Ellita yang mempunyai hobi membaca berbagai novel-novel fantasi, tapi setelah kematian nya dia malah masuk ke novel fantasi yang dulu pernah dia tinggalkan.
Dia harus menjalankan berbagai misi untuk menggagalkan berbagai macam rencana Pemeran Utamanya.
Tidak hanya itu, dia juga harus menyelamatkan tokoh-tokoh yang di rugikan oleh Pemeran Utamanya hanya atas nama cinta mereka yang egois.
Mampukah Ellita menyelamatkan mereka? dan apa yang akan dia dapatkan jika berhasil menyelesaikan misi-misi tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon April Eliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percikan Kecemburuan
Sudah seminggu Ellita dan teman-teman nya menjalankan pelatihan yang seperti neraka, dan mereka sudah meningkat dengan pesat berkat pelatihan itu.
"Sekarang saat nya meningkat kan kesulitan dalam pelatihan kalian."
Kata William dengan serius kepada mereka semua.
"Ellita, sekarang saat nya menunjukan apa yang selama ini sudah kamu peroleh."
"Tentu." Kata Ellita dengan percaya diri.
"Kalian bertiga kecuali Ellita sudah bisa mengalahkan sampai monster tingkat B sendirian, sekarang saya akan melatih kalian untuk bertarung secara berkelompok untuk mengalahkan monster tingkat A, kalian sendiri yang akan memikirkan bagaimana cara mengalahkan monster tersebut."
"Tangan ku sudah gatal ingin memukuli monster tingkat A itu." Kata Gea sambil meregangkan tangannya.
"Aku penasaran, monster jenis apa yang akan di keluarkan nantinya, hei Ellita, kamu yakin sudah siap mengalahkan monster secara langsung?" tanya Bel pada Ellita.
"Siap gak siap, bukankah aku harus melakukan nya?"
"Oke jangan pingsan kalau melihat tragedy nanti." Kata Bel bercanda sambil mengacak rambut Ellita.
"Enyah sana!" kata Ellita kesal sambil menepis tangan Bel.
"Semua berkumpul, inilah jenis monster tingkat A yang akan kalian lawan nanti."
William menunjukkan replika monster yang masih terkunci di penjara raksasa.
"Astaga, apa kami akan melawan monster raksasa itu?" tanya Ellita sambil menunjuk monster yang sudah mengeluarkan taring nya dengan ganas.
"Ya. ini adalah salah satu monster tingkat A yang bentuk nya tidak terlalu mengerikan."
Kalau yang yang begitu gak mengerikan, terus bagaimana lagi yang mengerikan? Dunia seperti apa sih yang aku masukin?
"Perhatian baik-baik."
Saat mereka semua memperhatikan monster tersebut, tiba-tiba badannya berubah menjadi lebih kecil dan menjadi bentuk hewan lucu yang tidak berbahaya sama sekali.
"Gila." Kata Ellita saat melihat perubahan yang sangat bertolak belakang itu.
"Ini lah mengapa dia adalah Monster tingkat A, bukan berati semakin tinggi levelnya semakin mengerikan bentuk nya, ada juga yang seperti ini, semakin cantik dia maka semakin mengerikan nya dia."
"Astaga lucu nya, apa kita harus membunuh kucing kecil yang lucu ini?"
Plak
"Auu! Ellita!"
"Sudah fokus sekarang Gea?" tanya Ellita saat sudah memukul kening Gea dan akan melanjutkan untuk memukul nya kembali jika dia masih tidak menjawab dengan masuk akal.
"Ahahah, tentu saja harus di bunuh! semua monster harus di lenyapkan dari muka bumi ini!"
"Hm, bagus kalau kamu sudah sadar."
"Kalau begitu, apa kelebihan dan kekurangan nya?"
Astaga, akhirnya Sean mau bersuara juga!
"Kelebihan nya adalah seperti yang kalian lihat sebelumnya, monster ini bisa merubah bentuk menjadi hewan kecil yang tidak berdaya, tapi saat mangsanya di depan mata dia akan langsung berubah menjadi hewan raksasa seperti yang kalian lihat tadi.
Auman nya sangat keras sampai bisa membuat gendang telinga kalian pecah jika tidak hati-hati, biarpun badan nya besar monster ini juga tetap lincah jika mengejar mangsanya.
Lalu kulitnya sangat tebal dan keras, jadi jika kalian menebasnya pun menggunakan pedang tidak terlalu berakibat fatal.
Sedangkan untuk kelemahan, hanya ada di pendengaran dan penciuman nya. Jadi sekarang tergantung kalian ingin mengalahkannya dengan cara apa.
Saya akan memberikan kalian waktu 15 menit untuk berdiskusi." Setelah penjelasan panjang lebar William langsung pergi menjauh.
"Hm, ini adalah lawan yang tangguh, bahkan kelemahannya hanya ada di pendengaran dan penciuman nya saja."
"Sudah jelas, ini adalah Monster tingkat A Gea, tapi tenang aku punya cara nya."
"Tumben Nona Ellita kita mengeluarkan pendapat, jadi apa itu."
"Bukankah selama ini aku selalu berlatih secara berbeda dengan kalian, selama seminggu pelatihan yang seperti neraka ini, akhirnya aku tahu kekuatan penyembuhan ku tidak hanya bisa di gunakan untuk penyembuhan saja tapi juga bisa mengelabui semua monster."
"Serius! Bagaimana caranya Ellita?" tanya Gea bersemangat.
"Aku hanya perlu menyalurkan kekuatan penyembuhan ku ke monster tersebut untuk membuatnya bingung, tapi yang aku serang bukanlah titik lemahnya melainkan kelebihan nya, seperti Auman nya, maupun kelincahan dalam mengejar mangsa."
"Jadi maksudnya, kamu akan membuat monster itu tidak bisa mengaum maupun berlari untuk mengejar kita nanti, saat dia tidak bisa menggunakan kelebihan nya disitulah kami menyerang nya."
"Binggo, tidak sia-sia kami menunjuk mu sebagai ketuanya Bel, tapi biarpun begitu kalian harus menggunakan ini sebaik-baiknya, karena kekuatan ku hanya untuk melemahkan monster itu tapi tidak untuk menghabisi nya."
"Serahkan semuanya pada kami Ellita, saat kamu menyalurkan kekuatan mu ke monster tersebut, di situlah kami akan menyerangnya habis-habisan." Kata Gea sambil merangkul bahu Ellita.
"Waktu nya habis, saatnya kalian menunjukkan hasil dari latihan kalian selama ini, saya sudah meletakkan monster tersebut di tengah lapang, dan kalian bisa langsung menyerangnya sesuai dengan yang sudah kalian sepakati."
"Ayo teman-teman."
Bel langsung memimpin jalan di depan, dan Ellita dan yang lainnya mengikuti nya di belakang.
Saat sudah dekat, Bel berhenti dan menghela nafas.
"Ada apa Bel? tanya Ellita bingung, kerena tiba-tiba Bel menghela nafas seperti itu.
"Mau di lihat berapa kali pun, sungguh kontras yang berbeda."
Mendengar perkataan nya, mereka langsung melihat ke arah monster itu yang saat ini sedang menjilati bulunya dengan tekun dengan wujud kucing kecil yang rapuh, akhirnya mereka tahu maksud perkataan nya apa.
"Jangan terkecoh! langsung buat formasi!"
mendengar perkataan Ellita, mereka mengangguk dan langsung mengambil posisi melingkar, Gea di tengah, Sean di kanan, Bel di kiri lalu Ellita di belakang mereka semua.
"Mau mengelabui kami? gak akan berhasil hahah."
Gea langsung meninju lantai dengan kuat dan menyebabkan lantai itu meledak dan menjalar menuju monster tersebut.
Ellita langsung mengangkat tangannya, dan menyalurkan Mana nya ke monster yang sudah kembali ke bentuk nya semula.
"Sekarang!" teriak Ellita.
Sean langsung berubah menjadi serigala dan berlari menuju monster tersebut, sedangkan Bel langsung mengeluarkan perisainya untuk mereka semua dan langsung berlari dengan pedang untuk menebas monster itu.
Saat Monster itu akan berlari ke depan menuju Sean, tiba-tiba pergerakannya menjadi lambat dan membuat monster itu tidak fokus dan saat itu juga langsung di tebas Sean dengan cakarnya.
Saat Monster itu terpental menjauh, dia akan mengaum dengan kuat, tapi suara Auman nya tidak keluar dan saat mulutnya masih terbuka lebar, Bel langsung memotong lidah nya saat itu juga.
"Hahah, hanya itu kemampuan mu? dasar payah!"
Gea hendak memukul kepala monster tersebut tapi monster tersebut langsung waspada dan menepis Gea dengan cakar besarnya.
"Gea hati-hati!" teriak Ellita.
Ellita langsung menyalurkan Mana penyembuhan nya kepada Gea dan Bel Langsung mengaktifkan perisai ke sisi Gea.
Saat Gea terpental menjauh dia langsung menyesuaikan tubuhnya agar mendarat dengan aman.
"Cih, ternyata tidak segampang itu."
Sean masih menyerang monster itu dari depan, sedangkan Bel menyerang nya dari belakang.
Walaupun kekuatan Monster tersebut sudah berkurang berkat Ellita, tapi monster itu masih bisa bertahan dari serangan brutal Sean dan Bel karena kulit nya yang kuat.
Gea langsung berlari menuju mereka dan melompat ke arah monster tersebut yang masih fokus bertahan dari serangan Sean dan Bel.
"Sekarang tidak akan bisa mengelak segampang itu." Gea langsung mengeluarkan semua kekuatan di tangannya dan langsung memukul sekuat tenaga kepala monster tersebut.
Bam!
saat Monster itu kehilangan keseimbangannya, Sean langsung menusukkan cakarnya ke jantung monster itu yang sudah dari tadi dia serang, sedangkan Bel menebaskan pedangnya ke belakang leher monster itu yang memiliki kulit lebih rapuh dari bagian yang lain.
Bruk!
melihat monster tersebut yang sudah kehilangan nyawanya akhirnya mereka bertiga menghela nafas lega.
"Uekk!"
Ellita langsung berlari ke pinggir lapangan dan memuntahkan semua isi perutnya.
"Ellita!"
Sean, Gea, dan Bel, langsung berlari keluar lapangan dan menyusul Ellita yang sudah lemah, dengan William yang menopang badan Ellita yang sudah tidak sanggup berdiri.
"Ellita, ada apa denganmu?"
Tanya Sean panik saat melihat Ellita yang sudah sangat lemah dengan wajah yang pucat.
"Gak papa, aku hanya gak terbiasa dengan pertempuran yang berdarah tadi."
Jawab Ellita lemah. Karena baru pertama ini dia menghadapi langsung pertempuran yang brutal.
Dulu waktu dia diserang oleh monster akar itu, dan pasukan William berhasil mengalahkan nya, monster itu tidak ada darah sama sekali, karena itu adalah Monster yang berbentuk akar tumbuhan.
Kalau latihan praktek dari kelas, tidak pernah menggunakan monster dengan tingkat yang lebih tinggi, lalu karena Ellita mempunyai kekuatan penyembuhan, instruktur mereka tidak pernah menyuruh Ellita melawan monster itu secara terbuka.
Sedangkan pelatihan Sean, Gea, dan Bel, dia tidak pernah berani melihatnya dari dekat dan kebetulan cara berlatih mereka berbeda, jadi lokasi mereka lumayan jauh.
Baru kali ini dia melihat monster raksasa dengan keadaan jantung hancur, kepala atasnya retak dan lehernya hampir dalam keadaan terputus, dengan darah yang berceceran dimana-mana.
Biar bagaimanapun Ellita adalah manusia modern, sudah jelas tidak pernah melihat sesuatu yang brutal seperti ini dengan kepala matanya sendiri.
Melihat teman-teman yang khawatir padanya tapi dalam keadaan tubuh yang bercucuran darah monster tadi, Ellita kembali menutup hidung dan mulutnya.
"Ka-kalian cepat bersihkan diri kalian! aku akan, ueekk!"
"Astaga Ellita!"
Melihat Ellita yang seperti itu mereka panik, tapi tidak berani mendekati Ellita karena perkataan Ellita yang tadi.
"Sebaiknya kalian cepat membersihkan diri, Ellita biar saya yang urus."
Kata William, sambil mengelus punggung Ellita yang masih muntah-muntah.
"Oke-oke Ellita, kami akan membersihkan diri sebersih-bersihnya, lalu membawakan mu obat.
Kata Bel, lalu langsung pergi dengan cepat setelah menerima anggukan dari Ellita.
Gea dan Sean juga keluar dengan cepat menyusul Bel.
"Aduh." Kata Ellita lemah, dan langsung terduduk di lantai dengan badan yang masih di topang oleh William.
"Maaf Ellita, kalau tau kamu masih belum terbiasa aku pasti akan mengeluarkan monster type yang lain."
Kata William sambil mengusap keringat yang ada di dahi dan sisi wajah Ellita dengan sapu tangan nya.
Ellita hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah sambil memejamkan matanya, dia hanya bisa bersandar di dadanya William sambil mengatur nafasnya dengan tenang.
"Huu, gak papa Will, lagipula aku harus membiasakan diri mulai sekarang." Kata Ellita masih dengan mata terpejam akibat pusing.
Tidak sadar bahwa posisi mereka sangat ambigu, dengan Ellita yang duduk di lantai dengan menyandarkan punggungnya di dada William dengan mata yang masih terpejam dan William yang mendekatkan wajahnya di wajah Ellita untuk menghapus keringat nya Ellita.
Jika dilihat sekilas seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke kamar."
Saat William sudah meletakkan tangannya di pundak Ellita dan akan mengangkatnya, mereka di hentikan oleh suara pria yang seharusnya sedang tidak berada disini.
"Ellita."
Mendengar suara pria yang yang sudah lama tidak dia dengar, Ellita membuka matanya yang masih berkunang-kunang dan menyipitkan matanya.
"Apakah itu kamu Light?" tanya Ellita lemah sambil mengusap matanya yang masih tidak fokus.
Melihat keadaan Ellita yang kacau, Light menghampiri Ellita dan segera berjongkok.
"Ada apa dengan mu?"
Light langsung memindahkan Ellita ke pelukannya dengan posesif dan mengusap pelipis Ellita yang berkeringat dengan tangan nya.
"Gak papa, aku masih belum terbiasa untuk bertempur melawan monster."
Mendengar perkataan Ellita, Light langsung melihat sekeliling dan mendapati masih ada mayat monster tadi yang dalam keadaan mengenaskan.
"Baiklah, ayo aku antar dulu kamu ke kamar mu, terima kasih sudah menjaga Tunangan saya tuan William."
Kata Light sambil tersenyum dan menekankan kata tunangannya.
"Itu sudah menjadi tugas saya Duke Light."
Mendengar jawaban William, Light hanya tersenyum tapi matanya memandang William dengan dingin.
Melihat kepergian mereka, William hanya berdiri diam dan meremas sapu tangan yang tadi dia gunakan untuk mengusap keringat Ellita dengan kuat.
Bersambung
dukung aku terus biar makin semangat nulisnya bye bye 🤗🤗