Ujian rumah tangga tak selalu datang dari orang luar, namun terkadang datang dari orang-orang terdekat. Salah satunya adalah mertua. Begitu juga dengan kisah yang dialami oleh tokoh yang ada didalam kisah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tok tok tok
" Buuu boleh kami masuk? " ucap anita sembari menekan hendel pintu kamar wina yang spertinya tidak dikonci.
" Masuk nit! " jawab wina dari dalam kamarnya.
" Selamat siang eyang! " Seru anye dengan senyum termanisnya.
" Selamat siang, nit dia siapa? Seprtinya ibu pernah melihat tapi dimana yaa? " Ujar wina sembari mengitat siapa gerangan gadis cantik nan ayu yang kini berjalan menghampirinya bahkan anye sudah duduk dipinggiran ranjang wina.
" Eyang lupa siapa aku yang? " Ucap anye sembari menyalami wina dan wina menyambut uluran tangan anye namun otaknya masih brusha mengingat siapa anye.
" Cah ayu, kamu ini siapa? Eyang lupa, apa kamu teman anjaz yang dokteri itu, ane? Eh bukan, Ani? Eh bukan bukan, sbentar biar eyang ingat dulu siapa nama kamu. " Wina masih menggegam tangan anye dengan erat. Sementara anita tersenyum mlihat ibu mertuanya kini nampak lebih segar stelah kedatangan anye. Padahal anye sama sekali belum melakukan pemeriksaan. Ternyata energi positif dari anye membawa kebaikan untuk wina.
" Oh yaa eyang baru inget, kamu anye kan yang dulu kulitnya hitam manis? Sejak kapan kamu jadi putih dan nambah cantik begini? Eyang sampe pangling loh, anyee kamu beda banget sekarang. " mata wina nampak berbinar kala ia sudah berhasil mengingat siapa wanita cantik yang ada disebalahnya.
Terakhir wina bertemu dengan anye adalah saat anye baru memulai karirya sebagai seorang dokter, kulit dia dulu memang hitam manis, entah perawatan yang mahal atau memang karna anye bekrja ditempat yang slalu trtutup sekarang kulitnya putih bersih, membuat wajah gadis dengan tinggi 165 itu terlihat semakin cantik.
Sementara Anye tersenyum kala mendengar apa yang membuat wina tringat dengan dirinya.
" Yangti, yangti sakit apa yang? "Anjaz tiba-tiba masuk tanpa permisi.
" Anjaz kamu ini kebiasaan ya nda sopan! Kalau masuk kamar eyang ketuk pintu dulu anjaz! " Sungut anita saat melihat putranya sudah langsung naik diatas ranjang sang eyang.
" Eyang gapapa, eyang cuman kpikiran kamu aja! Coba kamu nurut sama eyang buat nikah, mungkin eyang gakan jatuh sakit. " Ucap wina dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
Keberadaan gina disitu sprti tak dianggap bahkan anye melupakan gina yang datang bersamanya. Entah kenapa gina tiba-tiba merasa berada ditempat yang tak seharusnya melihat kedekatan antara anye, anjaz dan wina. Bahkan baik anita ataupun anye sama sekali tak memprkenalkan gina pada wina.
Tanpa berbicara sapatah katapun gina berbalik badaan dan berjalan perlahan keluar dari kamar itu, sesaat gina merasa jika dia menyesal sudah ikut anye ketmpat anjaz. Namun gina cepat menyadari tak seharusnya dia brharap lebih, dia memang orang asing yang kebetulan mendapat belas kasihan dari keluarga mereka.
Sementara dikamar wina, anye mulai melakukan pemeriksaan didampingi anjaz dan anita. Tak ada satu orangpun diantara mereka yang menyadari jika gina keluar dari kamar tersebut.
Saat gina mulai menuruni tangga tiba-tiba gina dikejutkan dengan suara seseorang yang menyapanya.
" Naaak, bukankah kamu yang datang bersama doktr anye? " Seru seseorang dari arah samping yang ternyata adalah Wiryo wiratama.
" I-iya eyang! " Ucap gin lirih, smentara wiryo menghampiri gina dan mengulurkan tanganya untuk membantu gina.
Gina merasa enggan dan hendak menolak namun wiryo tetap meraih tangan gina dan membntunya berjalan me uruni tangga.
" Jangan sungkan nak, eyang hanya ingin membantu. Bukankah kamu sedang hamil saat ini? " Gina berhenti melangkah dan menatap wiryo dengan tatapan penuh tanya.
" Jangan menatap eyang seolah eyang sedang memergokimu mencuri! " Ujar wriyo sembari terkekeh. Mendengar jawabn wiryo gina kembali melanjutkan langkahnya.
" Eyang tau karna perut kamu buncit, tidak mungkin kan kamu ini kekenyangan makan atau kembung? "
Gina kembali menghntikan langkahnya dan tersenyum kearah wiryo dan wiryo pun membalas senyum gina. Stelah sampai dibawah wiryo mengajak gina untuk duduk ditaman belakng rumah. " Kamu kenapa keluar dari kamar eyangnya anjaz, apa kamu tidak nyaman atau mereka mengabaikanmu?
Wiryo seprti mengrti dengan semua yang terjadi dikamar istrinya.
" Tidak eyang, hanya saja aku gerah dan ingin keluar saja. Lagipula disanapun aku tidak bisa membantu apapun. " Kini gina mengalihkan pandanganya kearah bunga- bunga yang bermekaran disekliling taman tersebut.
" Berapa usia kandungan kamu nak dan dimana suamimu? " mendengar pertanyaan dari wiryo membuat gina menunduk, lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Tanpa terasa airmatanya menetes namun langsung gina hapus dan tanpa gina tau wiryo sudah melihat itu.
" Entah kenapa aku merasa anak ini memiliki luka hati yang bgitu dalam. " Gumam wiryo dalam hati, namun matanya pura-pura melihat kearah lain kendati sesekali wiryo mencuri pandang.
" Empat bulan eyang, hampir masuk bulan ke 5 jenis kelaminya laki-laki. " Jawab gina sembari mengusap perutnya.
Wiryo nampak mengangguk mendengr jawaban dari gina, wiryo bahkan mlihat mata gina yang berkaca-kaca saat menjawab prtanyaan wiryo.
Sementara didalam kamar wina kini anye sudah slesai melakukan pemeriksaannya.
Anye mendesah kala harus menyampaikan prihal kesetaan wina yang menurun.
" Kenapa nye, tante liat kamu begitu cemas? " tanya anita yang melihat wajah cemas anye.
" Begni tantee, tekanan darah eyang sangat tinggi 190/80 sedangkan gula darah eyang juga tinggi, asam lambung eyang juga naik. " jelas anye dengan wajah sedih.
" Ya Tuhan eyang, kenapa jadi begini sii! Eyang pasti tidak menjaga pola makan eyang dengan baik! " Ujar anjaz sembari menggenggam tangan yangtinya.
" Eyang akan sembuh jika kamu menikah, begini saja dari pada kamu mencari gadis yang belum pasti apa tidak sebaiknya kamu menikah dengan anye saja! " celetuk wina membuat mata anjaz membulat dengan sempurna sementara anye wajahnya memerah karna malu.
" Ibuu! " tegur anita merasa tidak enak dengan anye.
" Apa? Kenapa? Kamu tidak mau punya menantu anye? Dia seorang dokter yang sukses, dia cantik dia sudah jelas bibit, bobot dan bebetnya, bukan begitu anjaz! " Wina malah langsung menodong anjaz dengan pertanyaan demikian.
" Apaan si yang, anjaz dan anye itu hanya teman gak lebih. Iya kan nye? " kini anjaz menatap anye berharap anye menolak prjodohan itu.
Namun nyatanya wajah anye sektika trlihat sendu, entah apa yang membuat anye tiba-tiba murung.
" Tuuuh kan gara-gara ibu sii anye jadi murung. Tenang anye, tante sudah menganggap kamu seprti putri tante sendri, meskipun demikian tante tidak pernah mau memaksakan jika soal hati. Tentunya anye sudah memiliki calon, kamu dan anjaz kan sudah bersahabat sejak dulu! " mendengar ucapan anita jutsru membuat anye semakin murung.
Didasar hatinya anye sedikit kecewa mendengar ucapan anjaz dan anita. Entah sejak kapan anye memendam perasaan selain rasa sayang sebagai sahabat.
" Anyeee! " panggil anjaz dan anye langsung mendongak, menatap anjaz.
" Maaf, jika eyang sudah membuatmu tidak nyaman! " Ujar anjaz kemudian.
" I-iya njaz tidak apa-apa. Tante dan anjaz benar aku dan anjaz hanya sahabat tidak lebih. A-aku sudah punya calon eyang! " dusta anye.
Abang gak asik nih gak bisa diajak krjasama bohong.