NovelToon NovelToon
Terlalu Goblok Mencinta

Terlalu Goblok Mencinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Artikasari

Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?

Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Mau bagaimana lagi? Keputusan ini terpaksa aku penuhi. Iklima sudah tak mempercayaiku lagi. Lagi pula, mungkin inilah yang terbaik untuk kami. Tak ingin kuungkit kekurangan ataupun celanya selama ini. Karena aku juga tidak lepas dari kekurangan diri. Hanya saja, aku kembalikan semuanya kepada takdir Sang Maha Pemberi.

Dia yang mendatangkan Iklima ke dalam hidupku. Maka dari itu, aku tidak akan pernah menyesali pernikahan itu. Bagaimana pun perasaan itu memang tidak pernah mangkir dari kalbuku. Jadi, wajar saja jika mantan istriku merasa cemburu.

Seapik apa pun aku menyembunyikan hal itu, mau tidak mau aku juga harus siap dengan konsekuensinya. Lagi pula di hatiku hanya ada Anis semata, dan tidak akan pernah ada gantinya. Hanya saja, selama ini aku berusaha untuk menerima takdir dengan segala resikonya.

Baiklah!

Habis sudah cerita tentang Iklima. Kini aku hanya memfokuskan diriku pada pekerjaan dan hal-hal yang bisa mengobati bekas luka. Walaupun perasaanku terhadap Iklima tidak begitu besar, namun tetap saja efeknya masih terasa.

Didi, Dini, dan Melly yang sudah memahami kondisiku saat ini, selalu berusaha untuk menghiburku. Sebenarnya aku tak segalau itu, hanya saja mereka ingin menunjukkan bahwa mereka selalu ada untukku.

Beruntungnya aku!

Bisa memiliki para sahabat seperti mereka, yang selalu ada di saat nasib buruk menimpa. Bukan hanya menemaniku di saat senang saja, tetapi mereka bisa membuktikan bahwa hubungan pertemanan yang tulus, bisa menciptakan ikatan saudara.

***

Satu bulan kemudian, Didi memutuskan untuk menikahi Dini. Tentu saja aku sangat senang mendengar berita ini. Mereka memang merupakan pasangan yang sangat klop sekali. Walaupun Dini suka tersulut emosi, namun Didi selalu sigap sebagai pengontrol diri.

Hari ini, tepat pada hari minggu, keduanya sudah sah mengucap janji suci. Melly yang sedang duduk di sampingku tampak sedikit kelabu karena terbawa suasana hati.

"Kamu kenapa, Dek?" tanyaku sembari menoleh ke arahnya.

"Gak papa, Kak." Dia mencoba menepis jiwa jomblo yang meronta-ronta di dalam sana.

Aku terkekeh geli melihatnya. Kasian sekali dia. Belum menemukan sosok yang bisa menambat kokoh relung hatinya. Mungkin ada, tapi aku tidak mengetahuinya, karena ia tidak pernah bercerita.

"Udah, gak usah sedih gitu, ntar juga nyampe kok giliran kamu."

"Ah, kakak sok tahu."

Ia mencebikkan bibirnya. Tidak terima dengan perkataanku. Atau mungkin ia sedang menarik perhatianku?

Ah, dasar aku!

Ketika kami sedang bergurau menikmati pemandangan dua pasang insan yang sedang tertawa girang di pelaminan, samar-samar kudengar suara wanita yang tidak asing lagi di indera pendengaran.

DEG

Benarkah itu dia?

Bahkan jantungku saja sudah mulai berdegup kencang. Bagaimana jika itu memang dirinya yang aku sayang? Bisa-bisa saat ini juga aku tidak sanggup menahan perasaan girang. Melly yang menyadari ketertegunanku, lantas memutar arah tubuhnya dan melihat seseorang yang ada di belakang.

Sepersekian detik kemudian, ia berbalik lagi ke arah semula, lalu menatapku dengan kepala mengangguk ria.

Nah, benar yang aku duga. Anis memang sedang berada di sana. Cepat-cepat aku berdiri, lalu diikuti oleh Melly dengan wajah penuh tanya. "Kakak mau kemana?"

Aku menghela napas sejenak, sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. "Apakah dia bersama suaminya?"

Pandangan Melly kembali mengekori kondisi di sekitar, kalau-kalau ia melihat keberadaan Abdi di sana. "Gak ada, Kak. Sepertinya Kak Anis cuma datang sendirian."

Kulangkahkan kakiku ke arah depan dan meminta Melly untuk tidak mengikutiku. Anis yang mungkin menyadari hal itu, lalu segera menyerukan namaku, "HERU ...!"

***

Tanpa memperdulikan seruan Anis, aku terus berjalan maju. Karena aku tak ingin mengundang banyak perhatian dari para kerabatnya maupun para tamu. Sementara Melly yang melihat situasi itu, mungkin hanya bisa termangu.

Kutambah kecepatan agar aku bisa segera keluar dari keramaian. Kukira Anis tak lagi mengekoriku yang sudah terlebih dahulu sampai di lahan parkiran. Namun, ternyata aku salah perkiraan, ia bahkan bisa menyusulku lebih cepat dari yang aku bayangkan.

"Kenapa kamu menghindariku?" tanyanya dalam embusan napas memburu, sepertinya ia telah berlari untuk sampai di dekatku.

"Aku gak menghindar, kok. Cuman tadi ...." Kalimatku tercekat. Jujur, aku tidak pernah bisa berbohong pada wanita satu ini, walaupun dalam keadaan darurat.

Anis tampak masih mengondisikan napasnya sebelum ia kembali berkata, "Kamu apa kabar? Aku dengar kamu udah nikah." Ia memulai percakapan seperti biasanya.

"Aku baik-baik aja, kamu gimana? Ya, aku pernah menikah," jawabku dengan senyuman canggung di sekujur wajah. Anis yang mengerti dengan kalimat itu sontak mengubah mimik wajahnya menjadi tak lagi sumringah.

"Mak-maksud kamu? Kalian udah pisah?" Anis memasang wajah tidak percaya. Bisa kulihat ia membekap mulut dengan kedua tangannya setelah aku mengangguk tegas sebagai konfirmasinya.

"Bagaimana bisa?" Ia lantas mendesakku. Kali ini wajahnya tampak serius dan melukiskan bahwa ia sangat tidak setuju akan keputusan itu.

"Sudahlah, mungkin karena kami memang tak lagi berjodoh."

Samar-samar kulihat ada cairan bening yang mengitari kedua bola matanya. Bisa kusimpulkan bahwa ia menyayangkan takdir pahit yang sedang menimpa kesayangannya.

Bagaimana aku bisa berpikiran demikian?

Karena selama ini, Anislah satu-satunya wanita yang paling mengerti dan peduli kepadaku setelah ummi. Belum pernah kutemukan bentuk perhatian besar yang dimandikan Anis padaku, terdapat pada sosok wanita lain di dunia ini. Bahkan pada istriku sendiri. Maksudnya ... mantan istri.

Kutatap wajahnya lamat-lamat, sebelum akhirnya ia menghambur memelukku dengan erat. Mungkin karena terbawa suasana, sehingga ia melupakan bahwa kami berdua sedang berada di tempat yang dipenuhi para kerabat.

Kerabatnya, pastinya!

Kubiarkan ia memelukku sesaat, sebelum akhirnya kukikis jarak di antara kami agar aku bisa kembali memandangnya. "Gak usah sedih gitu, aku baik-baik aja kok," tuturku untuk menenangkannya. Aku tahu bahwa ia merasa kasihan padaku yang pastinya masih merasakan perihnya luka. Luka setelah ditinggal menikah olehnya, disambung lagi dengan luka karena kepergian Iklima.

"Udahlah, aku udah ngelupain dia," lanjutku karena ia tidak berhenti terisak pilu.

"Tapi ... aku kasian sama kamu, Ru. Sekarang kamu harus sendiri lagi tanpa adanya seorang istri yang bisa mendampingi hari-harimu," ucapnya sembari tertunduk, menyembunyikan wajah sedihnya yang benar-benar menyentuh relung jiwaku.

Ternyata ia masih sepeduli itu, kicauku di dalam hati. Aku terus menatapnya dalam diam, mencoba menyalurkan kerinduan yang sudah lama terpendam di dalam hati.

Anis yang mulai menyadari hal itu, sontak menyeka air pilunya, lalu berkata, "Maaf ... maaf karena tadi aku udah lancang meluk kamu. Aku gak ada maksud apa-apa."

Aku tersenyum menanggapinya, yang kini terlihat malu-malu seperti gadis yang masih duduk di bangku SMA.

"Santai ... kayak gak pernah meluk aku aja," kelakarku yang membuat ia kembali tertawa. Senang sekali rasanya bisa melihat senyuman manisnya. Senyuman yang sudah lama tak tampak di pelupuk mata.

"Mas Abdi gak ikut pulang?" tanyaku yang berusaha memutar topik pembicaraan.

"Gak bisa, dia sibuk sama tugasnya," jawabnya seraya tersenyum getir.

Aku sontak mengerutkan dahi, mencurigai masalah yang sedang tersembunyi. Pastinya ... masalah antara dirinya dan Abdi.

1
Han
Aku mampir ya kak
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Ruaaarrr biassyaaahhh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!