"Akan aku perjuangkan cintaku, sampai aku bisa memilikimu."
~Abimanyu Ardianta~
"Akibat sebuah pengkhianatan, membuatku enggan menjalin hubungan dengan seorang pria."
~Feriska Nandhita~
Simak kisah selengkapnya »
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Usai sarapan, Eleana sudah berpakaian rapi hendak pergi.
"Oma, aku mau ke luar sebentar," pamit Eleana pada oma yang di ruang tengah.
"Ke mana? Katanya hari ini kuliah libur."
"Iya, Oma. El mau ke bakery mbak Feriska buat pesen kue."
Oma yang mendengar perkataan Eleana langsung tampak bersemangat.
"Kalau gitu oma ikut. Tunggu sebentar, oma ambil tas!"
Eleana termangu melihat omanya yang sangat antusias jika berhubungan dengan Feriska.
"Ah, sepertinya oma juga sangat menyukai mbak Feriska," gumam Eleana sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, oma sudah keluar dari kamar dengan menjinjing tasnya.
"Ayo!" ajak oma lalu berjalan mendahului Eleana.
"Ini yang punya acara siapa? Yang antusias siapa?" ucap Eleana sembari berjalan menyusul sang oma.
Di perjalanan menuju bakery Feriska, Oma Saras sibuk dengan ponsel di tangannya. Beliau sedang mengirim pesan pada seseorang. Sementara Eleana hanya melirik sekilas lalu fokus pada jalanan lagi.
30 menit kemudian, mobil yang dikendarai Eleana sudah berhenti di depan bakery Feriska. Dia dan oma segera keluar dari mobil lalu masuk ke bakery.
"Selamat pagi, Nyonya, Nona," sapa Eni.
"Selamat pagi, saya ada janji dengan nak Feriska," ucap oma.
"Baiklah. Silakan, langsung masuk ke ruangan beliau!" balas Eni.
Oma dan Eleana segera menuju ruangan Feriska.
Tok tok tok
"Masuk," sahut Feriska dari dalam.
"Pagi, Mbak," sapa Eleana setelah masuk bersama oma.
Feriska yang tengah fokus dengan laptopnya, segera mengalihkan pandangannya.
"Eh, Oma, Eleana. Silakan, duduk!" ucap Feriska mempersilakan Eleana dan oma duduk.
"Gimana kabarnya? Sudah lama oma nggak ke sini," tanya oma.
"Alhamdulillah baik, Oma. Oma sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah, oma juga baik. Kapan-kapan mainlah ke rumah oma."
"Insha Allah, Oma. Kalau Riska nggak sibuk, nanti main ke rumah oma."
Setelah berbincang sebentar, kini Feriska mulai menunjukkan contoh dekorasi kue ulang tahun yang ada di bakery miliknya. Dia juga memberikan opsi jika Eleana ingin memakai konsep sesuai keinginannya.
"Baiklah, berarti sudah deal untuk dekorasi kuenya, ya," ucap Feriska lalu menutup nota miliknya.
"Iya, Mbak. Terima kasih banyak sudah membantu," balas Eleana.
"Sudah kewajiban saya, untuk memuaskan setiap keinginan pelanggan bakery di sini."
Eleana mengangguk lalu mengambil sesuatu dari tasnya.
"Jangan lupa untuk hadir di acara ulang tahunku, Mbak!" Eleana menyodorkan sebuah undangan pada Feriska.
Feriska menerima undangan tersebut dengan ekspresi sedikit terkejut. "Eh, saya diundang juga?"
"Iya, kan mbak sudah banyak membantu untuk mempersiapkan kuenya."
"Kepuasan pelanggan adalah yang utama." Feriska menjawab ucapan Eleana sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama nanti? Apa, Nak Feriska bisa?" tanya Oma Saras.
Feriska melihat jadwal di ponselnya, lalu segera memberikan jawaban pada oma.
"Bisa, Oma. Kita makan siang di Osing Deles Cafe and Resto."
"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu. Masih banyak keperluan yang ingin dibeli, nanti kita langsung bertemu di sana saja."
"Baik, Oma."
Akhirnya, oma dan Eleana keluar dari ruangan Feriska. Mereka tak langsung pulang sebab ingin pergi ke mall untuk belanja keperluan pesta.
"El, nanti hubungi masmu, ajak dia untuk makan siang bersama," celetuk oma disela-sela perjalanan.
"Iya, Oma."
......................
Tiba saatnya jam makan siang, Abimanyu yang sebelumnya sudah dihubungi sang adik, lantas bersiap menuju tempat yang sudah ditentukan.
Di sepanjang perjalanan, hatinya bertanya-tanya karena tak biasanya sang oma mengajak makan siang di luar.
Sesampainya ditempat tujuan, Abimanyu segera mencari keberadaan oma dan Eleana. Tak butuh waktu lama, dia sudah melihat oma dan juga Eleana yang sedang menikmati minuman.
"Tumben banget oma ngajak makan siang di luar," ucap Abimanyu seraya menarik kursi untuk duduk.
"Kenapa memangnya? Apa salah kalau oma ngajak makan siang di luar?"
"Bukan begitu, Oma. Oma kan dari dulu paling nggak suka makan di luar, tapi ini tiba-tiba ngajak makan bareng di luar."
Oma hanya diam tanpa menanggapi ucapan cucu laki-lakinya itu.
"Setelah mas Abi tahu alasan oma ngajak makan bareng di sini, aku jamin mas bakal ngucapin terima kasih sama oma," celetuk Eleana.
"Maaf, saya telat."
Abimanyu yang semula ingin bertanya pada Eleana, mengurungkan niatnya saat mendengar suara yang tak asing baginya.
Ya, Feriska baru saja tiba dengan napas yang sedikit tersengal. Dia hanya takut oma dan Eleana bosan karena menunggunya yang tak kunjung tiba.
"Silakan, duduk, Mbak! Kita juga baru sampai, kok," ucap Eleana sembari mempersilakan Feriska duduk di sebelah Abimanyu.
Mendadak mulut Abimanyu terasa kelu sekedar mengucapkan sepatah kata. Entah karena gugup atau apa, yang pasti dia sangat tak percaya jika ada Feriska di sampingnya.
"Ah, seandainya ini kursi pelaminan. Mungkin aku orang pertama yang paling bahagia," batin Abimanyu
udh mmpir nih....
d tnggu up'ny y....smngttt....