Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Sekar yang berdiri di samping hanya bisa menggeleng pelan, tidak menyangka pertemuan ini akan terasa seringan ini setelah semua yang ia lalui. Namun di balik tawa kecil itu, ada sesuatu yang berbeda. Sekar melihat Damar, benar-benar melihatnya kali ini. Bukan sebagai anak SMA berandalan yang dulu ia kenal, tapi sebagai seseorang yang berdiri di hadapannya sekarang, lebih matang, lebih tenang, dan entah kenapa… terasa aman. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, di tengah segala luka dan perjuangannya hidup Sekar seperti memberi satu kemungkinan baru. Meski kecil. Meski masih jauh. Tapi nyata.
Damar dan ibu masih larut dalam obrolan yang seolah tidak ada habisnya. Cerita-cerita lama yang tadinya hanya sepenggal kini mengalir deras, ditambah bumbu dari Lita dan suaminya yang tidak kalah antusias menimpali. Tawa pecah berkali-kali, suasana yang semula biasa saja berubah menjadi hangat, hidup, bahkan sedikit riuh dengan candaan yang sesekali diarahkan padaku. Aku hanya tersenyum, lebih banyak menyimak daripada ikut terlibat, membiarkan mereka menikmati momen itu. Rasanya aneh, di tengah segala yang sedang kuhadapi, aku masih bisa duduk di sini, di ruang tamu rumah baruku, mendengar tawa yang terasa… ringan.
Namun semua itu berubah dalam satu detik. Langkah kecil itu datang dari arah dalam rumah. Pelan, tapi cukup untuk menarik perhatianku. Aku menoleh, dan di sanalah Sea berdiri. Wajahnya masih sama—tenang, sedikit ragu, tapi kali ini ia berjalan mendekat.
“Ibu…” panggilnya pelan. Suaranya lembut, tapi cukup untuk membuat seluruh ruangan seakan berhenti sejenak.
Aku langsung bangkit, refleks, tanpa berpikir panjang. Semua fokusku hanya pada satu hal, anakku. Aku menyambutnya, membungkuk sedikit, tanganku otomatis meraih tubuh kecil itu, menariknya ke dalam pelukan yang begitu kurindukan.
Dan di saat itulah, aku lupa bahwa ada orang lain di ruangan ini. “Sekar…” suara Damar terdengar, nada bicaranya berubah, tidak lagi santai seperti sebelumnya. “Kamu sudah menikah?” Pertanyaan itu sederhana. Tapi terasa seperti batu yang dijatuhkan tepat di tengah suasana yang mulai tenang.
Aku membeku sesaat. Tanganku masih memeluk Sea, tapi pikiranku berhenti. Kata-kata yang seharusnya keluar… tidak datang. Bukan karena aku tidak punya jawaban, tapi karena aku tidak tahu harus menjawab bagaimana—di depan siapa, dan untuk siapa.
Aku menatap Sea. Itu saja yang bisa kulakukan. Menyibukkan diri dengan mengusap rambutnya, memastikan ia nyaman, seolah dunia di luar pelukan itu tidak penting.
Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun, suara Lita lebih dulu memecah keheningan. “Sudah,” jawabnya lugas. “Punya satu anak. Dan sekarang sudah bercerai… karena diselingkuhi.”
Sunyi. Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa jeda, tanpa lapisan. Terlalu jujur. Terlalu jelas. Dadaku langsung menegang. Aku menoleh cepat ke arah Lita, mataku memberi isyarat yang jelas, ada Sea di sini. Bukan marah. Tapi lebih pada panik. Aku tidak ingin anakku mendengar itu. Tidak seperti ini. Tidak di momen seperti ini.
Untungnya, ibu bergerak lebih cepat dari siapa pun. Tanpa banyak bicara, ia mendekat, lalu dengan lembut menarik perhatian Sea. “Ayo sini sama Nenek dulu, Nak,” katanya hangat, seolah tidak ada yang terjadi.
Sea menurut. Ia menoleh sekilas padaku, lalu mengikuti ibu masuk ke dalam.
Aku menatap punggung kecil itu sampai benar-benar menghilang dari pandangan. Baru setelah itu aku menarik napas panjang yang sejak tadi kutahan. Ruangan kembali sunyi, tapi kali ini bukan sunyi yang nyaman.
Lita langsung menunduk sedikit, wajahnya berubah. “Maaf, Kar…” ucapnya pelan, nada suaranya berbeda dari biasanya. Tidak lagi ringan. “Aku… harusnya lebih peka.” Ia menghela napas, terlihat benar-benar menyesal. “Apalagi aku…” ia tersenyum pahit, “…psikolog.”
Aku tidak langsung menjawab. Aku hanya berdiri di sana beberapa detik, mencoba menenangkan sesuatu yang kembali bergejolak di dalam dada. Bukan karena cerita itu terbuka, aku sudah melewati itu semua. Tapi karena… aku belum siap jika Sea mendengarnya dari orang lain. Dengan cara seperti itu. Perlahan, aku mengangkat wajah dan menatap Lita. “Gapapa…” kataku akhirnya, pelan. “Aku tahu kamu nggak sengaja.” Lalu aku menoleh sebentar ke arah dalam rumah, ke tempat di mana Sea berada sekarang. Suaraku melembut. “Cuma… aku pengen dia dengar semuanya… dari aku. Di waktu yang tepat.”
Tidak ada yang langsung menanggapi.
Damar terdiam, seolah baru menyadari bahwa cerita yang ia masuki bukan sekadar nostalgia lama, tapi sebuah kehidupan yang penuh luka dan perjuangan yang belum selesai. Dan di tengah keheningan itu aku kembali diingatkan bahwa masa laluku mungkin sudah selesai bagiku tapi belum tentu selesai untuk anakku.
***
Malam itu berjalan lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara tamu, tidak ada tawa yang bersahutan seperti pagi tadi. Hanya ada suara lembut dari pendingin ruangan dan napas kecil Sea yang berbaring di samping Sekar. Lampu kamar dibuat redup, menciptakan suasana hangat yang seharusnya menenangkan. Sekar mengira malam ini akan menjadi malam yang lebih ringan setelah seharian penuh emosi, ia hanya ingin memeluk anaknya dan tertidur tanpa beban. Namun hidup, seperti biasa, tidak pernah benar-benar memberi jeda.
“Ibu…” Suara kecil itu memecah keheningan.
Sekar yang sempat terpejam langsung membuka mata. Ia menoleh, mendapati Sea masih terjaga, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara ragu dan keberanian yang dipaksakan. “Iya, Sayang?” jawab Sekar lembut, tangannya otomatis mengusap rambut Sea pelan.
Sea terdiam beberapa detik, seolah menyusun kata-kata di dalam kepalanya. Lalu dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan, ia berkata, “Sea… sudah tahu kalau Ibu sama Ayah… sudah pisah.”
Waktu seolah berhenti sesaat. Sekar membeku. Tangannya yang tadi bergerak lembut kini terhenti di kepala Sea. Dadanya langsung terasa sesak, bukan karena ia tidak siap dengan kenyataan itu tapi karena ia tidak pernah tahu kapan dan bagaimana anak sekecil itu menerima kabar sebesar itu. Sekar menelan ludahnya pelan, mencoba tetap tenang. “Dari siapa, Nak?” tanyanya hati-hati.
Sea mengangkat bahu kecilnya. “Dari rumah… dari omongan…” jawabnya lirih, tidak jelas siapa yang ia maksud.
Sekar memejamkan mata sejenak. Hatinya jatuh lagi.
“Ibu…” panggil Sea lagi, kali ini lebih pelan, lebih dalam.
Sekar membuka mata, menatap anaknya.
“Tapi… Ibu tetap ibu Sea, kan?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi rasanya seperti pisau yang menusuk langsung ke bagian terdalam hati Sekar. Air matanya langsung naik tanpa bisa ditahan. Sekar bergerak cepat, memeluk Sea erat, seolah ingin memastikan tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa memisahkan mereka lagi. “Iya, Sayang…” suaranya bergetar, nyaris pecah. “Ibu tetap ibu kamu. Selamanya.” Ia mencium kepala Sea berkali-kali, tangannya mengusap punggung kecil itu penuh perlindungan.
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗