"Aduhhhh panas.... burungku terbakar." teriak Justin yang merasa juniornya panas menyengat. Mungkin sudah gosong atau menjadi puyuh bakar. Sandra cepat cepat berlari keluar mencari kacamata dan hapenya yang dibuang oleh Justin.
(...itu cuplikan ya guys......)
♥️♥️♥️
Alexandria William gadis muda yang sejak kecil disiapkan oleh orangtuanya untuk meneruskan perusahaan keluarga. Alexandria dikirim untuk belajar di luar negeri. Alexandria yang cerdas memiliki keahlian di bidang IT. Keahliannya di bidang IT membuat Alexandria memahami jika perusahaan orangtuanya di hack oleh pesaing.
Untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya Alexandria memutuskan untuk pulang ke negerinya. Dia menyamar menjadi Sandra dan bekerja di perusahaan Jonathan Co yang membuat perusahaan orangtuanya di ambang kehancuran.
Bisakah Alexandria menyelamatkan perusahaan orangtuanya atau justru dia yang mendapat petaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25. Rencana Alexandria
“Apa rencanamu?” tanya Tuan William sambil menatap Alexa. Terlihat Alexandria tidak menjawab tetepi membuka email William Group, jari jari lentiknya lalu menari hari di atas keyboard komputer untuk menyusun huruf huruf.
Saya Alexandria, puteri pertama Tuan William mengundang Anda sekalian para eks pemegang saham untuk menghadiri pertemuan pembahasan deviden Tuan Tuan yang masih tertunda pembayarannya. Jika Tuan Tuan berkenan hadir silahkan membalas email ini, dan akan kami beri informasi selanjutnya.
Setelah menulis draft emailnya, Alexandria menoleh menatap Papanya. Tuan William yang sejak tadi berdiri di belakang Alexandria sambil mengamati apa yang dilakukan oleh anaknya, terlihat mengangguk anggukan kepalanya.
“Okey, aku setuju kirim segera.” ucap Tuan William, kemudian Alexandria segera mengirim email tersebut kepada semua orang yang pernah menanam saham di William Group.
“Apa mereka masih menaruh kepercayaan kepada William Group.” gumam Tuan William yang pesimis dengan cara yang diambil anaknya.
“Kita tunggu saja Pa, berapa orang yang membalas email aku. Entah balasan menerima tawaran pertemuan atau mungkin balasan meremehkan.” ucap Alexa. Lalu dia bangkit berdiri dari kursi kerja Papanya.
“Kamu mau kemana? Tunggu balasan dari mereka.” teriak Tuan Willam.
“Aku mau istirahat Pa, mau melepas rindu dengan Mama dan kedua Adikku.” jawab Alexandria lalu meninggalkan ruang kerja Papanya.
“Al.” teriak Tuan William sambil melongokkan kepalanya di pintu.
“Papa yang tunggu saja di situ.” jawab Alexandria sambil tertawa kecil. Alexandria sudah menyadap alamat email William Group, jadi sudah bisa memantau dari alat alatnya. Tuan William lalu berjalan menuju ke meja kerjanya, dia lalu duduk di kursi sambil matanya menatap serius layar komputernya menunggu balasan email dengan jantung yang berdebar debar.
Sementara itu Alexandria berjalan mencari Nyonya William. Alexandria berjalan menuju kamar orang tuanya, namun tidak menjumpai yang dicari. Alexandria melanjutkan pencariannya berjalan menuju ke dapur. Benar terlihat suasana dapur yang ramai. Mamanya dan kedua adiknya berada di dapur dan dibantu oleh dua pelayan.
“Mau masak besar menyambut aku ya?” tanya Alexa dengan senyum lebarnya saat masuk ke dalam ruangan dapur yang luas.
“Kak Alexa ge er he... he... ini mau masak buat aku.” ucap Dealova si bungsu sambil tertawa kecil.
“Al, bagaimana keadaan mu? Kamu tidak berantem lagi sama Papa kan? Gimana pipimu masih sakit ga? Dikompres ya say...” ucap Nyonya William segera mencuci tangannya lalu mendekat pada Alexa sambil mengamati wajah Alexa lalu mengusap usap lembut pipi Alexa. Alexa yang mendapatkan perhatian dari Mamanya lalu memeluk dan menciumi pipi Mamanya.
“Alexa baik baik Ma.” ucap Alexa. Namun tiba tiba terdengar banyak notifikasi di hape Alexa. Alexa mengambil hapenya. Semua mata kaget melihat hape yang dipegang oleh Alexa.
“Kak, itu hape keluaran terbaru ya ha...ha....” ejek Dealova saat melihat hape Alexa.
“Bukan itu hape jaman batu.” saut Ixora. Alexa hanya diam saja sambil membuka email William Group, dia tersenyum melihat banyak email balasan.. Namun dia belum membuka isi email, hanya melihat Tuan Alfredo yang membalas pertama kali.
“Kalian harus siap siap menerima lamaran Tuan Alfredo. Kalau tidak percaya sana kamu tanya Papa, apa Tuan Alfredo mengirim email. Tadi aku dan Papa sudah membahas agar Tuan Alfredo memilih diantara kalian.” ucap Alexa lalu memasukkan hapenya lagi ke dalam saku.
“Kakak......” teriak Ixora dan Dealova bersamaan dengan kuatir tidak tahu kalau Alexa hanya bercanda.
“Kenapa tidak Kak Alexa saja yang tertua?” tanya Ixora yang takut jika dia dipilih oleh Tuan Alfredo karena adiknya Dealova yang masih duduk di bangku SMP.
“Aku yang akan mengurus perusahaan kalian mengurus Tuan Alfredo ha....ha.....” ucap Alexa lalu tidak tahan dia tertawa karena melihat kedua adiknya yang sudah pucat ketakutan.
Dan tidak lama kemudian terdengar Tuan William berteriak teriak memanggil Alexa. Suara teriak Tuan William semakin keras karena Tuan William berjalan menuju ke dapur. Semua yang berada di dapur terlihat kuatir, kecuali Alexandria dia sudah memastikan kalau Papanya akan mengabari banyak email balasan.
“Apa Tuan Alfredo mengirim email Pa?” tanya Alexa saat Papanya muncul di pintu dapur. Tuan William menganggukkan kepala. Alexa menoleh ke arah pada kedua adiknya. Terlihat Ixora dan Dealova menggeleng gelengkan kepala dengan ekspresi wajah hampir menangis.
“Ayo kamu tentukan kapan pertemuannya. Mereka semua menunggu.” ucap Tuan William sambil menarik tangan Alexa agar kembali ke ruang kerjanya. Tetapi Alexa tidak mau dia ingin makan lebih dulu.
“Papa aku tidak mau.....” teriak Ixora dan Dealova bersamaan.
“Mau apa?” tanya Tuan William sambil menatap heran pada Ixora dan Dealova.
“Menikah dengan Tuan Alfredo.” Jawab mereka berdua secara bersamaan. Terlihat Tuan William mengeryitkan dahinya.
“Sepertinya itu tidak mungkin terjadi, Kakakmu sudah mendapatkan bukti bukti untuk menyelesaikan William Group.” ucap Tuan William kemudian.
“Ha.... ha.. makanya jangan mengejek hapeku, itu yang menyelamatkan kalian.” ucap Alexa sambil tertawa lalu berjalan menuju ke ruang makan untuk mengisi perutnya.
“Awas ya Kakak aku tidak mau nanti kalau disuruh mijitin Kakak, Kakak ngeprank, aku sudah benar benar takut.” ucap Dealova dengan bibir mencebik. Tuan dan Nyonya William terlihat geleng geleng kepala.
Hingga waktu yang dinanti pun tiba. Alexa dan Tuan William sudah bersiap diri untuk menuju ke William Group mereka akan mengadakan pertemuan dengan para eks pemegang saham di salah satu ruang pertemuan di William Group. Suasana kantor Willam Group terlihat sepi sebab sudah banyak karyawan yang dirumahkan. Alexa sedih melihat kondisi William Group sekarang. Tetapi kata Papanya semua karyawan yang dirumahkan sudah dipikirkan kesejahteraannya.
“Saya mohon semua hape dimatikan selama pertemuan.” ucap Alexandria mengawali pertemuannya.
“Sebelum saya membahas tentang pembayaran deviden yang tertunda. Saya akan menyampaikan suatu hal yang sangat penting yang ada kaitannya dengan uang uang Tuan Tuan.” ucap Alexandria kemudian, lalu dia memperlihatkan data data di layar proyektor. Dia hanya memperlihatkan dengan sekilas.
“Itu data data valid yang kami dapat dan kami sudah melaporkan pada pihak yang berwajib. Sekarang keputusan ada di tangan Tuan Tuan akan menarik saham itu atau membiarkan membeku. Saya tidak menyuruh Tuan Tuan untuk menaruh uang Tuan Tuan di William Group. “ ucap Alexa setelah memperlihatkan bukti bukti pencurian data yang dilakukan Jonathan Co. Alexa mengatakan kalau sudah melaporkan adalah strateginya agar mereka menarik sahamnya. Dan belum setuju langsung lapor pada pihak yang berwajib karena semua dana akan dibekukan selama dalam proses hukum. Dia hanya melakukan gambling jika mereka menarik saham ada kemungkinan William Group mendapat dana segar jika ada yang menaruh sahamnya. Daripada jika dana dibekukan tidak ada kemungkinan mendapat dana segar dari mereka.
“Nona apa aku boleh mengaktifkan hapeku sekarang? Aku akan menarik sahamku sebelum beku. Aku akan taruh ke William Group lagi.” ucap Tuan Alfredo yang sejak tadi terus menatap Alexandria.
“Aku butuh bukti laporan Anda pada pihak yang berwajib.” ucap salah satu dari mereka. Tuan William terlihat cemas sambil memandang Alexandria.