Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan Dan Amarah
Suara pintu depan yang tertutup setelah kepulangan Qais menjadi awal dari keheningan yang mencekam. Arjuna masih berdiri mematung, matanya menatap tajam map biru di atas meja seolah benda itu adalah racun.
Briana mencoba mendekat, tangannya gemetar ingin menyentuh lengan Arjuna. "Arjuna... Sayang, dengarkan aku dulu. Itu... itu pasti fitnah. Dokter itu sengaja mau menghancurkan kita karena dia suka sama Aiza—”
"DIAM!"
Bentakan Arjuna menggelegar, membuat Briana tersentak mundur hingga menabrak guci dekorasi. Arjuna berbalik, wajahnya merah padam dengan urat leher yang menegang.
"Qais tidak perlu memfitnahmu untuk menunjukkan betapa kotornya kamu, Briana!" Arjuna melempar lembaran hasil laboratorium asli itu tepat ke wajah Briana. "Kertas ini tidak bisa bohong. Kamu tidak pernah hamil. Kamu menipuku, kamu menipu keluargaku!”
“Arjuna, aku melakukannya karena aku mencintaimu! Aku takut kehilanganmu!" Briana berlutut, tangisnya pecah, namun kali ini Arjuna tidak merasa iba sedikit pun. Cinta yang dulu pernah ada, seolah menguap seketika bersama kebohongan itu.
Arjuna tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Cinta? Cinta apa yang dilandasi kebohongan, Briana?!" Suaranya merendah, namun emosinya masih terasa pekat. "Waktu itu di rumah sakit, aku merasa jijik saat menatap Aiza, karena kupikir dia pembunuh anakku. Tapi ternyata..." Arjuna menjeda, suaranya bergetar karena sesak. "Ternyata anak itu memang tidak pernah ada. Kamu yang membunuhnya di dalam kepalaku!”
Arjuna melangkah satu langkah dengan mata sayu, menatap Briana yang terisak dengan air mata palsunya.
“Ternyata aku yang bodoh. Aku percaya begitu saja pada kebohongan itu, padahal jelas-jelas aku tau kamu mandul." Dia mengedikkan bahunya pasrah. “Tapi…. Ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur.”
Arjuna melangkah maju, raut wajahnya berubah drastis, menatap Briana dengan tatapan yang paling dingin yang pernah ada. "Keluar.”
“Arjuna…”
"KELUAR DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA! Bawa semua barang haram yang kubelikan untukmu. Aku tidak sudi melihat wajah penipu di rumah ini!”
Briana mencoba memeluk kaki Arjuna, namun Arjuna mengibaskannya dengan kasar. Pria itu sudah tidak memiliki sisa rasa hormat sedikit pun. Di pikirannya kini hanya ada satu wajah: Aiza.
Entah perasaan bersalah atau apa, yang jelas wajah wanita itu seolah menghantuinya semenjak beberapa hari ini.
Arjuna jatuh terduduk di sofa, menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak. Penyesalan itu datang terlambat, dan rasanya lebih tajam daripada sembilu.
***
Langkah kaki Qais terasa berat saat meninggalkan kediaman Arjuna. Aroma rumah sakit yang biasa melekat pada jas putihnya seolah berganti dengan rasa sesak setelah membongkar kebohongan Briana. Sebagai dokter, ia hanya menjalankan kewajiban moral untuk mengungkap kebenaran medis tentang kemandulan Briana, namun tetap saja, melihat kehancuran di mata Arjuna membuatnya penat.
Ia baru saja hendak menyalakan mesin mobil ketika ponsel di saku kemeja putihnya bergetar. Nama "Abah" tertera di layar. Qais menarik napas dalam, menetralkan suaranya agar sisa ketegangan tadi tidak terendus.
"Assalamu’alaikum, Abah?" ucap Qais lembut.
"Wa'alaikumussalam, Le...," suara Kyai Mukhtar terdengar serak dan sesekali diselingi batuk kecil yang tertahan. "Kamu lagi sibuk di rumah sakit, Le?”
Qais mengernyitkan dahi, naluri dokternya langsung siaga. "Baru saja selesai urusan di luar, Bah. Suara Abah kok berat sekali? Sudah minum obat?”
Di seberang telepon, Kyai Mukhtar terkekeh pelan, meski terdengar lemah. "Itulah sebabnya Abah telepon. Sepertinya asma dan batuk Abah kambuh karena kelelahan. Padahal, jadwal safari dakwah bulan Maulid di pesantren-pesantren cabang mulai padat minggu ini.”
Qais terdiam sejenak. Ia tahu persis betapa keras kepalanya sang Abah jika menyangkut urusan umat. "Abah harus istirahat total. Jangan dipaksakan ceramah dulu.”
"Maka dari itu, Le... Abah mau minta tolong," jeda sejenak, suara Abah terdengar penuh harap. "Bisa kamu pulang ke pesantren malam ini? Gantikan Abah memimpin pengajian dan ceramah selama bulan Maulid ini. Santri-santri dan jamaah sudah menunggu, dan Abah hanya percaya padamu untuk menyampaikan ilmu ini.”
Qais menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Pikirannya yang tadi penuh dengan manipulasi Briana dan kesedihan Arjuna mendadak jernih. Panggilan pulang ini terasa seperti pelarian yang diberkati.
"Insha Allah, Qais pulang malam ini juga, Bah," jawab Qais mantap. "Abah fokus pemulihan saja. Biar Qais yang jaga pesantren dan menggantikan jadwal Abah.”
"Alhamdulillah... Terima kasih, Qais. Hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam.”
Qais menurunkan ponselnya. Ia menatap ke arah jendela, membayangkan gerbang pesantren dan ketenangan yang selalu ia temukan di sana. Drama duniawi di kota mungkin melelahkan, tapi tugas dari Abah adalah pengingat bahwa ada tempat di mana ia harus pulang dan mengabdi.
Namun, di sisi lain ia tidak lupa untuk mengabari dokter Hermawan tentang kepulangannya itu, karena selain bentuk keprofesionalannya sebagai dokter yang bekerja di rumah sakit milik pria itu, dia juga sudah menganggap pria itu ayah keduanya.
___
Siang itu juga, setelah keluar dari rumah Arjuna yang penuh drama itu, Qais berencana mengunjungi rumah Aiza untuk mengecek kembali kondisi Warih. Dia memarkirkan mobilnya di depan gang seperti biasa, lalu berjalan kaki menyusuri gang sempit yang becek, seolah airnya tidak pernah kering.
"Assalamu’alaikum," sapa Qais tenang. Dia berdiri di depan pintu, menyunggingkan senyum tipis yang tulus.
Aiza yang sedang merapikan bantal di kursi panjang tempat neneknya bersandar pun menoleh, matanya berbinar lega.
"Wa'alaikumussalam, Gus Qais. Kebetulan sekali Gus datang, baru saja saya mau mengecek suhu tubuh Mbah.”
Qais mendekat, lalu dengan gerakan telaten yang sangat lembut, ia memeriksa denyut nadi dan suhu tubuh wanita tua yang sudah ia anggap seperti neneknya sendiri itu. "Kondisi Mbah sudah jauh lebih stabil dibanding kemarin, Za. Tapi tetap, asupan cairannya jangan sampai kurang ya?”
Aiza mengangguk patuh, memperhatikan bagaimana cara Qais memperlakukan neneknya dengan penuh rasa hormat. Namun, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda di tatapan mata sang dokter siang itu.
"Mbah... Aiza..." Qais menegakkan punggungnya setelah selesai memeriksa. "Tujuan saya ke sini, selain mengecek kesehatan Mbah, saya juga ingin pamit."
Aiza menghentikan gerakannya. "Pamit? Gus ada seminar kedokteran?”
Qais menggeleng pelan. "Tadi siang Abah menelepon dari pesantren. Beliau sedang sakit dan meminta saya pulang malam ini juga untuk menggantikan beliau berceramah selama bulan Maulid.”
Ada hening sejenak. Aiza tahu betapa besarnya tanggung jawab itu.
"Lalu, pengobatan Mbah bagaimana, Gus?" tanya Aiza sedikit khawatir.
Qais menatap Aiza dalam diam, menjaga batasannya dengan sangat sopan, namun ada gurat harapan di wajahnya. "Justru itu, Za. Udara di kampung jauh lebih bersih dan tenang untuk pemulihan Mbah daripada di kota ini. Saya ingin mengajak kalian sekalian pulang kampung malam ini. Saya bisa memantau kesehatan Mbah setiap hari di sana, dan kalian pun bisa beristirahat dengan lebih nyaman.”
Qais menjeda kalimatnya, menanti reaksi Aiza. "Bagaimana? Saya rasa ini waktu yang tepat untuk kita semua pulang.”
Aiza terdiam. Matanya beralih dari wajah tenang Qais ke arah Warih yang tampak sudah mulai mengantuk di kursi panjang. Tawaran itu sangat menggiurkan. Pulang ke kampung halaman, ke udara yang lebih sejuk, jauh dari keluarga Arjuna tentunya. Namun, ada satu beban yang menghimpit dadanya.
Aiza meremas ujung jilbabnya, suaranya nyaris berbisik. "Gus... bukannya saya ndak mau. Tapi... tawaran ini terlalu mendadak. Saya belum menyiapkan apa-apa, termasuk... ongkos untuk pulang.”
Ia menunduk, tak berani menatap mata Qais. Realita bahwa tabungannya baru saja terkuras untuk biaya pengobatan Warih tempo hari membuat keberaniannya menciut.
Qais, dengan kepekaan seorang Gus dan ketenangan seorang dokter, segera menangkap kegelisahan itu. Ia tidak tertawa, tidak juga menunjukkan rasa kasihan yang berlebihan. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat meneduhkan.
"Aiza," panggil Qais lembut, cukup untuk membuat Aiza memberanikan diri mendongak. "Saya pulang membawa mobil sendiri. Kursi belakang kosong, dan saya butuh teman bicara di perjalanan agar tidak mengantuk. Anggap saja kalian membantu saya agar perjalanan pulang ini tidak terasa sunyi.”
Qais menjeda sebentar, memberikan ruang bagi Aiza untuk bernapas.
"Masalah biaya di sana, jangan dipikirkan. Abah dan Ummi pasti sangat senang kalau Mbah dan kamu ada di lingkungan pesantren. Di sana, Mbah bisa istirahat total, dan kamu tidak perlu mencemaskan apa pun selain kesembuhan beliau. Bukankah kesembuhan Mbah yang paling utama sekarang?”
Aiza menatap wajah Qais yang tulus. Tidak ada sedikit pun nada merendahkan dalam tawaran itu. Yang ada hanyalah ketulusan seorang pria yang ingin menjaga orang-orang yang dicintainya, meski ia masih menyimpannya dalam diam.
Aiza menghela napas panjang, beban di pundaknya seolah terangkat sedikit. Ia melihat Mbah, lalu kembali menatap Qais. "Kalau begitu... izinkan saya berkemas sebentar, Gus. Terima kasih banyak. Saya... saya ndak tahu harus membalas kebaikan Gus dengan apa."
"Cukup pastikan Mbah tidak kedinginan selama perjalanan," jawab Qais dengan nada ringan yang menenangkan. "Saya tunggu di luar. Kita berangkat sebelum maghrib supaya besok pagi sudah sampai ke Jawa."
Aiza mengangguk mantap. Keraguannya luruh, digantikan oleh rasa syukur yang membuncah. Di balik kepanikannya soal biaya, ia merasa Tuhan sedang mengirimkan jalan pulang melalui tangan lembut Qais
sekarang buka lagi langsung meluncur ke ceritamu thor