Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Tepat pukul sembilan malam, raungan mesin mobil sport milik Dominic memecah keheningan malam di halaman depan. Sorot lampu mobilnya menyapu gerbang besar yang langsung dibuka lebar oleh para pengawal yang berjaga. Beberapa pasang mata berjas hitam langsung membungkuk hormat saat mobil itu berhenti sempurna di lobi utama.
Dominic keluar dari mobil, menyerahkan kunci pada salah satu pengawal tanpa berkata apa-apa. Aura dingin, tegas, dan melelahkan dari markas bawah tanah masih tertinggal di pundaknya. Ia melonggarkan sedikit dasinya yang terasa mencekik, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Langkah kakinya yang berat bergaung di atas lantai marmer lobi yang sepi. Kepala pelayan segera menyambutnya dengan takzim. "Selamat datang kembali, Tuan Dominic."
"Di mana Istriku dan Damian?" tanya Dominic, suaranya terdengar berat dan lelah.
"Tuan Muda Damian sudah berada di kamarnya sejak pelajaran selesai sore tadi, Tuan. Dan Nyonya Isabella ada di kamar utama, tadi sempat meminum teh yang dibawakan oleh Tuan Muda," jawab kepala pelayan dengan sopan.
Dominic hanya mengangguk samar. Ia mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar pelayan itu mundur. Alih-alih langsung menuju ruang kerjanya untuk memikirkan taktik penyerbuan pelabuhan dua hari lagi, langkah kaki Dominic justru membawanya menaiki tangga menuju lantai dua.
Ada kerinduan yang mendesak di dadanya. Di luar sana ia adalah monster bagi musuh-musuhnya, namun di rumah ini, ia hanyalah seorang pria yang ingin memastikan keluarganya aman.
Sebelum menuju kamar utama, Dominic sempat berhenti di depan pintu kamar Damian. Ia berdiri diam selama beberapa detik, menatap celah di bawah pintu yang masih memancarkan cahaya lampu. Dominic tahu putranya itu anak yang cerdas dan penurut, namun ia juga tahu darah Salvatore yang mengalir di tubuh Damian memiliki rasa ingin tahu yang besar.
"Maafkan Ayah, Son. Ini demi kebaikanmu," batin Dominic dalam hati sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju kamar utamanya. Dimana istrinya berada.
Begitu pintu kamar utama yang megah itu terbuka, aroma terapi lavender yang menenangkan langsung menyapa indra penciumannya. Di atas ranjang besar, Isabella tampak sedang bersandar pada tumpukan bantal dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya.
Seketika Isabella langsung menoleh ke suaminya.
"Kamu sudah pulang," ucap Isabella dengan suara yang begitu lembut.
Dominic tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung berjalan cepat mendekati ranjang, mengabaikan jas kerjanya yang kini ia lempar dengan sembarangan ke atas sofa. Dominic duduk di tepi ranjang, lalu sedetik kemudian ia membawa tubuh Isabella ke dalam pelukannya yang erat.
Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi obat penenang paling ampuh bagi jiwanya yang lelah.
Isabella tersenyum tipis, kedua tangannya bergerak bebas membalas pelukan hangat suaminya. Ia mengusap punggung lebar Dominic dengan lembut. "Hari yang berat?"
Isabella akan bersikap lembut dengan Dominic. Apalagi sekarang dirinya juga sudah menjadi Nyonya Salvatore.
"Sangat berat, Sayang," bisik Dominic, suaranya terdengar sangat rendah dan manja—sisi yang tidak akan pernah ia perlihatkan pada siapa pun di dunia ini selain pada Isabella istrinya.
"Mmm..Dom, tadi Damian bercerita tentang Antonio. Dia menanyakan siapa Antonio." Ragu sebenarnya Isabella ingin mengatakan ini. Tapi ia rasa sangat perlu juga.
Dominic langsung menatap istrinya.
"Lalu apa yang kamu jawab sayang?" Isabella memang tidak tahu siapa dalang penyerangan kemarin.
"Aku tidak menjawab nya, tapi aku mengalihkan pembicaraan."
Dominic akhirnya bersandar setelah mendengar cerita istrinya.
"Tenang saja, Damian sudah tahu siapa Antonio sayang. Kemarin aku sudah memberitahu putra kita." Jawab Dominic. Ia lalu mengaitkan tangannya dengan tangan Isabella.
Dominic senang jika istrinya bercerita seperti ini.
"Lalu kenapa Damian bertanya seperti itu kepada ku?" Heran Isabella bertanya tanya.
"Entah sayang, kamu tahu kan kalau putra kita begitu cerdas"
"Tapi apa masalah kemarin penyebab nya Daddy mertua Dom? aku hanya menyimpulkan nya." tanya Isabella lagi dengan ragu.
"Iya, sayang. Dia" Dominic tidak mau menutup- tutupi apapun dari istrinya.
"Ini lah yang ku takutkan Dom. Kamu tahu seberapa gila nya orang tua kamu yang begitu membenci ku"
"Sayang, aku mengerti. Kalian akan baik-baik saja. Percayalah kepada ku" Dominic menatap istrinya dengan penuh kepercayaan.
Begitu pula dengan Isabella yang menatap mata Dominic.
"Baiklah...Dom. Maafkan aku"
"Seharusnya aku yang minta maaf sayang. Tapi sungguh, aku sangat mencintai kalian." Ucap Dominic dengan tulus. Dominic memeluk erat tubuh istrinya.
Tapi sesuatu membangkitkan gairah nya. Aroma tubuh istrinya yang wangi benar-benar membuat nya tidak tahan.
Nafas nya mulai memburu. Apalagi Isabella yang suka rela membaik seperti ini. Otak pikiran kotor nya langsung bekerja dengan baik.
Isabella menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dominic, menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur dengan wangi sabun khas yang selalu menenangkannya. "Aku tahu, Dom. Aku tahu kamu melakukan semua ini demi kita, Terutama aku dan Damian." bisiknya lirih.
Aroma manis lavender yang menguar dari kulit leher Isabella, berpadu dengan kehangatan tubuh istrinya yang begitu dekat, seketika memicu sesuatu yang lain di dalam diri Dominic. Rasa lelah yang mendera akibat urusan markas dan masalah Antonio seolah menguap begitu saja, digantikan oleh letupan gairah yang mendadak membakar dadanya.
Semesum ini memang pikiran nya kalau menyangkut dengan Isabella.
Dengan sikap istrinya yang malam ini begitu lembut dan menerima kehadirannya tanpa jarak, membuat pikiran Dominic langsung terdistraksi sepenuhnya dari urusan bisnis.
Dominic melonggarkan sedikit pelukannya, bukan untuk menjauh, melainkan untuk menatap wajah istrinya dari dekat. Sepasang mata elangnya yang tadi meredup karena lelah, kini tampak menggelap, dipenuhi oleh binar gairah yang tertahan.
"Sayang..." suara Dominic terdengar jauh lebih berat dan serak dari biasanya.
Jari-jemari Dominic yang kokoh bergerak perlahan, menyelipkan beberapa helai rambut Isabella ke belakang telinga, lalu turun mengusap rahang lembut istrinya dengan ibu jari.
Pandangannya turun menyapu bibir Isabella, lalu kembali mengunci sepasang mata wanita itu.
Isabella yang menyadari perubahan atmosfer di antara mereka, serta merta merasakan embusan napas Dominic yang memanas di permukaan kulit wajahnya. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena ia tahu persis arti dari tatapan mata suaminya saat ini.
"Dominic?" panggil Isabella pelan, suaranya nyaris berupa bisikan yang tertahan di tenggorokan.
"Sayang aku merindukan mu" Kini Dominic sudah berada di leher istrinya. Mengecupnya dengan lembut. Membuat Isabella merasa geli tapi enak.
Padahal dirinya masih belum berjalan dengan baik. Apa kabarnya kalau Dominic meminta hak nya lagi malam ini?
"Aku mau kamu" bisik Dominic dengan lirih