*******! Banyak ****** ****** bertebaran jadi ***** ***** memilih bacaan.
Perasaan cintanya untuk seseorang yang begitu besar membuat luka yang mendalam bagi seorang Kanaya.
Kanaya Tsabita menerima pertunangan dari Arslan Khairul Azam karena percaya akan kesungguhan cinta Arslan yang diberikan padanya. Tapi siapa tahu diantara perjalanan cinta mereka hadirlah Rindu Anjani sang sekretaris yang berhasil mengalihkan perhatian Arslan hingga akhirnya melukai perasaan Kanaya.
Diantara gempuran luka dan mempertahankan sebuah harga diri, sosok Baratha hadir untuk menjadi tameng dan luapan rasa kecewa Kanaya pada sebuah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baratha
Kanaya terlihat gelisah. Gadis yang sudah memejamkan mata masih berganti posisi untuk bisa tidur nyaman. Dan pada akhirnya dia pun memilih membuka mata.
Tubuhnya yang lembab karena keringat membuat Kanaya memilih beranjak ke kamar mandi dengan membawa handuk.
"Mau ngapain ,Nay?" Bara segera menutup laptopnya saat melihat Kanaya berjalan keluar kamar.
"Mas Bara, belum tidur?" tanya Kanaya pandangannya kini tertuju pada laptop yang ada di depan Bara.
"Belum. Kamu tengah malam bawa handuk mau ngapain?" tanya Bara dengan berjalan mendekat ke arah Kanaya.
"Gerah banget, aku mau mandi, Mas." jawab Kanaya.
"Jangan mandi tengah malam, Nay! Kamu nggak tahan dingin,kan?"
"Siapa bilang? Mas Bara nggak tahu apa-apa tentang aku." balas Kanaya tanpa peduli reaksi Bara. Gadis itu sudah tidak tahan dengan hawa panas malam ini.
Bara hanya mendesah dengan menatap pintu kamar mandi yang kembali tertutup. Pria yang merasa haus itu pun mengambil sebotol air untuk menghilangkan dahaganya.
"Nay, mandinya jangan lama-lama." teriak Bara dia yakin besok Kanaya pasti akan flu.
Kanaya tak menggubris teriakan Bara. Hingga beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Bara menatap tajam gadis yang terlihat segar setelah keluar dari kamar mandi.
"A-aku balik ke kamar, Mas!" Kanaya langsung berjalan meninggalkan Bara yang menatapnya tajam. Gadis itu seolah ingin menghilang saja dari hadapan pria yang sudah memperlihatkan tatapan horornya.
"Ampun, Ya Allah. Matanya sangat menyeramkan." gumam Kanaya yang kemudian langsung kembali masuk ke dalam selimut karena hawa gerah yang dia rasakan kini berubah menjadi dingin.
Suara Azan subuh terdengar tapi Kanaya malah semakin meringkuk dalam selimut. Gadis itu begitu enggan untuk membuka matanya.
"Nay, nggak Salat Subuh?" hingga akhirnya Bara masuk ke dalam kamar untuk Salat Subuh.
Tak ada jawaban dari Kanaya, Bara pun memutuskan untuk menjalankan Salat Subuh sendirian.
Pria yang kini sudah menyelesaikan Salat Subuh itu langsung berdiri menghampiri Kanaya yang masih belum ada pergerakan.
"Nay, Salat Subuh dulu!" ujar Bara kemudian membuka selimut yang membungkus tubuh mungil yang meringkuk itu.
"Emmm...." jawab Kanaya membuat Bara curiga karena Kanaya tak juga segera membuka matanya.
"Kamu demam! Apa aku bilang,kan?" sambut Bara dengan meletakkan telapak tangannya di jidat Kanaya.
Kanaya berusaha membuka matanya, dia pun tak bisa menahan hidungnya yang terus saja bersin-bersin.
" Aku hanya merasa sedikit dingin saja." ucap Kanaya. Kemudian berusaha menyibakkan selimut dan menurunkan kakinya.
Bara yang terlihat terus menatapnya justru membuat Kanaya salah tingkah. Gadis itu menguatkan tubuhnya yang terasa lemah itu mencari air wudhu.
Sambil menahan rasa dingin dan hampir saja dia menggigil, Kanaya langsung menyambar mukena dan segera menunaikan Salat Subuh.
"Kok Mas Bara tahu aku bakal kena flue jika mandi tengah malam?" tanya Kanaya mendekati Bara yang tengah memasak sesuatu di dapur.
"Tahu saja." ucap Baratha dengan memasukkan potongan bakso dan jamur ke dalam sup.
"Mas Bara bisa masak?" lanjut Kanaya penuh dengan kekaguman, aroma sup yang begitu menggoda membuat Kanaya beberapa saat menghidu aromanya.
"Paling bikin sup dan mie!" jawab Bara hampir saja menabrak Kanaya yang tiba-tiba berada di sebelahnya. Tapi untung saja, dia menahan tubuh kecil itu agar tidak oleng.
Kanaya menatap penuh kekaguman pada pria disebelahnya itu. Pria berwajah garang dengan rambut gondrong dan tindik disalah satu telinganya tak menyangka bisa memasak. Batin Kanaya, sedangkan dirinya belum pernah melakukannya.
"Aku nggak bisa masak, Mas." ucap Kanaya dengan jujur.
"Kamu bisa belajar." jawab Bara singkat dengan membagi sup yang sudah matang itu menjadi dua mangkuk. Tanpa mengatakan itu Bara pun sudah tahu jika Kanaya bisa memasak, tidak pernah melakukan pekerjaan rumah, tapi sekarang dia istrinya Baratha yang memang harus belajar melakukan semuanya sendiri.
####
Kanaya POV
Aku menutup panggilan Papa yang menanyakan kabarku. Meskipun badanku masih terasa sakit-sakit tapi aku tetap saja mengatakan semua baik-baik saja karena aku tidak ingin Papa merasa cemas.
Ternyata tidak mudah menjalani kehidupan baruku, menikah dengan orang yang tidak aku cintai, menjalani kehidupan yang jauh dari kata nyaman dan aku tidak tahu seperti apa perasaan Mas Bara. Pria itu sangat misterius dan sulit untuk aku tebak.
Tapi, mengeluh hanya akan membuat hidupku terasa lebih sulit. Bukankah Sayidati Fatimah juga hidup serba kekurangan bersama Sahabat Ali? Padahal beliau adalah putri tercantik orang nomer satu saat itu.
Author Pov
Kanaya berusaha menguatkan hati tentang pilihannya menikah. Tubuhnya yang terasa lemah dipaksa untuk membersihkan rumah. Dia tidak ingin saat suaminya pulang semuanya masih berantakan.
Setelah membersihkan dan merapikan rumah bagian dalam. Kanaya pun melanjutkan untuk membersihkan teras dan halaman rumah yang tertanam pohon rambutan. Meskipun halamannya sempit tapi daun kering yang jatuh dari pohon rambutan membuat Kanaya mengeluarkan tenaga ekstra untuk membersihkannya.
Setelah semuanya bersih Kanaya menyemprotkan air pada pagar yang terbuat dari besi. Segar, halaman rumah yang nampak lebih rapi dan segar mampu menyita sebagian tenaga gadis bertubuh mungil itu.
Senyum Kanaya mengembang, saat melihat sosok bertubuh tinggi dengan motor trail melaju ke arahnya. Secara tidak sadar dia memang mengharapkan kepulangan suaminya.
"Mas sudah pulang?" tanya Kanaya saat motor Bara berhenti di dekatnya.
Bara hanya menyerahkan sebuah bungkusan plastik hitam pada Kanaya setelah gadis itu mencium tangannya.
"Apa ini?" lanjut Kanaya ketika Bara membuka helmnya dan segera turun dari motornya.
"Bakso jatah makan siang dari bengkel." ucap Bara dengan melangkah masuk diikuti Kanaya.
"Kalau masih sakit jangan memaksakan diri untuk bersih-bersih." lanjut Bara saat melihat rumahnya nampak begitu rapi.
"Dapat keringat rasanya lebih segar, Mas." jawab Kanaya dengan menuangkan segelas Air untuk Bara. Kemudian mengambil mangkuk untuk tempat baksonya.
"Tapi aku baru masak nasi." ucap Kanaya hingga membuat Bara langsung berjalan mendekati lemari pendingin.
Diambilnya satu butir telur kemudian di ceploknya dalam teflon. Apa yang dilakukan pria itu membuat Kanaya menjadi canggung.
"Maaf ya, Mas." lirih Kanaya membuat Bara mengusap puncak kepala istrinya sebagai isyarat jika semua tidak masalah baginya.
Kanaya pun gegas menyiapkan nasi dipiring dan menyodorkan semangkuk bakso yang tadi untuk Bara.
"Baksonya untukmu. Aku tidak terlalu suka bakso." lanjut Bara kemudian menikmati sepiring nasi dengan telur ceplok setengah matang.
"Beneran, Mas." ucap Kanaya dengan menatap ragu suaminya.
"Iya." jawab Bara kemudian menikmati makanan didepannya.
Kanaya memandang Bara yang terlihat lahap. Padahal dia tahu, telur ceplok setengah matang itu tanpa garam.
Tiba-tiba ada kekaguman dalam diri Kanaya, saat sorot matanya tak beralih sedikit pun dari sosok berhidung mancung itu. Sebenarnya Kanaya mulai menyadari sisi ketampanan seorang Baratha. Bahkan, dia juga merasakan auranya yang begitu kuat membuat pria itu seperti magnet yang menarik perhatian orang di dekatnya.