NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:238.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Pagi itu, Thalia memutar kunci Ferrari merah milik "suami murahannya" dan mesin langsung meraung pelan. Jalanan masih lengang, matahari baru naik, dan kaca jendela menunjukkan bayangan gadis dengan gaun santai, riasan tipis, dan senyum kecil yang tidak ia sadari muncul sendiri. Hari ini jadwalnya padat: fitting gaun untuk penampilan di ajang Duta Kampus nanti, lalu mampir ke Luxury City Mall untuk belanja beberapa kebutuhan kecil.

Ferrari melaju halus menuju distrik paling mewah kota. Di seberang mall berdiri butik dengan fasad kaca tinggi dan lampu hangat yang selalu membuat orang ingin masuk. Luxury City Mall-milik salah satu lini bisnis keluarga Maverick-menjulang megah di seberangnya, papan namanya berkilau memantulkan pagi. "Suaminya benar-benar kaya," gumam Thalia, masih sulit percaya bagaimana dirinya, yang selama ini dianggap culun dan remeh, kini melaju dengan santai di mobil super mewah.

Begitu parkir di depan butik, seorang pramuniaga menyambutnya dengan senyum terlatih.

"Selamat pagi, Nona. Janji temu atas nama Thalia?"

"Iya."

"Silakan, koleksi untuk evening dress dan cocktail sudah kami siapkan."

Thalia mengikuti ke ruang fitting. Di sana, beberapa gaun tergantung berurutan: satin krem dengan lengan puff, tulle lilac berbordir bunga kecil, dan satin merah marun berpotongan anggun. Ia memegang satu per satu, menilai bahan, jatuhnya, dan kenyamanan. Ia tidak suka yang terlalu mencolok. Sopan, elegan, itu kriterianya.

"Yang ini boleh saya coba?" Thalia menunjuk gaun lilac dengan bordir bunga-bunga halus.

"Tentu." Pramuniaga membantu, dan tak lama kemudian Thalia menatap dirinya di cermin besar. Potongannya Vdangkal, lengan setengah, rok mengembang tenang. Ia berputar pelan. Cantik, tapi tidak berlebihan.

"Pas sekali di bahu dan pinggang," komentar sang pramuniaga. "Kalau Nona menyanyi, kainnya jatuh lembut, tidak mudah kusut."

Thalia tersenyum. "Aku suka. Tolong disesuaikan sedikit di pinggul, ya."

Fitting berjalan cepat. Sambil menunggu jahitan kecil selesai, Thalia scrolling pesan singkat. Notifikasi grup kampus ramai membahas kandidat Duta Kampus yang mulai kampanye. Ia melirik nama Aurora dan Nadine-dua orang yang, dari ingatan pemilik tubuh sebelumnya, selalu jadi masalah. Mereka bisa tertawa bersama di depan dosen, namun di belakang bisa licin seperti belut. Thalia memutuskan untuk tidak memikirkan mereka. Fokusnya hari ini sederhana: tampil baik, membeli beberapa barang yang ia perlukan, pulang, lalu latihan vokal ringan.

Setelah pengukuran tambahan selesai dan gaun dibungkus rapi, Thalia mengucapkan terima kasih dan kembali ke mobil. Ia memutuskan memarkir Ferrari di basement mall; panas sudah mulai terasa, dan ia ingin berjalan santai tanpa silau.

Area parkir basement sejuk. Thalia mengambil tote bag kecilnya, memastikan dompet dan ponsel ada, lalu berjalan menuju pintu samping yang terhubung ke koridor karyawan dan akhirnya ke lobi samping mall. Di sana, suasana masih belum padat. Aroma kopi dari kedai dekat pintu mengalun ringan.

Thalia melangkah cepat; pikirannya melayang pada daftar belanja: lipstik nude, sepatu hak rendah, dan pita rambut. Di tengah lamunan sederhana itu, seorang pemuda berbalik tiba-tiba dari arah berlawanan. Mereka bertabrakan.

"-Eh!"

Tubuh Thalia terantuk dada lelaki itu. Karena kaget, ia terseret setengah langkah, tumitnya tak seimbang. Pemuda itu reflek meraih lengan Thalia. Di belakang mereka kebetulan ada bangku kecil; dorongan tak sadar membuat mereka terduduk-menciptakan posisi yang serba salah: Thalia setengah jatuh, seperti berada di pangkuan sang pria.

Waktu yang sebenarnya hanya dua detik terasa melar. Tatapannya beradu dengan sorot cokelat yang terkejut sekaligus terpikat. Lelaki itu Leonard-sosok paling populer di kampus, anak kontraktor kaya. Wajahnya bersih, rahang tegas, hidung lurus.

Bagi banyak gadis, ia paket lengkap.

"Maaf!" Thalia langsung bangkit, menepis gaun santainya yang kusut. "Aku tidak lihat jalan."

Leonard belum bergerak. Ia justru terpaku menatap wajah Thalia. Di kampus, ia mengenal "Thalia" sebagai gadis culun-kacamata besar, rambut acak, pakaian longgar, selalu menunduk. Orang mudah mengabaikannya. Tapi perempuan di hadapannya sekarang... kulitnya bening, rambutnya terurai rapi, tatapannya jernih. Elegan. Hangat. Cantik. Rasanya seperti menatap bidadari yang turun tanpa sayap.

"Aku... aku yang salah," ucap Leonard, akhirnya berdiri. "Aku tiba-tiba berbalik."

"Tidak apa." Thalia menunduk sopan. Ia hendak pergi, namun kebiasaan lamanya muncul: lebih baik cepat menghindar daripada menjadi perhatian. Ia tidak ingin membuat keributan.

"Sebentar," panggil Leonard refleks. "Apa kita... pernah-"

"Permisi," potong Thalia pelan. Ia tersenyum sekilas, lalu melangkah menjauh. Dalam hati, ia sempat mengakui: Leonard memang tampan. Tapi tujuan Thalia hari ini bukan "cuci mata laki-laki tampan", melainkan cuci mata etalase dan belanja damai. Dan lagi-ia menghela napas kecil-suami dinginnya itu, Aiden Hugo Maverick, pada akhirnya masih yang paling tampan di matanya. Meski sikapnya sering membuat kepala pening.

Leonard menatap punggung Thalia yang perlahan hilang di balik pilar koridor. Di dadanya ada getar aneh yang belum ia bisa jelaskan. Ia mengerjap, mencoba menyusun potongan memori. Wajah itu...

"Thalia?" gumamnya ragu. "Tidak mungkin."

Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. Mana mungkin gadis culun yang selalu memakai kacamata besar bisa berubah seanggun itu dalam semalam? Barangkali ia hanya bertemu selebritas lokal yang kebetulan mirip. Namun, rasa penasaran menempel seperti lem.

Mereka tidak menyadari dari sudut gelap dekat pilar, seseorang mengangkat kamera saku profesional. Lensa tele-kecil namun tajam-mengikuti gerakan Thalia dan Leonard. Orang itu mengenakan jaket hitam tanpa logo, topi ditarik rendah, dan masker. Ia bergerak cepat, mengambil beberapa bidikan dari sudut berbeda: momen tabrakan, genggaman lengan, posisi ambigu di bangku, lalu adegan Thalia berjalan pergi.

Pria itu menurunkan kamera dan mengirim beberapa foto ke nomor tertentu. Lucas-orang kepercayaan Aiden-yang memerintahkannya "mengamati dari jauh" supaya tidak ada kejadian mencurigakan. Sejak foto-foto lama Thalia bersama seorang aktor figuran tersebar di forum kampus (rekayasa musuh-musuh lama), Aiden memutuskan lebih waspada. Namun instruksinya jelas: jaga jarak, jangan mengganggu.

Target memasuki Luxury City Mall. Ada insiden dengan seorang pria muda. Mengirim bukti.

Pesan terkirim. Balasan tidak langsung datang. Si fotografer menggulung kamera kecilnya ke tas sling dan menyatu kembali dengan arus pengunjung.

Thalia memasuki pusat perbelanjaan yang bercahaya lembut. Langit-langit tinggi berwarna krem, lantai marmer mengilap, toko-toko berderet seperti etalase permen. Ia berhenti di sebuah butik sepatu, mencoba hak tiga sentimeter-pas untuk menjaga stabilitas saat menyanyi. Seorang pelayan memujinya, "Kakinya cantik kalau pakai model ini, Nona."

"Ambil yang nude, ukuran 37," kata Thalia.

Ia melanjutkan ke gerai kosmetik. Setelah mencoba beberapa swatch, ia memilih lipstik warna rose beige.

Di sisi lain kota, Lucas menatap layar tabletnya. Foto-foto dari basement mall sudah masuk. Ia memperbesar salah satu frame-yang paling buruk dari sudut pandang reputasi-lalu mengecilkannya lagi. Lucas bukan tipe suka gosip. Tugasnya sederhana: memastikan tidak ada ancaman mendekat ke keluarga Maverick, terutama kepada Aiden. Namun foto ini jelas bisa menjadi bahan bakar bagi orang yang ingin bermain kotor.

Ia mengetik pesan:

Tuan, target dalam keadaan baik. Namun ada peristiwa kecil dengan seorang mahasiswa pria. Foto terlampir hanya untuk dokumentasi. Tidak ada indikasi hubungan khusus. Perlu tindak lanjut?

Balasan datang lebih cepat dari perkiraan.

Periksa identitas pria itu. Jangan ganggu Nona Thalia. Dan jangan sebarkan ke mana pun.

Lucas menghela napas lega. "Seperti biasa," gumamnya. "Tuan Aiden tetap tenang."

Ia memutar badan pada asisten yang duduk di seberang. "Cari tahu siapa pria itu. Discrete. Lihat apakah ada orang lain yang memotret."

Asisten mengangguk, jari-jarinya lincah di atas keyboard.

Thalia menghabiskan satu gelas teh lemon di kafe kecil sebelum kembali ke basement. Ia merasa lebih tenang. Belanjaannya tidak banyak-sepatu, lipstik, pita rambut, partitur. Hal-hal sederhana yang membuatnya merasa memegang kendali atas hidupnya sendiri, setidaknya hari ini.

Di parkiran, suaranya hampir tak terdengar saat ia berkata, "Terima kasih," entah pada siapa. Mungkin pada semesta, karena memberi hari yang cukup baik, meski ada gangguan kecil.

Ferrari kembali menyala. Thalia memasang sabuk pengaman.

Ia melajukan mobil keluar dari mall. Matahari memantul di kap Ferrari, menabur kilau keemasan di sepanjang jalan. Di radio, lagu pop pelan mengalun.

1
awesome moment
serena bkl.an sukses n
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
saya yakin nanti Aiden akan sejatuh jatuhnya pd sosok Thalia. dan mencintainya dngn ugal"an 😱😱😁
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
syukurlah Aiden menolong Thalia hrsnya Thalia lbh waspada biar gak kena jebakan Nadine 😏😏
awesome moment
aiden tau cara melawan dgn elegant. tau potensi thalia
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Aiden liat istrimu Thalia dlm bahaya
Anita Danun
cie cie aiden so sweatttttttt
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Thalia jngn minum lg kl bkn sama Aiden bisa bahaya itu 😁😁
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
syukurlah Aiden th rencana Yoshi yg mau jual anaknya ke pria tua yg sdh beristri 😏😏 ayo Aiden lindungi istrimu dr keluarga Dajjal itu agar Thalia gak disakiti lg 💪💪
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Yoshi kl kamu lakukan kamu akan kehilangan Thalia untuk selama tp kan emang thalia asli sdh meninggal yg ada di raganya skrng Thalia Alexandria 😱😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mana Aiden Thor kok gak ada ceritanya lg nih emang dia gak rindu Liam atau Thalia 😏😏
awesome moment
hati liam sangat luas dlm.body kecilnya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kok di tengah cerita di ulng thor bikin ambyar deh bacanya 😱😁
Iry: maaf yaaaa🤗🙏
total 1 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kok saya curiga ya kl mama nya Thalia di bunuh sama Merry🤔😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa benar nanti ceritanya berubah 😏😏
Iry: maaf yaaaa🙏
total 1 replies
Eliznth Tek
Muakk bangat baca komen nyaa
Iry: kamu muak karena apa kak? apa komenan itu ada yg ngeganggu kamu? coba deh blg ke aku🤗
total 1 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Tiffany kamu blm th Thalia seperti apa 🤔😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Thor jd yg benar skrng namanya Thalia apa 🤔🤔 apa thalia Anderson atau thalia Alexandria 🤔😏
Iry: maap yaaaa
total 1 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
jd deg"an nih 😱😱😁
Ds Phone
dia bini orang oi
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
semuanya hancur karna ulah kalian jg 😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!