NovelToon NovelToon
Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap

Status: tamat
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:56.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tuti Ummi Luthfi

" Lulus SMA nanti kamu mau lanjut kuliah kan? " tanya Eva sahabatku. " Entahlah.. aku sendiri juga ngga yakin. Sepertinya ibuku ngga ngijinin aku nglanjutin kuliah." lho kok bisa sih, kamu kan anak bungsu. Lagian tinggal kamu yg masih sekolah, kakakmu sudah pada lulus. Bahkan ada yg sudah kerja dan nikah. masa cuma biayain kamu aja ga bisa." Eva sewot. Maklumlah, kami berteman sejak dari SD hingga SMA. meskipun ngga selalu satu sekolah. Hanya waktu SMP saja.
Rumahku berdampingan dg rumah Eva. Di mana ada aku pasti ada Eva. Boleh dikata kami berpisah cuma kalau lagi menuntut ilmu karena beda sekolah, kadang tidur aja kita barengan. Keluarga Eva termasuk keluarga terpandang jadi ibu tak khawatir aku bergaul dengannya.
Impian kami yaitu bisa kuliah bareng di satu kampus yg sama. Tetapi perbedaan ekonomi nampaknya menghalangi impian itu.
Apakah aku bisa mewujudkan cita-citaku , sementara ibuku tidak mendukungnya.
Ataukah aku terpaksa harus menepis impianku dan sahabatku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tuti Ummi Luthfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 Berhenti Bekerja

Setelah menikah mbak Nia sudah tidak lagi membantu ibu di warung. Ia harus ikut mengurusi bisnis suaminya di toko sembako. Hanya saja untuk sementara ini dia masih tinggal bersama kami karena rumahnya belum jadi.

" Aira, sekarang kakakmu sudah ngga lagi membantu di warung , jadi kamu jangan sering main. Pulang kerja langsung ke sini jangan mampir-mampir. Terus kalau hari Minggu juga ngga usah ada acara ini itu." Ibu berkata padaku ketika aku baru sampai di warung.

" Iya Bu," jawabku tanpa membantah. Mau gimana lagi ?

Tiga hari setelah hajatan ibu mulai membuka kembali warungnya.

Biasanya setelah libur lama ibu menyuruhku belanja aneka ' kletikan ' mentah untuk mengisi stoples-stoples yang kemaren kosong. Seperti emping, kerupuk udang, kacang tanah buat rempeyek, rengginang dll. Begitu juga dengan menu-menu masakan pasti ibu dan mbak Sri akan memasak lebih karena kemaren habis semua.

" Bu, mau belanja kletikan nggak ? Sudah habis semua kan ? " ucapku ketika kulihat stoples- stoples yang masih kosong.

" Besok saja kalau sudah ada uang," jawab ibu.

Aku terkejut mendengar perkataan ibu. Bagaimana bisa ibu ngga punya uang, selama ini ibu rajin menabung walaupun sedikit.

" Ibu kan punya simpanan? " tanyaku hati-hati takut ibu tersinggung.

" Tabungan ibu habis kemaren buat biaya pernikahan kakakmu. Uang dari Joni nggak cukup jadi ibu harus nombokin," ungkap ibu kemudian.

" Lho kataya mas Joni sudah menyiapkan semuanya., kok ibu masih nombok ? " sahutku kesal.

Bagaimana tidak, mbak Nia minta pesta pernikahan yang mewah tapi calon suaminya ternyata ngga punya modal. Ibu terlalu memanjakan mbak Nia hingga mau menuruti keinginannya sampai mengorbankan uang tabungan.

" Memang sudah siap, kan sekarang lagi bangun rumah. Itu juga buat Nia kan ? " Ibu masih saja membela mereka.

" Kalau memang lagi bangun rumah seharusnya ngga perlu mengadakan pesta besar. Mending uangnya untuk biaya pembangunan rumah, jadi kan ibu ngga usah nombok. Ibu kan butuh modal buat berjualan lagi. " Aku berkomentar.

" Kalau soal pesta ngga perlu dibahas lagi, ibu juga senang kalau kakakmu bahagia. Teman-teman Joni itu orang-orang kaya jadi dia akan malu kalau pernikahannya sederhana." Dengan bangganya ibu memuji menantu barunya.

Setahuku mas Joni itu bisnisnya dagang. Teman-temannya juga pasti kebanyakan para pedagang. Mas Krisna yang pegawai kantoran saja ngga pernah membanggakan teman-temannya yang sudah pasti orang berkelas.

" Mbak Sri belum datang Bu," tanyaku mengalihkan pembicaraan.

" Belum, ibu suruh masuk besuk saja. Hari ini juga baru masak sedikit." Tuh kan, ibu masak sedikit padahal habis libur lama.

Tapi ya sudahlah , aku ngga perlu ikutan mikirin warung makan. Ibu aja tenang kok aku pusing.

Sudah jelas tadi ibu malah bangga meskipun tabungannya habis.

Jam 5 sore aku dan ibu bersiap pulang. Ketika sedang berjalan beberapa langkah kulihat Rio dan Niko tengah menyeberang jalan. Sepertinya mereka sedang berolah raga karena terlihat dari pakaian dan sepatu yang dipakai. Tubuh mereka juga berkeringat

" Aira ! baru pulang ya? " sapa Niko ketika sampai di depanku. Ia mengangguk ramah pada ibu. Nafasnya masih naik turun. Ibu membalas dengan senyuman.

" Iya, kalian habis lari-lari ya? " tanyaku juga.

" Kita habis lari mengitari alun-alun. Tiga putaran sudah cukup berkeringat." Rio menjawab dengan ngos-ngosan.

" Sini aku bawain keranjangnya." Niko mengambil alih keranjang belanja yang kubawa.

" Ngga usah kamu kan masih capek habis lari-lari. Aku sudah biasa bawa keranjang , nggak berat kok., " tolakku. Nggak enak saja sama ibu. Pasti ibu nanti akan menanyaiku macam-macam.

" Kalau aku ngga bawain nanti orang-orang akan berpikir aku tega. Masa ngebiarin cewek jalan sambil menenteng tas selempang dan membawa keranjang. Hayoo ! " Niko pintar mencari alasan.

Kusodorkan keranjang yang kubawa padanya. Kemudian kita bertiga jalan beriringan. Ibu sudah berjalan jauh di depan meninggalkan kami.

Niko membawakan keranjang sampai depan rumah. Tentu saja Rio ikut menemani supaya ngga ada yang curiga.

" Aku pulang dulu ya, jangan lupa mandi dandan yang cantik terus kita ketemu di warung mbak Yah." Dia pamit dan tak lupa melempar gombalan.

" Iya kamu juga mandi sana, bau tuh habis olah raga." seruku sambil menutup hidung.

Niko tertawa kemudian melangkah pulang bersama Rio. Entah bercanda apa, mereka berjalan dengan saling dorong. Aku tertawa geli melihat tingkah mereka. Sebelum masuk aku duduk di teras lebih dulu untuk menghilangkan gerah.

Setelah agak mendingan baru lah aku masuk menaruh keranjang di dapur kemudian masuk kamar. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kuambil handphone dari dalam tas selempang , kubuka aplikasi WhatsApp. Kebetulan Niko sedang online.

[ Niko, aku baru ingat. ini kan hari Rabu kok kamu pingin kita ketemuan ]

Dia belum membacanya, mungkin lagi mandi.

Sesaat kemudian ,

[ Memang kenapa kalau hari Rabu ? kamu kan udah di rumah,kita ketemu sebentar lagi ]

Aku langsung membalas,

[ Aku ngga mau mengganggu sekolahmu. kan kita udah sepakat ketemuan kalo libur sekolah ]

[ Itu kan kalo malam hari ,ini kan masih sore. pliiiiss... 🙏 sekali ini aja deh nawar besok enggak 😊 ✌ ]

[ Sama aja bentar lagi juga magrib. aku nggak mau keluar kalau belum sholat ]

[ oke deh, habis magrib kamu ke sini, kutunggu yaa, 😍 ]

Kebiasaan dia pasti terahir kasih emoji seperti ini.

Kututup HP dan segera ke kamar mandi.

Selesai mandi dan berpakaian aku duduk di kursi kamarku sembari menunggu adzan magrib.

Kubuka lagi HP ku, ada pesan dari Eva. Pasti dia mau menanyakan tentang Niko. Kubuka chatnya dan benar saja,

[ Bestie , kamu belum cerita sama aku tentang Niko. Udah ngga anggap aku sahabat nih ]

Tuh kan dia sewot gitu, kubalas saja

[ Sorry bestie, kamu kan sibuk kuliah. mana jarang pulang lagi. aku ngga mau ganggu kamu ✌😊 ]

[ Ok ok .. terus gimana ceritanya kok kamu bisa sama Niko.. dia masih kecil. kellees 🤭 Paling nggak sama Rio kek 😀 ]

[ Enak aja yeee, Rio sukanya sama kamu 😜 Aku nggak tahu kenapa Niko suka padaku, tiba-tiba aja dia nembak pas kita jalan-jalan ke CFD waktu itu. Kamu kuajak tapi ngga pulang kan ]

[ Oh gitu, iya sorry sekarang ini lagi banyak tugas. kita jadi jarang ketemu 😔 ]

[ Udah santai aja kamu kuliah aja yang bener 😁 ]

[ Kok kamu jadi kaya papa sih sok nasehatin 🙄🤦‍♀️]

[ 😀😀 ✌ ]

Ku akhiri chat ku tanpa menunggu balasan Eva. Sudah terdengar adzan magrib dan aku harus segera sholat.

Lima belas menit kemudian aku siap untuk keluar.

Sampai di warung mbak Yah kulihat Rio dan Niko juga baru sampai. Sepertinya mereka dari masjid karena di pundak ada sarung melingkar.

Kita duduk di bangku bertiga.

" Mbak Yah buatin wedang ronde 3 ya." Niko memesan minuman favorit kami.

Tak lama kita pun menikmatinya sambil makan gorengan yang masih hangat. Dan tentunya sembari ngobrol dan bercanda.

Kulihat bu Tiya keluar dan berjalan melewati kami. Ia melirikku sekilas dan berlalu. Beberapa saat kemudian dia kembali lagi dan berseru, " Niko, dipanggil ibumu tuh ! " Niko menoleh, "Iya Bu. "

Niko berdiri dan berkata padaku "Aku pulang dulu ya , sorry banget." Sepertinya dia merasa bersalah. Dia berlari kecil ke rumahnya.

Apa jangan-jangan tadi Bu Tiya yang bilang ke ibunya Niko kalau anaknya sedang bersamaku ?

Bisa jadi ! Emak-emak kepo itu kan sirik sama aku.

Rio juga merasa nggak enak akhirnya dia beranjak juga. " Aku pulang juga deh, ada tugas sekolah yang belum kukerjakan." katanya. Ia mengambil uang dari saku bajunya.

" Sudah biar aku yang bayar, sekalian sama punya Niko tadi, " tawarku pada Rio. Niko tadi juga belum bayar karena buru- buru pulang.

Kuambil uang di saku celana paniangku, kusodorkan lembaran warna biru pada mbak Yah.

" Ini Mbak sekalian punya Rio dan Niko tadi. " Mbak Yah memberikan uang kembalian dan aku pun beranjak pulang. Kusapa ibu- ibu yang sedang membeli gorengan, dia mengangguk tersenyum.

____________

Sejak kejadian di warung mbak Yah aku jadi jarang ketemu Niko. Malam minggu juga sesekali ketemu, kadang juga enggak. Aku sih maklum karena mungkin dia sibuk belajar untuk menghadapi test kenaikan kelas. Rio juga persiapan ujian kelulusan.

Aku tetap melakukan aktifitas seperti biasa.

Menjelang tahun ajaran baru pekerjaan di sekolah pun bertambah.

Selain itu juga sering ada rapat bersama guru- guru dari TK lain. Siang ini bu Diyah menugaskan aku dengan bu Riris yang menghadiri rapat seusai kegiatan sekolah.

Sekitar pukul 2 siang aku baru muncul di warung. Ibu sudah memasang wajah masam. Sebelum ibu bertanya aku lebih dulu menjelaskan, " Aku tadi disuruh rapat guru di TK lain Bu, maaf jadi kesiangan." Ibu diam saja.

Aku langsung menaruh tas di dalam bilik dan segera mencuci piring dan gelas kotor yang sudah menumpuk. Pasti tadi mbak Sri kerepotan. Lalu ibu masuk ke dapur.

" Kalau seperti ini terus ibu bisa kecapekan Aira, ibu kerepotan kalau hanya berdua sama mbak Sri. Nggak mungkin juga menambah karyawan karena penghasilan warung ngga seperti dulu. Sekarang banyak warung makan modern. " Ibu mengeluh.

Aku jadi kasihan meskipun ibu sering berlaku tidak adil padaku.

" Kan ngga tiap hari Bu, ini tadi karena aku ikut rapat. Kalu ngga ada acara aku pulang seperti biasa." Aku menghibur ibu.

" Tapi warung kan ramainya kalau pagi sampai menjelang makan siang , kamu datangnya setelah jam satu, " lanjut ibu.

" Ya mau gimana lagi Bu, kan aku kerja," sahutku.

" Coba kalau kamu berhenti kerja." Ibu bergumam seraya keluar untuk melayani pembeli, tapi aku sempat mendengar apa yang ibu ucapkan.

Bukankah ibu yang tadinya menyarankan aku bekerja ikut mbak Murni ? Sekarang ibu sepertinya menyesalkan jika aku bekerja.

Bukankah masih ada mbak Sri yang bisa menggantikan jika ibu kerepotan melayani pembeli ? Terus soal cucian tinggal dikumpulkan dulu nanti aku yang mengerjakan jika sudah pulang kerja. Aku jadi kesal .

Sorenya sepulang dari warung aku hampiri ayah yang sedang nonton TV sendirian. Mbak Nia belum pulang dari toko. Ibu juga sedang mandi.

" Ayah, Aira mau ngomong nih." Aku peluk pundak ayah. Beliau menoleh dan bicara, " Mau ngomong apa? " Ayah menunggu aku bicara.

" Jadi gini, selama ini kan aku bekerja sebagai guru honorer. Gajiku nggak seberapa. Padahal aku harus tampil menarik di depan murid. Anak-anak nggak akan semangat jika ibu gurunya berpakaian lusuh dan wajahnya pucat ngga pakai make up.

Belum lagi sekarang pekerjaanku bertambah menjelang ajaran baru, tapi nggak ada uang tambahan ." aku diam sejenak.

" Terus maksudnya apa? " tanya ayah kemudian.

" Maksudku kalau aku berhenti kerja gimana Yah? lagian aku kasihan sama ibu dan mbak Sri, mereka kerepotan kalau pagi warungnya ramai. Mbak Nia kan udah ngga mbantuin lagi. " Aku mengemukakan pendapatku.

" Kalau ayah terserah kamu, kan kamu yang menjalani. Sekiranya kamu lebih kasihan sama ibumu ya berhenti nggak apa-apa.

Kalau masih berat ya lanjutkan pekerjaanmu. " ayah memberi nasehat dengan bijak.

" Aku pikir-pikir lagi deh. Makasih Ayah, " ucapku kemudian.

Aku mengambil handuk di kamar dan segera mengguyur tubuhku.

Menjelang tidur aku masih memikirkan keputusan apa yang harus kuambil.

Akhirnya aku mantap untuk berhenti saja. Bagaimana pun aku harus lebih mementingkan ibuku. Besok pagi aku akan menemui bu Diyah di kantor. Tak lupa juga berpamitan dengan mbak Murni dan yang lain.

_______&&&_____

to be continue... please vote like n komen ya !

1
blush.and.ochre
Semoga kedepannya bisa makin bagus dan author ga pusing2 mikirin hal negatif ya. Fighting!
Tuti Ummi Luthfi: Aamiin.. makasih doanya. semangat terus pokoknya
total 1 replies
Eja Drajat Adriansyah
Sumpah! Sampai lupa waktu bacanya!
Tuti Ummi Luthfi: Aih aih... asal jangan lupa makan aja. hehe ! thanks ya.
total 1 replies
LilCutie
cerita ini lebih lucu dibanding yg lain
Tuti Ummi Luthfi: gitu ya, padahal aku ga ngelawak loh. Hehe makasih ya, kak !
total 1 replies
salt sand and smoothies
thor up lgi dan kurangin typo yaaa
Tuti Ummi Luthfi: oke kakak, makasih sarannya.
total 1 replies
skyeandstaghorn
Alurnya gregetan! Aku baru baca aja jadi nagih!
Tuti Ummi Luthfi: makanya ikuti terus ceritanya ya, makasiih !
total 1 replies
TickleStar
Kelanjutan cerita author itu kayak hujan ditengah kemarau thor.. alias ditunggu-tunggu!
Tuti Ummi Luthfi: Siap kakak.. makasih ya udah setia nunggu .
total 1 replies
Labuh Ardianto
hallo kakak semangat berkarya ya kak🤭
Tuti Ummi Luthfi: Hallo juga, makasih udah mampir
total 1 replies
Nightingale Soakage
authorrr kamu hebatttttttt nggak nyesel dech bacanya seruuu bingit endingnya itu lho wowowowowowo woooooowwww
Tuti Ummi Luthfi: aduh makasih pujiannya.. tetep tungguin kelanjutannya ya say !
total 1 replies
rowiethelabel
Ceritanya menarik, nih! Boleh kali thor dilanjut?
Tuti Ummi Luthfi: siaap kakak, makasih ya udah nunggu !
total 1 replies
Atas Untuk Diikuti
Thor, kalau capek, istirahat dulu, minum dulu, besok kita lanjut lagi ya :) Aku selalu nunggu author kok!
Tuti Ummi Luthfi: Makasih atas pengertiannya ya..!
total 1 replies
NewJerseyJack
Jangan lupa minum air putih biar bisa fokus lanjut next bab thor! Aku nungguin banget up bab baru soalnya nih!
Tuti Ummi Luthfi: Duuh makasih atas perhatiannya ya, ditunggu terus pokoknya.
total 1 replies
Respati Wijaya
Thor chakep, kalau saya bilang lanjuut, lanjuuuut~ hahah
Tuti Ummi Luthfi: siaaap, ditunggu terus ya lanjutannya. thanks !
total 1 replies
saltsanddanmoothies
Ih! Kenapa ceritanya relate bangeeeeet! Semangat kak!
Tuti Ummi Luthfi: makasih yaa !
total 1 replies
MouthofMexico
Bang! Hayati gak bisa tidur nih gegara othor gantungin ceritanya :(
Tuti Ummi Luthfi: Hehehe, sabar ya say. Kalau nggak digantung ngga penasaran dong !
total 1 replies
LiveChic
SERUU.....BUET CERITANYA
Tuti Ummi Luthfi: Makaciih ditunggu terus ya !
total 1 replies
moonjuice
Kiss jauh buat othor karena udah buat karya sekeren ini!
Tuti Ummi Luthfi: Auww so sweet., makasih ya say. Tungguin terus lanjutannya ya.
total 1 replies
Gadis Sandman
Thor tolong ya aku ini udh penasaran banget sama kelanjutannya nih
Tuti Ummi Luthfi: Siaap Kakak, ditunggu ya. Makasih !
total 1 replies
DavidTheDancer
Aduh aku sampe tahan napas baca beberapa bagian ceritanya. Excited banget
Tuti Ummi Luthfi: waah makasih Kak.. ditunggu terus kisahnya ya !
total 1 replies
monsoonblooms
Yo ayo thor! aku selalu mendukungmu dalam doa hehehe
Tuti Ummi Luthfi: makasih Kak, ditunggu terus ya ceritanya !
total 1 replies
Eli Usada
Thor, dapet notifikasi dari update-an ceritamu itu kayak minum es di siang hari bolong!
Tuti Ummi Luthfi: Duuh segernyaa, makasih ya !
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!