NovelToon NovelToon
Hidup Bebas Di Dunia Lain

Hidup Bebas Di Dunia Lain

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Harem / Transmigrasi / Light Novel / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Thenawa09

Saya Punya Novel Baru nih guys. Jangan Lupa Buat Mampir baca ya. Ceritanya tentang cowo cool yang jatuh cinta pada seorang cewe disekolahnya.

Sinopsis :
Karena kelelahan bekerja, Nathan meninggal dan tereinkarnasi ke dunia lain. Di Kehidupannya yang baru ini Nathan memutuskan untuk menjalani hidup yang bebas akan tetapi untuk mewujudkan itu Nathan harus menghadapi berbagai halangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thenawa09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertempuran di Ibukota

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, menebarkan cahaya keemasan yang memanjakan di atas atap-atap rumah Ibukota Kerajaan Scarlett. Namun, keindahan pagi itu berbanding terbalik dengan kekacauan yang sedang terjadi di dalam kota. Asap hitam membubung dari beberapa titik, dan teriakan serta dentuman senjata sihir menggema di lorong-lorong kota.

Nathan dan kelompoknya berdiri di puncak bukit yang menghadap langsung ke ibukota, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran. Dari ketinggian, mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana pasukan pemberontak. Campuran antara Penjaga Besi Ordo Matahari Fajar dan tentara bayaran Shadow Wolf telah mengepung istana.

"Kalungku berdenyut tidak beraturan sejak tadi malam," ucap Nathan sambil menekan batu hitam di dadanya yang terasa semakin hangat. "Seperti ada energi kacau yang berasal dari dalam kota, tapi juga dari arah pegunungan di belakangnya."

Kaelen mendekat, matanya yang hijau tajam menyipit memandang kota di bawah. "Morvan sudah sampai lebih dulu. Aku bisa merasakan jejak energinya yang busuk. Dia ada di kedua tempat sekaligus. Sepertinya dia menggunakan ilusi atau mungkin membagi dirinya."

Jorgi dengan cepat menggelar peta tua di atas sebuah batu datar. Angin pagi menerpa rambutnya yang mulai beruban. "Kita harus membuat keputusan cepat. Nathan, menurutmu mana yang lebih prioritas—istana atau kuil?"

Nathan menutup matanya sejenak, mencoba merasakan petunjuk dari kalungnya. Batu itu berdenyut dengan pola aneh—kadang cepat ke arah istana, kadang lambat ke arah pegunungan. "Aku tidak bisa memastikan. Tapi yang jelas, energi di kuil terasa lebih... purba dan berbahaya."

Ely yang selama ini diam memperhatikan, akhirkan angkat bicara. "Bagaimana jika kita membagi tim? Beberapa ke kuil, beberapa ke istana?"

"Terlalu berisiko," bantah Jonas langsung. "Ingat apa yang terjadi terakhir kali kita berpisah? Kita hampir kehilangan Nathan di gua yang runtuh."

Kaelen mengangguk setuju. "Jonas benar. Kekuatan kita ada dalam persatuan. Selain itu, dengan darah Nightshade-mu, Nathan, kau mungkin satu-satunya yang bisa menenangkan Para Penjaga Kuno jika mereka sudah mulai bangkit."

Setelah berdebat singkat yang dipenuhi ketegangan, mereka akhirnya memutuskan untuk menuju Kuil Matahari Terbenam terlebih dahulu. Keputusan itu dibuat dengan berat hati, mengingat istana yang jelas-jelas dalam keadaan terkepung.

"Roy pasti sedang berjuang di sana," gumam Jorgi dengan wajah berkerut. "Tapi kau benar, ancaman Para Penjaga Kuno bangkit jauh lebih berbahaya."

Perjalanan menuju Kuil Matahari Terbenam melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh Kaelen dan para Penjaga Kabut. Jalur itu membawa mereka melalui serangkaian gua sempit, jembatan alami yang rapuh, dan hutan lebat yang nyaris tak tersentuh.

"Kakekku sering bercerita tentang tempat ini," bisik Kaelen saat mereka merayap di terowongan gelap yang hanya diterangi oleh bola cahaya kecil di tangan Ely. "Dia adalah salah satu Penjaga terakhir sebelum kuil ini ditutup dan dilupakan."

Nathan merasakan getaran aneh di sekelilingnya, berbeda dengan getaran energi sihir biasa. "Ada sesuatu yang berbeda di sini. Udara terasa... tua dan berusia."

"Itu karena kuil ini dibangun ribuan tahun lalu, pada zaman keemasan Ras Iblis, saat kita dan manusia masih hidup dalam damai," jawab Kaelen dengan nada nostalgia.

Setelah berjam-jam berjalan dengan penuh kewaspadaan, mereka akhirnya tiba di pintu masuk kuil. Sebuah gapura batu besar yang diukir dengan simbol-simbol kuno Ras Iblis. Namun yang membuat ngeri, pintu gapura yang seharusnya tersegel rapat itu sekarang terbuka lebar, dan beberapa jasad Penjaga Besi berserakan di tanah dengan luka-luka aneh.

"Pertempuran sudah terjadi di sini," desis Jonas sambil berlutut memeriksa salah satu jasad. "Tubuhnya masih hangat. Ini terjadi tidak lebih dari dua jam lalu."

Nathan merasakan kalungnya berdenyut sangat kencang, hingga hampir menyakitkan. "Energi di dalam... sangat kacau. Seperti ada badai energi yang mengamuk di sana."

Dengan hati-hati dan siaga penuh, mereka memasuki kuil. Interiornya jauh lebih megah dan luas dari yang bisa mereka bayangkan. Pilar-pilar marmer hitam menjulang tinggi hingga menghilang dalam kegelapan, dinding-dinding diukir dengan cerita-cerita epik Ras Iblis, dan di langit-langit, batu-batu mulia berpendar dengan cahaya redup menerangi ruangan.

Namun, keindahan arsitektur itu tercemar oleh kekacauan yang terjadi di ruang utama. Morvan berdiri di tengah-tengah lingkaran ritual, dikelilingi lima tiang batu kristal yang masing-masing mengurung sosok bayangan gelap yang bergerak-gerak tak menentu, mengeluarkan erangan yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Terlambat!" teriak Morvan tanpa menoleh, suaranya bergema di seluruh ruangan. "Proses pembangkitan sudah mencapai titik tidak bisa kembali! Para Penjaga Kuno akan bangkit dalam hitungan menit!"

Nathan melangkah maju, tapi dihentikan oleh tangan Kaelen yang mencengkeram lengannya. "Tunggu! Lihat simbol-simbol darah di lantai. Itu lingkaran pengorbanan kuno!"

Morvan akhirnya menoleh, dan mereka semua bisa melihat dengan jelas bahwa matanya sekarang bersinar dengan cahaya merah menyala. "Betul, Kaelen. Kau masih ingat pelajaran kakekmu. Untuk membangkitkan Para Penjaga Kuno sepenuhnya, dibutuhkan darah murni Nightshade. Darah yang sama yang mengalir dalam nadiku... dan nadimu, Nathan."

Dengan gerakan teatrikal, Morvan mengacungkan tangannya. Dari bayangan-bayangan di sudut ruangan, dua sosok muncul. Sepasang pria dan wanita dengan tanduk patah dan sayap yang compang-camping, tapi masih menyisakan sisa-sisa kemuliaan di wajah mereka yang tirus.

"Orang tuamu..." bisik Ely terkesima, tangannya menutup mulut.

Nathan membeku di tempatnya. Di depannya sekarang berdiri Alaric dan Liana Nightshade. Orang tuanya yang selama ini hanya dia lihat dalam mimpi dan visi. Namun ada sesuatu yang sangat tidak beres. Mata mereka kosong dan hampa, seperti boneka yang dikendalikan oleh tali tak terlihat.

"Apa yang kau lakukan pada mereka, Morvan?" Nathan berteriak, suaranya pecah antara kemarahan dan kepedihan.

Morvan tertawa, suaranya dingin dan tak berperasaan. "Menyelamatkan mereka, tentu saja. Tapi jiwa mereka masih terikat dengan segel kuil ini. Dan hanya darahmu. Darah keturunan langsung mereka yang bisa membebaskan mereka sepenuhnya."

Tiba-tiba, seluruh kuil bergemuruh hebat. Kelima bayangan di tiang batu kristal mulai mengambil bentuk fisik. Sosok-sosok raksasa dengan armor kuno dan senjata yang terbuat dari energi murni. Suara dengusan mereka saja sudah cukup membuat lantai bergetar.

"Para Penjaga Kuno benar-benar bangun!" teriak Kaelen, wajahnya pucat. "Kita harus menghentikan ini sekarang!"

Namun sebelum mereka bisa mengambil tindakan apa pun, dari luar kuil terdengar suara ledakan bertubi-tubi yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Nathan berlari ke pintu masuk dan melihat pemandangan yang membuat darahnya membeku. Ibukota Kerajaan Scarlett sekarang diserang oleh pasukan besar yang jauh lebih banyak dari yang mereka perkirakan, dengan istana sebagai target utama yang sudah dikepung rapat.

"Morvan! Kau menipu kami!" Bentak Nathan, menatap tajam ke arah Morvan. "Kau bilang hanya ingin membangkitkan Para Penjaga Kuno untuk melindungi Ras Iblis!"

Morvan tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang tajam. "Lord Valerius dan pasukannya seharusnya sudah merebut istana saat ini. Dan dengan Para Penjaga Kuno di bawah kendaliku, tidak ada yang bisa menghentikan kami! Kerajaan Scarlett akan jatuh, dan era baru Ras Iblis akan dimulai!"

Nathan kini menghadapi pilihan yang mustahil: menyelamatkan orang tuanya yang dikendalikan Morvan, menghentikan kebangkitan Para Penjaga Kuno yang semakin menjadi-jadi, atau membantu pertahanan istana yang jelas-jelas dalam keadaan kritis. Waktu terus berdetak, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi yang mengerikan.

Dia menatap wajah orang tuanya yang kosong, lalu ke arah kota yang sedang dibakar pertempuran, dan akhirnya ke arah kelima Penjaga Kuno yang semakin solid wujudnya. Napasnya berat, jantungnya berdebar kencang. Keputusan harus diambil sekarang sebelum segalanya menjadi terlambat.

1
ラマSkuy
apakah Nathan ini akan mempunyai kekuatan yang over power 🤔🤔
Thenawa: Untuk kedepannya iya kak
total 1 replies
ラマSkuy
sangat bagus kak alur ceritanya saat aku baca sampai bab ini, cuma memang masih ada sedikit typo sih tapi untuk keseluruhan alur bagus banget dan juga kata kata yang di pakai mudah dipahami para pembaca.
Semangat terus kak 💪
Thenawa: Terima kasih banyak kaks🙏🙏🙏
total 1 replies
ラマSkuy
wah awal awal tanpa diketahui langsung punya skill tranformasi jadi Beast hanya gara" menelan sedikit darah dari monster serigala tersebut keren kak, di tunggu kelanjutannya hehehe
Thenawa: Siapp kakss nantikan kelanjutannya ya kak🙏🙏
total 1 replies
Adrian Koto
waw pindah ke isekai dapet skill transformasi dengan minum sedikit darah. gimana nanti kalo minum darah perawan? 🤔
Thenawa: Yaa transformasi jadi perawan bang wkwkw
total 1 replies
kokonoe
lanjot
kokonoe
naice
kokonoe
nice
Thenawa
💪
kokonoe
Lanjut thor
Thenawa
mantap
ian gomes
Bagus banget ceritanya, aku udah nggak sabar nunggu bab selanjutnya!
Thenawa: Thank's
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!