Selma adalah seorang janda dengan 3 orang anak. Dia berkerja di sebuah perusahaan swasta yg hampir bangkrut..
Dengan gaji pas-pasan dia berusaha mencukupi kebutuhan sekolah dan hari-hari mereka.. Tapi di kantor sudah tersebar surat edaran bahwa akan ada pengurangan karyawan,dia harap itu bukan dirinya. Karna jika itu dia,maka dia tidak tau harus bekerja apa lagi,di kota sebesar ini mencari pekerjaan bukanlah sesuatu yg mudah. Apalagi mengingat statusnya seorang janda yg memilikki dasar pendidikan yg rendah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Audwibill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Ayah
Keadaanya sekarang memang sudah berbeda.. Selma sekarang adalah istri Andreas,mau tidak mau harus mengikuti kehidupan Andreas. Sekalipun ini palsu..
Keesokannya,Selma tidak berangkat bekerja lagi. Ia pun sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya..
Pagi ini,Selma bangun pagi sekali,ia ingin mempersiapkan sarapan untuk anak-anaknya.
Tetapi setelah ia keluar dari membersihkan diri,ia melihat Andreas tertidur diatas sofa. Entah kapan Andreas memasuki kamar kembali,Selma sama sekali tidak menyadarinya. Mungkin karena pertengkaran itu,membuat Selma lelah dan tidur dengan pulasnya..
Selma tak membangunkannya,dan berlalu pergi kelantai bawah,bersiap untuk membuatkan sarapan anak-anaknya. Lagi-lagi saat sampai di ruang keluarga sarapan sudah tersedia diatas meja yang cukup besar. Terdapat banyak orang yang sedang mengatur meja itu,terlihat pula Bi Minna sedang menyuruh satu dan yang lainnya untuk mengatur meja makanan itu. Selma hanya terpaku,dalam hatinya,ia berpikir..
"Sepagi ini,semua sudah siap di atas meja?? Apa mereka tidak tidur?" Itulah pikiran Selma melihat kejadian pagi ini..
Sementara itu,Bi Minna yang melihat Selma langsung menghampirinya dan mengucapkan salam pagi yang hangat..
"Pagi Nyonya.. Ada apa pagi sekali sudah terbangun,apakah kami membangunkanmu?" Tanya Bi Minna..
"Oh tidak,aku tadi berniat ingin membuat sarapan,hanya terkejut saat sampai disini semua sudah siap" jawab Selma yang masih tercengang dengan keadaan yang baru di lihatnyaa..
"Kami sudah terbiasa menyiapkan sarapan sepagi ini,karena Presdir selalu bangun pagi. Sudah menjadi pesan Nyonya Besar seperti itu" jelas Bi Minna..
"Owh baiklah" Selma menjawab singkat..
"Apa Nyonya ingin sarapan?"
"Tidak,aku akan menemui anakku dulu"
"Baiklah.."
Selma pun kembali menaiki anak tangga dan membuka kamar anak-anaknya satu persatu. Semua sudah selesai mandi dan sekarang sedang menyiapkan buku pelajaran hari ini. Itu adalah kebiasaan mereka. Selma cukup bangga dengan sikap anak-anaknya yang tidak berubah walaupun sudah banyak yang membantu..
Setelah semua selesai,Selma mengajak anak-anaknya turun untuk sarapan. Dimeja makan,sudah ada Andreas yang menunggu untuk sarapan bersama. Anak-anak Selma menyapanya dengan sopan..
"Pagi Paman" jawab mereka serentak..
"Pagi juga, ayo sarapan" ajak Andreas yang diikuti oleh mereka duduk.
Tiba-tiba Bi Minna menyela..
"Anak-anak sekarang Paman Andreas adalah ayah kalian, kalian harus memanggilnya Ayah tidak boleh Paman lagi. Mengerti anak pintar" kata Bi Minna sambil memegang dagu Alex..
Seketika suasana menjadi canggung. Ketiga anak Selma saling memandang satu sama lain. Seperti mengisyaratkan sedang berpikir apa yang harus mereka jawab. Andreas berkata sambil membelai halus kepala anak termuda Selma..
"Tidak apa? Jika kalian tidak mau maka tidak apa? Panggil aku dengan sebutan ternyaman kalian"
"Baiklah Paman" jawab ketiga bocah itu serentak..
"Ayo sarapan,kalian harus berangkat kesekolah dan harus belajar dengan giat" Kata-kata Andreas adalah penyemangat pertama dari seorang yang di sebut Ayah saat ini..Pagi ini terasa sangat hangat dengan keberadaan Andreas ditengah-tengah mereka,Hanya saja ini adalah ketakutan terbesar Selma. Takut bahwa nanti anak-anaknya tak bisa lepas dari Sosok Andreas. Ketakutannya itu beralasan,mengingat betapa anaknya mengharapkan sosok ayah yang bisa memberikan mereka kasih sayang.. setelah begitu lama Anak--anak tak bertemu ayah kandungnya,kini ada seorang pria yang menjadi ayah mereka, tentu tidak akan mudah di terima oleh ketiga anaknya.. kedua hal itu mengacaukan pikiran Selma hingga tersadar kembali...