Natasha delapan belas tahun yang mengalami time travel. Gadis yatim-piatu itu jatuh dari ketinggian dan terhempas ke tubuh seorang putri raja yang diperundung. mampukan Natasha menjalani hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN IBLIS 2
Makhluk hitam merangkak cepat. Tubuh mereka kurus-kurus, mata mereka bulat dan berwarna putih, mulut mereka terbuka dengan rongga hitam.
"Nguuuk! Nguuuk!"
Bunyi mereka memekakkan telinga. Suasana mendadak gelap dengan banyaknya burung gagak terbang menutup cahaya bulan.
"Kuuuk ... kuuuk ... kuuuk!" bunyi beberapa burung seperti terpekur dalam sangkarnya.
"Sayang ... malam ini kenapa mencekam sekali?" sepasang suami istri menatap jendela. Sang suami segera menutup tirai dan membawa masuk istrinya setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci.
Sementara di istana Loudan semua sibuk. Beberapa bangsawan mulai menyusun beberapa prajurit untuk membuat genteng. Munculnya iblis dari bukit Bronx muncul sudah terdengar terlebih banyaknya burung gagak terbang rendah.
"Bagaimana dengan King Abraham?" tanya Duke Howie.
"Yang Mulia masih menenangkan diri Duke!" jawab Duke Weinstein.
"Duke istana Hampers diserang beberapa ilmu hitam!" lapor panglima perang.
"Kita kirim beberapa penyihir untuk membantu!" titah Bowie.
"Baik Duke!" ujar panglima perang bergelar Marquez.
"Duke Weinstein! Jaga bagian barat, minta Duke Lorn menjaga wilayah timur dan Duke West di wilayah selatan!' titahnya.
"Baik Duke!" ujar Duke Weinstein membungkuk hormat.
"Lockost Petrounum!"
Kabut warna putih keluar dari tangan Bowie. Pria itu mengerahkan setengah kekuatannya untuk melindungi seluruh istana agar tak dilihat oleh iblis.
Sementara di dataran tinggi. Beberapa pasukan iblis dengan berbagai bentuk sudah bersiap. Satu monster berkepala seperti kuda namun memiliki taring. Prajurit-prajurit iblis itu memakai jubah besi.
"Atracaka!" seru iblis itu mengayun tangannya.
"Woooaaaa!" seru prajurit-prajurit menyerang.
Bunyinya deru kaki kuda terdengar menggidikkan. Semua hewan bersembunyi di sarang mereka.
Beberapa sinar laser memusnahkan beberapa pasukan iblis.
Blarrr! Cetar! Beberapa iblis hancur dan meledak jadi debu.
"Double power!" seru panglima iblis.
Mereka memaksa memasuki lapisan pertama pertahanan dari kerajaan Hampers.
"Hoooaaaa!" seluruh pasukan hancur jadi debu.
Makin lama bukan makin berkurang tetapi malah bertambah. Perlahan lapisan pertama hancur akibat serangan bertubi-tubi dari pasukan iblis yang menyerang.
"Natasha ... we're coming!" seru panglima iblis mengacungkan aritnya.
Natasha yang tengah tertidur tiba-tiba terbangun. Ia merasakan sesuatu. Sebuah tangan dengan pisau kecil hendak menghunus tubuhnya.
"Lostremous!" seru Natasha membuat penusuk itu terpental.
"Huaaaa!" pekik maid yang hendak membunuh ratu.
Beberapa prajurit terkejut termasuk Hazard. Mereka tidak menyangka jika ada pengkhianat dari dalam istana.
"Tangkap dan pancung dia!" teriak Marquez Federik.
Maid itu berteriak, ia mengumpat dan menyumpahi Natasha dengan kata-kata buruk.
"Bawa semua maid dan periksa mereka!" titah Hazard lagi.
Natasha bangkit, tapi kepalanya pusing. Hazard menahannya.
"Bawa makanan untuk My Queen!" perintahnya.
"Baik Duke!" Federik sendiri yang akan mengambilkan makanan itu.
"Makanlah dulu My Queen!" pinta Hazard meletakkan makanan di meja kecil.
Natasha kurang berselera. Wanita itu hanya menyuap beberapa lalu ia menolak untuk makan.
"My Queen harus menghabiskan makanan itu!" perintah Hazard tegas.
"Tapi Duke!" Natasha merengek.
"My Queen, jujur kerajaan kita tengah diserang pasukan iblis. King Abraham juga sedang berjuang melawan mereka di kerajaannya!" lanjut Hazard.
"Apa?"
"Makanlah Yang Mulia, kau terlalu lemah jika harus memimpin pasukan!" ujar Federik tegas.
"Tapi ...."
"Natasha! Bisakah kau tidak keras kepala saat ini!' bentak Hazard.
Natasha menunduk, ia seperti dimarahi ayahnya sendiri. Wanita itu akhirnya menghabiskan makanan di depannya.
"Tidak sulitkan?" Natasha mual.
Wanita itu hendak mengeluarkan semuanya. Tetapi Hazard langsung menekan satu titik di leher wanita penguasa itu.
Natasha urung memuntahkan semua yang baru saja ia makan. Ia memejamkan mata sejenak.
"Istirahatlah My Queen!" Hazard menyalakan terapi asap dengan wangi violet.
Wanita itu pun terlelap. Hazard menghela napas panjang. Ia akan berjaga semalaman di sini.
"Pasukan iblis masuk lapisan dua Duke!" lapor prajurit yang datang.
"Beri lapisan jebakan!" perintahnya.
"Baik Duke!"
Prajurit itu pun pergi. Hazard melihat beberapa bangsawan ikut andil dalam penyerangan istana.
"Astaga ... mereka menggadaikan jiwa mereka pada iblis!" ujar Hazard mulai terdesak.
Sedang di wilayah selatan milik kerajaan Hampers. Sir Jonas mulai kualahan. Pria itu sudah kelelahan, selain ia harus fokus pada penyerangan. Ada beberapa staf yang berkhianat.
Pria itu mulai putar otak. Ia melihat kandang ayam peliharaan milik raja terdahulu.
"Tapi Hen adalah betina ... dia tak berkokok!" gumamnya kesal.
"Tapi anaknya pastinya ada yang jantan kan?"
"Kukuruyuk!" Jonas menirukan suara ayam berkokok.
Pak! Pak! Pak! Bunyi kepakan sayap terdengar. Lalu suara kokokan ayam terdengar. Tadinya satu, lambat laun makin banyak dan bersahut-sahutan.
Mendengar ayam berkokok para iblis musnah. Hari memang menjelang pagi. Tetapi karena banyaknya gagak memenuhi langit, matahari tak tampak.
Matahari muncul, semua prajurit iblis hilang seiring sinar yang menimpa mereka.
Jonas bernapas lega. Beberapa staf ditangkap karena berusaha mengganggu. Diserangnya kerajaan Hampers membuat seluruh kerajaan meminta perlindungan dari Natasha.
"Kami tidak mau mati konyol!" ujar King Goldstein.
"Saya Pangeran Marcus Colchester juga meminta perlindungan penuh. Kami tidak memiliki penyihir sama sekali!" ujar pria itu.
Sedang Lilian kini kembali ke istana Loudan. Gadis itu masih ingin mencari kesempatan agar Abraham kembali padanya.
"Lilian?" gadis itu menoleh.
"Yang Mulia?"
Emanuel ada di kursi roda. Tubuhnya sedikit kurus. Pria itu menarik tangan Lilian dan membawa masuk kamarnya.
"Yang Mulia, kau mau apa!" sentak Lilian marah.
Emanuel berdiri dari kursi roda. Pria itu tentu memiliki ilmu sihir yang bisa mengubah bentuk jadi apapun.
"Abraham?" Lilian langsung memeluk pria pujaannya.
"Sayang!" rengeknya.
Dua bibir saling bertaut. Tangan Abraham mulai menjamah seluruh tubuh gadis itu dan memberi rangsangan di sana.
Tak butuh waktu lama, keduanya membaur jadi satu sambil memacu gairah dan mengejar kenikmatan yang ada.
Meninggalkan dua manusia yang terkutuk itu. Kini melihat Abraham yang sesungguhnya.
"King??" Bowie menghadap.
Abraham hanya memandang kosong di depannya. Pria itu seperti kehilangan jiwa. Rasa bersalah telah menghukumnya.
"Yang Mulia, tolong berhenti lah ... kerajaan akan hancur jika Yang Mulia seperti ini terus," pinta Bowie.
"Aku memang tak pantas jadi raja, Duke!' ujar Abraham lemah.
"Yang Mulia!' Bowie begitu putus asa.
"Pergilah Bowie ... selamatkan diri kalian. Biar aku tenggelam bersama istana ini," ujar Abraham lagi lalu masuk dalam lubang penyesalan yang begitu dalam.
Bowie tak bisa berbuat apa-apa. Mantra penetral sudah ia kerahkan. Tetapi rupanya Abraham lebih memilih menyiksa dirinya.
Kembali di istana Hampers. Beberapa bangsawan setia berkumpul. Mereka memperbaiki sistem dan lapisan sihir yang rusak.
"Bagaimana keadaan My Queen?" tanya Sir Vorlome.
"Sudah lebih baik," jawab Hazard.
"My Queen harus bergerak cepat. Iblis itu seperti mengerti keadaan dan situasi. Bahkan beberapa staf yang berkhianat ternyata kena simpul sihir," ujar Jonas kini.
"Ada yang harus kalian ketahui ...."
Hazard menghentikan ucapannya. Pria itu seperti melihat keadaan. Ia pun membisikkan sesuatu pada Jonas.
"Berarti keturunan yang ada di dalam perut My Queen menjadi incaran iblis untuk dibunuh dan diminum darahnya!" ujar Jonas.
"Apa My Queen mengandung sang invinity?" tanya Vorlome bergidik.
"Bukan lagi, tapi juga the mighty!' sahut Hazard berbisik.
Bersambung..
wah ...
next?