Aku hanya diminta untuk mengandung anaknya.
Tidak untuk dicintai, tidak untuk dipertahankan.
Setelah melahirkan, aku harus pergi… membawa hati yang hancur, dan meninggalkan bayi yang kukandung dengan air mata.
Namaku Naira.
Aku bukan siapa-siapa — hanya wanita yang dijodohkan demi rahimku, agar keluarga besar Arga punya pewaris.
Pernikahan ini semu, cinta ini tidak pernah diminta.
Tapi di setiap detik aku merasakan kehidupan tumbuh di dalam perutku, aku juga mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya: aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.
Namun di rumah itu, ada satu nama yang tak pernah bisa kulewati — Raisa, istri pertamanya.
Wanita sempurna yang tak bisa mengandung, tapi memiliki seluruh hatinya.
Aku hanyalah bayangan, tapi bagaimana jika bayangan ini mulai memiliki cahaya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiw1tt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THROWBACK
Malam semakin larut. Hujan kecil di luar masih turun pelan, menyisakan suara rintik samar di kaca jendela.
Setelah membantu Raisa membersihkan diri dan mengganti pakaian, Arga membawakan segelas air hangat ke kamar.
Raisa duduk di tepi kasur. Wajahnya masih sembab dan pandangan matanya terlihat kosong.
"Belum ngantuk?" Tanya Arga sambil menyodorkan segelas air kepada Raisa.
Raisa menggeleng kan kepalanya.
"Mungkin malam ini... Aku nggak bisa tidur" bisiknya lirih lalu meminum air yang Arga berikan. Hanya sedikit.
Arga diam beberapa detik. Lalu tanpa banyak kata, ia Menyuruh Raisa untuk tidur dan menarik selimut hingga menutupi tubuh Raisa dengan rapi.
"Kamu harus istirahat, Tidur, aku ngga suka kalo ngeliat kamu kaya gini, sayang" Ucap Arga tulus. Raisa menatapnya lama.
"Kalau aku Bangun nanti... Aku takut sama kenyataan ternyata ayah beneran udah nggak ada" Ucap Raisa masih dengan menahan tangisnya.
Kalimat itu membuat dada Arga ikut terasa sesak. ikut tidur di samping raisa, Tangan besarnya bergerak pelan, mengusap rambut Raisa dengan hati-hati.
"Besok Memang akan tetap terasa berat," ucapnya pelan, suaranya lebih lembut dari biasanya.
"Tapi ada aku... Kamu nggak akan sendiri." Tapi entah kenapa Raisa terlihat ragu dengan perkataan Arga. ia menggigit bibirnya pelan.
Arga diam. Hanya mengelus kepalanya perlahan. Sesekali merapikan rambut yang menempel di wajah Raisa.
"Arga... "
"Hm?"
"Jangan ke mana-mana dulu. Kalo aku minta... kamu disini temenin aku tidur, kamu mau?" Suara Raisa lirih sekali. Seperti Ada rasa takut yang terlalu jelas terdengar di sana.
Arga menatap perempuan itu beberapa detik.
Lalu mengangguk kecil.
"Of course babe... Aku bakal temenin kamu sayang"
Raisa memejamkan mata sebentar, tapi kembali membukanya. Seolah takut saat ia tertidur, Arga akan menghilang.
"Tidur aja Raisa, aku nggak bakal kemana-mana" Ucap Arga seolah tau apa yang ditakutkan Raisa.
"Arga"
"Hm?"
"Kamu inget gak dulu waktu aku sakit pertama kali setelah nikah?"
Arga menghela napas kecil, Mencoba untuk mengingatnya.
"Iya, amu demam tinggi."
Raisa tersenyum tipis.
"Dulu... kamu keliatan panik banget."
" Karena kamu keras kepala, Masih maksa buat berangkat ke kantor Raisa"
"Tapi Kamu waktu itu jagain aku semaleman" Tatapan Raisa perlahan berubah sendu.
"Dulu rasanya aku sangat yakin, Kamu nggak akan pernah ninggalin aku." Lanjut Raisa dengan memandang ke arah depan.
Kalimat itu membuat tangan Arga yang sedang mengusap rambutnya berhenti sesaat. Raisa tersenyum kecil, tapi matanya kembali berkaca-kaca.
"Tapi sekarang... aku bahkan takut"
"Takut apa?"
"Takut semuanya berubah." Jawab raisa dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Sunyi.
Raisa menatap langit-langit kamar.
"Takut kamu udah nggak sesayang dulu"
Arga menghela napas pelan. Tangannya kembali bergerak, mengusap pelan kepala Raisa.
"Kamu Terlalu overthinking"
"Aku perempuan, dan itu wajar" Suara Raisa terdengar lelah.
"Apalagi..." ia berhenti sebentar, menelan ludah sulit.
"Aku gak bisa kasih Anak..."
Arga langsung mengernyit.
"Stop it, Jangan terlalu mikirin hal yang buat kita sakit hati sendiri, aku ngga se... "
"Tapi aku tetep takut Arga" Air mata kembali lolos dari sudut matanya.
"Kalau suatu saat kamu capek_" Suara Raisa makin kecil.
"Kalau ternyata kamu lebih bahagia sama orang lain"
Arga langsung menatapnya.
"Kalo aku bilang udah, Udah" Nada suaranya rendah. Bukan marah. Tapi seperti tidak suka mendengar hal yang mustahil terjadi. Arga mencintai Raisa, mana mungkin ia akan pergi meninggalkan nya?
Raisa terdiam. Lalu beberapa detik kemudian suara kecilnya kembali terdengar.
"Sayang"
"Kenapa"
"Tolong peluk aku" Suara Raisa itu pelan sekali.
Hampir seperti permintaan anak kecil yang sedang ketakutan. Arga terdiam sesaat. Lalu tanpa banyak bicara, ia menarik tubuh Raisa ke pelukannya.
Tangan besarnya mengusap punggung perempuan itu perlahan.
"Tidur" gumamnya pelan. Raisa langsung memeluk pinggang Arga erat. Seolah takut jika ia melepas sedikit saja, laki-laki itu benar-benar akan pergi.
"Sayang"
"Iya... "
"I love you" Kalimat itu lirih. Tapi penuh ketakutan.
"Aku takut kehilangan kamu, aku cuma punya kamu, jangan pernah tinggalin aku"
Arga memejamkan mata sebentar. Entah kenapa
Kalimat itu terasa begitu berat malam ini. Karena di saat Raisa masih menggenggamnya seerat itu... Bayangan seseorang lain justru sempat terlintas di pikirannya.
Dan itu membuat dada Arga terasa sesak dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan. Namun tetap, tangannya bergerak pelan mengusap rambut Raisa.
"Never" Jawab Arga pendek.
Beberapa menit berlalu. Tangis Raisa mulai mereda. Napasnya perlahan teratur. Meski dalam tidur setengah sadar, jemarinya masih menggenggam baju Arga. Tak mau lepas.
Sedangkan Arga Masih duduk bersandar di kepala ranjang.
Diam.
Menatap perempuan yang tertidur di pelukannya dengan pikiran yang jauh lebih berisik dari malam di luar sana.