Perjodohan yang dilakukan orang tua ku dan teman mereka membuatku terjebak dengan seorang Dosen killer. Dia meninggalkan aku di sebuah rumah besar miliknya, namun dia terus menafkahiku. Pria itu berjanji akan menceraikan aku setelah ia kembali.
Setelah 5 tahun, dia kembali dan meminta diriku untuk tetap bersamanya. Setelah aku menyanggupinya, tiba-tiba saja ada wanita yang datang dalam kehidupan kami dan mengaku sebagai istrinya.
Siapa wanita itu sebenarnya? Dapatkah kami mempertahankan rumah tangga ini hingga akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secarik rindu di senja hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Nathaline Kembali
^Nathaline Anggeica^
Sudah genap enam tahun, semenjak kepergian ku dari Indonesia. saat ini aku memutuskan untuk kembali ke negara asal ku. Bukannya tanpa sebab, tetapi putriku selalu menangis dan merengek ingin sekali bertemu dengan ayahnya.
Putriku mengatakan bahwa ia selalu saja di ejek oleh teman-teman sekolahnya, mereka mengatakan jika putriku adalah anak moster karena tidak memiliki ayah. Aku turut sedih ketika mendengar pengaduan putri ku setiap hari.
Memangnya apa salahnya jika ia tidak memiliki ayah? Lagian, dia juga tidak bisa menghendaki apakah ia harus terlahir tanpa ayah atau tidak.
Aku juga sangat kesal kepada para orang tua murid-murid itu, bagaimana bisa anak yang bersekolah di TK sudah membully? Apakah orang tua mereka tidak pernah mengajarinya? Aku benar-benar kesal di buatnya.
Aku tahu apa yang tengah di rasakan oleh putri ku saat ini, karena aku juga pernah mengalami hal tersebut dulu. Aku bahkan tidak habis fikir, jika nasib sial ku ini juga harus menimpa putri ku. Memangnya apa dosa anak sekecil itu? Tidakkah cukup aku saja yang sudah mengalami hal sulit selama ini?
Daripada terus melihat putri ku bersedih, aku memuruskan untuk kembali ke negara asal ku. Aku ingin mempertemukan dirinya dengan ayahnya. Bukan maksudku untuk mengusik kehidupan pria itu lagi, tetapi aku hanya ingin putri ku tahu siapa ayahnya yang sebenarnya, setidaknya sekali dalam seumur hidup.
Aku tidak ingin disebut sebagai ibu yang egois jika merahasiakan hal sebesar itu dari dirinya. Aku juga tidak ingin putri ku membenci diriku saat ia menjadi dewasa dan memahami semuanya nanti.
Aku juga akan merasa sangat berdosa jika memisahkan ayah dan putrinya. Aku memang membenci pria itu, kami juga sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi. Namun, putriku tetaplah putri kandungnya. Di dalan darah putriku juga mengalir darah pria itu, aku tidak berhak memisahkan mereka.
"Nazwa, bangun sayang, kita sudah sampai," ucapku sembari menepuk-nepuk pundak mungil putri kecil ku yang tengah tertidur lelap di atas pangkuan ku.
Kami sudah mendarat dengan selamat di Indonesia, rasanya benar-benar mendebarkan saat ini. Semua kenangan yang ingin selalu aku kubur tiba-tiba muncul begitu saja ketika aku menginjakkan kaki di tempat kelahiran ku ini, kembali.
"Bunda, ayo kita langsung ke rumah ayah. Nazwa ingin bertemu dengan ayah," ucap putri kecilku yang kembali merengek karena ingin bertemu dengan ayahnya.
"Sayang, ingat ya! Bunda izinkan kamu bertemu dengan ayah, tapi setelah itu kita langsung pergi. Kamu jangan merengek untuk tinggal bersama ayah!" ucapku tegas untuk menasehati putriku.
"Kenapa? Bunda tidak rindu sama ayah? Padahal Nazwa ingin sekali di gendong dan bermain bersama ayah seperti teman-teman Nazwa. Nazwa ingin menunjukkan bahwa Nazwa bukan moster seperti yang mereka katakan! Nazwa juga punya ayah!" Perkataan putriku membuat dadaku terasa sangat sakit. Bagaimana bisa anak sekecil ini sudah harus menanggung penderitaan yang sangat berat?
"Sayang, bunda sama ayah sudah tidak bisa bersama. Ayah Nazwa juga sudah punya istri dan anak. Kita tidak bisa merebut ayah Nazwa dari anaknya, apakah Nazwa ingin jika anak ayah Nazwa itu di ejek oleh teman-temannya juga?" ucapku berusaha memberi pengertin kepada putriku.
Dia tampak tertunduk sedih, sembari menggelengkan kepalanya. Aku benar-benar merasa sangat bersalah kepada dirinya.
Setelah aku memberikan penjelasan, putriku sudah mulai memahami perkataanku, meskipun aku yakin ia tidak memahami ku sepenuhnya. Namun, aku yakin ia akan mendengarkan perkataanku.
Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju tempat pemginapan yang telah aku pesan jauh-jauh hari untuk tinggal di sini beberapa waktu. Esok hari, aku akan mencari keberadaan Pak Rey dan mempertemukan putriku dengannya.
Aku juga ingin mencari tahu keberadaan Abidzar, ia pasti sangat marah karena aku menghilang tanpa kabar selama bertahun-tahun.
Bagaimana kabar pria itu? Apakah ia masih menungguku untuk kembali? atau mungkin saja ia sudah menikah saat ini. Memangnya apa yang aku harapkan? Haruskah ia menungguku yang menghilang selama bertahun-tahun dan tidak pernah memberinya kabar sedikit pun? Pemikiran ku benar-benar bodoh!
Tetapi, sejujurnya aku benar-benar masih berharap lebih kepada pria itu. Aku rasa aku mulai tertarik kepadanya semenjak kejadian saat bertahun-tahun lalu, ia selalu membantu diriku di saat susah maupun senang. Aku juga butuh pria saat ini, untuk menopang kehidupanku dan putri kecilku.
Bohong kiranya, jika aku mengatakan aku baik-baik saja sebagai orang tua tunggal. Hal itu benar-benar tidak mudah, aku benar-benar merasa kesulitan selama ini.
Tidak hanya tubuhku saja, batinku juga sudah tidak sanggup rasanya, aku hampir menyerah karena terus menjadi bahan gunjingan orang-orang. Tetapi, untungnya ada putriku yang mampu membuat diriku bertahan sampai sejauh ini. Ia benar-benar malaikat kecil yang tuhan turunkan untuk diriku.
Di saat aku benar-benar berada dalam titik terburuk dalam kehidupan ini, aku hampir menyerah, aku benar-benar membenci tuhan karena ia selalu memberiku cobaan yang tidak ada habisnya. Namun, saat aku sudah mulai menyerah, tuhan memberiku sebuah harapan kecil agar aku tetap kuat dan bertahan hingga akhir.
Ya, aku hamil. Saat aku mengetahui hal itu dulu, aku benar-benar tidak habis fikir, tetapi rasa bahagia tiba-tiba saja membuatku kembali bersemangat menjalani hidup. Aku yang hampir saja menyerah, kembali bangkit demi putriku.
Aku kira tuhan benar-benar membenci diriku selama ini, tetapi aku salah besar! Tuhan ternyata sangat menyayangi diriku, aku baru memahaminya sekarang. Tuhan memberiku cobaan agar aku menjadi wanita yang tangguh dan kuat, agar aku tahu siapa yang benar-benar menyayangi diriku dengan tulus dan siapa yang hanya pura-pura di sampingku.
...***...
Kurang lebih satu jam kami berdua menaiki taksi, aku akhirnya tiba di rumah penginapan yang telah aku sewa. Aku meminta putriku untuk segera turun, sementara aku meraih koper-koper kami dan membawanya masuk ke dalam.
"Sayang, jangan lari-lari! Nanti kamu jatuh lagi." Aku berteriak kepada putriku saat ia mulai melompat-lompat dan berlari sangat kencang.
Ia sering kali terjatuh dan terluka karena semakin aktif saat ini. Aku bahkan kewalahan untuk menghentikan dirinya.
"Bunda!" Aku berlari dan meninggalkan koper ku begitu saja di depan pintu masuk penginapan itu ketika aku mendnegar suara jeritan putriku. Baru saja aku mengkhawatirkannya terjatuh, sekarang pasti ia benar-benar sudah terjatuh.
"'Kan sudah bunda peringatkan jangan lari-lari! Lihat kakimu berdarah! Jika kamu tidak mau mendengarkan bunda lebih baik kita pulang saja, jangan temui ayah!" bentak ku kepada putriku yang masih menangis sembari memegangi lututnya.
"Maaf, ini salahku. Aku buru-buru dan tidak sengaja menabraknya tadi, izinkan aku untuk membawanya kerumah sakit," ucap seorang pria yang baru saja berjongkok untuk membantu putriku.
Dari suaranya sudah tidak asing lagi bagiku, apakah itu dia? Jika itu benar-benar dia, apa yang harus aku katakan padanya untuk menjelaskan semua ini?
...Next......
...Jangan lupa tinggalkan jejak❤...
Terima kasih atas kritik dan sarannya.
benci aku sama Reyhans
ko jdi gini si, uda ngga seruh lgi