NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Ziarah Agung di Tanah Para Raja

Pagi itu, udara Sidoarjo terasa lebih sejuk saat Faris Arjuna dan Arjuna Hidayat memacu kendaraan menuju arah barat, membelah jalanan menuju Trowulan, Mojokerto. Bagi Faris, perjalanan ini bukan sekadar jalan-jalan, tapi sebuah panggilan batin untuk sowan kepada para leluhur yang ruhnya masih menjaga tanah Jawa.

Begitu memasuki gerbang Trowulan, aura kewibawaan masa lalu langsung menyambut mereka. Candi-candi bata merah berdiri kokoh, menjadi saksi bisu kejayaan Majapahit yang pernah menyatukan Nusantara. Faris menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk. "Kangmas, apa benar di tanah ini para raja dan sesepuh kita disemayamkan?" tanya Faris pelan.

Arjuna Hidayat mengangguk mantap sambil merapikan blangkonnya. "Benar, Dikmas. Trowulan ini pusatnya. Di sini bukan hanya soal tulang belulang yang terkubur, tapi soal energi perjuangan dan doa-doa suci yang tidak akan pernah mati. Kita ke sini untuk ngalap berkah ketenangan, supaya perjuangan sampeyan menjaga budaya tidak goyah," jelas sang kakak.

Mereka melangkah menuju kompleks Makam Troloyo. Di sana, aroma bunga mawar dan kemenyan wangi menyeruak, menenangkan saraf-saraf Faris yang sempat tegang setelah duel melawan Ki Ageng Blorong. Faris bersimpuh di depan nisan kuno, menundukkan kepala dengan takzim.

"Duh Gusti, kulo niki wayahipun para leluhur... nyuwun pangestu supados saged njagi amanah niki (Duh Tuhan, saya ini cucu para leluhur... mohon restu supaya bisa menjaga amanah ini)," bisik Faris dalam hati. Ia merasa seolah-olah tanah yang ia duduki bergetar pelan, memberikan sambutan hangat bagi sang Panglima Terminal yang sedang pulang ke akarnya.

Di kejauhan, Brewok dan Jono ternyata ikut membuntuti dengan jarak aman. Brewok tampak sibuk membawa tas plastik berisi bunga tujuh rupa. "Mas Jono, kalau kita ziarah begini, apa kita juga bakal ketularan sakti seperti Mas Faris? Saya mau minta supaya dagangan kopi saya di terminal makin laris," ucap Brewok polos.

Jono menepuk jidatnya sendiri. "Brewok, Brewok! Ziarah itu tujuannya ingat mati dan kirim doa buat ahli kubur, bukan tempat pesugihan kopi! Doakan para leluhur supaya mereka senang punya keturunan seperti kita yang masih ingat jalan pulang," tegur Jono ketus.

Faris merasakan hembusan angin yang sangat dingin namun menyejukkan menyentuh tengkuknya. Tiba-tiba, ia mendengar suara bisikan halus yang hanya bisa didengar oleh telinga batinnya: "Jaga jati dirimu, Le... Jangan biarkan beringin itu tumbang oleh angin zaman."

Arjuna Hidayat tersenyum melihat adiknya yang tampak sangat khusyuk. "Sudah dapat jawabannya, Dikmas? Di sinilah bukti bahwa kita tidak pernah sendirian. Leluhur selalu mengawasi, selama kita masih di jalan yang lurus dan tidak lupa sujud kepada Sang Maha Kuasa."

Faris berdiri dengan tatapan mata yang lebih tajam dan mantap. Ia menyadari bahwa kekuatannya bukan berasal dari keris atau ototnya, melainkan dari sambungan doa yang tidak pernah putus antara yang hidup dan yang sudah tiada. Mojokerto hari ini telah memberinya kekuatan baru untuk menghadapi ujian yang lebih besar.

Setelah berziarah, langkah Faris dan Arjuna Hidayat tertuju pada sebuah masjid kuno yang berdiri tegak tak jauh dari kompleks makam. Adzan Ashar berkumandang, suaranya menyelinap di antara sela-sela candi bata merah, memanggil jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian. Faris membasuh wajahnya dengan air wudhu yang terasa sangat dingin, seolah air itu meresap hingga ke batinnya yang paling dalam.

Arjuna Hidayat maju menjadi imam, sementara Faris berdiri tepat di belakangnya. Begitu takbir dikumandangkan, suasana duniawi seolah lenyap. Faris tidak lagi merasa sebagai Panglima Terminal atau novelist terkenal, ia merasa hanya sebagai sebutir debu di hadapan Sang Maha Agung.

Saat mencapai sujud terakhir, Faris tidak segera bangkit. Ia membiarkan dahinya menempel lama pada hamparan sajadah. Dalam keheningan itu, Faris menangis tanpa suara. Air matanya membasahi kain tempat sujudnya. Ia teringat masa lalunya yang kelam, teringat tanggung jawab besarnya menjaga budaya, dan teringat betapa beratnya memikul amanah dari para leluhur Majapahit.

"Ya Allah... bimbinglah hamba yang penuh noda ini. Jangan biarkan hamba sombong dengan sedikit ilmu yang Kau titipkan. Kuatkan hati hamba untuk tetap berdiri menjaga tanah Jawa ini," bisik Faris di dalam hatinya dengan sangat tulus. Sujud itu terasa sangat panjang, seolah Faris sedang melepas seluruh beban hidupnya tepat di bawah kaki arasy Tuhan.

Arjuna Hidayat yang sudah menyelesaikan tahiyat akhir tetap duduk tenang, ia sengaja memberikan waktu bagi adiknya untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Khalik. Ia tahu, sujud panjang adalah obat terbaik bagi jiwa yang sedang berjuang.

Di barisan belakang, Brewok dan Jono pun tampak sangat khusyuk. Brewok yang biasanya tidak bisa diam, kali ini tertunduk lama dalam sujudnya. "Mas Jono, kenapa ya sholat di sini rasanya beda sekali? Rasanya hati saya damai, seperti semua masalah cicilan motor saya hilang seketika," bisik Brewok setelah salam, sambil mengusap matanya yang sembab.

Jono hanya tersenyum tipis sambil terus berdzikir. "Itulah berkahnya tempat para wali dan ksatria, Brewok. Di sini doa-doa tidak hanya terucap di bibir, tapi tembus sampai ke langit. Bersyukurlah sampeyan masih diajak Mas Faris ke jalan yang benar."

Setelah Faris akhirnya bangkit dari sujudnya, wajahnya tampak sangat bersinar. Beban yang tadi menggelayut di pundaknya terasa sirna berganti dengan energi baru yang luar biasa. Ia menyalami tangan kakaknya dengan penuh hormat.

"Terima kasih, Kangmas. Saya merasa baru saja dilahirkan kembali," ucap Faris dengan suara yang mantap. Arjuna Hidayat merangkul pundak adiknya. "Itulah inti dari perjalanan kita, Dikmas. Kekuatan sejati itu bukan saat sampeyan berdiri tegak di depan musuh, tapi saat sampeyan mampu bersimpuh paling rendah di hadapan Gusti Allah."

Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya jingga di atas langit Trowulan. Faris keluar dari masjid dengan langkah yang ringan. Ia siap menghadapi apa pun yang menghadang di depan, karena ia tahu, Sang Maha Dalang akan selalu menjaganya selama ia tetap sujud di jalan-Nya.

Begitu keluar dari gerbang masjid, aura "santri" di wajah Faris langsung berubah menjadi aura "preman laper". Ia meregangkan otot-ototnya sampai berbunyi krek-krek, lalu menoleh ke arah Brewok dan Jono yang masih sibuk merapikan sarung.

"He, Brewok! Jono! Sini sampeyan berdua!" teriak Faris dengan suara cempreng khas terminalnya. Brewok dan Jono langsung lari tunggang-langgang menghampiri bos mereka. "Siap, Mas Faris! Ada instruksi tempur atau ada musuh gaib lagi?" tanya Brewok dengan wajah panik.

Faris nyengir lebar sampai gigi taringnya kelihatan. "Musuh paling besar sekarang ada di dalam perut saya! Tadi sujud kelamaan, cacing di perut saya ikut demo minta hak asasi manusia. Ayo, kita cari makan paling enak di Mojokerto ini. Saya yang bayar, sampeyan yang ngabisin!"

Mata Brewok langsung berbinar melebihi lampu blencong wayang semalam. "Waduh, ini baru Panglima Terminal idola saya! Tadi saya mau minta doa pesugihan kopi gak jadi, eh malah dikasih makan enak langsung sama sumbernya. Gaspol, Mas!"

Arjuna Hidayat hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang berubah drastis. "Tadi nangis di sajadah sampai basah kuyup, sekarang sudah teriak-teriak soal sate kambing. Sampeyan ini memang ksatria paling ajaib, Dikmas," ucap sang kakak sambil tertawa tipis.

Mereka akhirnya mampir di sebuah warung pinggir jalan yang baunya menggoda iman. Faris memesan makanan tanpa melihat daftar harga. "Bu, sate kambing lima porsi, gule dua mangkok besar, nasi sebakul penuh, sama es jeruk yang gulanya asli! Jangan lupa, buat Brewok kasih kerupuk satu kaleng, biar dia diam gak tanya-tanya soal ghaib melulu!" teriak Faris sambil duduk jegang di kursi kayu.

"Mas Faris, kalau makannya sebanyak ini, apa tidak berat nanti pas mau latihan silat lagi?" tanya Jono sambil menyendok kuah gule yang masih mengepul. Faris menepis tangan Jono. "Halah, Jono! Urusan silat itu urusan nanti. Sekarang urusan manunggal sama sate kambing dulu. Kalau perut senang, batin tenang, musuh datang tinggal kita sendawain juga pingsan!"

Brewok makan dengan sangat lahap sampai keringat sebesar biji jagung bercucuran di dahinya. "Wah, Mas Faris... sate ini rasanya seperti ditarik langsung dari surga Majapahit. Maknyus pol!" Faris tertawa terbahak-bahak melihat mulut Brewok yang penuh lemak. "Makan yang banyak, Wok! Biar badan sampeyan besar, jadi kalau ada serangan bola api lagi, sampeyan bisa jadi tameng hidup buat saya!"

Malam itu, di sebuah warung sederhana di tanah Mojokerto, kemewahan bukan terletak pada emas atau perak, tapi pada tawa renyah seorang bos dan anak buahnya yang menyatu dalam kesederhanaan. Faris Arjuna membuktikan bahwa ksatria sejati tahu kapan harus bersujud di hadapan Gusti, dan kapan harus berbagi kebahagiaan (dan kolesterol) dengan kawan seperjuangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!