Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Ghaib saat Ujian Matematika
Kemenangan hukum dan sejarah yang baru saja diraih Satria dan Arini atas pihak kontraktor ternyata tidak membuat hidup menjadi lebih mudah. Di SMA Wijaya Kusuma, menyelamatkan sekolah dari penggusuran adalah satu hal, tetapi menghadapi ujian akhir Matematika di bawah pengawasan Pak Bambang "Si Penguasa Kalkulus" adalah kengerian di dimensi yang berbeda.
Selasa pagi itu, atmosfer sekolah terasa sangat berat. Bukan karena tekanan energi negatif dari Intel Ghaib yang mulai memudar, melainkan karena radiasi stres dari ratusan siswa yang mencoba menghafal rumus logaritma dan turunan dalam waktu semalam. Bagi Satria, tantangannya berlipat ganda: ia harus bertarung dengan angka-angka rumit sekaligus gangguan dari para penghuni astral yang tidak mengerti konsep privasi akademik.
"Sat, kamu belajar?" bisik Arini saat mereka berjalan menuju ruang ujian. Arini tampak rapi, namun ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya.
"Gue belajar, Rin. Tapi masalahnya, setiap kali gue lihat angka '8', gue malah ingat kacamata hantu Noni Belanda yang pecah. Setiap lihat '0', gue ingat lubang sumur tempat Buto Ijo curhat," jawab Satria pasrah.
Arini menepuk bahu Satria. "Fokus, Sat. Ingat, setelah ujian ini selesai, kita punya janji untuk merayakan kemenangan kita soal lahan sekolah. Jangan sampai kamu nggak lulus cuma gara-gara sinus dan kosinus."
Ruang ujian nomor 07 berada di lantai dua, tepat di samping pohon kamboja besar. Ruangan ini dikenal sebagai area "paling sunyi," yang dalam kamus Satria berarti "paling banyak penunggu yang hobi mengamati manusia."
Saat bel berbunyi, Pak Bambang masuk dengan wajah sedingin es, membawa tumpukan kertas soal yang tebalnya mirip ensiklopedia kegagalan. "Tidak ada suara. Tidak ada kerja sama. Jika saya melihat mata kalian melirik selain ke kertas soal, saya anggap kalian sedang meminta bantuan jin, dan nilai kalian akan saya nol-kan seketika!" gertak Pak Bambang.
Satria menelan ludah. Duh, Pak Bambang tahu aja kalau bantuan jin itu opsi yang sangat menggoda, batinnya.
Begitu kertas dibagikan, Satria mulai membaca soal nomor satu. 'Tentukan nilai turunan pertama dari...' Baru saja ia memegang pulpen, hawa dingin menusuk tengkuknya.
“Pssssst... Sat... nomor satu itu jawabannya C... C... Cukup tau saja kalau aku merindukanmu...”
Itu adalah suara Mbak Suryani. Ia sedang melayang terbalik di langit-langit tepat di atas kepala Satria, rambut panjangnya menjuntai hampir menyentuh lembar jawaban Satria.
"Mbak, pergi! Saya lagi ujian!" bisik Satria tanpa menggerakkan bibir, matanya lurus ke depan agar tidak dianggap menoleh oleh Pak Bambang.
“Galak amat sih, Sat. Itu di nomor lima, kamu salah masukin rumus. Harusnya pakai rumus yang ada akarnya, bukan pakai perasaan yang luka,” goda Mbak Suryani lagi.
Masalah menjadi semakin parah ketika Ucok tiba-tiba muncul di kolong meja Satria. Tuyul itu tidak datang untuk memberi jawaban, melainkan untuk melakukan "audit" terhadap alat tulis Satria.
“Sat, pinjam penghapusnya dong. Mau saya pakai buat hapus kenangan mantan di tembok toilet,” bisik Ucok sambil menarik-narik ujung celana Satria.
"Ucok! Jangan sekarang! Gue bisa nggak lulus!" Satria berkeringat dingin.
Pak Bambang mulai berkeliling. Langkah kakinya yang berat terdengar seperti dentum kematian. Ia berhenti tepat di samping meja Satria. "Satria, kenapa kaki kamu gemetar begitu? Dan kenapa meja kamu bergetar sendiri?"
Satria membeku. Meja itu bergetar karena Ucok sedang asyik bermain drum pakai pensil di kolong meja. "Anu... Pak... saya lagi... teknik meditasi getaran supaya otak saya lebih sinkron sama rumus fisika—eh, matematika!"
Pak Bambang menyipitkan mata. "Selesaikan soalmu. Jangan bertingkah aneh."
Begitu Pak Bambang menjauh, Meneer Van De Berg muncul di sebelah kiri Satria. Sang Meneer tidak mengganggu, ia justru tampak sangat serius memperhatikan soal matematika tersebut.
“Anak muda, matematika zaman sekarang sangat aneh. Kenapa harus mencari nilai X? Di zaman saya, kalau ada yang hilang, kita kirim tentara untuk mencarinya, bukan menghitung variabel di atas kertas!” keluh sang Meneer.
"Meneer, tolong... tolong diam atau bantu saya!" bisik Satria putus asa.
Meneer Van De Berg mengelus janggutnya yang transparan. “Baiklah. Nomor sepuluh itu, logikanya mirip dengan strategi pengepungan benteng. Sudut elevasi tembakan meriam adalah kuncinya. Jawaban yang logis adalah 45 derajat.”
Satria melihat soal nomor sepuluh. Itu soal trigonometri tentang tinggi tiang bendera. Eh, bener juga logikanya Meneer, pikir Satria. Ia mulai menulis dengan cepat.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di sela-sela konsentrasinya, Satria merasakan energi gelap yang sangat familiar. Di pojok ruangan, dekat lemari buku, sesosok bayangan hitam muncul. Itu adalah sisa-sisa energi dari Intel Ghaib yang masih belum terima kekalahan mereka.
Makhluk itu tidak menyerang secara fisik, melainkan melakukan serangan mental. Ia membisikkan kegagalan ke telinga Satria.
“Kau akan gagal... kau akan tinggal kelas... Arini akan meninggalkanmu karena kau bodoh dalam hitungan... Kau tidak akan bisa menyelamatkan apapun...”
Bisikan itu membuat pandangan Satria kabur. Angka-angka di kertas seolah menari dan berubah menjadi simbol-simbol kuno yang mengerikan. Satria mulai merasa pusing, pulpennya terjatuh.
Arini, yang duduk dua baris di depan, seolah merasakan sesuatu. Ia menoleh sedikit, melihat Satria yang wajahnya sangat pucat. Tanpa ragu, Arini melepaskan liontin Maria Van De Berg yang ia pakai di bawah seragamnya dan menggenggamnya kuat-kuat di bawah meja.
Cahaya putih lembut terpancar samar dari tangan Arini, menyebar ke seluruh ruangan. Energi kasih sayang dan warisan sejarah dari liontin itu berfungsi sebagai "pembersih frekuensi."
Seketika, bisikan hitam dari Intel Ghaib itu lenyap. Pandangan Satria kembali jernih. Ia melihat Arini yang memberikan anggukan kecil padanya sebelum kembali fokus pada soalnya.
Melihat Satria kembali pulih, para hantu lain yang merasa berhutang budi karena sekolah tidak jadi digusur, memutuskan untuk memberikan "bantuan" massal.
Pocong Dudung tiba-tiba muncul di luar jendela, memegang kertas besar yang bertuliskan: “JAWABAN NOMOR 15 ADALAH B, KATA TEMEN SAYA YANG BARU MATI KARENA KEBANYAKAN BELAJAR!”
Satria hampir saja tertawa jika tidak ingat nyawanya di tangan Pak Bambang.
Lalu ada Profesor Hans dari Lab Biologi yang melayang masuk menembus papan tulis. Ia mulai menuliskan rumus-rumus rumit dengan tinta ghaib yang hanya bisa dilihat oleh Satria.
“Gunakan rumus distribusi normal ini, Satria! Ini adalah sains yang mutlak!” teriak sang Profesor.
"Cukup! Semuanya keluar!" teriak Satria secara tidak sadar.
Seluruh kelas mendadak hening. Pak Bambang berhenti di depan kelas, wajahnya memerah. "Satria! Siapa yang kamu suruh keluar? Saya?!"
Satria menyadari kesalahannya. Ia berdiri dengan kikuk. "Bukan Bapak! Anu... tadi ada... ada lalat besar sekali masuk ke telinga saya, Pak! Lalatnya bilang 'Cepat keluar!', jadi saya reflek teriak!"
Satu kelas tertawa pecah. Arini menutupi wajahnya dengan tangan, menahan malu sekaligus tawa. Pak Bambang menggeleng-gelengkan kepala. "Duduk, Satria. Satu kali lagi kamu teriak, kamu yang keluar dari ruangan ini!"
Sepuluh menit terakhir ujian adalah momen paling produktif bagi Satria. Dengan bantuan "penjagaan" dari Meneer Van De Berg yang mengusir hantu-hantu berisik lainnya, Satria berhasil menyelesaikan 40 soal pilihan ganda dan 5 soal esai.
Ketika bel tanda berakhirnya ujian berbunyi, Satria meletakkan pulpennya dengan tangan yang gemetar. Ia merasa seperti baru saja melewati medan perang antar dimensi.
Saat mengumpulkan kertas, Pak Bambang menatap Satria dengan pandangan aneh. "Satria, saya tidak tahu apa yang kamu alami selama 90 menit ini, tapi saya harap jawabanmu sewaras alasan lalat di telingamu tadi."
Di luar kelas, Satria langsung terduduk lemas di bangku koridor. Arini menghampirinya, membawakan sebotol air mineral dingin.
"Gila, Sat. Tadi itu luar biasa memalukan, tapi aku salut kamu tetap bisa nulis sampai lembar terakhir," ujar Arini sambil tertawa kecil.
"Rin, jangan tanya gimana rasanya ujian sambil ditonton Pocong Dudung dan dikritik Meneer soal sistem pendidikan," keluh Satria sambil meneguk airnya. "Tapi makasih ya, Rin. Tadi pas gue blank karena si Intel Ghaib, gue ngerasa ada energi hangat dari lo."
Arini tersenyum, menyentuh liontin di lehernya. "Kita kan sudah janji, Sat. Satu tim. Masalah ghaib atau masalah matematika, kita hadapi bareng."
Tiba-tiba, Ucok muncul di antara mereka, kali ini membawa selembar kertas kecil. “Sat, ini kunci jawaban Matematika punya Pak Bambang yang tadi jatuh di kantor!”
Satria dan Arini melihat kertas itu, lalu melihat lembar soal mereka.
"Cok... ini kunci jawaban ujian tahun lalu," kata Satria setelah memperhatikannya.
“Loh? Pantesan harganya murah pas saya beli dari tuyul kantor sebelah!” jawab Ucok dengan wajah polos tanpa dosa.
Satria dan Arini tertawa bersama di koridor yang kini mulai dipenuhi siswa yang riuh. Ujian Matematika telah berakhir, rahasia sekolah telah diamankan, dan meskipun Satria harus menanggung rasa malu seumur hidup karena insiden "lalat di telinga," ia tahu bahwa di sekolah yang penuh misteri ini, hubungan mereka adalah satu-satunya variabel yang pasti dan tidak perlu dicari nilai X-nya.
Matahari siang yang terik di atas SMA Wijaya Kusuma. Di atas pohon kamboja, para penghuni astral tampak tenang, seolah ikut merayakan berakhirnya musim ujian. Satria menatap Arini, menyadari bahwa pahlawan yang sebenarnya bukan hanya yang bisa melihat hantu, tapi yang bisa tetap bertahan di sisi seseorang saat dunia—baik nyata maupun ghaib—terasa sangat kacau.
"Besok ujian Bahasa Inggris, Sat. Jangan sampai ada lalat bicara bahasa Inggris di telinga kamu ya," goda Arini sambil berjalan menjauh.
"Iya, Rin! Paling nggak, Meneer pasti jago kalau cuma soal grammar!" teriak Satria, disambut tawa kecil dari bayangan Meneer yang melintas di jendela.