Setelah kejadian kecelakaan kerja di laboratorium miliknya saat sedang meneliti sebuah obat untuk wabah penyakit yang sedang menyerang hampir setengah penduduk bumi, Alena terbangun di suatu tempat yang asing. Segala sesuatunya terlihat kuno menurut dirinya, apalagi peralatan di rumah sakit pernah dia lihat sebelumnya di sebuah museum.
Memiliki nama yang sama, tetapi nasib yang jauh berbeda. Segala ingatan tentang pemilik tubuh masuk begitu saja. Namun jiwa Alena yang lain tidak akan membiarkan dirinya tertindas begitu saja. Ini saatnya menjadi kuat dan membalaskan perlakuan buruk mereka terutama membuat sang suami bertekuk lutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau tahu, saat bersentuhan terasa hangat
Sejak awal memang Althaf tak begitu bersemangat bahkan di tengah -tengah presentasi Gilbert terpaksa mengambil alih. Althaf yang tidak fokus mendadak terdiam sejenak beberapa saat hingga kehilangan konsentrasi. Entahlah… rasanya ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Alhasil, Mr Michael menunda memberikan keputusan karena menilai tidak ada keseriusan dari pihak Althaf.
Dengan terduduk lesu, Althaf terus memijat keningnya yang terasa pusing. Tubuhnya benar-benar lelah karena aktivitas yang begitu padat hari ini. Namun apapun yang dilakukan oleh Althaf tak kunjung membuat kondisi perusahaan membaik. Mundurnya berapa investor besar membuat modal perusahaan tersendat dan menghambat beberapa proyek yang tengah dikerjakan. Bahkan perusahaan terancam tidak bisa menggaji karyawan di akhir bulan nanti jika situasi ini terus berlangsung.
“Tuan, nilai saham kita anjlok ke titik terendah selama 5 tahun terakhir. Jika kondisi ini terus terjadi, maka investor yang lain pasti akan melepas saham mereka karena terus merugi.” Gilbert memperlihatkan monitor yang terdapat grafik nilai saham di tab miliknya.
Helaan nafas yang begitu berat, menunjukkan ketidakberdayaan Althaf saat ini. Memang masih ada beberapa properti yang bisa dijual, namun tidak menutup keuangan perusahaan yang begitu besar.
“Lalu saya harus bagaimana Gill?” sahut Althaf lemas.
Althaf pun teringat akan ponselnya yang disimpan di laci dan ternyata begitu banyak panggilan dari rumahnya serta satu nomor yang tidak bernama. Firasat Althaf pun semakin tak enak, pikirnya sesuatu pasti telah terjadi sesuatu dengan Alena.
“Ada apa Tuan? Anda terlihat cemas?” tanya Gilbert
Althaf tak menggubris, dia mencari keberadaan tabletnya untuk melihat kondisi rumah.
“Sial!!” umpatnya saat mendapatkan jika tabletnya kehabisan daya.
“Kita pulang Gill!!!” Althaf bangkit dan langsung pergi begitu saja.
“Tapi Tuan, kita ada—” Belum juga menyelesaikan perkataannya, sosok Althaf sudah menghilang.
Akhirnya, terpaksa Gilbert mengejar Althaf dengan prasangka yang menduga -duga. Bahkan nyaris saja Gilbert ditinggal di parkiran, Althaf mengambil alih kemudi. Dengan kecepatan ala pembalap di sirkuit, Althaf melakukan mobilnya dengan kecepatan super. Gilbert tak bisa banyak protes dan fokus berdoa agar diberikan keselamatan.
“Alena…. Alena.. sayang!!!” Teriak Althaf, para pelayan berdiri dengan wajah yang pucat pasi.
Pak Ma yang berada di ruang tengah segera menghampiri tuannya.
“Pak Ma mana Alena? Apa yang terjadi? cecar Althaf saat Pak Ma menghampiri.
“Nyonya di kamar Tuan, tapi?” Pak Ma menggantungkan kalimatnya.
“ADA APA!!!” emosi Althaf mulai tak terkendali. Tangannya mencengkram kedua bahu pria tua itu dengan sangat kuat.
Buugh
Tiba -tiba sebuah pukulan mendarat tepat di pipinya. Pukulannya tidak begitu keras namun karena rasa lelah yang mendera menyebabkan Althaf tersungkur.
“Zaldo??? Ngapain kamu di rumah saya?” heran Althaf, setengah tidak sadar dengan apa yang terjadi
“Kamu kemana saja Althaf!!! Sama sekali tidak berguna!!” Zaldo dengan ekspresi emosinya tak lagi berbasa basi dengan Althaf.
Pak Ma yang membantu Althaf untuk berdiri sedangkan Gilbert, pria itu tak pernah ikut campur ketika kedua jantan itu sedang beradu. Dia cenderung menjadi penonton menunggu apa hasil akhirnya.
“Mana Alena??”
Amarah Zaldo tak lagi terbendung, dia menghampiri Althaf dan langsung mencengkram kerah kemeja Althaf.
“Alena nyaris mati!! Dasar suami tidak berguna! Kali ini saya tidak akan berbaik hati lagi, bisa-bisa Alena meregang nyawa di rumah ini!!” sungut Zaldo dengan kedua mata memerah, sampai-sampai Althaf tak bisa bereaksi apapun.
“Minggir!!!” Althaf menghempas lengan Zaldo hingga cengkeraman Zaldo terlepas.
Berlari secepat kilat, Althaf menuju kamarnya untuk mengetahui kondisi Alena. Pak Ma berusaha menahan tubuh Zaldo dengan memeluknya dari belakang. Bisa terjadi perang dunia jika salah satu dari pria itu tidak dipisahkan.
“Den, saya mohon tolong kondisikan emosinya yang penting Nyonya saat ini baik-baik saja. Tuan Althaf juga sibuk seharian di kantor, mungkin memang tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Nyonya!!” Pak Ma berusaha menasehati Zaldo agar mengontrol emosinya.
“Tapi baji-ngan itu—”
“Tuan seharian sibuk hari ini, perusahaannya mengalami krisis, tinggal menunggu waktu untuk hancur jika Althaf tidak mampu mengatasinya.” Kali ini Gilbert angkat bicara, tak tega juga jika harus menjadi pusat kemarahan Zaldo.
Mendengar ucapan Gilbert, emosi Zaldo sedikit melunak. Pantas saja beberapa kali dihubungi tidak menjawab panggilannya, salahnya juga tidak menghubungi nomor pribadi Zaldo karena saat bekerja Althaf jarang memegang ponsel.
Gilbert tak banyak bertanya, tangannya dengan lincah mengulik tab miliknya untuk mencari tahu kejadian sebenarnya. Melalui rekaman CCTV akhirnya Gilbert mengetahui semua dan siapa pelakunya.
“Tamat riwayatmu kali ini, Bi*ch!!” umpat Gilbert dalam hatinya.
Begitu sampai di kamarnya, Zaldo melihat Alena terbaring tak sadarkan diri di atas ranjangnya. Pantas saja Zaldo marah kepadanya dan akan membawa Alena pergi darinya.
“Jangan dulu mengganggunya, dia butuh istirahat. Kondisinya sudah stabil, tunggulah 2-3 jam lagi,” ucap Dokter Alex saat mencegah Zaldo yang ingin memeluk Alena.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Zaldo penasaran.
“Tenggelam, gagal napas. Nyaris saja meninggal jika Zaldo tak menolongnya dan memberikan napas buatan,” ucap Dokter Alex sesuai dengan fakta.
“Napas buatan?” ulang Althaf melayang, membayangkan bagaimana hal itu terjadi.
Tangannya terkepal, napasnya memburu, dengan langkah cepat dia keluar dari kamar dan menghampiri Zaldo.
“Beraninya kau menyentuh milikku!!!” hardik Althaf dengan penuh emosi, otaknya tak lagi bisa berpikir dengan jernih.
Althaf meraih dan meremas kerah kaos dengan kuat, kedua matanya menyalang menatap Zaldo. Sedangkan pria itu, hanya menyunggingkan ujung bibirnya tak takut sama sekali dengan Althaf. Tatapannya bahkan seakan meremehkan Althaf.
“Kau tahu, saat bersentuhan terasa hangat, bahkan rasa manisnya tertinggal disini,” bisik Zaldo sambil telunjuknya menyentuh bibirnya.
Jangan tanyakan diri Althaf saat ini, emosinya begitu menggebu-gebu dan kedua matanya memerah. Mempunyai gangguan kejiwaan membuat Althaf kesulitan untuk menjaga emosinya terutama jika hal-hal pribadinya diusik oleh orang lain.
“Bang-syatt!!! Jangan pernah menyentuh Alena apapun alasannya jika kau tidak ingin mati sia-sia!!” Althaf tak main-main.
Zaldo merasakan kepuasan tersendiri mempermainkan perasaan Althaf, meski setelah Alena sadar nanti dia pasti akan jauh lebih murka.
“Setidaknya kenangan manis ini akan aku bawa mati. Hahahahahah.” Suara tertawanya begitu menggema ke seluruh rumah, suasana semakin tegang.
Buuugghh
“Jangan pernah membayangkan wanitaku dalam otak kotormu itu, sialan!!” Althaf tiada hentinya mengumpat.
Nyatanya pukulan Althaf begitu keras hingga rahangnya terasa kaku. Tapi Zaldo masih belum puas. Gilbert yang melihat situasi sudah sangat kacau berusaha menenangkan Althaf.
Pak Ma dari arah belakang, berlari kecil menghampiri Althaf meskipun dia tahu terlalu beresiko mendekati Althaf yang tengah emosi. Salah-salah tubuh rentannya yang akan terkena pukulan Althaf.
“Berhenti Tuan!!! Nyonya–!”
maka ny cepat2 sadar diri ,,
sblum jatuh ny harga diri ,,
/Smug//Smug//Smug//Chuckle/
Pak su diam dlu aj yx ,, sayangi nyawa anda yx Pak su ,, 🤭🤣🤣🤣
nama udh keren2 di panggil ny kodok buruk ,, 🤣🤣🤣