[ VOTE DAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ]
Yang tidak pernah terbayangkan oleh Reygan, yaitu perjodohan.
Pernikahan adalah proses pengikatan janji suci antara laki-laki dan juga perempuan yang saling mencintai satu sama lain. Tetapi tidak dengan Reygan, dia harus menikahi seorang wanita yang sama sekali tidak ia kenal, wanita itu bernama Nasya.
Rumah tangga mereka berdua sama sekali tidak dibumbui oleh rasa cinta, mereka berdua harus menikah saat mereka menginjak kelas dua SMA.
Awalnya bukan Nasya lah yang seharusnya menikah dengan Reygan, melainkan kakak tirinya. Tapi karena Kakak tirinya enggan untuk menikah muda akhirnya Nasya lah yang harus menggantikannya.
Perasaan Reygan bukan untuk Nasya, melainkan kekasihnya yang bernama Zora. maka dari itu Reygan selalu memperlakukan Nasya dengan tidak baik bahkan ia secara terang-terangan berpacaran dengan Zora tepat di depan mata istrinya.
Nasya tidak bisa berbuat apa-apa, mereka berdua juga harus merahasiakan pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NG STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Karena jam kosong, Januartha mengajak Nasya untuk pergi ke perpustakaan.
Nasya duduk di depan Januartha, laki-laki itu fokus kepada buku yang sedang di bacanya sedangkan Nasya ia fokus kepada laki-laki itu.
Wajahnya yang terkena sinar matahari membuatnya semakin tampan.
"Selain tampan dia juga ternyata suka membaca buku."
"Di balik sikap dinginnya, dia baik sekali." gumam Nasya dalam hati sambil tersenyum.
Januartha yang menyadari jika Nasya memperhatikannya dari tadi dengan perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kearah gadis itu.
Nasya yang tertangkap basah langsung menundukan kepalanya, jantungnya berdetak kencang, bagaimana jika Januartha berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Nasya mengangkat kembali kepalanya dan melihat kedepan, tetapi Januartha tidak ada disana.
Saat melihat ke sebelah kirinya, laki-laki itu sudah ada di sampingnya, entah sejak kapan dia pindah tempat.
"Kau-"
"Sinar matahari membuatku silau." potong Januartha menatap wajah Nasya sambil tersenyum.
"Aaa seperti itu..."
Nasya kembali menundukan kepalanya karena merasa malu, ia berpura-pura membaca buku.
Januartha menatap gadis itu sambil tersenyum tangannya terulur untuk menyelipkan rambut Nasya yang tergerai ke belakang telinga.
"A-ada apa?" tanya Nasya begitu gugup.
"Rambutmu pasti menganggu."
"Kenapa pipimu memerah?" tanya Januartha.
"Benarkah?"
Nasya langsung memegang pipinya, Januartha yang melihatnya langsung tersenyum lebar.
"Aku hanya bercanda."
Nasya menghembuskan nafasnya merasa lega, ia pun ikut tersenyum lebar saat mengetahui jika Januartha sedang menjahilinya.
Tidak jauh dari tempat mereka, sepasang mata sedang memperhatikannya.
Reygan saat itu sedang bersama dengan Zora di perpustakaan, ia menghelakan nafasnya lalu beranjak berdiri menghampiri tempat Nasya dan juga Januartha.
Reygan menarik kerah baju Januartha sehingga membuat laki-laki itu terpaksa berdiri, dengan perasaan yang sangat kesal Reygan memukul wajah Januartha sehingga membuatnya jatuh tersungkur ke belakang.
Nasya membulatkan matanya saat melihat darah yang ada di ujung bibir laki-laki itu dan saat Reygan hendak memukulnya kembali dengan segera Nasya menghentikannya.
"Hentikan, Reygan!"
"Kau diam saja." ucap Reygan dengan suara yang begitu dingin.
Reygan menarik lengan Nasya saat gadis itu hendak membantu Januartha, Reygan menyeret Nasya keluar dari perpustakaan.
Laki-laki itu membawa Nasya ke rooftop sekolah.
"Kenapa kau memukul Januartha?" tanya Nasya dengan nafas yang terengah-engah.
"Kau selalu membuatku begitu kesal."
"Maksudmu?"
"Kau mengabaikan aku sedangkan kepada Januartha kau malah memperhatikannya, aku selalu menunggumu di rumah tetapi kau sama sekali tidak datang ke rumah!" kata Reygan meninggikan suaranya.
Nasya terdiam sejenak mencerna perkataan laki-laki yang ada di hadapannya itu, beberapa saat kemudian gadis itu menghembuskan nafasnya.
"Ayo kita akhiri saja." kata Nasya
"Apa?"
"Ceraikan aku dengan begitu aku bisa pergi dari kehidupanmu dan begitupun sebaliknya."
"Nasya!" teriak Reygan.
"Aku sangat lelah sekali, untuk apa aku mempertahankan hal bodoh seperti ini lagipula kau-"
"Lupakan saja, mulai sekarang bersikaplah seperti biasa, aku akan membicarakan ini kepada orang tuaku." kata Nasya lalu melangkahkan kakinya melewati Reygan.
Reygan membalikan tubuh dan langsung mengejar Nasya, laki-laki itu menarik tangan Nasya sehingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Tarik ucapanmu." pinta Reygan
"Ada apa? aku sudah sangat lelah sekali dan tidak ingin melanjutkannya."
"Tarik ucapanmu sekarang, Nasya!" teriak Reygan.
Nasya melepaskan genggaman tangannya lalu pergi meninggalkan Reygan tanpa berkata apa-apa lagi.
***
Sepulang sekolah Nasya menunggu bus di halte, Januartha tadi menawarkan diri untuk mengantarkan Nasya pulang, tetapi gadis itu tidak mau karena merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada laki-laki itu.
Sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti tepat di depan Nasya, gadis itu mengerutkan keningnya saat dua orang turun dari mobil.
"Nasya."
"Kak Kirana?" tanya Nasya beranjak berdiri sambil senyum.
"Perkenalkan ini suami kakak, Rezvan." kata Kirana sambil menunjuk kepada suaminya yang ada di samping.
Nasya menganggukan kepalanya lalu membungkukan badannya memberi hormat.
"Baru pertama kalinya aku bertemu denganmu, karena saat pernikahan aku tidak bisa datang, senang bertemu denganmu." kata Rezvan
"Oh ya, kau sendirian disini? dimana Reygan?" tanya Kirana sambil melihat sekitar.
"Aku menyuruhnya untuk pulang duluan." jawab Nasya
"Kenapa? apakah kau sedang ada masalah dengannya?" tanya Rezvan.
Nasya menggelengkan kepalanya. "Ini sudah hampir malam, lebih baik kakak mengantarkanmu ke rumah." kata Kirana.
"Tapi-"
"Ayo Nasya, Reygan pasti sedang menunggumu sekarang." kata Rezvan
Nasya tersenyum kecut lalu dengan terpaksa masuk kedalam mobil kakak iparnya.
Kirana dan Rezvan kebetulan lewat sana dan melihat Nasya masih ada di halte bus yang ada di depan sekolah, maka dari itu Kirana berniat memberi tumpangan kepada adik iparnya.
Nasya turun dari mobil begitu sudah di depan rumahnya. "Kakak, apakah kalian ingin mampir kedalam rumah?" tanya Nasya.
"Maafkan aku tapi sepertinya lain waktu saja, aku akan pergi ke rumah sakit." jawab Kirana merasa tidak enak kepada adik iparnya itu.
"Aaa begitu, baiklah kak, hati-hati dijalan." kata Nasya tersenyum lebar
Kirana mengusap kepala Nasya lalu setelah itu kembali masuk kedalam mobil, setelah mobil kakak iparnya itu pergi menjauh dengan berat hati Nasya masuk kedalam rumah.
dasar Reagen lebay
ngga ada akhlaknya...
korban dari orang tua yg selingkuh
menjodohkan anak yg masih sekolah