Setelah lima tahun berlalu, takdir cinta mempertemukan mereka kembali. Sayang, wanita yang disebut gadis purple olehnya saat menjalani kasih dahulu dan sangat dicintai Azka memilih mengganti identitasnya. Cinta yang begitu kuat dalam diri Azka, tak akan bisa dibohongi. Kenapa dan apa alasannya, wanita yang dulu dicintai kini begitu tak ingin bersamanya kembali. Rahasia apa yang dia sembunyikan, hingga Azka harus berjuang mencari tahu kebenarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emmy Liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan mereka
Udara pukul tiga pagi di Keflavík adalah tamparan fisik. Dingin, bersih, dan berbau belerang. Azka mengabaikan rasa menggigil yang menusuk jaket tipisnya. Langkah pertamanya adalah anonimitas. Dia menghindari taksi, berjalan ke area penyewaan mobil.
Dengan paspor 'Adam Hermawan' dan setumpuk uang tunai, dia menyewa kendaraan yang paling tidak mencolok namun tangguh yang bisa dia temukan: sebuah Dacia Duster hitam bekas. Petugas rental, yang mengantuk, nyaris tidak meliriknya, lebih tertarik pada uang Euro tunai daripada wajah pucat pelanggannya.
Dia duduk di dalam mobil, kegelapan Arktik menyelimutinya. Sendirian.
Dia menyalakan burner phone baru yang dia beli di Kopenhagen. Satu pesan terenkripsi ke Roni: "Lokasi. Cepat."
Jawabannya datang lima belas menit kemudian, terasa seperti seumur hidup. Itu bukan alamat. Itu adalah koordinat GPS.
Azka memasukkannya ke dalam sistem navigasi mobil. Tujuan: sebuah guesthouse kecil di Hveragerði, sebuah kota yang terkenal dengan mata air panasnya, sekitar 45 menit di sebelah timur Reykjavik.
Perjalanan itu adalah mimpi buruk yang nyata. Dia berjuang melawan kelelahan, demam, dan jalanan yang dilapisi es tipis yang tidak terlihat. Lanskap itu sendiri menindas. Hamparan lahar hitam yang ditutupi lumut beku, diterangi oleh cahaya bulan yang pucat. Tidak ada pohon. Tidak ada kehidupan. Hanya dia dan deru mesin.
Dia tiba di guesthouse saat fajar palsu mulai mewarnai langit dengan warna ungu kelabu. Itu adalah bangunan kayu merah yang tampak nyaman. Terlalu nyaman.
Seorang wanita paruh baya yang ramah, pemiliknya, menjawab ketukan Azka.
"Maaf, kami baru buka nanti jam delapan," katanya dalam bahasa Inggris yang kental.
"Saya mencari seorang teman," kata Azka, suaranya serak. "Seorang wanita dan seorang anak laki-laki. 'Jasmine'?"
Wanita itu mengerutkan kening. "Jasmine... Ah, ya! Reservasi itu. Tapi dia menelepon kemarin. Membatalkannya."
Darah Azka serasa membeku, lebih dingin dari udara Islandia. "Membatalkan? Kapan?"
"Kemarin sore. Tepat sebelum dia seharusnya check-in. Dia bilang ada perubahan rencana. Sangat mendadak. Saya harap tidak ada masalah."
"Dia... dia bilang ke mana dia akan pergi?" tanya Azka, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
"Tidak. Dia hanya minta maaf. Kedengarannya... takut," kata wanita itu, rasa ingin tahunya sekarang terusik. "Anda siapa, Tuan?"
"Saya... Adam. Terima kasih."
Azka berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena harapan, tapi karena teror.
Gwen telah mengubah rencana.
Rencana yang telah diatur Roni. Rencana yang seharusnya aman. Kenapa? Apa dia tahu seseorang mengikuti? Atau...
Atau apa dia melarikan diri dari semua orang, termasuk Azka?
Dia kembali ke mobil, membanting setirnya. Dia benar-benar sendirian. Roni tidak bisa membantunya. Jaringan Farida ada di mana-mana, tapi jaringan Gwen kini tersembunyi.
Dia kembali ke jalan utama, Route 1. Ke timur, atau kembali ke barat, ke Reykjavik? Dia tidak tahu.
Dia mengemudi tanpa tujuan selama satu jam, demamnya membuat bayangan di pinggir jalan terlihat seperti sosok manusia. Dia kehabisan bensin, baik secara harfiah maupun kiasan. Dia berhenti di pompa bensin N1 yang sepi di kota kecil Selfoss.
Sambil mengisi bahan bakar, dia mengamati setiap mobil yang lewat. Setiap wajah. Putus asa.
Dia masuk ke dalam untuk membeli kopi mencoba mengenyangkan perutnya yang mual. Dan di sanalah dia melihatnya.
Bukan Gwen. Bukan Naka. Tapi sebuah gambar.
Sebuah brosur tur di konter. "Jelajahi Keajaiban Jökulsárlón - Laguna Gletser." Di sampulnya ada gambar bongkahan es biru sebening kristal di pantai pasir hitam.
Sesuatu dalam dirinya tergerak. Sebuah ingatan.
Lima tahun lalu, di apartemen lamanya yang sederhana. Gwen sedang browsing di laptopnya.
"Lihat ini, Azka," katanya, matanya berbinar. "Islandia. Pantai pasir hitam, es seperti berlian. Katanya ini tempat paling damai di dunia. Suatu hari nanti... jika kita bisa pergi ke mana saja... aku ingin pergi ke sana. Hanya aku dan kau."
Itu adalah taruhan paling bodoh dalam hidupnya. Sebuah kenangan samar dari masa lalu yang terkubur.
Tapi itu satu-satunya yang dia miliki.
Jökulsárlón. Itu lebih dari empat jam ke arah timur. Dia membuang kopinya, berlari ke mobil, dan menginjak gas.
Pencarian itu brutal. Dia mengemudi seperti orang kesetanan, melintasi pantai selatan yang spektakuler namun menakutkan. Dia melewati air terjun Seljalandsfoss dan Skógafoss tanpa melirik. Dia melintasi padang pasir hitam Mýrdalssandur, di mana angin kencang nyaris menerbangkan mobilnya dari jalan.
Demamnya berkobar. Dia menggigil hebat, lalu berkeringat. Wajah Gwen, Naka, Farida, dan hantu-hantu dari masa lalunya berkelebat di benaknya.
Dia mencoba membunuh putraku.
Dia tiba di Jökulsárlón saat matahari sore yang pucat mulai terbenam, mewarnai gletser dengan warna pink dan oranye. Tempat itu ajaib, dan kosong. Hanya ada beberapa turis yang tersisa.
Dia memindai tempat parkir. Puluhan mobil sewaan. Tidak ada Duster merah. Tidak ada Gwen.
Dia kalah.
Dia duduk di mobilnya, di tepi dunia, dan untuk pertama kalinya sejak dia meninggalkan bandara Jakarta, Azka menangis. Bukan tangisan keras, tapi tangisan kering yang menyakitkan, penuh kelelian dan kekalahan. Dia telah berjuang melawan takdir, hanya untuk menemukan bahwa takdir telah meninggalkannya di gurun es ini.
Dia pasti tertidur.
Ketika dia membuka mata, hari sudah gelap. Ponselnya bergetar di sisinya. Pesan dari Roni.
"MEREKA TAHU. LOKASImu TERLACAK. KELUAR DARI SANA. FARIDA MENGIRIM TIM. BUKAN POLISI. TIM 'PEMBERSIH'. MEREKA MENGEJAR JASMINE."
Pesan itu seperti sengatan listrik. Farida tidak lagi mencoba membawanya kembali. Dia mencoba menghapus masalah.
Tapi bagaimana Roni tahu...
Kemudian Azka melihatnya. Di kaca spion. Jauh di belakangnya di Route 1, dua pasang lampu depan yang tajam. Sebuah SUV hitam besar. Bukan mobil turis. Mereka melaju cepat.
Mereka tidak mengejarnya. Mereka melewatinya.
Mereka tidak tahu dia ada di sana. Mereka mengejar target lain.
"Tidak," bisik Azka.
Dia menyalakan mesin. SUV itu melesat melewatinya, menuju ke timur, ke arah kota Höfn.
Azka memutar mobilnya dan mengikuti, menjaga jarak. Jantungnya berdebar-debar karena alasan yang sama sekali baru. Dia bukan lagi pemburu. Dia adalah pelindung.
Sekitar dua puluh kilometer di jalan yang sepi dan gelap itu, dia melihatnya.
Sebuah Duster merah. Terparkir dengan canggung di pinggir jalan di area piknik yang tertutup salju. Lampu depannya menyala.
Dan SUV hitam itu berhenti tepat di belakangnya, memblokirnya.
Dua pria berjas hitam tebal keluar dari SUV.
Azka mematikan lampu depannya.
Dia melihat gerakan di dalam Duster merah. Seseorang di kursi pengemudi—Gwen—tampak panik, mencoba memundurkan mobil, tetapi terhalang.
Para pria itu berjalan santai ke jendela pengemudi.
Azka tidak berpikir. Dia menginjak pedal gas Duster hitamnya.
Dia menyalakan lampu jauhnya, mengubah malam menjadi siang. Deru mesinnya memecah kesunyian Arktik.
Para pria itu berbalik, kaget, mata mereka menyipit karena silau.
Azka tidak melambat. Dia mengarahkan mobilnya lurus ke arah SUV hitam itu.
Gwen, melihat kesempatannya, membanting Duster merahnya ke gigi satu dan melompat ke depan, keluar dari area piknik dan kembali ke jalan raya.
Azka membanting setir di saat-saat terakhir, menghindari tabrakan langsung dengan SUV, tetapi sisi mobilnya menghantam bagian belakang SUV dengan bunyi logam yang memekakkan telinga. Mobilnya berputar di atas es.
Para pria itu berteriak, berlari kembali ke mobil mereka yang sekarang penyok.
"Pergi, Gwen! Pergi!" Azka berteriak di dalam mobilnya yang terkunci.
Gwen menginjak gas. Duster merah itu melesat di jalan yang licin.
SUV hitam, dengan satu lampu depan pecah, mengaum dan mulai mengejar.
Dan Azka, mobilnya kembali lurus, berada tepat di belakang mereka.
Perlombaan maut telah dimulai di atas es.
Gwen jelas ketakutan. Mobilnya bergoyang-goyang. SUV hitam di belakangnya—dijalankan oleh para profesional—mendekat dengan stabil. Azka mendorong Duster-nya hingga batasnya, mencoba mengapit SUV itu, mencoba menjadi pengalih perhatian.
"Papa! Takut!"
Azka membeku. Itu bukan di kepalanya. Dia mendengarnya.
Dia menoleh ke kursi penumpang.
Terduduk, dengan mata terbelalak ngeri, adalah Naka, masih terbungkus selimut kecilnya.
Gwen tidak ada di dalam Duster merah itu.
Dia ada di dalam mobilnya.
Gwen pasti meninggalkannya di Jökulsárlón—mungkin untuk mencari bantuan, atau membeli makanan—dan Azka telah tertidur di sebelahnya tanpa menyadarinya.
Duster merah itu adalah umpan. Umpan yang dikemudikan oleh... siapa?
Pikiran itu hancur oleh apa yang terjadi selanjutnya.
SUV hitam itu, menyadari Azka adalah ancaman, tiba-tiba mengerem.
Azka tidak punya waktu untuk bereaksi. Dia membanting rem. Roda terkunci di atas es.
Mobilnya meluncur tak terkendali.
Dia berputar.
Dia melihat Duster merah di depan berhenti. Seorang wanita keluar. Bukan Gwen.
Dia melihat SUV hitam itu berbalik.
Dan dia melihat sisi jalan—jurang kecil yang tertutup salju, mengarah ke bebatuan lava yang bergerigi.
"Naka! Pegangan!" Azka berteriak, melepaskan setir untuk menarik tubuh putranya, mencoba melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
Mobil itu menabrak tepi jalan, terbalik di udara yang terasa lambat, dan jatuh ke dalam kegelapan yang dingin.
Benturan itu meremukkan logam. Kegelapan total.
Suara satu-satunya adalah desisan uap dan siulan angin.
Lalu, sebuah rintihan pelan.
"...Papa...?"
Azka membuka matanya. Rasa sakit menjalari setiap inci tubuhnya. Dia terbalik, tergantung di sabuk pengamannya. "Naka... Naka, kau baik-baik saja?"
"Sakit... Kaki..."
Azka mencoba bergerak. Lengannya tertusuk sesuatu. Tapi dia bisa mendengarnya. Di luar.
Suara langkah kaki di atas kerikil. Semakin dekat.
Lampu senter yang kuat menyorot ke dalam mobil yang hancur, menyinari wajah Azka yang berdarah.
Di atas mereka, di tepi jalan, salah satu pria dari SUV hitam itu berdiri. Dia menatap ke bawah.
"Targetnya ada di sini," katanya ke radionya, suaranya tenang dan tanpa aksen. "Bukan wanita itu. Pria itu. Dan anaknya."
Pria itu menyarungkan kembali radionya dan mulai menuruni tanggul dengan hati-hati. Dia tidak terburu-buru.
Azka meraih gagang pintu, tapi gagang itu macet. Dia terjebak.
Dia telah menemukan putranya, hanya untuk membawanya ke dalam perangkap maut.