Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.
Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.
Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.
Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.
Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebenarnya mereka... saling memikirkan
Pintu kamar tertutup rapat.
Suara gaduh dari ruang keluarga meredup, hanya tersisa gema samar dari kedua adik kembarnya yang masih ribut di luar.
Di dalam kamarnya, suasana jauh lebih tenang.
Lampu meja rias menyala lembut, memantulkan cahaya hangat pada permukaan cermin yang berdiri di atas meja kayu.
Nazwa berdiri di depannya. Paket kecil itu sudah ia letakkan di ujung meja rias. Namun belum dibuka. Masih terbungkus rapi seperti saat Yuda menyerahkannya tadi.
Ia memandang bayangannya sendiri di cermin.
Rambutnya masih sedikit berantakan setelah seharian bekerja dengan Kevan. Kacamata yang masih bertengger di hidungnya membuat wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.
Tetapi yang paling terlihat jelas adalah ekspresinya.
Nazwa menurunkan pandangannya ke paket itu. Jari-jarinya menyentuh sisi kardus pelan. Seolah-olah benda kecil itu menyimpan jawaban yang tidak sempat ia tanyakan tadi sore.
Kalimat itu kembali terlintas di kepalanya.
"H-hadiah dari seseorang, Wa."
Alisnya sedikit berkerut.
"Hadiah?"
Ia bergumam pelan pada dirinya sendiri.
"Hadiah dari siapa?"
Tangannya memutar paket itu. Menatap stiker alamat yang menempel di permukaannya.
Nama penerima.
Alamat rumahnya.
Semua benar.
Namun bagian pengirim hanya tertulis nama toko dari aplikasi belanja.
Tidak ada nama lain.
Tidak ada pesan.
Tidak ada petunjuk.
Seolah hadiah itu datang begitu saja tanpa identitas.
Nazwa menghela napas kecil.
Ia kembali menatap bayangannya di cermin. Namun kali ini pikirannya tidak tertuju pada paket itu.
Melainkan pada seseorang: cara Yuda berdiri tadi di depan pagar, helm yang menutupi wajahnya, jawaban-jawabannya yang pendek, dan terutama… senyum tipis yang muncul saat ia membuka visor helmnya.
Itu bukan senyum canggung seperti saat mereka bertemu di perpustakaan. Bukan pula senyum gugup yang biasanya muncul di chat mereka.
Senyum itu terasa… berbeda. Seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.
Dadanya terasa aneh. Seperti ada bagian kecil dari kejadian tadi yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya.
Kenapa Yuda datang seperti itu?
Kenapa ia tidak menekan bel?
Kenapa ia nampak menyembunyikan wajahnya?
Dan kenapa… dia pergi begitu cepat?
Nazwa menatap dirinya sendiri di cermin lebih lama.
"Hadiah dari seseorang…"
Ia mengulang kalimat itu pelan.
Namun semakin ia memikirkannya… Semakin jelas satu kemungkinan muncul di kepalanya. Dan kemungkinan itu justru membuat hatinya terasa semakin tidak tenang.
Nazwa mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Gerakannya agak kasar, seolah ingin mengusir pikiran yang terus berputar di kepalanya.
Namun belum berhasil.
Ia menurunkan tangannya perlahan. Tatapannya kosong ke arah cermin.
Hendak menyalahkan… tapi kepada siapa?
Yuda? Dirinya sendiri?
Atau situasi aneh yang terjadi sore tadi?
Ia bahkan tidak tahu. Hendak menangis pun rasanya tidak masuk akal.
Apa yang ingin ia tangisi?
Seseorang yang baru ia kenal?
Seseorang yang bahkan baru ia temui… tidak lebih dari lima kali?
Sebagian besar pertemuan itu pun terjadi tanpa sengaja.
Namun entah kenapa… ekspresi Yuda tadi terus muncul di kepalanya.
Senyum tipis itu. Tatapan yang tidak benar-benar menatapnya. Dan cara dia pergi begitu cepat.
Ada sesuatu yang terasa… seperti kecewa. Dan justru itu yang membuat hati Nazwa terasa tidak nyaman.
Ia menghela napas panjang.
"Masa cuma perasaan simpati sih…" gumamnya pelan.
Namun bahkan kalimat itu terdengar tidak meyakinkan.
Ia menoleh melihat paket di ujung meja rias. Beberapa detik ia hanya menatapnya. Lalu akhirnya ia mengambil gunting dari laci mejanya.
"Yaudah."
Nazwa menarik napas kecil.
"Kita lihat apa isinya."
Gunting itu memotong plastik pembungkus dengan suara kecil.
Krek... Krek...
Ia membuka lakban yang menempel di kardus. Lalu perlahan membuka tutupnya.
Di dalamnya terdapat tiga botol produk skincare yang tertata rapi dengan bubble wrap.
Nazwa mengangkat satu per satu.
Matanya sedikit melebar. Ia mengenali semuanya. Produk yang biasa ia gunakan. Bahkan… jenis yang sama.
"Seseorang itu bahkan tahu…"
Ia menatap botol itu di tangannya.
"Produk apa yang biasanya aku pakai."
Kalimat itu hanya terucap dalam pikirannya. Perasaan aneh kembali muncul di dadanya. Ia meletakkan ketiga botol itu di meja rias. Lalu kembali menatap bayangannya di cermin.
Perlahan ia melepas kacamatanya. Menaruhnya di samping botol skincare yang tertata rapi diatasnya.
Rutinitas malamnya tidak pernah berubah: membersihkan wajah, memakai serum, lalu pelembap sebelum tidur.
Tangannya meraih botol pertama.
Namun sebelum ia sempat membuka tutupnya—
Pandangannya tertahan.
Matanya kembali jatuh ke kardus paket yang tadi ia buka. Belum sempat ia buang.
Ada sesuatu yang terasa… janggal.
Stiker alamat itu.
Ia mencondongkan badan sedikit untuk mengamati lebih dekat.
Tulisan di sana terlihat benar. Namun… posisinya sedikit miring. Tidak terlalu rapi. Tidak simetris seperti label pengiriman yang biasa ia lihat.
Alis Nazwa mengerut. Tangannya kembali meraih kardus dengan cepat.
Ia mendekatkannya ke wajahnya. Meneliti stiker itu dengan seksama meski pandangannya buram. Lalu ujung kukunya yang berwarna merah merona mencoba mencungkil salah satu sudut stiker itu.
Srett...
Stiker itu sedikit terangkat. Tangannya berhenti sebentar. Ada sesuatu di bawahnya.
Ia menariknya perlahan. Stiker itu akhirnya terlepas sebagian.
Dan tepat saat itu—
Mata Nazwa langsung membulat.
Di bawah stiker itu… ada label lain.
Label pengiriman asli, dengan tulisan alamat yang berbeda.
Nama penerima sebelumnya terlihat jelas sudah disobek sebagian, seolah sengaja dihilangkan.
Namun sisa-sisanya masih terbaca samar.
Dan di bagian bawah label itu—
Ada tulisan yang masih cukup jelas.
Pemesan oleh: Yuda Firnanda.
Nazwa menutup mulutnya yang refleks terbuka.
Dadanya terasa berdenyut pelan.
Sekarang…
Ia akhirnya tahu… siapa “seseorang” itu.
...****************...
Malam turun perlahan di langit. Bintang-bintang tampak jelas karena langit sedang bersih dari awan. Di teras rumah yang sederhana itu, Yuda duduk di kursi kayu panjang yang sudah sedikit usang. Satu tangannya menggenggam sebatang rokok yang hampir setengah habis. Ujungnya menyala kecil dalam gelap.
Ia menghisapnya, lalu menghembuskannya perlahan. Asap tipis melayang ke udara malam. Namun hembusan napas itu terasa lebih berat dari biasanya.
Pandangan Yuda kosong menatap langit. Tidak benar-benar melihat bintang. Tidak juga memikirkan sesuatu yang jelas.
Pikirannya hanya… penuh.
Ia mengisapnya lagi dalam-dalam, lalu menghembuskannya sambil menyandarkan punggung ke kursi. Matanya sesekali mengikuti laju motor yang melintas di depan rumahnya.
"Kenapa jadi kek gini ya…" gumamnya pelan.
Dadanya terasa aneh. Terasa sesak. Perasaan yang bahkan sulit ia beri nama.
Yuda bukan orang yang mudah tersinggung. Dalam pekerjaannya, ia sudah terbiasa menghadapi berbagai macam orang: komplain pelanggan, makian karena paket terlambat, atau barang yang tidak sesuai.
Kata-kata kasar yang dilontarkan begitu saja. Ia sudah sering mendengarnya.
Dan biasanya… tidak ada yang benar-benar menempel di hati.
Namun perasaan yang sekarang… justru lebih menyakitkan dari semua itu.
Yuda menunduk sedikit menatap bara kecil di ujung rokoknya.
Bayangan sore tadi muncul lagi.
Yuda mencoba mengerti itu. Namun entah mengapa…
Saat melihat Nazwa berdiri di dekat lelaki itu. Saat melihat wajahnya yang terlihat santai berbicara dengan pemuda itu....
Dadanya terasa seperti ditekan sesuatu. Rahangnya mengeras.
Ia kembali mengisap rokoknya. Lebih dalam dari sebelumnya. Lalu menghembuskannya panjang. Asap tipis keluar bersama napas berat. Suara jangkrik yang bernyanyi di malam hari masih mendominasi suasana.
"Padahal…"
Ia menatap kosong ke depan.
"Bahkan dia juga belum jadi siapa-siapa buat gue."
Yuda terkekeh kecil. Tawa yang terdengar lebih seperti ejekan untuk dirinya sendiri. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan. Rambut depannya sedikit berantakan tertiup angin malam.
Pertemuan mereka pun sebenarnya… tidak banyak. Sebagian bahkan tanpa sengaja. Namun kenapa sekarang rasanya seperti ini?
"Kenapa gue terus mikirin dia? Sebenarnya, gue ini kenapa?"
Ia menggeleng kecil. Perasaan ini terasa bodoh.
Ia tahu itu.
Cemburu?
Untuk apa?
Atas siapa?
Nazwa bahkan tidak pernah mengatakan apa-apa padanya.
Tidak pernah memberi harapan. Tidak pernah menjanjikan apapun. Semua ini hanya… perasaannya sepihak.
Ia menatap langit lagi. Bintang-bintang masih sama.
"Apa gue pantas…" gumamnya pelan. "Ngerasa cemburu…"
Ia berhenti sejenak. Tatapannya kosong.
"...sama orang yang bahkan belum jadi apa-apa buat gue?"
Rokok itu akhirnya ia padamkan di asbak kecil di samping kursi.
Namun rasa sesak di dadanya… Belum ikut padam.