Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Teratai Jantung Darah
Kabut malam merayap turun dari puncak gunung, menyelimuti Pelataran Luar Akademi Jiannan dalam selimut kelabu yang tebal. Di bawah bayang-bayang pohon pinus mati, tiga sosok berjubah hitam bergerak tanpa suara menuju perbatasan Lembah Hukuman.
Lin Xiaoyu berjalan di tengah, tangannya terus membentuk segel kecil yang mengalirkan Qi elemen air dan ilusi. Jubah hitam yang mereka kenakan tampak beriak, menyamarkan bentuk tubuh dan menyembunyikan wajah mereka di balik topeng asap buatan.
"Ingat," bisik Xiaoyu, napasnya sedikit terengah karena menahan formasi ilusi. "Di Pasar Hantu, jangan pernah bicara jika tidak perlu. Gunakan isyarat tangan. Suara bisa dilacak oleh teknik rahasia."
Bao Tuo, yang perut buncitnya berhasil disamarkan menjadi seperti bungkusan besar di punggungnya, mengangguk cepat. Ia memeluk lengannya sendiri, gemetar mendengar auman monster buas yang bergema dari dasar Lembah Hukuman yang gelap gulita di sebelah kiri mereka.
Zeng Niu memimpin di depan. Langkahnya bahkan tidak mematahkan sehelai ranting pun. Matanya mengamati cahaya pendar hijau yang mulai terlihat di balik formasi pepohonan lebat.
Begitu mereka melewati sebuah gerbang batu yang telah hancur separuh, pemandangan berubah drastis. Sebuah pasar tersembunyi beroperasi di tepi jurang Lembah Hukuman. Puluhan lapak digelar di atas kain kotor, diterangi oleh lampion api hijau. Ratusan sosok berjubah penyamar berlalu-lalang dalam keheningan yang mencekam. Transaksi dilakukan lewat bisikan atau telepati Qi. Tidak ada yang bertanya nama, tidak ada yang melihat wajah. Ini adalah surga bagi para pencuri, pembunuh, dan pencari jalan pintas.
Zeng Niu melangkah masuk. Ia mengabaikan lapak yang menjual pil Pengumpulan Qi ortodoks atau pedang terbang berkilauan. Hal-hal itu tidak berguna bagi Dantiannya yang cacat. Matanya yang tajam menyapu tumpukan material berdarah, mencari sesuatu yang memiliki fluktuasi energi liar.
Langkahnya terhenti di depan sebuah lapak reyot di sudut tergelap pasar.
Penjualnya adalah seorang lelaki bungkuk yang mengenakan topeng kayu berbentuk iblis. Lapaknya memancarkan bau anyir darah yang sangat pekat, membuat beberapa kultivator yang lewat menutup hidung dan menyingkir.
Di atas kain hitam lapaknya, tergeletak sebuah kotak batu giok yang retak. Di dalamnya, berdenyut pelan sebuah tanaman seukuran kepalan tangan yang bentuknya menyerupai jantung manusia, berwarna merah kehitaman, dengan urat-urat keemasan yang menjalar di permukaannya.
Zeng Niu menunjuk tanaman itu.
Lelaki bungkuk itu mengangkat kepalanya, sepasang mata di balik topeng kayu menatap Zeng Niu dengan sinis. "Mata yang bagus. Teratai Jantung Darah Aberasi. Tumbuh di atas tumpukan mayat monster Tingkat Brutal yang membusuk di dasar Lembah Hukuman. Tanaman ini telah menyerap Qi kacau dan esensi darah liar selama seratus tahun."
Lelaki itu tertawa serak. "Tapi ini racun mematikan, Anak Muda. Alkemis membelinya hanya untuk meracik pil mematikan atau bom racun. Jika kau menelannya, darahmu akan mendidih dan meledak keluar dari pori-porimu. Kau menginginkan benda kutukan ini?"
Zeng Niu tidak menjawab. Ia mengangkat dua jarinya. Berapa harganya?
"Lima Kristal Roh kelas menengah. Tidak bisa ditawar," desis penjual itu.
Di belakang Zeng Niu, Bao Tuo nyaris menjerit jika tidak dicegah oleh Xiaoyu. Lima Kristal Roh kelas menengah setara dengan lima ratus Kristal Roh kelas rendah! Itu adalah harga sebuah senjata spiritual tingkat tinggi!
Zeng Niu menoleh ke arah Bao Tuo dan mengangguk pelan.
Bao Tuo menggigit bibir di balik topeng asapnya. Dengan tangan bergetar dan hati yang berdarah-darah, ia mengeluarkan lima keping Kristal Roh yang memancarkan cahaya biru pekat dari cincin penyimpanannya, lalu meletakkannya di atas meja.
Mata penjual di balik topeng kayu itu menyipit melihat kilauan Kristal Roh kelas menengah. Ia dengan cepat menyapu Kristal Roh itu ke dalam lengan bajunya dan menyerahkan kotak giok retak itu kepada Zeng Niu.
"Semoga kau menikmati racunmu," kekeh sang penjual.
Zeng Niu menyimpan kotak giok itu ke dalam bajunya, berbalik, dan memberi isyarat kepada kedua rekannya untuk segera pergi. Insting membunuhnya yang tajam sudah menangkap perubahan arah angin.
Saat mereka beranjak menjauh, penjual bungkuk itu diam-diam membentuk segel tangan di balik meja. Seekor ngengat spiritual yang sangat kecil, nyaris tak kasatmata, terbang menempel di ujung jubah Bao Tuo.
Mereka tidak kembali melalui jalan yang sama. Zeng Niu memutar rute menuju sebuah jalur tebing yang lebih sempit dan curam, menjauh dari pelataran utama.
Di tengah jalan setapak yang gelap, Zeng Niu tiba-tiba berhenti. Ia mencengkeram bahu Xiaoyu dan Bao Tuo, memaksa mereka berhenti seketika.
"Ada apa?" bisik Bao Tuo panik.
"Hapus ilusi penyamarnya. Itu menguras tenagamu, dan mereka sudah tahu siapa kita," desis Zeng Niu sedingin es.
Xiaoyu membatalkan ilusinya. Kabut asap menghilang, menampakkan wujud asli mereka. Gadis itu menatap Zeng Niu dengan bingung, "Mereka?"
"Ngengat Pelacak kelas dua," ucap Zeng Niu, menunjuk ke titik merah kecil yang menempel di ujung jubah Bao Tuo. Dengan gerakan kilat, jari Zeng Niu meremukkan ngengat itu menjadi debu. "Penjual tadi tidak berjualan untuk untung. Dia memancing domba gemuk yang membawa Kristal Roh kelas menengah."
Seakan menjawab ucapan Zeng Niu, tawa dingin bergema dari balik tebing.
Tiga sosok melompat turun dari atas batu karang, menghalangi jalan kembali ke pelataran murid. Mereka mengenakan topeng putih polos, namun jubah mereka memancarkan fluktuasi energi yang sangat kuat.
"Pengumpulan Qi Tahap 8!" bisik Xiaoyu ngeri, wajahnya pucat pasi. "Mereka... mereka setingkat dengan Murid Dalam awal! Kita dijebak kelompok perampok Pasar Hantu!"
Pemimpin dari tiga sosok bertopeng itu melangkah maju, menghunus sebuah pedang yang memancarkan cahaya es. "Insting yang tajam untuk seukuran pengemis Murid Luar," ucap pemimpin itu meremehkan. "Tinggalkan kotak giok itu, dan serahkan cincin spasial yang disembunyikan oleh babi gemuk di belakangmu. Lakukan, dan kami akan berbaik hati membiarkan kalian merangkak pulang dengan nyawa tersisa."
Bao Tuo sudah terduduk di tanah, kakinya benar-benar kehilangan tenaga. Menghadapi Tahap 8 Pengumpulan Qi sama dengan menghadapi dewa kematian bagi mereka. Bahkan Xiaoyu sudah merogoh saku untuk mengeluarkan bom asap untuk kabur.
Namun, Zeng Niu melangkah ke depan, berdiri sendirian menghadapi ketiga murid tingkat tinggi itu.
"Mundur sepuluh tombak," perintah Zeng Niu kepada Xiaoyu dan Bao Tuo tanpa menoleh.
"S-Saudara Niu! Mereka Tahap 8! Pedang terbang mereka bisa memotong baja!" seru Bao Tuo histeris.
Zeng Niu perlahan mencabut belati berburunya. Bilah besinya yang kusam tidak memantulkan cahaya bintang, sama seperti matanya yang menelan segala harapan.
"Baja tidak sekeras sumsumku," bisik Zeng Niu.
Pemimpin bertopeng mendengus marah. "Sombong! Matilah!"
Ia mengayunkan pedangnya. “Seni Pedang Es Ilusi!”
Tiga bilah Qi berbentuk pedang es melesat menembus udara, menargetkan kepala, dada, dan kaki Zeng Niu secara bersamaan. Serangan kultivator Tahap 8 memiliki kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang.
Zeng Niu tidak menghindar. Ia tahu, di jalur tebing sempit ini, menghindar hanya akan membuat serangan itu mengenai Bao Tuo atau Xiaoyu di belakangnya.
Zeng Niu menundukkan tubuhnya, menyilangkan lengan kirinya di depan dada dan wajah, sementara otot kakinya menegang seperti pegas.
CRAAASH! TING!
Pedang es itu menghantam lengan kiri Zeng Niu. Bukannya terpotong, lengan yang berlapis kulit keabu-abuan itu hanya menahan goresan dangkal yang langsung membeku. Darah mutan di dalam tubuh Zeng Niu mendidih, langsung mencairkan es Qi tersebut. Penempatan Tubuh Tahap 4 tidak bisa dianggap remeh, ia telah merombak tubuhnya layaknya monster!
Mata pemimpin bertopeng membelalak tak percaya. "Kultivator Fisik?!"
Terlambat untuk terkejut. Memanfaatkan momentum tolakan dari serangan es itu, Zeng Niu melesat maju bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Kecepatannya murni dari ledakan otot.
Dalam sekejap mata, Zeng Niu sudah berada tepat di depan salah satu anak buah perampok. Ia tidak menggunakan jurus pedang yang elegan. Tangan kirinya yang terluka meninju ulu hati kultivator itu dengan kekuatan yang bisa meremukkan batu karang.
KRAK!
Dada kultivator itu melesak ke dalam. Udara terdorong keluar dari paru-parunya dengan suara mengerikan. Sebelum tubuhnya terpental mundur, belati di tangan kanan Zeng Niu melesat ke atas, menggorok tenggorokannya dalam satu sayatan mulus. Darah segar menyemprot membasahi topeng Zeng Niu.
Satu orang Tahap 8 tewas dalam dua detik.
"Bunuh dia! Formasi Serangan Ganda!" raung sang pemimpin panik. Ia dan rekannya yang tersisa mundur serentak, mencoba menjaga jarak. Kultivator Qi sangat mematikan dari jauh, namun rentan dalam pertarungan jarak dekat.
Kedua perampok itu merapalkan segel tangan. Hawa di sekitar tebing menjadi sangat dingin. Lusinan jarum es bermunculan di udara, siap menghujani Zeng Niu.
Zeng Niu tidak memberi mereka waktu untuk bernapas. Ia menendang mayat kultivator yang baru saja dibunuhnya tepat ke arah rekannya yang sedang merapalkan mantra.
BRUK!
Rekan perampok itu tertabrak mayat temannya sendiri, fokus formasinya hancur berantakan.
Zeng Niu sudah melompat mengikuti arah mayat itu. Saat perampok tersebut menyingkirkan mayat temannya, yang menyambutnya adalah lutut Zeng Niu yang menghantam wajahnya yang bertopeng.
PRANG!
Topeng putih itu pecah berkeping-keping beserta tulang hidung dan rahangnya. Pria itu terjerembap ke belakang. Zeng Niu mendarat di atas dadanya, dan tanpa keraguan sedikit pun, menancapkan belatinya tepat ke dahi pria itu, menembus tengkoraknya.
Kini hanya tersisa sang pemimpin.
Pemimpin perampok itu bergetar hebat. Jari-jarinya yang memegang pedang gemetar hingga senjata itu hampir jatuh. Iblis macam apa yang baru saja ia pancing? Dua murid dalam tingkat awal dibantai layaknya ayam potong oleh seorang pemuda yang tidak memiliki energi Dao sedikit pun!
"K-kau... kau akan dihukum mati oleh Akademi jika Penegak Hukum tahu kau membantai sesama murid!" ancam pemimpin itu, suaranya melengking ketakutan, langkahnya terus mundur hingga punggungnya menabrak dinding tebing.
Zeng Niu bangkit perlahan, mencabut belatinya dari dahi mayat di bawahnya. Darah menetes dari bilah itu, seirama dengan langkahnya yang mendekati sang pemimpin.
"Penegak Hukum tidak mengurus tumpukan daging di Pasar Hantu," jawab Zeng Niu datar.
Melihat tidak ada belas kasihan di mata Zeng Niu, pemimpin itu berteriak putus asa. Ia membalikkan badan dan memaksakan Qi terakhirnya ke kakinya untuk melarikan diri menggunakan teknik meringankan tubuh.
Zeng Niu tidak mengejar. Ia menarik tangan kanannya ke belakang, lalu melempar belati besinya dengan seluruh kekuatan otot lengannya.
WUUUSSS!
Belati berkarat itu membelah udara dengan kecepatan peluru, menancap tepat di punggung pemimpin perampok itu, menembus jantungnya hingga tembus ke dada depan. Tubuh pria itu terhempas ke depan, terseret di tanah berbatu sejauh dua tombak, lalu terdiam kaku.
Pertarungan selesai. Tiga kultivator elit tewas dalam waktu kurang dari waktu membakar setengah dupa.
Angin malam kembali bertiup, membawa bau anyir darah. Bao Tuo dan Xiaoyu yang mengintip dari balik batu berdiri mematung. Gigi Xiaoyu bergemeletuk. Ia sadar, ilusi dan kelicikan otaknya tidak ada artinya di hadapan kekuatan pembunuh seperti ini.
Zeng Niu berjalan tenang ke arah mayat-mayat itu. Dengan cekatan dan tanpa emosi, ia menggeledah pakaian mereka. "Dua Cincin Spasial tingkat rendah, tiga pedang terbang, dan beberapa pil Pengumpulan Qi," lapornya datar pada dirinya sendiri, menyimpan barang rampasan itu.
Ia mencabut belatinya dari mayat sang pemimpin, mengelapnya pada jubah korban, dan menatap ke arah Lembah Hukuman yang gelap.
Zeng Niu menepuk dadanya, merasakan kotak giok yang berisi Teratai Jantung Darah Aberasi. Ia telah menumpahkan darah malam ini, dan sekarang saatnya ia menelan darah itu untuk menjadi pemangsa yang lebih menakutkan.
"Ayo kembali," panggil Zeng Niu memecah keheningan malam pelataran luar. "Aku butuh tempat untuk menerobos Tahap Kelima."