Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Inti monster
Hutan spiritual.
Nova berdiri tepat di depan hutan yang di selimuti kabut tebal yang memiliki aliran energi yang kaya, dan tentu di dalam hutan itu penuh dengan bahaya yang mematikan jika Nova gegabah dalam bertindak.
Zira berdiri di sisinya sambil memberikan arahan untuk Nova selama berada di dalam hutan spiritual itu, ia menjelaskan bahwa di dalamnya terdapat binatang dan monster spiritual berbagai tingkat, dari tier satu hingga enam, masing-masing tier memiliki kelebihan dan kesulitan tersendiri tergantung bagaimana cara Nova menghadapi mereka.
“Aku akan mengawasimu, tenang saja. Sesulit apapun, pikirkan cara untuk tetap bertahan di dalam sana,” pungkas Zira sambil melompat ke atas pohon yang paling besar.
Nova mengepalkan kedua tangannya dengan erat, sebelum ia masuk ke dalam hutan. Semangatnya membara, ia berambisi untuk bisa melampaui mentornya, yaitu Zira.
“Baiklah! Para monster aku datang!”
Dengan satu hentakan kaki, Nova melompat jauh ke dalam hutan. Ia dapat merasakan energi yang kaya saat tubuhnya menyentuh kabut spiritual itu. Dantian di dalam tubuhnya bereaksi begitu energi alam di sekitarnya terdeteksi.
Tap...
Nova mendarat di sebuah batu, ia berjongkok dan membaca situasi sekitar, ia meluaskan persepsi jiwanya hingga batas yang ia miliki lima ratus meter ke sekelilingnya.
Ia dapat merasakan semua pergerakan yang ada, dari mulai binatang tingkat rendah hingga menengah, aura dari binatang spiritual itu membuatnya langsung bersemangat untuk terus meningkatkan dan memperkuat fondasi tubuhnya.
Namun, saat ia hendak melompat. Nova merasakan sesuatu bergerak cepat ke arahnya, tanpa pengalaman apapun ia berusaha mencari cara untuk menghindar, tepat saat sebuah binatang bertanduk muncul di hadapannya ia melompat.
Rooaaaarrr...
“Sial! Nyaris saja.”
Nova mendarat di tanah, dan menoleh ke belakang, kedua mata monster di hadapannya itu menyala merah.
Monster tier satu, Nova dapat merasakan aura membunuh yang sangat kuat dari monster itu. Berbekal pengetahuan yang ia dapat dari perkamen yang berisi teknik beladiri kuno di gua suci ia akan mencoba beberapa teknik sekaligus menguji kemampuannya.
“Baiklah, monster! Ayo kita mulai!”
Roaaaaarr...
Monster yang menyerupai rusa itu berlari cepat ke arah Nova sambil menghunuskan tanduknya yang besar dan tentunya tajam.
Nova pun menghentakkan kakinya sehingga tubuhnya melesat ke arah monster itu.
Tendangan Dewa pembelah langit!
Zira yang menyaksikan itu terkejut, Nova langsung mencoba salah satu teknik dasar yang paling legendaris, ia sangat terkejut saat Nova menjabarkan nama teknik itu.
“Tidak mungkin...”
Kaki Nova tiba-tiba di selimuti cahaya keemasan yang membentuk pedang, namun siluet pedang itu masih terlihat samar belum sepenuhnya terbentuk dengan sempurna.
Hingga akhirnya...
Bammm...
Kaki Nova tepat mengenai kepala monster rusa dengan ukuran enam kali lipat lebih besar dari ukuran rusa pada umumnya.
Roooaaaarr...
Nova mendarat di atas tanah dengan mulus, ia senang saat monster itu hanya tumbang dengan satu kali tendangan dari teknik beladiri kuno yang ia pelajari tanpa arahan dari Zira langsung.
“Akhirnya aku berhasil!” teriak Nova sambil melihat ke arah Zira.
Tapi...
“Awas! Di belakang mu!” teriak Zira dengan wajah yang terlihat panik.
Nova yang sedang berdiri membelakangi tubuh monster itu, terkejut saat mendengar suara langkah kaki berat, dan begitu ia menoleh dan berusaha menghindar ia terlambat.
Tubuh Nova di hantam tanduk rusa itu, hingga ia terlempar puluhan meter dan menabrak pohon.
Brukk...
“Arrrghh! Sial!” umpat Nova.
Nova mengusap darah di sudut bibirnya, dan berusaha berdiri sambil menahan sakit di bagian lengan kirinya yang di hantam monster rusa itu.
Sementara Zira mengumpati kebodohan Nova yang kurang waspada.
“Dasar bocah bodoh!”
Sementara itu Nova malah tersenyum puas, ia mencoba mencari kelemahan monster yang terlihat sudah siap menerjang ke arahnya.
“Baiklah, kali ini aku akan mengalahkan mu!” ucapnya sambil memfokuskan energi di tangannya, aliran energi merah menyelimuti tangan Nova.
Zira yang melihat itu, kembali di buat terkejut saat merasakan aura energi Nova melonjak dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya.
“Red stone...” gumam Zira seraya fokus memperhatikan apa yang di lakukan Nova.
Kembali ke Nova yang sudah siap untuk kembali bertarung dengan monster di hadapannya itu.
Monster tier satu itu menggaruk-garuk tanah, bersiap kembali untuk menerjang Nova. Terlebih monster itu dapat merasakan hawa membunuh yang begitu kuat dari lawannya.
Roaaaarrr...
Monster itu berlari dengan cepat menerjang ke arah Nova, begitupun dengan Nova ia berlari sambil memompa energinya fokus ke tangan. Energi dari red stone itu membentuk runcing seperti ujung anak panah.
Dan saat sudah dekat, Nova menjatuhkan dirinya dan meluncur di atas tanah ke arah bawah monster itu sambil mengarahkan tangannya ke bagian dada si monster.
Dan begitu tangan Nova menyentuh bagian dada monster rusa itu...
Sraaattt...
Bagian das monster rusa itu terbelah dan mengeluarkan darah segar hingga jantungnya seketika terbelah saat terkena efek mematikan dari energi red stone yang membentuk ujung anak panah itu.
Bruggh...
Akhirnya, setelah pertarungan yang cukup alot Nova berhasil menumbangkan monster itu.
Napasnya tersenggal, energi di tangannya mulai meredup, keringat di wajah Nova bercucuran. Ia akhirnya tersenyum dan jatuh berlutut sambil menatap ke arah langit.
“Akhirnya aku berhasil,” gumamnya dengan wajah yang di penuhi darah monster rusa itu.
Zira mengangkat kedua sudut bibirnya, ia kagum dengan kegigihan Nova, meskipun bocah itu sedikit ceroboh. Dengan satu lompatan ia langsung mendarat di samping Nova.
“Bagus! Tapi lain kali, kau jangan ceroboh," ucapnya.
Kemudian Zira mendekati monster rusa itu lalu ia membentuk energi biru di tangannya menjadi bilah tajam lalu ia memotong kedua tanduk rusa itu. Setelah memotong tanduknya, ia membelah kepala monster itu. Sebuah bola berwarna merah dengan urat-urat di sekelilingnya seukuran kepalan tangan dewasa di ambil Zira.
“Apa itu?” tanya Nova.
Zira menoleh ke arah Nova.
“Ini adalah inti monster, sesuai tiernya ini inti monster tingkat satu, lebih tinggi tingkatnya lebih besar kandungan energi di dalamnya.”
Nova mengangguk paham, matanya berbinar saat melihat inti monster itu, dantian di dalam tubuhnya merespon seperti haus akan energi yang terkandung di dalam inti monster itu.
“Lalu, untuk apa kau memotong tanduk monster itu?”
Zira menjelaskan bahwa tanduk yang ia potong itu bisa bermanfaat untuk pembuatan obat penghilang racun, ia kemudian memberikannya kepada Nova.
“Simpanlah, ini akan berguna untukmu nanti,” ucap Zira sambil memberikan inti monster dan tanduk rusa yang ia potong.
Nova kemudian menyimpan kedua sumber daya itu ke dalam ruangan penyimpanannya. Sesi latihan hari ini membuatnya bisa mempelajari teknik yang langka, dan ia tinggal mengasah tekniknya itu agar lebih kuat lagi.