Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Kepercayaan
Shita semakin ceria, selain kesehatan papanya yang semakin membaik, persahabatannya dengan Ara juga mulai membaik juga, sejak sore itu, Ara sering datang kerumahnya berkunjung.
"Hai Shita," sapa seorang wanita yang langsung menggandengnya.
"Hai! Kak Jane?!" Seru Shita.
"Kamu sangat bahagia kelihatannya," seru Jane.
"Iya kak, aku sangat bahagia, karena papa membaik, hubunganku dengan Ara juga kembali seperti dulu," seru Shita sangat antusias.
"Ta, hati-hati, aku takut Ara hanya berkamuflase saja, dia berbaikan denganmu hanya untuk menyakiti kamu," ucap Jane.
"Tidak mungkin kak, persahabatan kami terjalin sejak kecil, pasti selama ini dia sangat merindukanku," seru Shita.
"Terserah kamu saja, tapi jaga diri, jangan ikuti jejaknya, dia rela membiarkan dirinya jadi pemuas nafsu pria hidung belang, kamu jangan seperti itu ya Ta, kamu sangat berharga, jaga diri kamu." Seru Jane.
"Iya kak, terima kasih." Ucap Shita dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya.
"Ya sudah aku ke kelas duluan," seru Jane.
Shita mengangguk dan tersenyum. Dia juga segera berjalan menuju kelasnya.
***
Kebahagiaan kembali menyelimuti hati Shita. Hari ini dia mendapat penghargaan, karena memenangkan lomba antar fakultas yang di adakan kemaren. Saat perlombaan berlangsung, Shita di temani Sammy dan Ana, membuat semangatnya kian membara.
Bukan cuma menang, tapi Shita dan teamnya mendapat nilai yang tertinggi sepanjang perlombaan. Tentu membuat fakultas tempat Shita menempuh pendidikan sangat bangga. Mereka menyelenggarakan acara di Aula kampus. Semua mahasiswa dan mahasiswi juga para dosen dan dekan berkumpul di sana.
Shita bahagia, tentu Ara merasa tercekik jika melihat kebahagiaan Shita. Di Aula itu terpasang layar monitor besar, yang menayangkan berita televisi saat ini. Berita televisi tersebut memberitakan perlombaan antar fakultas yang di menangkan oleh Fakultas tempat Shita kuliah.
Saat selesai lomba, Shita berlari ke arah Sammy dan Ana, mereka bertiga berpelukan. Karena dia pemenang, maka sorot kamera terus mengikutinya saat itu dan kini di tayangkan dalam berita saat ini dan ditonton oleh semua orang yang ada di Aula itu.
Tepukan menggemuruh di Aula tersebut. Saat Shita di minta dosen untuk naik podhium, untuk menyemangati rekan yang lain juga memberi kata Sambutan. Shita segera naik ke podhium untuk memberi kata sambutan dan ungkapan terima kasihnya. Shita mengatur mik agar posisi mik itu tepat dengan mulutnya.
"Selamat siang semuanya," sapa Shita.
Salam Shita di jawab serentak oleh semua orang yang ada di Aula itu.
Ara sudah tidak tahan dengan yang dia lihat saat ini. Dia sangat-sangat tersiksa melihat kebahagiaan Shita. Namun terpaksa tetap bertahan di Aula tersebut karena permintaan Mark. Ara meraih ponselnya dan mengetikkan pesan yang akan dia kirim pada Mark.
[Apa kejutan yang kamu maksud? Kalau hanya pujian tentang Shita, sama saja kau mencekikku!]
Tidak lama masuk pesan balasan dari Mark ke ponsel Ara.
[Sabar beib, sebentar lagi.]
Ara kembali menyimpan ponselnya, dia mengumpulkan kembali sisa-sisa kesabarannya, agar bisa bertahan dengan semua yang terjadi saat ini. Di podhium sana, Shita tengah memberi kata Sambutan. Tiba-tiba berita di layar monitor besar itu berubah, beruta itu menayangkan penangkapan seorang koruptor.
Semua mata langsung memandang ke arah Shita. Karena di berita itu, papa Shita tengah di gelandang oleh petugas kepolisian atas tuduhan korupsi.
"Dia anak koruptor!" Teriak salah satu mahasiswa.
Ara langsung menahan senyumannya, kini dia faham apa yang Mark maksud. Senyum Ara kian mengambang. Melihat reaksi sebagian besar para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di Aula itu.
Shita terdiam, berusaha tegar, walau cacian dan hinaan terlontar dari mulut teman-teman kampusnya tertuju padanya.
"Shita anak koruptor!" Teriak salah satu mahasiswa yang lain lagi.
"Huuuw!" Serentak sebagian mahasiswa dan mahasiswi di sana melempari Shita dengan bermacam barang sampah yang bisa mereka lempar. Dari botol mineral dan gulungan kertas.
Shita berusaha menahan perasaannya yang hancur. Bukan karena hinaan anak koruptor, tapi dia membayangkan kesehatan papanya. Shita menarik nafasnya dalam dan menghembuskan perlahan. Dia mengulangi itu berkali-kali. Kini tangannya meraih mik dan melepaskan mik itu pada standnya.
"Saya anak koruptor?" Ucap Shita sambil berjalan ke arah kerumunan mahasiswa dan mahasiswi. Serentak mereka semua diam, tidak melempari Shita dengan sampah mereka lagi.
"Saat ini, saya hanya orang miskin, punya rumah kecil! Kuliah pun karena beasiswa yang saya dapat." Ucap Shita dengan lantang. Matanya menatap tajam kearah kerumunan teman-temannya.
"Saya sangat yakin! Papa saya dijebak! Dulunya, aku anak seorang Direktur utama Putra Group! Tapi tiba-tiba perusahaan itu bangkrut tanpa sebab dan alasan yang jelas! Apa iya papaku korupsi perusahaan sendiri? Aku yakin, dalang yang sama, bermain di balik ini semua," Teriak Shita begitu lantang.
"Sekarang! Papa aku di tangkap karena koropsi? Papaku bekerja di perusahaan itu baru beberap bulan, tiba-tiba dia mendapat posisi jabatan yang tinggi, aneh! Pegawai baru, dapat jabatan tinggi begitu kilat! Apa kalian tidak menyadari semua ini? Ini hanya permainan orang yang kuat! Aku yakin papaku di jebak!" Ucap Shita, dia berusaha menahan air matanya yang ingin keluar dari tadi.
"Kami hanya korban! Kalian juga ingin menghukum korban seperti kami!?" Teriak Shita.
Mendadak keadaan hening.
"Shita benar, Putra Group hanya korban. Ini statistik terakhir perkembangan perusahaan Sammy Putra, orang tua Shita." Jane datang sambil menayangkan statisktik perkembangan perusahan papa Shita sebelum bangkrut di layar besar itu dengan. Jane masih menekan remot proyektor, agar gambar yang dia sediakan bisa di lihat oleh semua mahasiswa dan para dosen.
"Perusahaan yang berkembang, namun bangkrut sekejap mata," seru Jane dengan santai. Jane berjalan ke arah Shita.
"Shita, kita tidak bisa membuat orang percaya pada kita, biar kita buktikan kalau ini hanya jebakan orang yang dendam dengan keluarga kamu!" Seru Jane.
"Terima kasih kak Jane, kaka memberiku hal yang paling beharga, yaitu … kepercayaan," Shita langsung memeluk Jane.
Melihat Jane dan Shita berpelukan, membuat sebagian yang melihat hal itu merasa bersalah, karena menghakimi Shita.
"Maafkan kami Shita, anak profesor seperti Jane saja percaya padamu, apa hak kami menyudutkanmu?"
"Maafkan kami Shita, andai kata benar papa kamu korupsi, tapi tidak seharusnya kami menghakimi kamu, yang salah bukan kamu." Seru salah satu mahasisiwi.
Beberapa mahasiswi dan mahasiswa bergantian bersalaman pada Shita. Mereka meminta maaf atas perbuatan barusan, juga memberikan ucapan selamat atas prestasi yang di raih oleh Shita.
Kebahagiaan dan kesenangan yang Ara rasa yang sesaat barusan, kini berubah kembali menjadi hawa panas yang membakar hatinya, karena harapannya agar semua orang membenci Shita gagal lagi, malah banyak orang yang simpati pada Shita. Tanpa buang waktu Ara langsung meninggalkan ruangan itu. Sambil berjalan dia mengetik pesan dan dia kirim pada Mark. Setelah mengirim pesan pada Mark, Ara mendapat pesan, balasan dari Mark, dia diminta datang ke suatu tempat.
***
Di kantor polisi, Sammy masih menjalani pemeriksaan, atas kasus yang menyeret namanya.
"Selamat siang komandan! Di luar pengacara dan istri tersangka ingin bertemu dengan tersangka," seru salah satu petugas kepolisian.
"10 menit lagi," jawab penyidik yang tengah memeriksa Sammy.
30 menit sudah Ana dan Wishu duduk di ruang tunggu menunggu Sammy, namun mereka belum juga bertemu Sammy.
"Pak Wishu, kenapa anda datang? Saya tidak akan mampu membayar anda pak." Sapa Sammy yang baru datang dikawal oleh dua orang polisi.
"Saya datang sebagai keluarga anda pak, biarkan keluarga ini menjalankan tugasnya." Seru Wishu.
Sammy segera duduk di tempat duduk, dia duduk berdekatan dengan Ana. Ana terus memegang tangan Sammy yang masih di borgol. Sedang Wishu duduk di kursi yang berseberangan dengan Sammy dan Ana.
"Papaaa." Ringis Ana.
"Mama harus kuat dan tegar, kasian Shita kalau kita lemah dan memperlihatkan kesedihan kita," seru Sammy.
Ana hanya mengangguk, namun air mata terlepas begitu saja dari matanya.
"Semua rencana ini tersusun sangat matang pak, hingga saya tidak menemukan celah, kalau pak Sammy di jebak," ucap Wishu.
"Sepertinya, aku harus menikmati masa tuaku di sini," seru Sammy.
"Jangan patah semangat pak, saya akan kerahkan kemampuan saya untuk membantu pak Sammy, walau itu tidak mudah," ucap Wishu lirih.
"Aku pasti semangat, walau harus selamanya mendekam di sini, semangatku hadir karena Shita." Ucap Sammy.
***
Sedang Shita duduk termenung di bawah pohon rindang yang ada di taman kampusnya. Pikirannya melayang kemana-mana. Dia sangat takut serangan jantung papanya kumat lagi.
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark