BEBAS PROMO
Ibuku pernah merusak rumah tangga seseorang dan pergi meninggalkan ayahku, dia lebih memilih melanjutkan hidup bersama selingkuhan nya itu.
Ternyata wanita yang bunuh diri karena ulah ibuku adalah ibu angkat suamiku. Sebelum bunuh diri wanita itu sempat menjadi gila, itulah kenapa presdir ini selalu menyiksaku di dalam istana mewahnya.
Akankah Andin harus menerima siksaan dari suaminya terus menerus? Ataukah takdir berbaik hati menciptakan kebahagiaan setelah ini?
Hanya kisah ciptaan, tak berniat menyinggung atau mencela pihak manapun. Authorinstagram : @sofiatus.gans
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OppaSuga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak iparmu
Hari ini pagi telah tiba, Andin sibuk dengan aktivitas nya di dapur sendiri, dan Bi Darmi menyirami tanaman di halaman belakang dekat kolam renang.
Tok.. tok.. tok..
Pintu diketuk, Andin berbalik.
"Eh? siapa itu?, mungkin kah kak Alvin??"
Di segera berlari kecil menghampiri pintu itu dan membuka nya.
Andin bingung, gadis muda di depan nya ini siapa...
"Maaf, nona siapa?"
Tak menjawab Andin yang bertanya dengan suara pelan nya, ia sengaja melalui keberadaan Andin dan menyenggol bahu nya.
"Nona? ada perlu apa?"
Andin mengikutinya dari belakang dan sekali lagi bertanya dengan sopan.
Geram, gadis itu berdecak. "Aishh, pelayan disini benar benar!"
Ia menambah kecepatan langkah kakinya agar Andin tak dapat mengikuti, dia menaiki anak tangga dan berteriak memanggil..
"Kak!! kakak!! kakak!!"
Berulang kali ia memanggil, Andin yang mengikuti dari belakang akhirnya berhasil meraih tangannya.
"Nona, kakak siapa? disini tidak ada.."
Ia menepis kasar tangan Andin yang memegangi pergelangan tangan miliknya.
"Tidak tau aturan!, pergilah!, berhenti mengikuti ku!"
Andin menyeringai mendengar kalimat yang bernada tinggi itu. Velly masih saja meneruskan panggilan nya.
"Kak!!, dimana kakak!!, ayolah jangan bersembunyi!, tak lucu.."
Andin meraih kembali lengan Velly.
"Nona, jangan berisik, tak baik.."
"Aku bilang berhenti mengikuti ku!" Matanya memelototi Andin dengan tajam.
"Jika nona tidak terus masuk begitu saja, saya akan berhenti mengikuti.."
Ia membalikkan keadaan, memegang kuat lengan Andin dan dibawa nya turun kembali dengan kesal.
Karena Hans selesai berpakaian dan tinggal mengikat dasi, ia membuka pintu, melihat Velly yang sepertinya ada sesuatu dengan Andin.
"Velly?" Lirih Hans.
Hans berlari menuruni tangga, melihat Velly dengan ocehan nya menyeret Andin ke bawah dan sepertinya akan melempar Andin keluar dari villa.
"Velly? ada apa??"
Velly menghentikan aksinya yang memegang kuat pergelangan tangan Andin.
"Kak,.."
Velly berlari ke Hans yang berdiri tegak dan memeluk nya.
"Kakak... aku merindukanmu..."
Velly bermanja dalam pelukan itu, dapat di dengar dari nada bicara nya.
*Kakak?? matilah aku.. dia adiknya...
Menelan ludahnya dalam dalam
sudah Andin, menyerah saja, dia pasti akan marah.
"Baik baik, sudahi.." Melepaskan pelukan itu dengan lembut.
"Ada apa Velly?"
"Kak, pelayan disini tak di ajarkan etika ka??" Tanya Velly dengan tampang sombong nya.
"Pelayan??" Hans melihat Andin sekejap.
"Lalu?.." Tambah Hans.
"Kak, sejak aku berada di depan gerbang, mereka sudah menghalangi ku! butuh perjuangan masuk kesini, ckckck aku kan adik mu juga"
"Owh" Hans duduk di sofa, Velly masih berdiri.
"Kak!? hanya owh??"
"Jadi, kamu ingin bagaimana?"
Velly mendekat dan duduk di sofa tunggal bedempetan dengan Hans.
"Biar Velly yang putuskan, kakak cuma perlu panggil mereka.."
Hans diam
"Pelayan!!!!"
Hanya satu teriakan saja, mereka sudah berlarian dan segera berbaris seperti satu shaf ketika menjalankan ibadah.
Mereka diam tak ada satupun yang berani bicara, Bi Darmi berada tepat di sebelah Andin.
"Sudah, terserah mau kamu apakan.."
Velly bangun dan mendekat, ia memandangi satu persatu dari mereka, menyeringai dengan senyum jahat nya, Andin meremas rok Bi Darmi sedikit ketakutan karena wajah Velly yang terlihat galak.
Benar saja, Velly menunjuk Andin.
"Kamu!"
Andin mengangkat pandangan nya ketika Velly menunjuk dirinya.
"Kak, lempar dia keluar dari pekerjaan ini.. aku tak suka melihatnya!"
Hans berdiri dari duduk nya dan memandang Andin dengan dekat.
"Tak bisa"
Jawaban singkat ini membuat Velly bertanya tanya, nyatanya Velly adalah gadis kuat dan kaya akan pengetahuan ilmu bela diri, tetapi jika ia bersama Hans, dia menjadi sangat manja dan kekanak kanakan.
"Kaakk.." Rengek Velly.
"Why???" Tanya nya dengan sedikit teriak.
Tak menjawab Velly, Hans mendekat ke Andin yang tertunduk, ia meraih leher Andin dan langsung saja mencium bibir nya dengan lembut. Matanya membulat saat kecupan itu menempel di bibir nya.
Kejadian di depan mata Velly berlangsung cukup lama, membuat gadis itu semakin penuh tanda tanya.
"Kaakkk!, stop!, dont do this!"
"Why?" Dengan santai nya Hans menjawab dan melepaskan ciuman nya.
Hans kembali menghadap Andin, ia menggendong Andin dengan lembut. Andin kebingungan, sebenarnya ada paa dengan Hans hari ini??
"Dia kakak iparmu, bersikaplah sedikit lebih baik"
Lanjut Hans membawa Andin ke kamar.
Di bawah Velly masih bingung, ia membentak kasar para pelayan yang berbaris.
"Kenapa masih disini?? bubar saja!, sekarang sudah tak guna!"
Sesuai perintah, mereka bubar dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.
*Aku tak suka jika gadis itu menjadi kakak iparku, aku tau dia cantik, tapi mungkin nanti semua perhatian kakak akan tertuju padanya.. Aaaaa.. aku benci dia! Bagaimana jika dia mengambil kakak ku? atau mengahasut agar tak menyayangi ku?, Gadis cantik nan baik sepertiku mana boleh dapat kakak ipar seperti dia??
Velly setelah bertanya tanya dalam hatinya, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa tunggal yang khusus untuk Hans.
"Yaampun.. kakak ku sangat pelit, kursinya begitu lembut empuk dan nyaman, sedangkan tamu harus berbagi tempat duduk di kursi panjang itu.. sepertinya gadis itu sudah mengahasut kakak ku yang dermawan menjadi sepelit ini.."
Ia bangun dan mengambil beberapa buah di kulkas dapur, ia memeluk dan membawa nya kembali ke sofa tunggal itu, makan begitu lahap dan bersemangat.
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵
Hans meletakkan Andin ke atas ranjang, dia terlihat cemas tak karuan, Andin segera duduk ke tepian ranjang.
Melihat wajah Hans yang berbeda dari biasanya, Andin memutuskan bertanya.
"Tuan, ada apa? apa ada masalah?"
"Errm.. Andin?, bisakah jika kamu membantu ku?"
"Membantu apa tuan?"
"Tenang saja, selama kamu mau membantu ku, akan aku bebaskan kamu dari hukuman dan kena marah, bukan itu saja, Ayahmu disana juga tak akan aku sakiti"
" Jadi..... ayo bermain peran!" Ujar Hans sangat cepat.
"Peran??"
"Tunggu, maksud ku, umm.. bagaimana jika kita, tidak, aku dan kamu, yah!, bagaimana jika aku dan kamu seolah sepasang suami istri yang sangat mencintai di depan Velly...?"
Wajahnya basah karena keringat, dia juga sedikit gugup tak karuan.
*Setuju saja Andin, Ayahmu akan baik-baik saja disana, kamu juga tak akan kena marah, lagi pula bukan nyata jika kamu mencintai Hans jahat itu..
"Lalu?" Dengan suara kecilnya Andin bertanya.
"Jadi, maksud ku, berhenti memanggil ku tuan, panggil aku sayang, atau honey, atau apalah yang ada di tv itu.."
"Akan di mulai kapan?" Andin sepertinya tak mengerti.
"Sekarang, aku tak tahu sampai kapan, Velly datang tak memberi tahu, jadi ini sedikit terburu buru.."
Andin tetap diam, ia menyimak yang Hans katakan.
"Hei!, ada apa? kenapa melihatku seperti itu? soal ciuman tadi, anggap saja itu hukuman karena menghalangi adikku!"
"Tuan, saya harus memanggil anda bagaimana?" Dengan polosnya Andin bertanya.
"Panggil sayang juga tak apa, terserah saja, asalkan jangan memanggil tuan selama Velly berada disini"
"Uh, baik tuan.."
Tok.. tok.. tok.. tok...
Pintu kamar mereka di ketuk.
-------------------------
BERSAMBUNG...