"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya seorang pria yang berpenampilan dengan setelan jas bermerk dunia. Matanya menatap gadis dihadapannya dengan sejuta maksud.
"Apa anda akan memenuhi semua kebutuhan saya? Termasuk biaya perawatan tubuh saya yang terbilang tidak murah?" gadis itu mencoba memastikan kembali apa yang ditawarkan oleh pria yang tengah mengunci pergerakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 25. Rumah Baru
Bab. 25
Mendengar hal tersebut, tentu saja Arruna menarik tangannya dari pada pria yang ada di sampingnya ini melakukan hal yang membuatnya rugi besar.
Sudah merenggut kebebasannya, masa iya dia juga merenggut statusnya yang masih perawan. Walaupun dengan statusnya sekarang ini sah-sah saja Revald meminta itu kepada dirinya.
Akan tetapi, konsep pernikahan mereka tidak seperti ini. Jadi, ia harus mempertahankan apa yang berhak Arruna pertahankan.
Setelah semua orang berkemas untuk pulang, pun yang di lakukan oleh pengantin baru itu juga sama. Revald membawa Arruna pergi langsung ke rumah mereka. Bukan lagi ke apartemen yang sebelumnya Revald tinggali.
Bukan karena apa, Revald hanya tidak mau area pribadinya di usik oleh orang asing. Sehingga ia memutuskan membawa Arruna ke rumahnya, dengan begjtu apa yang ada di apartemennya pun aman dan tetap seperti semula.
"Loh, bukannya tinggal di apartemen, ya?" Tanya Arruna dengan raut bingung di kala melihat bangunan lantai empat di depannya. Terlihat begitu megah.
"Kenapa? Nggak suka? Kurang besar?" cecar Revald menatap malas wanita yang ada di sampingnya ini.
Arruna menggeleng. Bukannya tidak suka, justru kebalikannya. Namun, mengingat sifat dan sikap Revald selama mereka kenal, Arruna was was kalau sampai pria ini menyuruh dirinya membersihkan rumah juga.
"Nggak. Udah lumayan lah." Jawabnya menutupi kekhawatiran yang ada.
Sedangkan Revald tidak menghiraukan apa yang ada dalam pikiran wanita ini. Ia lebih memilih segera keluar dari mobil dan membuka bagasinya. Mengambil beberapa barang yang ada di sana, untuk kemudian di bawa masuk. Namun sebelum sampai teras, ada seorang pria yang mungkin sepantaran dengan Arruna, berlari dan menghampiri Revald. Mengambil alih barang yang sebelumnya di bawa oleh pria itu.
Arruna mengamati interaksi dua pria yang ada di depannya. Tampaknya mereka sangat akrab.
"Masuk!" Teriak Revald ketika menoleh ke belakang.
Arruna begitu kesal, karena tas miliknya sengaja Revald tinggal di bagasi tanpa mau membantu dirinya untuk membawa ke dalam.
"Ngeselin banget sih punya suami." Kesalnya. "Ini semua gara-gara orang itu. Kalau saja Papa nggak serahin perusahaan ke dia, aku nggak bakalan mau hidup di atur kayak gini." Rutuknya kemudian.
Meskipun sudah mulai menerima dan bisa beradaptasi di negara ini, akan tetapi ketika mengingat masa itu, masih ada rasa sakit yang begitu dalam. Bahkan demi bisa memenuhi kebutuhan pribadinya, ia sampai rela jual status kayak gini. Bukan lagi jual diri.
Arruna yang terbiasa apa-apa di layani, kini harus membawa tasnya sendiri. Meskipun sedikit berat. Karena tidak ada yang bisa dia suruh-suruh dengan sesuka hati.
Jika saja di sini ada Naomi, mungkin Arruna tidak akan sengsara seperti ini. Pikirnya. Karena Naomi bakalan membawakan tasnya langsung, walau tanpa diminta.
Sementara itu Revald dan pria yang menghampirinya tadi terlihat sedang berbicara sambil melangkah menuju ruang tengah.
"Itu nggak apa-apa di biarin sendiri? Nggak dibantu bawa tasnya? Agak besar loh tasnya. Pasti berat," ujar pria muda tersebut.
Revald terlihat sangat santai. Tidak sedikit pun mempunyai niatan untuk membantu wanita yang sekarang ini menjadi istrinya.
"Biarin saja." Sahutnya begitu santai.
Sedangkan pria yang tadi sempat membawakan barang milik Revald dan menaruhnya di sofa single yang ada di sisi kirinya, tampak menoleh ke belakang. Merasa kasihan melihat wanita itu.
"Nggak boleh gitu, Kak. Dia istrimu sekarang," ingat pria bernama Darren.
"Kamu tahu sendiri, ini bukan mauku. Repot banget harus ngurusin wanita kayak gitu."
Darren menggeleng kepala. Meskipun mereka tidak ada hubungan darah sama sskali, tetapi Darren dan juga ibunya disuruh Revald untuk mengurus rumah yang dibeli Revald satu tahun yang lalu.
Dareen juga sedikit banyak tahu mengenai apa yang dikeluhkan oleh Revald. Karena tidak jarang mereka mengobrol bertiga dengan kakaknya juga, Noah. Di mana pria itu yang menjadi asisten Revald saat ini di Showroom.
"Jangan cuek-cuek banget, Kak. Ntar kalau jatuhnya bucin, malu sendiri loh!" Ingat Darren sembari menahan tawa.
"Ck! Nggak akan." Tegas Revald yang meyakini dirinya tidak akan jatuh ke dalam perasaan bersama Arruna. Karena wanita itu tidak masuk ke dalam rencana hidupnya, sebelum ini.
kampus rada elit bayar e
ubaya
petra
kampus yg standart
itats
unipra
stesia
wijaya
hangtua
upn
17agustus
tinggal pilih
itu bukan manja tp kebablasan
salah asuham
gkk bahaya tah