NovelToon NovelToon
Senior & Junior

Senior & Junior

Status: tamat
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Nikahmuda / Teman lama bertemu kembali / Cinta setelah menikah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: firefly99

Di puncak gunung dengan ketinggian 2874 MDPL, seorang gadis mendongak menatap lelaki yang berdiri di depannya.
"Mari kita akhiri semuanya." ucap gadis tersebut.
Lelaki yang menjadi lawan bicaranya tersenyum, "apa yang harus diakhiri? Kita tidak pernah memulai apapun."

Mata gadis tadi berkedip dua kali, ia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut lelaki di depannya. Tak lama kemudian kepalanya mengangguk, "terima kasih."

Jadi kedekatan yang telah mereka lewati selama setahun belakangan tidak berarti apa-apa bagi si lelaki. Sementara lain hal dirasakan oleh si gadis, ia menganggap dirinya spesial.

Namun rupanya takdir punya caranya sendiri untuk menyatukan dua manusia, tidak peduli sejauh apa usaha keduanya untuk saling menjauh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Perempuan Saya

Ryan kemudian mengajak Naya memasuki restoran yang masih berada di dalam mall. Sudut ruangan tentu menjadi pilihannya, demi ketenangan dari hilir mudik para pengunjung. Beruntungnya siang ini belum banyak pengunjung, masih kurang dari 10 orang.

"Mau makan apa, Ra?" tanya Ryan. Ia harus berdiri lagi untuk memesan makanan.

"Chicken katsu." jawab Naya.

"Minumnya?"

"Samakan saja, Ar." Naya menatap Ryan yang sedang berdiri.

"Miras mau?" sebelah alis Ryan terangkat, sambil menahan senyumnya.

Naya melotot mendengarnya, "Ingat umur wehh."

Ryan terkekeh kecil, lalu mengacak pelan rambut Naya. "Tunggu bentar yaa." katanya.

Naya mengedarkan pandangannya ke sekitar, melihat orang berlalu lalang dari balik kaca.

"Ra!" Ryan yang kembali bergabung dihiraukan oleh Naya. Entah apa yang ada dalam pikiran perempuan disebelahnya. "Ra!" ulangnya sambil menyentuh punggung tangan Naya dengan ujung jari telunjuk.

Naya terkesiap, ia menoleh dan mendapati Ryan menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. "So-sorry."

Ryan tersenyum, lesung pipinya terlihat. "Ayo makan dulu." ajaknya. Ia mendorong makanan lebih dekat ke Naya, tak lupa ocha nya.

Perhatian Naya berpindah ke permukaan meja persegi yang terdapat makanan dan juga minuman di atasnya. Keningnya berkerut ketika melihat benda lain yang terlihat sangat berbeda. "Ini apa?" ia mengangkat kotak persegi yang ukurannya tidak begitu besar namun juga tidak begitu kecil.

"Kado."

"Kadonya siapa?" Naya kembali menatap Ryan. Mencoba menyelami dalamnya tatapan teduh milik juniornya.

"Perempuan saya." jawab Ryan.

"Hmm?"

"Untuk kamu, Ra." Ryan memperjelas ucapannya. "Buka, biar saya bantu pakaikan."

Naya menatap Ryan dan kotaknya bergantian, seolah memastikan jika itu memang untuknya.

"Bukaa, Ra!" Ryan gemas, Naya terlalu lama berpikir.

Dengan perlahan Naya membuka kotak hitam tadi. Ia dibuat speechless melihat kalung berbandul setangkai mawar putih di depannya. "Ar!" panggilnya lirih.

"Happy birthday, Ra!" ucap Ryan. "Semoga suka yaa hadiahnya."

Naya menatap Ryan yang kini juga tengah menatapnya, "Kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Kenapa harus ngasih kado sih?"

"Ya kan kamu ulang tahun. Mau bantu dipakaikan?"

Naya memberikan kalungnya ke Ryan, lalu memutar badannya membelakangi si pemberi kado.

Ryan dengan penuh kelembutan menyampingkan rambut Naya, agar memudahkannya untuk memasang pengait kalungnya.

Dingin dirasakan oleh Naya pada bagian lehernya. Ia juga merasakan perutnya menghangat, seperti ada banyak kupu-kupu yang terbang didalamnya. Kecupan pada kepala bagian belakangnya turut ia rasakan, meskipun hanya sekilas namun rupanya mampu membuat pipinya memerah.

"Done!" seru Ryan pelan.

Naya memutar kembali tubuhnya, "terima kasih, Ar." ucapnya.

"Terima kasih kembali, Ra." Ryan mempuk-puk puncak kepala Naya 3 kali. "Ayo makan dulu." ajaknya.

Saking senangnya, Naya sampai lupa jika ada banyak makanan yang minta dihabiskan di depannya. Ahh, jadi begini rasanya dirayakan oleh seseorang? Rasanya berbeda ternyata. Bukannya ia haus akan kasih sayang, tapi perayaan yang satu ini memang berbeda menurutnya. Ada sesuatu yang baru ia rasakan.

"Kenapa?" tanya Naya ketika Ryan memberikan ponselnya. Makanan mereka tentu sudah tandas, namun masih berada di dalam restoran.

"Barangkali kamu mau periksa." jawab Ryan.

"Saya gak posesif kayak situ yaa." Naya memukul pelan lengan Ryan.

"Saya mana tahu pikiranmu, Ra." ujar Ryan. Ia menggenggam tangan kiri Naya yang tadi memukulnya. "Tangannya nakal ini, suka mukul." lalu membalas tindakan Naya lewat jentikan jari.

Naya kini sibuk memeriksa setiap akun sosial media Ryan. Tidak ada yang menarik sejauh ini. Seperti biasa, pesan dari Raya sama sekali gak terbaca. Jadi ia lah yang membuka room chatnya, agar Raya tahu jika pesan nya telah dibaca. Pop up chat WA menghentikan jarinya yang sedang menari diatas layar ponsel, "ada pesan dari kak Sam." beritahu nya.

Ryan mendekatkan kepalanya, ikut melihat ponselnya yang masih dalam genggaman Naya. "Buka saja."

My Bro: Jadi ikut perintah ayah? Kalau berat, gak usah. Nanti saya bantu bicara ke ayah.

"Ayahnya kenapa?" tanya Naya. Ia mengembalikan ponsel Ryan, agar lelaki itu leluasa untuk membalas pesan saudaranya.

Ryan lebih dulu membalas pesan kakaknya, lalu menyimpan ponselnya disaku celana. "Ayah baik-baik saja, Ra." jawabnya.

Naya mengangguk paham. "Ke toko buku dulu boleh?"

"Boleh, Ra. Mau pergi sekarang?"

Naya tidak menjawab, melainkan langsung berdiri dan memakai tas selempang nya.

Ryan juga ikut berdiri kemudian kembali memegang pergelangan tangan Naya. "Ngambek?"

"Ngambek kenapa lagi?"

"Tuh kan, ngomongnya jadi judes."

Naya berhenti, lalu menatap Ryan dan tersenyum, terkesan tersenyum paksa. "Gak judes lagi nih."

"Senyumnya terlihat terpaksa, Ra. Gak tulus." jujur Ryan. "Ayo jalan lagi." kini ia yang memimpin jalan. Tiba di toko buku ia membebaskan Naya untuk jalan ke sana kemari, sementara ia menunggu disofa yang telah disediakan sambil berbalas pesan dengan sang kakak. Sesekali kepalanya terangkat untuk memastikan Naya baik-baik saja.

"Sudah pilih bukunya?"

"Sudah." Naya mengangguk dan memperlihatkan 3 buku ditangannya.

Ryan berdiri, kemudian mengeluarkan dompetnya dari saku celananya dan meletakkan di atas buku yang sedang Naya pegang. "Ayo bayar." ajaknya.

"Pakai uang saya saja, Ar." ujar Naya.

"Nayara!" Ryan memberikan peringatannya. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja sekarang, sebisa mungkin ia menghindari pemicu agar dirinya tidak meledak.

"Silahkan, kak!" kasir mempersilahkan Naya untuk meletakkan bukunya di meja agar bisa melakukan transaksi.

Naya menghela napasnya, lalu meletakkan bukunya. Kini hanya dompet Ryan yang ia pegang. "Ar, dompetnya." bisiknya pelan, sembari melihat si kasir bekerja.

"Ambil sendiri, Ra. Saya lagi balas pesan kak Sam." ucap Ryan.

"Totalnya 235 ribu, kak." beritahu si kasir. "Bayarnya tunai atau non tunai kak?"

"Tunggu bentar yaa kak." alih-alih membuka dompet Ryan, Naya malah membuka tasnya dan mengeluarkan sejumlah uang.

"Nayara!" tegur Ryan. Ia tentu saja terlambat menyadari tindakan Naya. Perempuan itu terlanjur membayarnya tanpa membuka dompetnya.

Naya tidak menanggapi. Ia langsung saja keluar dari toko buku.

Melihat aksi Naya, Ryan mengambil napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Dengan mudah ia bisa menemukan Naya dan menyamakan langkahnya. "Mau kemana lagi?"

"Pulang."

"Okee, kita pulang." Ryan memegang tangan Naya dan mengajaknya ke parkiran mobil.

Tiba dimobil, Naya menyimpan dompet Ryan di dashboard mobil.

"Kenapa, Ra? Ngambek lagi? Seharusnya saya yang marah, saya kasih kamu dompet untuk bayar bukunya tapi kamu malah bayar pakai uang kamu sendiri."

"Kita gak sedekat itu untuk kamu bayarin buku saya." ujar Naya dengan sangat dingin. Persis seperti apa yang orang-orang katakan tentang sifatnya.

"Ra, jangan mulai."

"Mulai apa lagi? Kita memang bukan siapa-siapa, Ar." Naya menatap Ryan.

"Mau dijadikan siapa-siapa sekarang juga?"

Naya tidak menjawab, malah memalingkan wajahnya ke jendela. "Ayo pulang." beonya.

"Okee." Ryan lalu menginjak pedal gasnya dan meninggalkan pelataran mall. Ia tidak membayangkan sebelumnya jika kebersamaannya dengan Naya hari ini akan berakhir begini. Naya ngembek dan terlihat menakutkan. Tidak salah jika banyak teman-temannya yang memujinya lantaran bisa berada dalam jarak dekat dengan sang senior.

1
Herawaty Herawaty
luar biasa kak cerita nya👍.. di tunggu karya barunya
Rita Rita
massa sih suami istri masih saya dan saya bahasanya. gimana gitu kesannya 🤔🤔🤭🤭
Rita Rita
bahasa nya kaku banget Thor,,, antara anak, orang tua, saudara,,, suami istri. pake saya. ga pake aku,, terlalu formalitas
Rita Rita
ini cerita nya lagi musim covid kemarin ya Thor, memang mengerikan sekali waktu itu, disetiap waktu ada yg terjangkit
LindaLW
Cerita nya bagus, suka sma persahabatan Naya, Erwin dan Kevin yg udh sprti keluarga. Awal ny senang dgn kisah Naya dan Ryan, krna Naya sllu diperlakukan bak Princess oleh Ryan. Tp tiba² Ryan hrs menuruti keinginan ayah ny. Smga ending ny Naya dan Ryan kembali bertemu dan bersatu lg.
LindaLW
suka sma cerita nya bagus dan keren bgt...
sedih dgn kisah Naya dan Ryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!