"Aku benci diriku sendiri. Kulit gelap ini kutukan yang tidak bisa aku hilangkan. Sialan! Aku bahkan tidak meminta untuk dilahirkan. Memang siapa yang mau hidup seperti ini?!"
Hanya karena perbedaan warna kulit, Jia Li didiskriminasi di sekte. Mendapat banyak hinaan, bahkan keluarganya sendiri tidak pernah menganggap dirinya ada. Apalagi Jia Li tidak memiliki kemampuan apa pun, yang semakin dipandang remeh dan rendah.
Hati kecilnya itu, terluka parah. Setiap malam tiba, dia menangis memandang nabastala. Mengutuk takdir kejam. Menyumpahi diri sendiri agar cepat mati, karena tidak kuat menanggung rasa sakit.
Sampai, dia melarikan diri dari sekte. Banyak hal yang terjadi sampai nyaris nyawanya terenggut. Semakin banyak pula orang-orang yang mengucilkan hanya karena warna kulit. Semakin banyak pula cacian yang dia dengar.
Sejauh Jia Li melarikan diri, semakin dirinya putus asa. Tidak ada obat penyembuh untuk kutukan itu. Yang ada dia malah jadi incaran sekte aliran hitam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - KENAKALAN
Jia Li masih berbaring tidak sadarkan diri. Tubuhnya sudah diperban dan mendapatkan obat tradisional. Meskipun pengobatan dengan cara ini terbilang membutuhkan waktu lama. Namun, mungkin saat Jia Li sadarkan diri dia akan merasa bersyukur dan berterima kasih.
Kamar itu hanya dihuni Jia Li. Tidak ada pelayan yang bertugas mengobati pada jam itu. Suasana tenang di sana mendadak hancur ketika pintu kamar yang dibuka paksa dan suara sedikit keras.
Hua Ran dan Yan Qi buru-buru menutup pintu kembali. Keduanya merasakan detakan jantung yang berpacu cepat.
"H-hah ... Hua Ran, kenapa kau menyebut nyonya?!" Yan Qi yang masih terkejut bertanya kesal. Dia lalu kembali bertanya, "apa kau tidak punya cara lain selain ini? Kau tahu résiko jika kita sampai tertangkap 'kan?!"
Hua Ran tanpa diduga menjitak kepala Yan Qi keras. Dirinya mendengkus dan berkata, "kenapa kau tidak pakai saja otakmu itu?! Yang penting jangan sampai ketahuan, bodoh."
Yan Qi meringis sambil mengusap-usap kepala. Dirinya mengerucutkan bibir kesal. Tapi memang dia juga tidak memiliki ide.
Dia memandang ke depan, tatapannya langsung tertuju pada seseorang yang berbaring. Hua Ran dan Yan Qi saling pandang sebelum mengangguk.
Keduanya mendekati tempat tidur. Begitu melihat wajah hitam pekat tidak biasa membuat keduanya tersentak.
Bahkan tanpa sadar Hua Ran membuka mulut dan mata lebar. Bahkan leher Jia Li tampak hitam juga. Siapa pun yang tidak pernah melihat warna kulit itu akan beranggapan Jia Li terkena racun atau gosong karena terik matahari.
"Apa dia terkena racun sampai wajahnya hitam seperti itu?! Mengerikan sekali. Apa dia bisa selamat?"
Yan Qi menggeleng tidak percaya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Melihat kedua tangan Jia Li, dan kepala yang diperban membuat Yan Qi berpikir Jia Li memang dalam kondisi kritis saat dibawa ke kediaman ini.
"Aku juga tidak tahu. Ini benar-benar mengerikan."
"Kenapa nyonya membawa bocah sekarat ini kemari? Dia terlihat lemah dan bodoh." Hua Ran berkata, "Nyonya hanya akan mendapat kerugian jika bocah ini sampai menumpang hidup di sini."
Yan Qi yang sedang memperhatikan bocah berkulit gelao di depannya mengangguk setuju dan menanggapi, "kau benar. Bagaimana jika kita bantu nyonya ?"
"Mn?" Hua Ran mengerutkan kening.
"Kita bunuh saja dia agar tidak sampai merepotkan nyonya lebih dari ini."
Buk!
Yan Qi meringis sekaligus terhenyak kepalanya dipukul oleh Hua Ran. Dirinya sampai berteriak tidak terima.
"Kau ini kenapa?!"
Hua Ran menatap tajam teman bodoh yang satu ini. Bisa-bisanya Yan Qi mengatakan hal seperti barusan dengan wajah polos itu.
"Otakmu yang kenapa! Jika sampai membunuh dia, kita juga akan tewas!" Hua Ran memijat-mijat kepalanya yang terasa pening akibat Yan Qi yang mengatakan hal tidak terduga.
Hua Ran tidak tahu mengapa Yue Yin sampai membawa Bocah berkulit gelap itu kemari. Dirinya juga tidak suka jika Jia Li sampai menumpang di kediaman ini juga.
"Aku sudah tahu kediaman ini memang mewah, tapi sebenarnya sangat miskin sampai tidak.bisa membeli daging! Jika dia tinggal di sini, kemungkinan jatah makan kami akan berkurang!"
Hua Ran juga tidak bisa membunuh sembarangan. Dia baru akan buka suara, tetapi mendengar suara keributan di luar membuat Hua Ran dan Yan Qi berpandangan sebelum akhirnya dibuat tegang.
Suara penjaga di luar terdengar. Dua bocah nakal itu mencari jalan lain untuk bisa keluar dari kamar itu. Namun, sayangnya di sana sama sekali tidak ada jendela.
Hua Ran berdecak. Dia menendang bokong Yan Qi tiba-tiba karena teman laki-lakinya itu malah membuatnya bertambah cemas dengan mengatakan tidak ada jalan keluar dan mereka akan tertangkap.
Di luar kamar, dua penjaga sebelumya sedang marah dan yakin telah dibohongi oleh dua bocah sebelumnya. Dua orang itu langsung membuka kamar Jia Li, masuk ke dalam dan mencari Hua Ran dan juga Yan Qi.
"Di mana kalian? Keluarlah sebelum kami benar-benar melaporkan pada Nyonya Yin."
Kata penjaga dengan suara penuh ancaman. Namun, tidak ada jawaban. Dua penjaga itu saling mengangguk dan mencari ke belakang sekat. Sampai membuka lemari dan mengintip di bawah tempat tidur.
Sayangnya mereka tidak menemukan siapa pun. Satu penjaga itu mendengkus dan berkata, "kemungkinan mereka sudah pergi dari sini."
Satu penjaga itu juga mendengkus. Dia berpikir hal serupa dan mengajak temannya pergi. Tepat ketika pintu tertutup, Hua Ran dan Yan Qi bisa menghembuskan napas lega.
Dua bocah itu bersembunyi di langit-langit atap dengan kedua tangan memegang kayu. Beruntung kedua penjaga itu tidak mendongak ke atas.
"H-hah ... hampir saja."
Yan Qi menapak di bawah dengan jantung yang masih berpacu cepat. Saat penjaga mencari mereka, Yan Qi sudah tegang hebat.
"K-kita selamat--"
Brakk!
Pintu kamar ditendang dari luar. Lesatan dua pedang mengarah ke Hua Ran dan Yan Qi yang tidak sempat menangkis. Alhasil satu pedang nyaris memotong kepala Yan Qi andai tidak sedikit meleset.
Yan Qu membulatkan mata dan merasa tubuhnya. sangat lemas. Dia kira kepalanya sudah berlubang.
Satu pedang lagi hampir menebas kaki Hua Ran. Bocah perempuan berusia 9 tahun itu sampai dibuat menahan napas dengan tatapan mengarah ke ambang pintu.
Di sana, dua penjaga sebelumya sedang menatap tajam.
"Kalian pikir kami bodoh? Hmph. Kalian masih sangat muda dan tidak banyak pengalaman!"
Kata satu penjaga yang mulai berjalan ke arah Hua Ran. Satu penjaga lagi juga mendekati Yan Qi sambil berkata dengan nada kesal.
"Dasar bocah-bocah nakal! Kalian harus mendapat hukuman tiga kali lipat!"
Dua pedang sebelumnya langsung terbang dan kembali ke tempat, yakni milik dua penjaga itu.
Hua Ran dan Yan Qi mulai mengangkat Kedua tangan, pertanda keduanya menyerah dan tidak akan menyerang. Mereka jelas tahu kemampuan yang belum sebanding dengan dua penjaga itu.
"H-hei, tapi kami tidak melakukan kejahatan berbahaya. Kenapa hukumannya tiga kali lipat?!" Yan Qi tidak terima.
"Kau harusnya bisa menghitung kesalahan sendiri, bocah! Ayo cepat ke tempat hukuman!" Penjaga itu menyeret lengan Yan Qi sampai bocah itu meringis kesakitan dan meminta tidak perlu sampai diseret paksa.
Hua Ran juga diperlakukan sama. Namun, bocah perempuan itu tidak banyak omong seperti Yan Qi disepanjang jalan.
Di kamar yang pintunya masih terbuka lebar itu, jari tangan Jia Li sedikit bergerak. Napas Jia Li mulai tidak beraturan secara tiba-tiba atau bahkan bisa dikatakan dia sulit bernapas. Keringat dingin mulai muncul di dahinya. Tidak ada yang tahu kondisi Jia Li sekarang.