Ceo tampan itu, mantanku!
ketika sedang susah-susahnya mencari pekerjaan di kota besar, tetapi malah keterima di tempat kerja yang bosnya itu mantan kita sendiri!
Ya itulah yang Dara rasakan sekarang, dia harus mempunyai Bos yang berstatus sebagai mantannya yang sangat brengsek.
"Lo kok?!"
"Hai cantik, sudah lama tidak bertemu. Oh ya daripada kamu capek-capek kerja di sini, bagaimana kalo kamu menikah denganku dan menikmati semua harta yang ku punya?"
Akankah Dara bisa bertahan dengan bosnya yang berstatus mantannya, yang masih saja membahas hubungan mereka dulu?
Atau Dara dan sang Ceo tampan itu bisa bersatu layaknya di kisah film?
penasaran? Yuk kita simak ceritanya, dan melihat bagaimana endingnya🔥🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuniar Febriyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 25
Karena kejadian menyebalkan tadi, Dara memutuskan untuk pergi ke kantin kantor untuk mengisi perutnya yang dari tadi sudah meraung-raung meminta diberi stamina untuk menghadapi bos dan orang-orang seperti Zico dan juga seprti Angel yang begitu menyebalkan di mana Dara.
"Indah, lo tahu gak sih. Ternyata bos yang ada di perusahan ini tuh mantan gue! mana gue malah satu kantor lagi sama manusia yang ngelabrak gue. Padahal gue sendiri aja enggak tahu siapa cowoknya," ucap Dara yang mulai curhat kepada Indah yang ada di panggilannya.
Setelah kejadian menyebalkan tadi, Dara langsung saja menelpon Indah dan menceritakan semua kejadian yang sangat membagongkan tadi. Rasanya Dara ingin sekali mencabik-cabik wajah Zico dan Angel yang sama-sama menyebalkan, jika dia tidak ingat kalo dia ingin bekerja di perusahan yang sangat terkenal.
Indah yang dari tadi hanya berantai di kosan, selalu saja menyimak semua cerita yang diceritakan oleh Dara, dan juga dengan sesekali menanyakan hal apa yang dia tidak tahu.
"Lah masa? emang siapa sih mantan lo? sampai-sampai ada orang yang ngelabrak lo gara-gara tuh cowok?" tanya Indah yang penasaran juga siapa lelaki tersebut, sehingga menjadi idaman para wanita.
"Harus banget ya gue jawab?" tanya Dara yang sepertinya sedikit enggan untuk menceritakan Zico, mantan yang sangat dibenci oleh Dara.
"Ya iyalah harus, lagian lo cuman nyeritain sikap dan kejadiannya yang lalu. Tanpa bilang siapa orangnya," ucap Indah yang kekeh ingin Dara menceritakan siapa cowok itu, yang sangat dibenci oleh Dara.
Dara yang mendengar ucapan Indah yang kekeh untuk menceritakan masa lalunya, hingga Dara menghela nafas dengan pelan.
"Ya udah deh kalo lo emang mau denger siapa mantan gue, mendingan nanti aja kalo udah di kosan ya? masa iya gue nyeritain orang yang satu kantor, ntar kalo ketahuan gimana? bisa diolok-olok gue," ucap Dara yang tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu terjadi, apalagi sikap Zico yang memiliki tingkat kepercaya diri yang sangat tinggi.
"Oh oke deh kalo mau ntar ceritanya, ya udah lo semangat ya kerjanya. Gue tutup dulu telponnya, kalo ada masalah kalo ada apa-apa lo langsung telpon ke gue ya. Biar gue langsung ngusul," ucap Indah dan dia pun langsung mematikan panggilannya itu sepihak.
Dara yang telponnya dimatikan terlebih dahulu, hanya bisa mengelus dada dengan tabah dan sabar. Padahal dia sendiri masih belum selesai dengan acara berceritanya, tapi ya sudahlah. Mungkin Indah memang sedang sibuk.
"Kebiasaan banget sih nih bocah, suka banget deh matiin telpon sembarangan," omel Dara yang begitu sangat kesal dengan Indah.
"Kenapa sih cantik, dari tadi gue liatin dari jauh kayanya lagi ngomel-ngomel mulu. Kenapa?" tanya Rangga yang tiba-tiba saja duduk di samping Dara.
Dara yang menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya, apalagi itu Rangga. Langsung menatapnya tidak suka.
"Pake nanya lagi, emang lo enggak lihat tadi apa kelakukan bos sama sekertarisnya yang nyebelin itu? Kalo enggak inget mau kerja di sini gue rasanya mau bejek-bejek kedua muka tuh orang deh," ucap Dara yang penuh dengan kemarahan yang tidak bisa ditahan.
"Kalo mau nyakar-nyakar mereka kenapa enggak lo lakuin? Kalo pun lo emang nyakar-nyakar mereka lo pastinya enggak bakalan kena marah," ucap Rangga.
"Enggak bakalan dimarahin gimana sih maksud lo hah? kalo gue sampai berani nyakar bos lo pastinya enggak bakalan diterima deh gue kerja di sini," ucap Dara mengingat Zico adalah Ceo dari perusahaan ini.
"Ya kan lo itu mantan kesayangannya, meskipun lo enggak diterima di kantornya. Yang ada lo malah keterima jadi istrinya," ucap Rangga dan Dara langsung menatap kesal ke arah Rangga.
"Lo bisa gak sih enggak usah jodoh-jodohin gue sama Zico? udah muak banget gue dengarnya," ucap Dara yang tidak nyaman jika harus dijodoh-jodohkan dengan Zico.
"Gak usah munafik Dara, gue tahu lo pastinya masih ada keinginan buat balik lagi sama Zico kan? saran gue sih ya lo harus bisa buang ego dan gengsi lo itu, sebelum lo nyesel kalo udah terlambat," nasihat Rangga yang merasa Dara masih memiliki perasaan terhadap Zico.
"Kalo dibilang kangen ya emang kangen dan pengen juga balikan sama Zico, tapi di sisi lainnya gue tahu satu hal. Gue sama Zico pastinya enggak bakalan bisa buat sama-sama lagi, dan karena hal itu juga jadi alasan gue buat nolak Zico buat balik lagi ke gue," ucap Dara dengan tersenyum miris akan hubungannya dengan Zico.
"Alasan apa yang emang enggak bisa buat kalian bareng-bareng lagi?" tanya Rangga yang penasaran alasan apa yang Dara maksud.
"Dari segi ekonomi, kekuasaan, dan juga gue bukan terlahir dari keluarga yang sempurna. Gue juga enggak tahu siapa orang tua gue, gue hidup di dunia ini juga cuman sebatang kara. Dan itu sangat berbeda jauh dengan Zico bukan? dia memiliki semuanya, dan tentunya gue bukanlah orang yang pantas untuk bersanding dengan dia," ucap Dara yang merasa dia sangat tidak pantas bagi Zico yang memiliki segalanya.
Mereka memang punya cinta, tapi untuk apa memiliki cinta tapi tidak mendapatkan restu dari keluarganya? keluarga Zico keluarga yang terpandang dan juga berpendidikan, pastinya mereka menginginkan pasangan yang sempurna juga bukan untuk anaknya?
"Kenapa lo bisa berpikir kaya gitu? emangnya lo pernah ketemu sama keluarga Zico?" tanya Rangga kepada Dara, dan Dara pun menggelengkan kepalanya tidak.
"Tuhkan lo ketemu mereka aja belum, jadi kenapa lo harus ngomong kaya gitu padahal lo sendiri enggak tahu apa yang bakalan terjadi kedepannya," ucap Rangga yang sedikit menyayangkan sikap Dara yang gampang menyerah.
"Lo enggak harus mikirin hal kaya gitu Dara, setahu gue keluarga Zico itu enggak terlalu ngekang Zico. Lagian Zico itu anak mereka satu-satunya, ditambah Zico itu anaknya keras kepala parah, apa yang dia mau harus terlaksana mau bagaimana pun caranya," ucap Rangga yang memberikan sedikit celah kepada Dara agar tidak menyerah begitu saja dengan mudah.
"Gitu ya? jadi gue harus sama Zico?" tanya Dara yang sepertinya sudah bisa mencerna semua yang dibicarakan oleh Rangga.
"Ya iyalah lo harus kaya gitu, dari pada nantinya lo malah nyesel. Jalanin aja dulu, kalo emang serius dan berjodoh kalian pastinya bisa bersama-sama terus," ucap Rangga yang lagi-lagi memberikan ketenangan di hati Dara.
Tapi ketenangan itu hanyalah sesaat, karena kedatangan seseorang yang begitu menyebalkan.
"Halah, buat apa sih lo ngomong kaya gitu Rangga sama dia? lagian dia siapa sih sampai-sampai mau diperjuangin sama Zico, gue sama dia aja bagusan gue, jadi lo jangan kasih harapan yang begitu tinggi sama nih anak, takutnya malah ketinggian!"
kok lama bnget updatex
mari saling support ❤️