NovelToon NovelToon
Amara (Bukan Anak Terbuang)

Amara (Bukan Anak Terbuang)

Status: tamat
Genre:Persahabatan / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: trias wardani

Kalau yang ingin cerita cinta-cintaan bukan di sini tempatnya. Ini hanyalah cerita gabut author yang entah kenapa bisa bikin kisah anak berusia 8 tahun.
Nggak suka boleh skip. Yang mau lanjut harap sediakan tisu karena cerita ini mengandung banyak bawang.

***

'Apakah aku nakal? Kenapa aku dibuang di sini? Apakah Ayah tidak inginkan aku lagi?'

Amara, seorang gadis berusia delapan tahun yang tengah dilanda sedih karena dititipkan di panti asuhan oleh ayahnya tanpa dia tahu kenapa. Di tengah kesedihannya, Belvara, seorang anak laki-laki selalu hadir untuk menghibur hati Amara yang sedang sedih.

Sampai pada akhirnya ....

"Tidak! Kalian bohong!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon trias wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Ingin Pergi

Aku tidak pernah suka dengan hujan, tapi sekarang aku biarkan saja air dari langit itu turun dan mengenai kepalaku. Biarkan saja aku sakit, lebih baik lagi jika seperti Pak Martin tetanggaku di desa. Dia mati disambar petir. Bukankah itu bagus jika petir menyambarku sekarang? Aku bisa bertemu dengan ayah di surga. 

"Amara!" teriakan itu terdengar lagi, aku menghindar lebih jauh lagi dari Kak Tania yang berlari mendekat. Orang yang lain terlihat di panti, pandanganku terhalang oleh air yang terus turun semakin deras dari langit. 

"Amara. Kembali! Kamu bisa sakit!" teriak Kak Tania, aku tidak peduli pergi menuju gerbang dan keluar dari panti dengan berlari cepat. 

Tidak aku hiraukan kendaraan yang ada di belakangku, terdengar suara klakson yang berbunyi beruntun. 

'Ayah. Aku mau ayah. Nggak mungkin 'kan ayah meninggalkan aku di sini?' tanyaku di dalam hati. Air mataku sudah tersilap dengan air hujan, sulit membedakan antara tangis dan air tawar itu. Mataku kian perih, mendapati air hujan yang masuk ke dalam mata. 

"Ayah!" teriakku tak tahan, masih dengan berlari kencang tak kenal arah. 

"Amara!" teriak suara Kak Tania yang tersilap dengan suara hujan dan suara kendaraan. Aku tidak mau menoleh. 

Semua jahat! Kenapa semua jahat padaku? Ayah ....

Tidakkah kau ingin menjemputku? Lihat, semua orang yang ada di sini jahat kepadaku, Bunda Evie juga! Kenapa .... 

Aku tidak tahan lagi, berlari semakin jauh meski kaki ini sudah sangat lelah sekali. 

Ayah! 

Pada akhirnya aku tersesat, menghindari jalan raya dengan masuk ke dalam gang dan sekarang entah di mana aku berada. Berjalan terus hingga aku menemukan jalan raya yang lalin, lebih besar dari yang ada di dekat panti asuhan. 

Lapar, dingin. Baju ku basah kuyup. 

Ayah .... 

Aku menangis lagi. 

Aku kedinginan, Ayah. 

Ingat jika hari hujan dan aku harus bernaung di bawah pohon di bukit, maka ayah akan menjemputku dengan payung yang sudah rusak, patah di satu atau dua bagian. Ayah akan tersenyum dan mengulurkan tangannya, menaungiku dengan lebih banyak sehingga membiarkan pundak dan punggungnya terkena air hujan. 

"Ayah! Aku capek!" 

Di emperan toko aku berlindung, hujan masih tampak deras sekali. Kepala ini rasanya pusing, dan pemikiranku tadi biar terkena petir rasanya aku tidak akan kuat. Terkena hujan yang berbentuk air saja aku tidak kuat apalagi petir yang katanya bisa membuat orang tersetrum hingga mati. 

Aku berjongkok, memeluk lututku sendiri. Melihat beberapa orang yang ada di sampingku, sama sedang berteduh. Mereka melihatku dengan tatapan yang aneh. Aku jadi takut, sedikit bergeser agar lebih jauh dari mereka. 

Tiba-tiba, ada satu orang yang menyelipkan uang kertas di tanganku, lalu sebelum aku bisa mengangkat kepala dia sudah kembali ke tempatnya. Aku bingung apa ini? 

Satu orang lagi datang, kali ini dia berjongkok di sampingku. 

"Kamu kenapa hujan-hujanan? Nggak ada yang jemput?" tanya wanita itu. 

Aku juga masih bingung. Apalagi saat dia juga memberikan uang kepadaku. 

Eh, bukankah jika ada yang memberikan uang itu berarti .... 

"Aku bukan pengemis," ucapku kembali menyodorkan uang pada wanita itu. 

"Eh, maaf. Tidak apa-apa, kamu bisa buat yang lain." Wanita itu tersenyum malu. 

Aku berdiri, tidak ingin berjongkok lagi jika mereka menganggapku seorang peminta-minta. Dari kaca yang ada di toko, terlihat sekali aku sangat berantakan. Pantas saja jika mereka menganggapku pengemis. 

Aku menyusut ingus dengan punggung tangan dan mencucinya dengan air hujan. 

"Apa desa jauh dari sini?" tanyaku pada wanita yang tadi ikut berjongkok. 

"Eh, desa apa?" 

Aku berpikir, tidak tahu desa apa tempatku dulu tinggal. Akhirnya aku hanya menggeleng saja. Dia hanya mengatakan, desa terdekat saja jaraknya lumayan jika memakai kendaraan. 

"Kalau jalan kaki?" tanyaku. 

Dia tampak terkejut dan menatapku bingung. 

"Aku kabur dari panti asuhan, dan aku ingin kembali ke ayah," ucapku.

"Apa kau benar tidak tahu nama desa itu?" tanya wanita itu lagi. 

Sayangnya, aku memang tidak tahu dengan desa tempat tinggalku kemarin. Pada akhirnya tidak ada yang bisa membantuku, aku hanya diam kembali duduk dengan memeluk lutut. Hujan tidak juga reda, bagaimana aku akan melanjutkan perjalananku ke desa.

1
Tien Ensoe
ada bbrp hal yg blm dijelaskan
Tien Ensoe
kok tamat kak,gmna dngn bara dan ana yg mirip dengan nya
Tien Ensoe
akhirnya amara mau diadopsi,semoga orangtuanya angkatnya baik...
Tien Ensoe
kok blm up lg
Tien Ensoe
iya ,kamu hrs bahagia amara
rindi yesna wati
😋😊💖💓💓😻😉😉💞🥳🥳🤗😚😚😍💌🌷💕😁😁❣😽💟😘💗💗💝🥰🥰
Nurul Boed
sedihhh
Giyarni Sutrisno
bagus
rindi yesna wati
💞💘😘💌😉🌷💖💝🥰🤩
Naura Salsabila
bara yah thor. dia idah meninggal
Trias Wardani: 🤔. belum tau, apakah dia hanya teman khayalan atau gimana ini?😅
total 1 replies
☾⃟ℳoon - Moon 🌙
Karya baru,nyimak dulu ya kak, semangat
Trias Wardani: silakan kak, semoga menikmati cerita ini 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!