kamu yang membiarkan dia mengaku sebagai istrimu yang sembuh dari luar negeri. Aku hanya datang sebagai tamu undangan Bu Sonia. Jadi, di bagian mana aku yang menghancurkan bisnismu?"
"Anara cuma mau membantuku!" Aldrian membentak, membela wanita itu secara refleks. "Dia tahu Pak Evan sangat menghargai nilai keluarga, makanya dia terpaksa bersandiwara karena kamu selalu menolak kalau kuajak bersosialisasi! Dia berkorban demi perusahaan kita, Kyna!"
Perusahaan kita.
Kyna ingin tertawa mendengar frasa itu. Perusahaan yang sukses di atas penderitaan kakinya yang cacat, perusahaan yang modal awalnya bahkan disokong oleh uang ganti rugi kecelakaan yang disembunyikan oleh ibu Aldrian.
"Kalau begitu, silakan lanjutkan sandiwara kalian berdua tanpa melibatkan namaku lagi," Kyna membalikkan badan, berniat untuk melangkah masuk ke dalam lobi gedung. Kakinya sudah terlampau lelah untuk berdiri lebih lama.
Namun, Aldrian tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dia mencengkeram pergelangan tangan Kyna dengan kuat, memaksanya untuk kembali berbalik.
"Kyna, jangan kekanak-kanakan! Aku tahu kamu cemburu dan marah soal Anara. Tapi kelakuanmu malam ini sudah kelewatan. Hubungan kita lima tahun ini baik-baik saja sebelum kamu mulai merajuk seperti ini!" Aldrian menatap Kyna dengan mata memerah, mencengkeramnya seolah takut wanita itu benar-benar lolos dari kendaliannya. "Pulang sekarang. Kita bicarakan ini di rumah."
Kyna tidak memberontak. Dia hanya menurunkan pandangannya, menatap tangan Aldrian yang mencengkeram kulitnya, lalu kembali menatap wajah suaminya.
"Lima tahun ini kita terlihat baik-baik saja, karena aku selalu diam dan patuh, Aldrian," bisik Kyna, suaranya begitu lirih namun sarat akan kepedihan masa lalu yang mendalam. "Aku menahan seluruh rasa sakit sendirian saat teman-temanmu mengejek caraku berjalan. Aku berpura-pura tidak dengar saat William meniru gerakanku yang pincang. Dan kamu... kamu selalu ada di sana, melihat semuanya, tapi memilih diam demi menjaga kedamaian kelompokmu."
Cengkeraman tangan Aldrian perlahan melonggar. Matanya berkedip panik, terkejut karena Kyna ternyata menyimpan seluruh ingatan buruk itu.
"Kyna, aku... aku nggak tahu kalau mereka..."
"Kamu tahu, Aldrian. Kamu hanya tidak peduli," potong Kyna dengan senyuman paling sinis yang pernah ia miliki. Dia menarik tangannya dengan sekali sentakan kuat. "Waktumu tinggal H-29. Segera urus berkas perceraian kita secara diam-diam sebelum aku sendiri yang membawa video pernikahan dan bukti kebohongan malam ini ke meja hijau."
Tanpa menunggu jawaban dari Aldrian yang terpaku kaku di bawah bayangan pohon, Kyna melangkah masuk ke dalam lobi yang terjaga ketat oleh satpam, meninggalkan suaminya sendirian dalam kegelapan. Namun, begitu pintu lift terbuka di lantai apartemennya, Kyna dikejutkan oleh sosok wanita yang sudah duduk bersandar di depan pintu unitnya sembari memeluk lutut—itu Anara, yang penampilannya sudah berantakan dengan bekas air mata yang merusak riasannya, memegang sebuah botol obat penenang di tangan kanannya yang gemetar.