Putri Balqis yang biasa di panggil Balqis adalah gadis muda yang hidup sebatang kara.Gadis cantik dan lemah lembut yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya karena ia hidup di besarkan oleh seorang nenek yang menemukannya saat bayi. Hingga akhirnya ia hidup seorang diri setelah sang nenek meninggal.
Muhammad Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Baim adalah seorang pemuda yang memilih hidup di jalan daripada di rumah. Meninggalnya sang ibu dan merasa ayahnya lebih sayang pada sang kakak membuatnya menjadi pemuda pemberontak yang tidak mau di atur hingga ia memilih menjadi bagian dari geng motor.
Baim jatuh cinta pada Balqis yang telah menolongnya dari pengeroyokan yang menimpanya.
Bagaimana kehidupan keduanya selanjutnya setelah pertemuan hari itu?
Happy Reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUB 25 Berkunjung
Balqis Untuk Baim (25)
Baim dan Balqis pun melihat ke sumber suara. Di mana ada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang berjalan ke arah mereka. Terlihat jelas bahwa yang perempuan sedang hamil besar.
Baim merubah ekspresi wajahnya menjadi datar saat melihat orang itu. Sementara Balqis memasang senyum manisnya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
"Siapa yang sakit?," tany Ilham perhatian.
" I..."
"Tidak ada."Baim memotong perkataan Balqis.
"Syukurlah kalau begitu. Bisa kita bicara sebentar? Tapi, setelah aku dan istriku memeriksakan kandungannya?"
Ilham sangat berharap bisa memperbaiki hubungan mereka.
"Atau kalau kalian bersedia, mampirlah ke rumah kami. kita makan siang bersama," ajak perempuan yang sedang mengandung itu.
"Baiklah. Kami akan menunggu di depan. Kami ingin membeli sesuatu dulu." jawab Balqis ramah. Ia langsung menjawab sebelum suaminya mendahuluinya.
Baim melihat ke arah istrinya. Ia merasa tidak senang. Namun, Balqis mencoba untuk acuh.
"Kenapa menerima ajakan mereka?," tanya Baim saat Balqis sedang menikmati rujak buah yang ada tadi ia beli.
"Apa salahnya, Bang?," tanya Balqis sambil melihat ke arah suaminya. "Abang janji akan berdamai dengan masa lalu dan memperbaiki hubungan kalian." Balqis mengingatkan Baim akan janjinya.
Baim diam. Dia ingat pernah berjanji seperti itu.
"Ayolah, Bang. Kalau mereka benar tinggal di kota ini, aku jadi ada teman di kota ini. Ada yang bisa aku kunjungi. Apalagi saudara suamiku sendiri.Aku juga kan bosan, Bang kalau hanya diam di ruko." Balqis mengeluarkan unek-uneknya.
"Maaf. Baiklah aku ikuti apapun kemauan mu, sayang." Baim tersenyum sambil mengusap kepala istrinya.
Baim kembali berusaha menekan egonya.
"Terimakasih." Ucap Balqis tersenyum.
"Kenapa makannya berantakan." Baim mengusap sudut bibir Balqis yang ada bumbu rujaknya.
Balqis pun melanjutkan makannya dan Baim hanya memperhatikan saja.
"Maaf lama." Ilham dan istrinya menghampiri Baim dan Balqis.
"Iya,tidak apa-apa, kak."
"Ayo pergi sekarang." Ajak Laras, istri Ilham.
"Kita nanti ngikutin kakak dari belakang saja. Soalnya bawa mobil sendiri." jelas Balqis.
"Baiklah kalau begitu."
Keduanya pun naik ke mobil masing-masing. Mobil yang Baim kendarai mengikuti mobil Ilham yang berjalan lebih dahulu.
"Ayo duduklah dulu." Ilham mempersilahkan Baim dan Balqis duduk. "Kami tinggal dulu sebentar," Laras dan Ilham pergi ke kamarnya terlebih dahulu. Rasa gerah membuat Laras ingin mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Tidak lama kemudian seorang pelayan mengantarkan minuman saat Balqis mengamati foto keluarga yang ada disana.
"Itu papa" Ucap Baim yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Balqis.
"Benarkah? Dia tidak mirip denganmu." Ucap Balqis.
"Aku lebih mirip Mamaku."jawab Baim. "Ayo duduk. Kamu tidak boleh terlalu lama berdiri."
Baim menarik pelan Balqis agar kembali duduk.
"Apa kak Laras itu orang yang kamu cintai?," Balqis ingin menanyakan itu nanti di rumah. Tapi, rasanya ia sangat penasaran. Apalagi suaminya bersikap acuh pada Laras juga tidak ada tatapan cinta ataupun benci.
Balqis rupanya lupa jika Ilham pernah mengatakan bahwa dia tidak jadi menikah dengan orang yang di suka Baim.
"Bukan. Tapi, dia kakaknya. Aku tidak tahu kenapa Kak Ilham malah menikahi kakaknya. Entah apa yang sudah terjadi." jelas Baim.
"Kalau begitu, apa perempuan itu ada di foto keluarga yang disana!" tunjuk Laras pada salah satu bingkai berisi foto keluarga namun tanpa ada ayah mertuanya.
Baim melihat ke arah foto yang di maksud. Disana ada foto Angela, wanita yang dulu ia sukai. Namun, saat ini ia tidak merasakan debaran apapun. Ia biasa saja.
"Ya, perempuan yang menggendong bayi itu adalah Angela, adik kak Laras."
"Apa dia menikah lebih dulu dari Kak Laras ?," tanya Balqis terkejut.
"Mungkin." jawab Baim singkat. "Sudahlah jangan bicarakan mereka lagi. Aku tidak suka."
"Maaf." Balqis merangkul lengan Baim dan menyandarkan kepalanya di Bahu Baim.
Dari kejauhan, Ilham menatap keduanya dengan sendu. Namun, ia merasa senang setidaknya adiknya baik-baik saja saat ini. Bahkan ia sudah menikah dengan perempuan yang sepertinya adalah perempuan baik-baik pula.
"Apa tidak apa-apa jika aku mengatakannya sekarang?," tanya Ilham pada Laras yang ada di sampingnya.
"Lebih baik jangan. Kalau aku jadi Baim, aku pasti tidak akan mau mendengarkan. Lebih baik buat hubungan kalian membaik dulu." Laras mengusap pundak suaminya.
Ilham pun mengangguk. Ia berharap keluarganya bisa utuh dan tidak tercerai berai seperti sekarang.
"Maaf lama menunggu, ayo kita ke meja makan." Ajak Laras.
"Ayo sayang!," Baim mengulurkan tangannya pada Balqis dan mengikuti langkah kakak iparnya ke meja makan.
"Silahkan di nikmati." Laras tersenyum kepada semuanya. Ia lalumelayani suaminya.
Balqis pun melakukan hal yang sama.
"Jangan banyak-banyak sambalnya. Kurangi makanan pedas ya." Ucap Baim lembut.
"Kalau sambalnya sedikit, kurang nikmat, Bang," keluh Balqis.
"Kamu sedang hamil. Kurangi makanan pedas,ya?"
Balqis pun akhirnya pasrah saat Baim mengambil sambal dari piringnya dan memindahkan ke piring Baim.
"Kamu sedang hamil?," tanya Laras terkejut.
"Iya, kak .." Balqis diam ia lupa ama kakak iparnya itu. Padahal, tadi Baim sudah menyebutkan namanya.
"Oh iya, saking antusiasnya bertemu jadi lupa mengenalkan diri. Saya Laras, istri kak Ilham."
"Iya, kak Laras."
"Berapa usia kandungannya?," Ilham menimpali.
" Alhamdulillah, delapan Minggu. Kak Laras sendiri sudah berapa bulan? sepertinya sudah besar."
"Aku sudah jalan 9 bulan. Sudah mendekati HPL." Laras selalu antusias ketika ada yang membahas kehamilannya.
"Benarkah?," Balqis tidak percaya.
"Iya."
"Sayang, habiskan dulu makananmu. Setelah itu, baru ngobrol lagi. Kak Laras juga harus makan dulu, kan." Baim mengingatkan Balqis yang sepertinya antusias dan ingin bertanya lagi kepada Laras.
"Baik. Maaf kak, aku malah mengajak kakak ngobrol."
"Tidak apa-apa. Nanti kita lanjutkan obrolan kita setelah makan." Laras tersenyum. Ia senang bertemu Balqis.
Mereka pun melanjutkan makan siangnya.
"Ayo ke taman, disana banyak bunga yang indah. Kita lanjutkan obrolan kita." Ajak Laras.
"Bang, bolehkan?," Balqis meminta izin.
Baim sebenarnya ingin segera pulang. Namun, melihat betapa senangnya Balqis saat ini, ia pun mengangguk memperbolehkannya.
Keduanya meninggalkan Baim dan Ilham di meja makan.
"Aku ke depan saja, kak." Baim pergi meninggalkan meja makan. Inginnya mengikuti Balqis. Tapi, ia juga tidak ingin mengganggu kesenangan sang istri yang sedang bersama kakak iparnya.
"Kamu tidak ingin bertanya kenapa aku menikahi Laras?," tanya Ilham pada Baim yang sibuk dengan ponselnya. Baim sedang duduk di kursi yang ada di teras.
"Tidak. Itu urusan kakak."jawab Baim acuh.
Ilham duduk di kursi yang hanya di pisahkan meja kecil dengan kursi yang di duduki Baim.
"Angel ketahuan sudah hamil oleh orang lain sehari sebelum kami menikah. Karena, tidak ingin menanggung malu, ayah mertuaku meminta Laras menggantikan Angel untuk menikah denganku." Ilham tetap menjelaskan sekalipun Baim seolah enggan untuk mengetahuinya.
Baim terkejut. Angel hamil oleh orang lain? . Batin Baim.
" Seperti kamu, aku dan semuanya terkejut. Apalagi usia kandungannya sudah berusia dua bulan. Namun, ia tetap bungkam karena ingin menikah denganku. Kalau saja dia tidak tiba-tiba pingsan, kami tidak akan tahu kondisi Angel."
Baim diam tidak menanggapi.
"Dia mendekatimu juga hanya untuk memanfaatkanmu."
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰...