Seorang CEO tampan blesteran Turki-Indonesia, Alexander Kemal Malik, putra satu-satunya Billionaire, Emir Kemal Malik, raja properti dan ritel, Malik Corp, Turki, dipaksa menikah dalam waktu satu bulan. Jika tidak Alex hanya ada dua pilihan, dijodohkan atau dicabut hak warisnya. Sialnya sang kekasih, Monica Young, model internasional Hongkong, lebih memilih kariernya dan meminta waktu satu tahun untuk menikmati puncak kariernya sebelum melepasnya untuk menikah.
Tapi waktu yang ada hanya satu bulan. Atau Alex harus merelakan, dijodohkan ataukah melepaskan semua sahamnya untuk didonasikan?
Dan ide menikah kontrak dari Monica membuatnya bertemu dengan gadis manis Rianti Azalea Jauhar. Relakah Monica, saat Alex menikahi Rianti? Sanggupkan Rianti tidak jatuh cinta pada Alex? Saat tiba kontraknya selesai, mampukah Alex menceraikan Rianti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tya gunawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Telepon di ruang Alex berdering, dengan kesal Alex mengangkat telepon itu dan berteriak,
"Sudah kubilang. Jangan ganggu aku Vivian!"
"Ini Anne, Alex," suara lembut itu terdengar sebelum Alex menutup telepon dengan kasar.
“Anne? Oh my God. I'm sorry," Alex menutup mukanya.
"Apakah Anne mengganggu? Kelihatannya Anak Anne ada masalah?"
"No. everything is ok."
"Anne hanya mengingatkan, acara pernikahan kalian kurang dua minggu lagi. Rianti gadis Jawa, Alex. Anne dan Baba akan melamarnya untukmu. Tolong katakan pada menantu cantik Anne, sayang. Kami akan datang ke rumah Rianti, hari ini juga kita berangkat."
"Maksud Anne? Kita akan berkunjung ke rumah Rianti? Hari ini?”
"Tentu saja, anak nakal. Kau menikahi anaknya dan tidak mau mengenal orang tuanya. Pria macam apa kamu, my lord?"
Alex mendengus perlahan, "Aku akan memberitahukan rencana Anne pada Rianti, Ann."
"Ok. See you," Anne menutup teleponnya.
Entah kenapa mengingat dia akan menemui Rianti membuat moodnya kembali membaik.
Alex menyeringai samar. Mengangkat interkomnya, dengan nada memerintah,
"Siapkan mobil!"
🍁🍁🍁
Alex sedang berdiri di samping Koenigsegg kesayangannya. Memandang tenang ke depan, meski beberapa pasang mata kaum hawa ingin melompat ketika melihatnya.
Hypercar mewah berwarna silver metalik yang elegan, dengan perpaduan pemiliknya yang tampan memakai kemeja warna abu yang sudah digulung ke siku. Celana jeans hitam belel dan sepatu casual Air Jordan tipe Ovo yang mampu membuat mata melotot jika tau harganya.
Perpaduan yang sempurna.
"Jangan menjemputku di gerbang kampus! Sudah cukup kehebohan yang kau buat dengan supir pribadi dan juga mobil mewahmu itu!" teriak Rianti beberapa menit yang lalu saat Alex menelponnya akan menjemputnya ketika kelas usai.
Alex memutar bola matanya malas.
"Kenapa? Kau takut ketahuan Dori si-ikan itu jika aku menjemputmu?"
"Please, Alex. Aku hanya tak mau menjadi bahan pembicaraan."
"Lantas?"
"Jika kau ingin menjemputku. Tunggu aku di ujung gang belakang kampus. Gang itu akan lenggang jika sore hari."
Alex mendengus, "Baiklah."
Rianti menutup teleponnya.
Oh my gosh.
Gadis itu bahkan tidak bisa sedikit saja bicara lembut. Semua wanita akan merasa bahagia jika Alex menjemputnya, tapi tidak dengan gadis bodoh itu.
Dan sekarang Rianti menyesal menyuruh Alex menunggunya di gang belakang kampus. Tempat itu bahkan lebih ramai daripada pasar malam. Dan objek keindahan itu sendiri tidak menyadari dirinya menjadi pusat perhatian.
Pria arogan itu hanya berdiri cuek dan angkuh menyandar di badan mobil sambil memainkan ponselnya.
"Alex!" Rianti tanpa sadar berteriak dan menyeret lengan kokoh itu untuk segera masuk mobil. Alex tersenyum. Tangan mungil itu melingkar di lengannya.
'Hei.. hei, sabar sweetheart. Kenapa kau begitu bernapsu hanya karena semalam tidak melihatku?" Alex meruntuki jantungnya yang tidak bisa stabil saat bersama gadis kecil itu.
Ish. Dirinya tidak mengidap pedofil kan? Rianti baru 19 tahun.
Rianti masuk mobil dengan kasar. Alex mengikutinya dan menutup pintunya. Setelah itu ia berputar dan duduk di kursi kemudi.
Rianti mengerucutkan bibirnya, 'Kau sadar tidak, kau menjadi objek perhatian mereka semua. Kenapa kau memakai mobil mewahmu ini?"
Cup.
Alex mengecup pipi Rianti sekilas. Entah apa yang merasukinya.
Mata Rianti melotot. Tuhan. Tetaplah jantung itu di tempatnya.
"Kau... Kau... Kau..., mesum!"
"Yes, I'm."
"Kau!"
"Bicara sekali lagi aku akan menciummu lagi."
Rianti membeku di tempatnya. Pria ini selain mesum juga kurang ajar.
Alex merapatkan tubuhnya ke arah Rianti, gadis itu mundur ke belakang hingga punggungnya bersandar di pintu mobil.
"Ap-apa yang akan kau lakukan?"
"Klik."
Alex memasang sabuk pengaman sambil tersenyum.
“Menurutmu? Aku tahu aku tampan. Kenapa memangnya jika mereka melihatku? Kau cemburu?”
"Si-siapa yang cemburu?"
“Hei, kau blushing."
Wajah Rianti memerah.
Omaigaat tenggelamkan saja pria di depanku ini, Tuhan. Rianti meruntuk dalam hati.
"Jadi? Bisa kau jelaskan. Apakah ini ulahmu?" Rianti membuka tasnya, mengambil sesuatu, dan melemparkan amplop cokelat ke arah Alex.
Pria itu mengernyit heran. Melongok ke dalamnya dan mengambil selembar kertas, lantas membacanya dengan serius. Surat pemberitahuan dari kampus.
Bagus. Tommy sudah menjalankan tugasnya.
"Cuti dua semester. Itu bagus."
"Kau?" Rianti ingin menangis rasanya. Sejak kenal dengan pria ini hidupnya terasa seperti roller coaster. Dan sekarang bahkan dengan seenaknya sendiri, Rianti dipaksa harus cuti. Otomatis kuliahnya akan mundur. Dan bagaimana dengan gelar dokternya?
"Aku sudah membayarmu mahal. Sudah sepantasnya kau totalitas dengan peranmu, bukan?”
"Kau gila."
"Thank's. Dan orang gila ini akan mengantarkanmu pulang kampung sekarang."
Rianti mendelik, "Untuk apa?"
"Jelas untuk bertemu dengan calon mertua. Bukankah kita akan segera menikah? Apa kau tidak perlu meminta restu kepada mereka?"
"Pernikahan kita hanya bohongan!"
"Tapi prosesnya harus kenyataan."
"Alex. Please. Jangan kau libatkan orang tuaku."
"Maafkan aku. Tapi Baba dan Anne akan ke rumah orang tuamu besok. Jadi kita harus berangkat hari ini, bukan?"
Rianti menghela napas panjang. Dirinya bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Mau bagaimana lagi? Nasi akan tetap jadi nasi, tidak bisa jadi bubur, tapi bisa jadi nasi basi.
🍁🍁🍁
Rianti hanya menurut ketika Alex mengajak gadis itu naik ke tingkat paling tinggi di kantornya. Tommy terlihat sudah siap di depan helikopter berwarna hitam metalik dengan logo huruf M dalam lingkaran emas di sisi kanan dan kiri body-nya.
Tuan dan Nyonya Malik tersenyum menyambut kedatangannya.
Rianti membeku di tempatnya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan dengan Koenig-nya Alex saja, Rianti sudah merasa jengah, apalagi dengan kendaraan antimainstream seperti ini. Seberapa kaya sih pria ini?
Alex menuntun Rianti untuk duduk di bangku penumpang. Ada sekitar enam kursi penumpang di dalamnya. Dan Alex duduk di sebelahnya. Tuan dan Nyonya Malik di depannya. Sedangkan Tommy duduk di kursi di belakang mereka.
Seorang pria tampan berkaca mata hitam mengangguk ke arah mereka.
"Maaf Tuan, helli, sudah siap untuk berangkat."
Alex hanya mengibaskan tangannya.
"Baik. Kita langsung ke Surabaya. Tommy, kau sudah sterilkan lapangan yang akan kita pakai untuk helipad sementara?"
"Semua sudah siap, Tuan."
Alex mengangguk.
"Rianti mengerutkan kening, heran. Kau tahu alamatku?"
Sudut bibir pria itu terangkat, "Aku tahu segalanya tentangmu. Bahkan tanda tersembunyi yang ada di tubuhmu."
"Kau!"
Alex tertawa terbahak, 'Kita berangkat, Devon."
Pria berkacamata itu mengangguk, "Baik Tuan."
Hah Rianti hanya bisa mendengus.
Orang kaya memang bebas.
🍁🍁🍁
Rianti tertunduk di ruang tamu rumahnya. Bapak dan ibunya hanya memandangnya bingung. Di luar sana tetangga sekitar rumahnya pada mengintip dengan memasang telinga baik-baik, mencoba mencari tahu apa yang terjadi di dalam rumah, sebagai bahan gossip ibu-ibu.
"Apa kabar Pak Qorib dan Bu Kholifah? Perkenalkan nama saya Emir Kemal Malik, dan ini istri saya, Arimbi. Dan putra kami satu-satunya Alexander Kemal Malik," Mr. Malik terdiam sejenak, melihat Pak Qorib dan Bu Kholifah yang keduanya saling bertatapan tak mengerti.
"Mohon maaf. Kami tanpa memberitahu Bapak dan Ibu datang kemari. Maksud kedatangan saya adalah untuk melamar putri Bapak dan Ibu, Rianti, dan akan menikahkan mereka dua minggu lagi."
Hening, tidak ada yang bicara. Hanya terdengar suara desah napas tertahan dari Rianti. ia melirik ke arah Alex yang duduk tenang menunggu jawaban orang tuanya, sementara bapak dan ibunya terlihat saling berpandangan tak mengerti. Azzam, adiknya, bahkan melongo di kursinya.
"Maaf, Bapak tadi bicara apa?" tanya Bu Kholifah dengan ekspresi bingung. Ia dan suaminya benar-benar terkejut dengan kedatangan orang-orang yang hanya pernah dilihatnya di televisi itu.
Mr. Malik tersenyum dan berkata sekali lagi, "Saya ingin melamar Rianti, Pak, Bu."
"Jadi, Anda ingin melamar anak kami?" Pak berkata dengan nada bergetar. Pria setengah baya itu menoleh ke arah putrinya yang tertunduk sambil memainkan jemarinya.
"Untuk anak kami, Pak. Alexander Kemal Malik," Mr. Malik menjawab dengan tegas sambil menepuk-nepuk pundak putranya.
"Benar, Pak. Saya ingin menikahi putri Bapak." Alex menjawab mantap.
Pak Qorib menyandarkan punggung pada kursi, menutup mukanya dengan kedua tangan, "Apa Anda semua ini sedang bercanda?"
Pak Qorib mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri. Jangan-jangan ada kamera yang mengarah ke rumahnya. Dan mereka hanya masuk jebakan entertainment yang sering ditonton istrinya.
Alex menggeleng, "Saya serius, Pak."
Alex mencondongkan tubuhnya ke depan. "Sekiranya Bapak dan Ibu mengizinkan, saya mohon untuk memberi restu kepada kami."
Ucapan Alex yang sopan membuat Bu Kholifah menahan napas. Dia menangkup wajah sebentar, lalu meraih tangan Rianti,
"Apa kamu yakin dengan semua ini, nak? Kamu masih sangat muda. Apalagi kita tidak sebanding dengan mereka. Apa kalian berniat untuk mengerjai kami?"
Rianti terisak tertahan. Dosa apa Tuhan? Dia sudah membohongi kedua orang tuanya sendiri.
“Kenapa kau menangis, Ri?"
"Tidak Bu. Sa-saya tidak menangis. Kami juga tidak mengerjai Bapak dan Ibu. Kami serius."
"Bagaimana ini, Pak?" Kali ini Bu Kholifah menoleh dan bertanya pada suaminya. Masih dengan benak penuh tanda tanya. Ia benar-benar belum bisa mempercayai ini.
Pak Qorib tidak menanggapi, matanya menatap Alex yang masih duduk dengan tenang di sofa dengan Tuan dan Nyonya Malik yang tidak mengeluarkan satu patah kata pun.
Laki-laki yang tampan dan kaya raya yang hanya pernah mereka lihat di televisi, datang ke rumahnya yang kecil dengan kedua orang tuanya dan aneka hantaran lamaran yang baru sekali ini dilihatnya, untuk melamar anak gadis satu-satunya. Perasaan Pak Qorib sebagai ayah sedikit terusik.
"Rianti putri kami terlahir dari keluarga yang biasa saja. Saya hanya pegawai kecil, dan keluarga kami tidak punya apa-apa. Dia juga tidak cantik. Jadi apa yang membuat Tuan Alexander ingin menikahinya? Apalagi dia masih berusia 19 tahun dan baru semester satu kuliah di kedokteran?" tanya Pak Qorib diplomatis.
"Panggil saja saya Alex, Pak," jawab Alex pelan.
"Sebelumnya perlu saya katakan, jika saya sudah mengenal dan memperhatikan Rianti jauh-jauh hari sebelum berniat melamarnya."
Pak Qorib menggelengkan kepala untuk mengusir rasa kagetnya. "Anak saya baru enam bulan di Jakarta. Waktu enam bulan terlalu singkat untuk mengenal orang dan menikahinya. Apalagi Rianti baru saja kuliah. Biarkan dia menyelesaikan program dokternya dulu. Baru setelah itu biar waktu yang menentukan kalian berjodoh atau tidak."
Ruangan kembali hening, Rianti tertunduk tidak berani mengangkat kepalanya.
"Tapi, Pak. Percaya pada saya. Saya tidak akan membuat Rianti menderita," janji Alex dengan tegas.
"Saya mencintai putri Bapak dan akan membahagiakannya."
Rianti semakin tertunduk. Mempermainkan jemarinya. Hanya setahun. Dan semua selesai. Setelah itu apakah hidupnya akan berubah? Menjadi janda dari seorang bernama Alexander Kemal Malik?
Janda? Mengingat kata itu membuat Rianti meringis pilu.
"Tapi..."
"Pak, sudahlah. Mereka sudah saling suka. Apalagi akan ada yang menjaga anak kita di Jakarta. Kita jadi lebih tenang sekarang."
Tuan dan Nyonya Malik berseru gembira. Nyonya Malik memeluk Bu Kholifah erat. "Terima kasih ya jeng. Saya bahagia sekali Rianti jadi mantu saya."
Pak Qorib berdiri dan menyalami Tuan Malik, lantas memeluk Alex, "Baiklah. Saya mengikuti apa kemauan anak saya. Saya ucapkan selamat datang di keluarga kami. Tolong jaga anak gadis kami satu-satunya."
Alex tersenyum dan mengangguk hormat kepada calon ayah mertua. "Tentu, Pak. Saya akan menjaganya."
🍁🍁🍁