"Kenapa kamu selalu menolak aku Put? apa yang kurang dari aku? kalau memang ada, katakan! aku akan memperbaikinya," ujar Davian kepada Putri.
Ini sudah yang kesekian kalinya Davian menyatakan perasaan kepada Putri. Dan ini juga sudah menjadi yang kesekian kalinya Davian ditolak oleh Putri.
Putri menundukkan kepalanya.
"Kak Davian enggak kurang apa-apa, Kak Davian sempurna. Hanya saja, aku yang tidak pantas untuk Kak Davian," jawab Putri dengan suara lirih.
Lagi dan lagi, Putri kembali mengatakan sebuah omong kosong. Apa maksud Putri dengan gadis itu tidak pantas untuk dirinya? Davian tidak peduli, bagaimana pun caranya, dia akan menjadikan Putri sebagai pasangannya. Davian tidak akan menyerah begitu saja.
Sebenarnya apa yang membuat Putri selalu saja menolak Davian? apakah ada sebuah alasan yang menjadi penyebab Putri terus melakukan hal itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak percaya!
Sudah sejak 10 menit yang lalu sejak Putri berpamitan kepada Davian. Namun Davian masih tetap stay di cafe seorang diri. Tatapannya tertuju lurus kearah kursi yang tadi Putri duduki. Bahkan smoothies pesanan Putri pun masih tersisa setengah.
"Gue ditolak?" ucap Davian lirih.
Davian masih tidak menyangka kalau Putri menolak dirinya.
Flashback
Ini adalah momen saat dimana Putri menolak ajak berpacaran dari Davian.
"Tidak ada alasan, Kak. Aku hanya tidak bisa menerima Kak Davian menjadi pacar aku," jawab Putri.
Davian menatap Putri yang saat ini tampak terlihat tenang. Entahlah, Davian merasa tidak terima saja dengan penolakan yang Putri berikan. Baru kali ini Davian mendapatkan sebuah penolakan, dan rasanya sangat aneh. Davian bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang saat ini dia rasakan.
Davian berdehem pelan untuk menetralkan suaranya.
"Oke Put, aku paham kalau kita memang kenal belum lama. Dan sangat wajar kalau kamu tidak memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan saat ini. Tapi, apa kamu tidak mau mencoba dulu? kita bisa saling mengenal selama proses hubungan ini," ujar Davian.
Putri langsung menggelengkan kepala bahkan tanpa perlu berpikir terlebih dahulu.
"Enggak bisa, Kak," jawab Putri singkat.
Dan ini menjadi penolakan ke dua yang Davian dapatkan.
"Kenapa?" tanya Davian.
Tadi Putri yang terus menanyakan alasan kenapa Davian bisa jatuh cinta kepada dirinya. Dan sekarang kondisi itu berbanding terbalik karena Davian lah yang kini terus menanyakan alasan kenapa Putri tidak mau menjalin hubungan dengan dirinya.
"Ada sebuah alasan yang aku enggak bisa kasih tau Kak Davian. Tapi yang jelas, aku tidak mau menjalin hubungan sama Kak Davian lebih dari teman," jawab Putri masih tetap pada ketenangan dirinya.
Diam, Davian tidak bisa mengatakan apa-apa lagi setelah mendengar jawaban Putri. Meskipun didalam hati sebenarnya Davian ingin sekali memaksa Putri agar mau berpacaran dengan dirinya. Tidak, Davian tidak segila itu. Dan Davian juga tidak akan merendahkan dirinya dengan cara memohon-mohon untuk bisa berpacaran dengan Putri. Masih banyak perempuan diluar sana yang lebih baik dari Putri kan?
Jadi tolong diingat baik-baik kalau Davian tidak akan merendahkan dirinya hanya demi bisa menjalin hubungan dengan Putri!
"Udah enggak ada lagi yang mau Kak Davian bicarain kan? kalau udah enggak ada aku pamit pulang dulu. Udah sore juga soalnya," ujar Putri saat melihat Davian yang terdiam tanpa sepatah kata pun.
Davian menatap Putri datar.
"Silahkan kalau kamu mau pulang," jawab Davian dengan nada suara yang terdengar dingin.
Kalau sedang seperti ini, maka antara Davian dan Daven akan sangat sulit dibedakan. Karena selain wajahnya yang memang kembar, aura dingin mereka pun menjadi sama.
Jujur saja, mendengar suara Davian yang seperti ini membuat Putri merasa merinding. Entah kenapa tiba-tiba saja Putri jadi merasa takut kepada Davian. Karena memang aura Davian terasa dingin dan menakutkan. Putri bahkan bisa merasakan sebuah kemarahan dalam diri Davian meskipun saat ini laki-laki itu hanya diam seraya menatap dirinya.
"Terus Kak Davian pulangnya gimana? tadi Kak Davian cuma bawa motor aku aja kan? apa mending aku anter Kak Davian pulang dulu?" ujar Sandra.
Sandra jelas merasa tidak enak kepada Davian kalau harus meninggalkan laki-laki itu sendirian disini. Apalagi selama 3 hari kemarin Davian terus mengantar jemput dirinya.
"Tidak usah, aku bisa pulang naik taksi," jawab Davian tetap dengan nada suara yang terdengar dingin.
Mendengar itu, Putri menganggukkan kepala.
"Oo iya, soal biay--" belum selesai Putri berbicara, Davian sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Tidak usah, itu geratis," ujar Davian tanpa basa-basi, "Udahlah, kamu pulang saja, Put. Seperti yang kamu bilang tadi, ini udah sore. Nanti ibu kamu nyariin," tambah Davian.
Putri terdiam sejenak. Entahlah apa yang Putri rasakan saat ini setelah mendengar ucapan Davian. Yang jelas Putri agak terkejut mendengar ucapan dan juga nada bicara Davian.
"Ya udah kalau gitu aku pamit dulu, Kak,"
Davian menganggukkan kepala. Setelahnya Putri beranjak dari kursi dan berjalan keluar dari cafe.
Sepeninggalnya Putri, Davian tampak menghela nafas kasar lalu meneguk americano nya.
Flashback off
Putri baru saja sampai rumah. Terlihat suasana toko sepi, sepertinya Ibu Erna ada didalam rumah.
"Assalamu'alaikum," seperti biasa Putri mengucapkan salam saat masuk ke rumah.
"Wa'alaikumsalam," terdengar jawaban dari Ibu Erna.
Ibu Erna yang tadi sedang berada di dapur pun langsung keluar begitu mendengar suara salam Putri.
"Udah pulang, Put? sama Davian?" tanya Ibu Erna.
Mengingat 3 hari kemarin Della selalu pulang bersama dengan Davian, jadi Ibu Erna pikir kali ini pun begitu.
Putri meraih tangan Ibu Erna dan menciumnya.
"Enggak bu, aku sendiri. Motor nya udah beres soalnya. Tadi Kak Davian anter ke toko," jawab Putri.
"Ooo udah jadi motor nya. Alhamdulillah," ujar Ibu Erna seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya udah, klau gitu aku masuk kamar dulu ya, bu. Cepek, pengen rebahan sebentar," ujar Putri.
Padahal saat ini sudah jam 5 lebih. Dan sebenarnya Ibu Erna pun hendak meminta Putri untuk langsung mandi. Tapi melihat raut lelah diwajah Putri, Ibu Erna mengurungkan niatnya. Sepertinya Putri memang perlu mengistirahatkan tubuhnya sebentar.
"Ya udah, tapi sebelum maghrib langsung mandi ya. Ibu mau lanjut masak dulu," ujar Ibu Erna.
Putri menganggukkan kepalanya.
"Iya, nanti sebelum maghrib aku mandi," jawab Putri.
Setelah mengatakan itu Putri langsung masuk ke kamarnya.
Sementara Ibu Erna tampak menatap bingung kearah pintu kamar Putri yang baru saja ditutup. Entah kenapa Ibu Erna merasa ada yang aneh dengan Putri. Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Putri?
Putri membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Tatapan matanya tertuju lurus menatap plafon kamarnya yang berwarna putih bersih.
"Kak Davian jatuh cinta sama aku? bagaimana bisa? ini sungguh tidak masuk akal," gumam Putri dengan suara lirih.
Putri percaya, cinta itu memang ada. Tapi sejauh ini Putri memang belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Kalau untuk sekedar suka kepada seorang laki-laki, Putri pernah merasakannya. Tapi memang tidak pernah lebih dari sekedar suka.
Dan untuk cinta pada pandangan pertama, jujur saja Putri amat sangat tidak percaya. Tidak mungkin sekali ada seseorang yang jatuh cinta pada pertemuan pertama mereka.
Menurut Putri, apa yang Davian katakan tadi adalah sebuah kebohongan. Davian tidak benar-benar jatuh cinta kepada dirinya. Davian hanya tertarik karena penasaran. Putri tau bagaimana sikap laki-laki kaya raya seperti Davian. Tidak mungkin laki-laki nyaris sempurna seperti Davian jatuh cinta kepada perempuan seperti dirinya yang bahkan bisa dikatakan sangat berbeda dengan laki-laki itu. Ya, Putri sangat yakin kalau apa yang tadi Davian katakan adalah sebuah kebohongan.
Dan alasan kenapa Davian marah saat Putri tolak, pasti karena ego nya merasa tersentil. Putri sangat yakin kalau sebelumnya Davian pasti belum pernah merasakan sebuah penolakan dari seseorang yang dia inginkan.
Abis dri sblh lm gag up.tau" pindah kesini.Dan kini lom nongol lgi...
hrp jgn lama"liburny y thor...