Masih Dalam Revisi ,🙏🙏🙏
Jika ada yang membaca ulang mungkin berbeda cerita. Untuk memperbaiki alur cerita.
Safira harus terlibat masalah dengan Presiden direktur di Perusahaannya. Semakin Safira berusaha menghindar, Sang Presiden semakin menindasnya.
Masalah demi masalah harus Safira hadapi, demi masa depan yang harus ia lewati.
Keteguhan hati Safira, bisakah membuat sang Presdir melunak dan mempermudah hidupnya ??
Cek segera Di tiap episodenya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25 Amanah
" Barakallahu laka wa baroka alaika wajama'a baynakuma fii khair. " Farhan selesai memimpin akad nikah Ryder dan Safira mulai melantunkan do'a untuk keduanya.
" Berjanjilah pada ku untuk menjadi imam yang baik untuk Kakak ku, ya Kak !! " pinta Farhan menatap serius pada Ryder.
" Kami sekeluarga menitipkan Kak Safira padamu, Aku harap Kak Ryder benar benar menjalankan sebagai suami yang sesuai syariat, karena walaupun baru siri, tapi kalian sudah sah sebagai suami dan istri. " tambah Farhan.
Ryder hanya tersenyum tanpa menjawab permintaan Farhan. Safira segera beranjak bangun, dan mendekat pada Bapaknya, ingin mencium tangan Bapak tercintanya.
" Terima kasih sudah menjadi anak yang berbakti pada orang tua selama ini Nak. Jadilah istri yang menurut perintah suami, agar sempurnalah kamu menjadi anak perempuan sholehah Bapak. " ucap Bapak Safira tersenyum, kemudian ia menatap istrinya yang ikut menghampiri mereka.
" Bu, berbahagialah bersama anak anak, karena kamu juga harus bahagia Bu !! " ucap Bapak Safira.
" Kita Bahagia sama sama Pak. Bapak harus sembuh dan kita menantikan cucu pertama kita Pak. " jawab Ibu Safira menggoda Bapaknya agar tertawa.
" Laillahaillallah Muhammaddarosullulloh. "
Setelah bergumam sendiri, Bapak Safira menutup matanya dengan tersenyum, dan berakhirlah detak jantung Bapak Safira di layar monitor, sontak membuat ketiga anaknya berlari mendekap tubuh Bapaknya, begitu juga dengan Ibu Safira menangis dengan histeris menyaksikan suaminya pergi tanpa berpamitan padanya, Begitu pun dengan Farhan dan Erkan, mereka sama sekali tidak dipamiti atau di beri salam ataupun peringatan.
" Bapak.... Jangan tinggalkan Safira Pak. Safira sudah menuruti permintaan Bapak !!! " tangis Safira pecah menggoyang goyangkan tubuh Bapaknya, kemudian di tarik tubuh Safira ke dalam dekapan Ryder, di dada Ryder Safira memukul mukul ingin di lepaskan. Safira seakan tidak terima dengan takdir, yang begitu cepat merenggut kebahagiaan nya begitu saja.
Ibu Safira ikut tidak sadarkan diri, ketika sang dokter memastikan jika suaminya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dia kini dalam penanganan medis di temani Erkan, Sedangkan Farhan mengurusi segala keperluan Bapaknya yang sudah tiada. Sedangkan Ryder juga sedang berusaha menenangkan Safira, yang juga ikut sebentar sebentar tak sadarkan diri. Safira seolah masih tidak percaya jika Bapak nya pergi begitu cepat, padahal baru tadi pagi ia satu meja bersarapan dengan beliau, dan kondisi beliau masih baik baik saja, tapi kini beliau pergi dengan menyisakan luka yang mendalam.
Begitu selesai mengurusi pemakaman Bapak nya, semua masih terduduk, di depan mereka ada gundukan tanah yang masih basah bertaburkan bunga bertumpuk tumpuk. terlihat mata Safira juga Ibunya membengkak, karena belum bisa menerima takdir. Sedangkan Farhan juga Erkan sudah bisa menerima dan menganggap ini semua adalah qodarulloh.
" Sudah Bu, Mbak. Ini semua adalah qodarulloh. Sebagaimana pun kita berupaya, jika Tuhan sudah berkendak kita tidak bisa menghindar. Terimalah semuanya dengan lapang, karena pada akhirnya kita pun akan menyusul beliau. Lebih baik kita berdoa, bukankah Bapak tadi sudah berpesan, kita semua harus bahagia, jika Bapak melihat kalian seperti ini, pasti Bapak akan sedih. Kasian Bapak di sana bersedih melihat kita bersedih. " ucap Farhan menenangkan. Jika di banding dengan Safira dan Ibunya, baik Farhan maupun Erkan sudah nampak bisa menerima kenyataan ini, mungkin karena mereka adalah lelaki, sehingga mereka lebih kuat di banding dengan wanita.
Baik Safira dan Ibunya masih diam tidak menjawab satu patah kata pun. Namun ketika Farhan membimbing ibunya untuk berdiri sudah bisa, tidak seperti tadi yang sama sekali tidak ingin di bawa pulang. Mereka semua ikut berdiri, begitu pun dengan Safira yang ikut berdiri dengan di bantu Ryder, karena sejak tadi Ryder berada di samping Safira dan merangkulnya, juga memberikan pelukan untuk Safira tanpa Safira menyadari.
Hari ini adalah suatu kejadian yang di luar kehendak Safira. Tidak pernah terpikirkan jika Bapaknya akan pergi secepat ini, sehingga Safira benar benar terpukul.
Sampai di rumah, Ibu Safira langsung masuk ke kamar dan menguncinya, sedangkan Erkan dan Farhan duduk di ruang tamu bersama Ryder juga Safira memberi ruang untuk Ibunya sendiri. Ke-empat nya masih diam terlarut dalam kesedihan dan pikiran masing masing. Ryder beranjak bangun dan keluar dari ruang tamu. Sedang kan Safira masih diam tidak menyadari kepergian Ryder. Dia sendiri juga bingung harus bagaimana menjalani mahligai pernikahan atas permintaan Bapaknya ini nantinya.
Ryder berdiri di halaman rumah Safira, ia mengamati sekeliling rumah, sebenarnya ia sangat kagum dengan Safira, wanita mandiri yang berjuang untuk keluarganya, tanpa menyimpang dari tata krama. Di saat Ryder sedang melamun, kemudian ia di sadarkan dengan getaran ponsel miliknya, ternyata Ken yang melakukan panggilan dari Jakarta. Ryder menarik nafas, ia sendiri juga bingung dengan keadaan dirinya yang sekarang. Menurut status ia sudah bersuami, walaupun status pernikahannya hanya pernikahan siri, namun ia sudah diamanati untuk menjaga putrinya dan orang yang mengamanati sudah meninggal, bukan kah itu termasuk sebuah amanah?
Ryder memutuskan panggilan, kemudian menon aktifkan ponselnya. Ia belum bisa menjelaskan pada seseorang tentang keadaan nya, sekalipun pada Ken. Walaupun Ken adalah asisten pribadi sekaligus teman dekatnya, namun Ryder belum ingin, Ken mengetahui keberadaan dan keadaan nya sekarang ini. Karena jika bisa jujur Ryder memang sudah mencari Safira sejak dua tahun lalu, dan sekarang jodoh mempertemukan mereka kembali, bahkan takdir pun berkehendak padanya, karena sangat di permudah urusan pernikahannya. Tak ingin memikirkan hiruk pikuk masalah Pribadinya, Ryder memutuskan kembali ke dalam ruangan, ternyata Safira sudah tidak ada di ruang tamu, di ruang tamu hanya tinggal Erkan duduk sendiri melamun menatap ke depan dengan pandangan kosong, walaupun ia sudah bisa menerima kenyataan, namun melihat saudaranya juga ibunya bersedih membuat Erkan bingung harus bagaimana.
" Mbak Safira di kamarnya Mas. " ucap Erkan, mungkin karena sejak kecil hidup di lingkungan kampung, Erkan masih memanggil dengan sebutan Mas, juga mbak. Karena Erkan ikut pindah ke Bandung bersama keluarganya, saat sudah lulus kuliah dan mulai bekerja dengan Kakaknya Safira.
Melihat Ryder seperti tidak mengetahui kamar Safira, Erkan memberitahukan lokasi tempat kamar Safira berada.
" Mas..... " panggil Erkan ketika Ryder beranjak pergi meninggalkan Erkan tanpa sepatah kata pun, membuat Ryder berhenti dan menatap Erkan.
" Aku memang anak kecil mas, tapi jika di beri tahu sesuatu, tidak sulit bukan mengucapkan terima kasih. Sebenarnya aku kurang setuju, Bapak meminta Mas Ryder untuk menikah dengan Mbak Safira. " ucap Erkan kemudian menatap Ryder.
Ryder tidak mengerti arah pembicaraan Erkan, memang dalam kamus hidupnya jarang sekali mengucapkan terima kasih. Karena sejak kecil ia sudah terbiasa di layani para pembantu, tanpa harus mengucapkan terima kasih, karena bisa di bilang Ryder adalah anak sultan sejak lahir.
Bersambung........
lanjut ah
luv you thor....💕💕💕