NovelToon NovelToon
Pengantin Untuk Tuan Muda Koma

Pengantin Untuk Tuan Muda Koma

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:55.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lusica Jung 2

Jesslyn tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah drastis dalam satu malam. Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran finansial, ia dipaksa menikahi Neo, pewaris kaya raya yang kini terbaring tak berdaya dalam kondisi koma. Pernikahan itu bukanlah perayaan cinta, melainkan sebuah kontrak dingin yang hanya menguntungkan pihak keluarga Neo.

Di sebuah rumah mewah yang sunyi, Jesslyn tinggal bersama Neo. Tanpa alat medis modern, hanya ada dirinya yang merawat tubuh kaku pria itu. Setiap hari, ia berbicara kepada Neo yang tak pernah menjawab, berharap suara dan sentuhannya mampu membangunkan jiwa yang terpenjara di dalam tubuh itu. Lambat laun, ia mulai memahami sosok Neo melalui buku harian dan kenangan yang tertinggal di rumah itu.

Namun, misteri menyelimuti alasan Neo koma. Kecelakaan itu bukan kebetulan, dan Jesslyn mulai menemukan fakta yang menakutkan tentang keluarga yang telah mengikat hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Hati Neo

"Neo, apa yang kau lakukan?" kaget Jesslyn saat Neo tiba-tiba muncul di belakang.

Neo tidak menjawab. Dan hal itu membuat Jesslyn semakin kesal. "Kau tuli, ya? Aku sedang bertanya padamu, Neo," Jesslyn menoleh sedikit, tapi Neo dengan cepat melingkarkan lengannya di pinggang rampingnya dan menariknya ke dalam pelukan.

"Neo, lepaskan aku!" seru Jesslyn sambil meronta, tapi Neo tak menggubris dan malah mengeratkan pelukannya.

"Diam, Jess," bisik Neo tepat di telinganya, suaranya rendah dan dalam. Ia menunduk untuk mengecup lembut leher Jesslyn, membuat tubuh wanita itu menegang seketika.

"Neo! Kau—kau benar-benar tidak waras!" Jesslyn mencoba menarik diri, tapi tetap tidak mau berhenti. Ciumannya perlahan turun dari leher menuju bahunya.

"Hhh.. Neo, berhenti! Ini tidak lucu!" Jesslyn menggerakkan tangannya, mencoba menahan kepala Neo.

Neo mengangkat pandangannya. "Kenapa harus berhenti, hm? Aku hanya ingin menikmati istriku sendiri," ucapnya pelan, matanya bertemu dengan mata Jesslyn yang terpantul di cermin.

"Neo, aku serius! Lepaskan aku sekarang juga!" suara Jesslyn mulai bergetar antara marah dan gugup.

Lagi-lagi Neo tidak mengindahkannya. Neo mengangkat wajahnya sedikit dan mendaratkan ciu-man di bi-bir Jesslyn. Kali ini ciu-man itu mendalam dan penuh gai-rah, membuat Jesslyn kehilangan keseimbangan emosinya.

"Aku benci saat kau seenaknya seperti ini!" seru Jesslyn saat berhasil memalingkan wajahnya, napasnya tersengal.

Neo tertawa pelan. "Tapi aku suka saat kau marah. Kau terlihat semakin menarik."

Jesslyn menatapnya tajam melalui pantulan cermin, wajahnya memerah. "Kau benar-benar menyebalkan, Neo!"

Neo tersenyum tipis dan akhirnya melepaskan pelukannya. "Kalau kau sudah selesai marah, kita lanjutkan lagi ke intinya. Jangan terlalu lama, Nyonya Hou. Sekarang aku mandi dulu,"

Jesslyn memutar matanya dengan kesal sambil mengibaskan tangannya, menyuruh Neo pergi. "Pergi sejauh mungkin dari hadapanku, dasar menyebalkan!"

.

.

Beberapa saat kemudian. Neo keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah, handuk melilit di pinggangnya. Jesslyn yang masih duduk di meja rias meliriknya sekilas, lalu menggerutu pelan sambil kembali memoles wajahnya.

"Kenapa aku harus terjebak dengan manusia menyebalkan sepertimu? Apa dosaku di kehidupan sebelumnya?" Jesslyn bergumam, tapi cukup keras untuk didengar Neo.

Neo menghentikan langkahnya dan menatap Jesslyn dengan seringai andalannya. "Kau bilang apa tadi? Manusia menyebalkan? Aku yakin itu pujian terselubung."

Jesslyn menoleh dan menatapnya dengan tajam. "Kau terlalu percaya diri. Siapa lagi yang lebih menyebalkan darimu? Bahkan kau membuat hidupku seperti roller coaster setiap hari."

Neo terkekeh sambil berjalan mendekat. "Dan kau menikmatinya, kan?"

"Menikmati apa? Kekacauan yang kau ciptakan setiap hari?" Jesslyn mendengus, dia berdiri dan berniat meninggalkan kamar itu.

Tapi sayangnya Neo tidak mengijinkannya pergi. Dia menarik pergelangan tangannya, dan membuat langkah Jesslyn terhenti. "Hei, Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau tahu, menyebutku menyebalkan tanpa konsekuensi yang jelas itu tidak adil."

Jesslyn meliriknya tajam dan berusaha melepaskan tangannya. "Konsekuensi? Konsekuensi seperti apa yang kau maksud? Dan apa kau tau, kau adalah bukti berjalan yang paling mengerikan! Semua orang pasti setuju denganku."

Neo tertawa kecil, lalu menarik Jesslyn lebih dekat. "Tapi aku hanya ingin membuatmu bahagia, Nyonya Hou. Kalau menyebalkan adalah caraku, terima saja."

Jesslyn mendengus sambil memutar matanya. "Bahagia? Kau benar-benar ahli membolak-balikkan kenyataan. Lepaskan aku, Neo!" teriak Jesslyn menuntut. Lagi dan lagi, Neo mengindahkan permintaan itu.

Neo menatapnya dengan tatapan lembut, dan senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kalau aku melepaskanmu, aku akan merindukan ocehanmu. Jadi, lebih baik kau tetap di sini."

Jesslyn menggeleng pelan, wajahnya mulai memerah. "Kau memang tidak tertolong lagi."

Neo tersenyum lebih lebar. "Itulah kenapa aku membutuhkan obat. Dan kau adalah obat untuk semua kekacauan dalam hidupku."

Jesslyn hanya bisa mendesah panjang sambil menahan diri untuk tidak memukul Neo dengan vas bunga. "Berhenti membuat runyam hidupku. Kau adalah salah satu spesies yang paling ingin aku hindari, dan kau adalah mahluk paling menyebalkan yang ada di dunia ini."

Neo tertawa kecil, dan akhirnya dia melepaskan tangannya. "Mungkin itu adalah salah satu keahlianku."

Jesslyn menggerutu lagi sambil berjalan menjauh. "Aku tidak habis pikir, kenapa manusia sepertimu harus ada di dunia ini."

Neo tertawa lebih keras dari belakang. "Dan kau beruntung mendapatkannya, Jess."

"Dalam mimpimu!!"

.

.

"Sebenarnya lukisan siapa ini?" Jesslyn menghentikan langkahnya, matanya terpaku pada sebuah lukisan besar yang menggantung di dinding koridor. Goresan cat minyak itu menggambarkan seorang wanita cantik dengan senyuman hangat yang terasa begitu hidup.

Langkah Jesslyn terhenti, ada sesuatu yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan. "Sepertinya dia sangat special baginya manusia menyebalkan itu?"

Neo yang muncul tanpa suara menjawab dengan nada rendah, "Itu adalah lukisan mendiang ibuku."

Jesslyn tersentak, sontak dia menoleh ke arah Neo yang berdiri di belakangnya. Ekspresi pria itu tampak berbeda—matanya sedikit redup, seolah-olah menyimpan lautan emosi yang tak pernah diungkapkan.

"Dia terlihat sangat cantik," kata Jesslyn pelan. "Lukisan ini terlihat begitu dijaga, bahkan lebih baik daripada barang-barang lainnya di rumah ini."

Neo mengangguk, matanya kembali mengarah ke lukisan. "Lukisan itu dibuat satu minggu sebelum kematiannya. Aku meminta pelukis terbaik saat itu untuk menangkap senyumnya. Siapa sangka itu akan menjadi kenangan terakhirku tentangnya."

Jesslyn terdiam. Neo tidak pernah berbicara tentang ibunya sebelumnya. Sekarang, suaranya terdengar bergetar, penuh luka yang mungkin belum pernah sembuh sepenuhnya.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Jesslyn dengan hati-hati, suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

Neo menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Ibuku meninggal dalam sebuah 'kecelakaan mobil.' Tapi aku tahu itu bukan kecelakaan."

Jesslyn mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"

Neo berjalan mendekat, lalu berdiri sejajar dengan Jesslyn di depan lukisan itu. "Saat itu aku masih remaja. Ayahku sedang sibuk dengan urusan bisnisnya, dan ibu sering pergi sendirian untuk mengurus beberapa kegiatan amal. Malam itu, dia baru saja pulang dari sebuah acara. Mobilnya ditabrak dari belakang, terlempar keluar jalan, dan terbakar. Semua orang mengatakan itu kecelakaan. Tapi aku tahu, seseorang sengaja melakukannya."

"Neo..." Jesslyn memanggil namanya pelan. Dia tak tahu harus berkata apa.

Neo mengepalkan tangannya, ekspresinya berubah dingin. "Ibuku adalah wanita yang sangat baik dan lembut, jika saja dia masih ada. Pasti dia akan menjadi orang pertama yang paling bahagia karena memiliki menantu secantik dirimu,"

Jesslyn mendengarkan dengan saksama, tidak tau harus menjawab apa. Karena ini bukan situasi yang tepat untuk berdebat dengannya. Dia membiarkan Neo melanjutkan tanpa menyela.

"Ada seseorang yang merusak rem pada mobilnya. Tidak ada saksi mata yang mau bicara, dan rekaman kamera di jalan itu menghilang begitu saja. Semua bukti menunjuk ke arah sesuatu yang direncanakan. Tapi aku tak pernah bisa membuktikannya."

Neo menutup matanya sejenak, dan menghela napas panjang. "Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan menemukan siapa yang bertanggung jawab. Meskipun aku sudah mengetahui siapa pelakunya. Tapi sampai sekarang, aku masih berada di titik awal. Itu membuatku merasa tak berguna."

Jesslyn menelan ludah, merasakan berat di dadanya. "Itu bukan salahmu, Neo. Kau sudah melakukan yang terbaik. Kehilangan seperti itu pasti sangat sulit untuk kau terima"

Neo menoleh padanya, matanya yang tajam kini dipenuhi rasa sakit yang terpendam. "Dia adalah seluruh dunia bagiku. Setelah dia pergi, aku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup. Aku tidak pernah benar-benar pulih dari kehilangan itu. Bahkan sekarang, aku masih bermimpi buruk tentang malam itu."

Jesslyn mengalihkan pandangan kembali ke lukisan. Senyum wanita dalam lukisan itu terasa begitu tulus, begitu hangat. Namun kini ia tahu, senyum itu menyimpan cerita yang begitu tragis.

"Kau mencintainya, dan itu terlihat jelas," ujar Jesslyn pelan. "Dia pasti sangat bangga padamu, Neo, dengan semua yang kau lakukan."

Neo tersenyum kecil, namun senyumnya terlihat pahit. "Aku hanya berharap dia ada di sini untuk melihatnya. Ada banyak hal yang ingin kukatakan padanya, banyak hal yang belum sempat kulakukan. Aku merasa gagal sebagai putranya."

Jesslyn menggeleng pelan, dia menoleh untuk menatap Neo. "Tidak, kau tidak gagal. Kehilangan orang yang kita cintai bukan hal yang mudah. Tapi aku yakin, dia akan selalu mencintaimu, di manapun dia sekarang."

Neo menatap Jesslyn, melihat sesuatu di wajahnya yang membuatnya merasa sedikit lebih ringan. "Terima kasih, Jess. Aku tahu ini mungkin terdengar klise, tapi kata-katamu benar-benar membuatku merasa lebih tenang."

Jesslyn tersenyum tipis. "Kadang-kadang, kita hanya butuh seseorang untuk mendengarkan. Hanya Itu yang bisa aku lakukan."

Neo memandangnya sejenak sebelum berkata, "Kau lebih dari itu. Kau membuatku merasa jika aku tidak pernah sendirian di dunia yang kejam ini."

Jesslyn menunduk, merasa sedikit canggung. "Jangan berlebihan, aku hanya ingin sedikit menghiburmu, tidak lebih."

Neo menatapnya dengan tatapan lembut. "Itu lebih dari cukup. Terima kasih."

Jesslyn mengangguk pelan, lalu memalingkan wajahnya kembali ke lukisan. Dalam hatinya, untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar mengerti sisi lain dari pria yang selama ini sering membuatnya kesal. Ada lebih banyak luka di balik senyum arogan itu, luka yang membuatnya merasa simpati.

Neo menepuk bahu Jesslyn ringan sebelum melangkah pergi. "Aku akan keluar sebentar. Kalau kau butuh sesuatu, panggil pelayan, mereka akan selalu ada untukmu selama 24 jam penuh."

Jesslyn menoleh, melihat Neo berjalan menjauh. "Neo," panggilnya.

Neo berhenti, lalu menoleh ke belakang. "Ya?"

"Jaga dirimu, ya," kata Jesslyn dengan lembut.

Neo tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Aku akan berusaha."

---

Bersambung

1
Imah Munzir
Buruk
ayudya
aduh.. tamat ya.., koq singkat x Thor.
Rita susilawati
cerita nya sedikit TPI cpet berakhir
jdi GX lama2 baca nya
suka Thor ceritanya buat lgi ya 🙂
Rita susilawati
bgus cerita nya
ayudya
aku sedikit kurang paham ya... tapi mungkin ini teka- teki cerita mu thor
ayudya
berasa nonton film Elektra aku Thor baca karya mu, semangat ya.
ayudya
aku koq mulai pusing ya.. sama mereka ne.
Retno Palupi
akhir yang bahagia
vania larasati
lanjut kak
Retno Palupi
semoga selalu bahagia
Retno Palupi
kenapa sih jeslyn selalu ketus?
Ellnara: Nanti juga manja dan bucin akut kak 🤣🤣
total 1 replies
ayudya
apa punya 2 kepribadian si neo ini ah... penasaran aku.
ayudya
jd penasaran aku nya.
ayudya
mampir
vania larasati
lanjut kak😊😊
vania larasati
lanjut kak
Retno Palupi
jd ikut jantungan juga
Retno Palupi
senengnya jeslyn
Dwi Agustina
haaaah nanggung bngtblg tegang gini,CPT up dong🙏🙏🙏👍🫰
novi kusmalinda
lanjut hingga tamat dong...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!